
Matahari menampakkan dirinya di atas langit, diantara beribu-ribu awan yang berkerumun, diantara burung-burung indah yang berterbangan menari-nari menghindari setiap awan yang mereka lewati.
Pukul 06.00
Kami telah berkemas untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya. Menyiapkan perbekalan tambahan, seperti susu, roti, buah-buahan, nasi, dan kali ini kami meminta sedikit perbekalan daging panggang kepada Bibi Poh.
Ujian kami di desa ini telah selesai. Bukan hanya satu tetapi dua sekaligus, mengalahkan Robirmal dan membantu warga disini untuk memperbaiki keadaan desa yang sedang gagal panen.
Panen kami kemarin sukses besar. Itu tidak hanya bibit dengan satu jenis sayuran, tetapi berbagai macam sayuran yang beragam jenisnya. Hari ini semua warga desa akan bersiap-siap menjual panen mereka kemarin ke desa lain.
Tidak ingin mengalami kejadian yang sama seperti yang dialami oleh pria bernama Paman Pati, warga desa kemarin juga sudah kami berikan ciri-ciri desa ilusi. Terdapat dupa di depan semua rumah, benda yang dipegang terasa ringan seperti tidak nyata, dan beberapa hal lainnya yang kami rasakan saat kami memasuki desa ilusi berwujud Desa Purba dulu.
“Selamat jalan. Semoga ujian selanjutnya kalian dapat menyelesaikannya dengan baik. Bibi harap kalian tidak melupakan Bibi setelah berhasil mengalahkan musuh kalian nanti.” Bibi Poh mengucapkan salam perpisahan terakhir kepada kami.
“Tentu, tidak akan pernah, Bibi. Kami sangat berterima kasih kepada Bibi atas yang sudah Bibi lakukan kepada kami beberapa hari terakhir. Kami akan terus mengingat Bibi sampai kapanpun, atau bahkan sampai kami menua seperti Bibi, kami akan terus mengingatnya.” Jasmine membalas salam perpisahan Bibi Poh dengan tersenyum.
Bibi Poh mengangguk dan memeluk Aku, Jasmine, dan Hama bergantian. Kalau dua pria itu, jangan ditanya. Mereka tidak ingin dipeluk, terlalu norak. Mereka hanya mengangguk dan tersenyum canggung kepada Bibi Poh.
“Sebelum pergi ada yang ingin kalian ketahui mungkin? Mungkin saja Bibi bisa memberikan jawabannya.” ujar Bibi Poh.
“Setelah kami betarung melawan Robirmal untuk yang pertama kalinya, mengapa tidak ada jejak-jejak pertarungan telah terjadi? Apa ada seseorang yang membersihkannya saat kami pingsan?” celetuk Flash.
Bibi Poh tersenyum seperti menahan tawanya begitu mendengar pertanyaan Flash yang sepertinya konyol. Kami juga hanya diam karena kami juga ingin tau apa yang ditanyakan Flash. Banyak misteri yang tidak bisa kami pecahkan, salah satunya hal itu.
“Tidak ada seseorang yang membersihkannya, Flash! Tempat itu sendiri yang membersihkannya.” Bibi Poh menjawab
Mata kami berempat sama-sama hampir melompat keluar ketika mendengarnya.
“Tempat itu sendiri yang membersihkannya?” Ken bertanya, memastikan.
“Benar. Alam di hutan ini tidak akan membiarkan tempatnya kotor oleh sisa-sisa pertempuran orang yang tidak
bertanggung jawab. Jadi mereka sendirilah yang membersihkannya. Kalau kalian ingat-ingat lagi, beberapa hari lalu saat kalian sedang bertempur melawan sesuatu apakah kalian tidak merasa ada yang aneh? Ataukah kalian lansung pergi begitu pertempuran selesai? Kalau tidak apakah saat kalian sedang dalam perjalanan menuju kemari, kalian menemukan sampah? Kotoran? Atau barang-barang rusak? Tidak kan?” Bibi Poh menjelaskan dengan sabar kepada kami.
Aku terpana saat Bibi Poh menjelaskan hal tersebut. Benar juga, selama ini kami tidak pernah melihat ada sampah berserakan, tumpukan daun-daun kering, kotoran dan hal lainnya selama kami berada di tempat ini. Dan, hei! Aku juga baru menyadari bahwa ditempat ini sama sekali tidak ada tempat sampah. Mereka hanya mengumpulkan sampah dari setiap tempat dalam sebuah wadah tertentu lalu menaruhnya di bawah pohon atau di
tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, maka alam akan mengolah sampah tersebut dan menyimpannya di dalam tanah.
“Tunggu dulu. Kalau begitu apakah alam juga bisa membersihkan mahkluk hidup yang sudah mati? Seperti Robirmal itu?” celetuk Flash setelah terdiam beberapa detik.
“Ya, alam akan membersihkan apapun yang kelihatannya sudah tidak berguna, tidak terpakai, ataupun berbahaya bagi makhluk hidup lainnya.” ujar Bibi Poh kembali.
Kami berempat saling pandang sebelum akhirnya tertawa lepas, kecuali Flash yang masih berusaha mencerna situasi. Tawa kami itu juga akhirnya menular pada Hama dan Bibi Poh.
“Kalau begitu seharusnya aku tidak usah memindahkan para Robirmal sialan itu. Kenapa aku harus repot-repot?
Haishhh!!!!” Flash menggerutu.
“Jangan menyesal dengan apa yang sudah kau lakukan, Flash. Bisa jadi besok atau lusa itu akan menjadi karma baik bagi kalian semua. Jangan menyesali perbuatan baik yang sudah kalian lakukan, baik itu berguna atau percuma, jangan menyesal.” Bibi Poh membesarkan hati Flash.
“Iya, Bibi Poh….” ucap Flash lirih sambil memandang kami dengan tatapan tajam.
Kami mengakhiri perpisahan itu dan beranjak pergi dari gua. Tetapi Bibi Poh menahan tanganku dan memberiku sebuah pesan penting tentang telepati yang dia kirim dua hari yang lalu.
“Qlessie, ingat pesan ini baik-baik. Jangan terpengaruh! Sesuatu yang berada dalam tubuhmu itu bisa melukaimu bahkan teman-temanmu. Mungkin awalnya dia hanya mengontrol tubuhmu, tetapi selangkah demi selangkah dia akan mempengaruhimu untuk melukai orang-orang yang berada di sekitarmu.” Bibi Poh berbisik tepat di telingaku. Aku terdiam mendengar kalimat panjang tersebut. Benarkah? Sebenarnya apa sih yang ada dalam tubuhku ini? Bahkan Bibi Poh saja mengucapkannya dengan was-was.
Setelah itu kami berlima kembali melanjutkan perjalanan tanpa hambatan. Kami keluar dari Desa Purba dan mencari ujian kami yang selanjutnyaa…
***
Kami sudah berjalan jauh meninggalkan Desa Purba yang juga sudah menghilang dari pandangan kami.
“Hama, kau pernah bilang kalau di hutan ini ada seorang Satria sebelum kami? Apakah hal itu benar?” tanya Ken membuka topik percakapan.
“Benar. Satria itu tinggalnya titak menetap, atau nomaden. Kalau kita bisa menemuinya maka ya kita beruntung.”
“Elemen apa yang dimiliki oleh Satria tersebut?” Jasmine ikut bertanya.
“Kalau aku tidak salah dengar, mungkin elemen Satria itu adalah angin.”
“Angin?” sontak Flash.
Flash seketika lansung sibuk dengan pikirannya sendiri, dia berjalan dengan kepalanya yang ditundukkan, menggigit ujung jari telunjuk kanannya, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Dia sedang apa?” tanya Hama, bingung dengan perilaku Flash,
“Biarkan saja, dia sedang sibuk. Jangan diganngu!” Jasmine menyengir.
“Mungkin dia sedang berpikir akan mendapatkan teknik-teknik hebat dari Satria itu.” Ken menambahkan.
Hama hanya ber-oh pelan dan lansung mengerti situasi.
Disaat sedang santai-santainya mengobrol, entah mengapa tiba-tiba saja daun-daun diatas pohon melambai-lambai kencang. Burung-burung yang sebelumnya berterbangan diatas langit mulai memasuki batang-batang pohon yang berlubang, mencari tempat untuk berteduh.
“Kau sedang mengkhayal apa, Flash? Tidak perlu sampai membuat angin segala kan?” cemoh Jasmine.
“Aku tidak membuat apapun, Jasmine! Itu bukan aku yang melakukannya.” balas Flash tidak terima.
“Lalu siapa yang melakukannya?” tanyaku.
“Alam mungkin.” jawab Flash sembarangan.
“Bisakah kau menghentikan anginnya? Dan tidak usah banyak tanya?” kata Ken.
Tetapi sebelum Flash melakukannya, anginnya sudah terlanjur berhenti terlebih dahulu. Baguslah, hanya badai angin sementara. Melihat angin kencang yang berhenti itu, burung-burung yang sebelumnya berteduh didalam batang pohon mulai keluar dan kembali terbang. Kami berlima hanya menatap bingung tetapi beberapa waktu kemudian juga berjalan kembali.
Flash kembali sibuk dengan pikirannya, sedangkan Aku, Jasmine, Ken, dan Hama membicarakan hal seru tentang dunia kami masing-masing. Sesekali tertawa karena kejadian lucu, dan sesekali berseru takjub karena penjelasan Hama tentang bagian-bagian Hutan Misteri yang menurut kami sungguh luar biasa.
Lagi. Disaat kami sedang berseru-seru seperti itu, angin kencang kembali menganggu. Daun-daun kembali
melambai-lambai, beberapa daun juga lepas dari dahannya dan ikut terbang terbawa angin, burung-burung juga kembali turun dan berteduh kembali dibatang pohon yang berlubang.
“Apalagi sekarang?” Ken bertanya.
“Flash?!” Jasmine menuduh Flash.
“Bukan aku, Jasmine. Buat apa coba aku membuat angin di pagi hari seperti ini?” Flash tidak terima selalu dia yang disalahkan.
Angin itu kembali berhenti beberapa detik kemudian, dan mengejutkan kami dengan sosok pria tua berbadan kurus yang tiba-tiba saja muncul dihadapan kami. Astaga! Darimana munculnya pria tua ini? Bagaimana ia bisa tiba-tiba muncul dihadapan kami seperti itu? Dan mengapa munculnya disaat angin kencang itu sudah menghilang? Jangan-jangan.....