
Lynn yang mendengar Giovan mengetuk pintu kamarnya hanya terus berdiam di atas tempat tidur. Tak ada keinginan sama sekali ia untuk membukanya.
"Buka pintunya atau aku dobrak!" teriak Giovan mengancam.
Lynn menghela nafasnya. Ia akhirnya bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia membuka kunci dan membuka pintu.
"Apalagi yang kamu inginkan? Apa masih kurang puas kamu menyiksaku?" ucap Lynn dengan tatapan sendu.
"Kita bicara," Giovan masuk ke dalam kamar Lynn.
"Biarkan pintunya terbuka. Aku tak ingin kamu melakukan apapun lagi padaku."
"Aku tak akan melakukan apapun. Aku hanya tak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita."
Saat ini Giovan sedang menahan diri untuk tak menyerang Lynn lagi. Bahkan ia bisa berpikiran kotor ketika melihat Lynn. Ia membayangkan tubuh polos Lynn yang ada di balik piyamanya.
Lynn menjauh dari Giovan, "bicaralah."
"Maaf, maaf atas apa yang telah kulakukan padamu. Aku tidak bermaksud memperlakukanmu seperti itu dan ...."
"Apa jika maafmu kuterima, semuanya bisa kembali seperti semula?" tanya Lynn.
"Kita adalah suami istri, jadi tidak jadi masalah jika kita melakukan itu. Dan aku tahu aku menggunakan cara yang salah. Aku hanya sedang emosi."
"Mudah sekali kamu mengatakannya. Kamu emosi hanya karena aku pulang sendiri? atau karena aku bertemu dengan temanku? atau karena kamu sedang dalam mood yang tidak bagus karena Alexa?"
Deggg
Giovan mengusap wajahnya kasar. Memang apa yang ia lakukan semuanya hanyalah karena ia melihat Alexa masuk ke dalam kamar bersama Darren. Setelahnya ia malah melampiaskan kekesalannya pada Lynn.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika kita tidak perlu mencampuri urusan masing masing? Pernikahan kita hanyalah pernikahan palsu untuk mencapai tujuan kita masing masing, bukan begitu?"
"A-aku ..."
"Kamu pernah mengatakan bahwa pernikahan kita akan batal jika kita mencampuri urusan masing masing. Kalau begitu sekarang lebih baik kita berpisah."
Deggg
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Kita tidak akan pernah berpisah!" ucap Giovan.
"Apa maumu sebenarnya? Aku mulai tidak mengerti dengan keinginanmu menikah denganku."
"Maaf, aku sedang emosi semalam."
"Apa ketika nanti kamu emosi lagi, kamu akan melakukan hal seperti itu lagi?" tanya Lynn.
"Tidak. Aku berjanji."
"Keluarlah, aku ingin sendiri," pinta Lynn.
"Makanlah dulu. Kata Melissa, kamu belum makan sejak pagi."
"Hmm."
Giovan akhirnya meninggalkan Lynn dan masuk ke dalam kamar tidurnya sendiri. Ia membasuh tubuhnya di bawah kucuran shower. Ia membersihkan diri sambil berpikir. Seharian ini isi kepalanya hanya ada Lynn, Lynn, dan Lynn. Bahkan ia tak memikirkan Alexa sama sekali.
Selesai mandi, Giovan pergi ke ruang makan. Ia sudah meminta pelayan menyiapkan makan malam. Ia duduk seorang diri dengan makanan di hadapannya, tapi sama sekali tidak berselera. Sesekali ia melihat ke arah kamar tidur Lynn, menunggu wanita itu keluar, turun, dan makan bersamanya.
*****
Sudah 1 minggu terlewati tanpa ada pembicaraan di antara mereka. Lynn akan sarapan jika tidak ada Giovan di meja makan dan begitu pula saat makan malam. Lynn juga tak pernah lagi pergi ke coffee shop, sepertinya ia berusaha menghindari kebersamaannya dengan Giovan.
Giovan sering duduk di depan pintu kamar tidur Lynn. Ia hanya mendengar suara petikan gitar dan terdengar Lynn sedang bernyanyi.
"Suaranya sangat merdu, mengapa ia tidak menjadi seorang penyanyi?" gumam Giovan dalam hati.
Selama seminggu ini, ia selalu mendengar Lynn bernyanyi dan ia akan langsung menjauh dari pintu ketika suara nyanyian Lynn sudah berhenti. Giovan hanya bisa mendengar suara Lynn tanpa melihat wanita itu di depan matanya. Sungguh, ia kini merasa kesepian tanpa adanya ocehan dan kebawelan dari Lynn.
Aku merindukanmu. Engkau begitu dekat, tapi terasa begitu jauh. - Giovan.
🧡 🧡 🧡