
Lynn kini duduk di sebuah taman. Di bawah sebuah pohon kini ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya sebentar.
"Apa yang harus kulakukan? Semua uangku, dompet paspor, bahkan ponselku ada di dalam tas itu. Siall!! Aku benar benar siall!!" Lynn kini menutup wajahnya. Ia tak dapat lagi menahan air matanya.
Awalnya ia berencana berlibur sebentar hingga keadaan tenang. Setelah tenang, baru ia akan pulang dan mungkin saja itu akan membuat orang tuanya mengurungkan niat untuk menjodohkannya.
Lynn melipat kedua kaki dan memeluknya. Ia menyembunyikan wajahnya di antara kakinya dan dari sana mulai terdengar isak tangis.
"Aku harus ke mana sekarang? Aku tidak mengenal siapapun ... Ahhh!!!" Semua orang yang berada di taman itu melihat ke arah sumber suara.
Sebuah helaan nafas terdengar dari balik pohon tersebut. Giovan yang sedari tadi berada di taman itu untuk membaca buku, menjadi terusik dengan suara tangis seorang wanita
"Berisik!" gerutunya kesal.
Lynn yang mendengar ucapan itu tiba tiba saja mendongakkan kepalanya. Dengan mata yang masih memerah dan terdapat sisa sisa air mata, ia menolehkan kepalanya. Sebuah senyum langsung terbit di wajahnya.
"Abasss!!!"
*****
"Apa kamu sudah menemukannya?" tanya Jane pada Stanley.
"Belum. Biarkan saja dia pergi. Nanti kalau uangnya sudah habis juga ia akan pulang dengan sendirinya," jawab Stanley.
"Tapi dia anak perempuan, apa kamu akan membiarkannya berkeliaran di luar seorang diri seperti ini?"
Stanley menghela nafasnya pelan, "Aku juga tak ingin membiarkannya, tapi sepertinya kita harus membiarkan dia hidup sendiri. Siapa tahu nanti ia akan berubah menjadi seseorang yang lebih disiplin dan bertanggung jawab."
"T-tapi ...."
"Sudah, aku ke ruang kerja dulu. Ada hal penting yang harus kukerjakan," ucap Stanley dan pergi meninggalkan istrinya seorang diri.
Meskipun Jane ingin Lynn berubah menjadi pribadi yang lebih baik, tapi ia juga sangat mengkhawatirkan putrinya itu. Baginya, Lynn tetaplah putri kecilnya. Rencana pernikahannya selalu berakhir dengan kekacauan yang pada akhirnya membuat semua calon mempelai marah dan tak ingin berhubungan lagi dengan keluarga Thomas.
Kamu di mana, sayang? Apa kamu tidak merindukan bertengkar dengan Mom? Mom janji jika kamu kembali nanti, akan memilihkan calon mempelai yang baik dan Mom akan benar benar mengurungmu agar kamu tidak ke mana mana. - Jane menghela nafasnya kemudian kembali melanjutkan membaca majalah fashion miliknya.
*****
Giovan mencebik kesal karena harus bertemu kembali dengan Lynn. Ia yang sedang menikmati ketenangan di bawah pohon sambil membaca buku, harus terusik dengan tangisan Lynn yang semakin lama semakin keras, bahkan ia berteriak dan mengundang perhatian semua orang yang berada di taman.
Giovan pada akhirnya mengajak Lynn ke apartemen yang ia sewa. Apartemen itu tidak terlalu besar dan tidak berada di jalan besar. Lynn melihat dan memindai isi apartemen itu.
Ahhh lumayan lha dia bisa menyewa apartemen ini, setidaknya aku bisa menginap di sini. Kalau harus ke hotel lagi, aku benar benar tidak punya uang. - Lynn.
"Bas, aku numpang ya," ucap Lynn sambil memamerkan giginya yang berderet rapi layaknya kereta api.
"Numpang? enak aja! Nggak ada yang gratis ya di dunia ini," ucap Giovan. Ia terpaksa membawa Lynn ke apartemennya karena ia tak mungkin meninggalkannya seorang diri, apalagi ia tahu bahwa Lynn baru saja kecopetan.
"Lha, kok pelit?"
"Pelit? Kalau begitu sebaiknya kamu keluar sekarang," ucap Giovan.
"Eh eh eh, nggak nggak. Kamu baik sekali Abas yang tampan, tidak sombong, suka menabung. Tapi aku harus bayar pakai apa? aku benar benar tidak punya uang saat ini," ucap Lynn.
"Kamu akan menjadi pembantuku di sini."
"Hahh??? apa??? pembantu?" Lynn memegang kening Giovan dengan sebelah tangan, dan sebelahn tangannya lagi memegang keningnya sendiri. Giovan langsung memundurkan tubuhnya.
"Apa lagi pegang pegang?" tanya Giovan.
"Maksud kamu apa?"
"Eh eh eh, jangan marah mulu, ntar darah tinggi loh. Kamu masa tega sih aku dijadiin pembantu. Kamu lihat nih kulit aku, mulus lus lus. Terus tuh kuku kuku aku, ahhhh nggak kebayang kalau harus rusak."
"Mau tinggal di sini apa nggak?" tanya Giovan lagi.
"Ya mau, tapi jangan dijadiin pembantu juga. Aku akan cari pekerjaan dan membayar biaya sewa di sini bagaimana?"
"Tetap saja kamu harus membantuku membersihkan apartemen ini," ucap Giovan.
"Ya kalau cuma bantu bantu dikit, aku masih bisa lah," ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Kamarmu di sana," ucap Giovan menunjuk sebuah pintu.
Dengan langkah gembira, Lynn berjalan sambil mendorong kopernya. Ia berjalan sambil bersenandung. Giovan yang merasa lelah pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Baru saja Giovan menutup pintu kamar mandi, terdengar teriakan yang cukup keras dari luar, "Abassss!!!"
*****
Wajah Lynn menampakkan kekesalan. Bagaimana bisa seorang Abas memberikan kamar yang begitu sempit untuknya, malah bisa dibilang ruangan itu layak untuk dijadikan sebuah gudang.
"Kamu jahat banget sih," gerutu Lynn yang memanyunkan bibirnya.
"Sudah bagus aku menerimamu tinggal di sini. Masih saja tidak berterima kasih," Giovan memegang remote dan mengganti chanel televisi.
"Tapi itu nggak layak banget dijadiin kamar, lebih pantas dijadiin gudang," ungkap Lynn kesal.
"Kalau kamu tidak mau, keluar dari sini. Aku tidak bisa menampung seseorang yang tidak tahu berterima kasih."
Lynn menekuk lututnya dan memeluk dengan kedua tangannya, "Tapi aku harus ke mana?"
Terdengar isakan kecil dari balik lutut Lynn karena ia menyembunyikan wajahnya di sana. Giovan menghela nafasnya pelan.
"Pulanglah. Aku tahu kamu pasti sedang melarikan diri kan? Kembalilah, mereka pasti mengkhawatirkanmu."
"Tidak! Aku tidak mau pulang!"
"Mereka pasti mengkhawatirkanmu, apalagi kamu itu anak perempuan," ucap Giovan.
"Hei, aku bukan anak anak lagi. Bahkan kedua orang tuaku ingin menikahkanku dengan pria gendut, pendek, jelek, botak, bahkan sudah memiliki istri," Lynn sengaja melebih lebihkan agar Giovan tidak mengusirnya dan menyuruhnya pulang.
Giovan bergidik ngeri. Ia juga hendak dinikahkan dengan seorang wanita yang tak pernah ia lihat, tapi setidaknya ia yakin bahwa kedua orang tuanya tak akan memberikan wanita yang sudah bersuami untuknya.
"Mengerikan sekali," ucap Giovan.
"Karena itulah, jangan mengusirku ... ya ... ya .... Aku janji akan rajin bekerja dan membayar sewa untuk tinggal di sini," pinta Lynn.
"Baiklah ... siapa namamu?"
"Ishhh ... aku selalu mengingat namamu, kenapa sekarang kamu melupakan namaku! Mira, namaku Mira!"
"Baiklah, Mira. Kita akan tinggal di sini bersama. Tapi ingat, kita tidak boleh mencampuri urusan masing masing."
"Okay, Deal!!" Giovan dan Lynn berjabat tangan, menandakan mereka sudah mencapai kesepakatan.
🧡 🧡 🧡