
Dengan menaiki kereta api, mereka kembali ke Kota Zurich. Selama perjalanan, tangan Giovan sama sekali tak lepas menggenggam tangan Lynn. Meskipun bahagia karena rasa rindunya sudah terbayarkan, tapi ia tetap takut jika Lynn akan pergi untuk kedua kalinya.
Giovan mengantarkan Lynn ke hotel tempat wanita itu menginap agar ia bisa membereskan barang barangnya. Setelah itu ia membawa Lynn ke hotel tempat ia menginap.
Lynn masuk ke sebuah kamar hotel yang cukup besar, meskipun bukan penthouse tapi memang jauh lebih besar daripada yang biasa ia tinggali selama berkeliling.
"Beristirahatlah, aku akan memesankan makanan untuk kita," hari sudah malam ketika mereka sampai lembali di Kota Zurich.
Lynn membersihkan dirinya kemudian keluar dari kamar mandi setelah selesai menggunakan piyamanya. Ia melihat Giovan yang tengah menerima seseorang, kemudian membawa sebuah troli yang berisi makanan masuk ke dalam kamar.
"Makanlah, aku akan mandi terlebih dahulu," Giovan mengambil pakaian tidurnya dan handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Lynn melihat makanan yang dipesan oleh Giovan, seketika air liurnya hampir menetes.
Bagaimana ia bisa tahu makanan kesukaanku? - batin Lynn sambil terus berpikir.
Ia sebenarnya sudah sangat lapar, tapi tak mungkin juga ia meninggalkan Giovan dan makan lebih dulu. Bukan apa apa hanya rasanya tidak etis. Makanan itu bukan dirinya yang membeli dan ia ingin sekali makan bersama dengan Giovan.
Tak sampai 10 menit, Giovan keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang sudah sangat segar. Sebuah piyama bergaris sudah melekat di tubuhnya.
"Kamu belum makan?" tanya Giovan melihat makanan yang ia pesan belum tersentuh.
"Aku menunggumu," ucap Lynn. Giovan tersenyum kemudian menarik sebuah kursi untuk Lynn.
"Duduklah, ayo kita makan."
Mereka duduk bersama di sebuah meja bundar yang memiliki 2 kursi. Giovan memindahkan makanan dari atas troli ke atas meja, begitu juga dengan Lynn.
Mereka pun makan dalam diam. Giovan melihat ke arah Lynn yang begitu lahap memakan semua yang ia pesan. Tidak salah ia menanyakan semuanya pada Mom Jane, ibu mertuanya.
Hubungan antara Giovan dan Lynn yang sebenarnya tidak diketahui oleh kedua keluarga. Hanya saja Giovan mengatakan bahwa Lynn sedang pergi berkeliling Eropa. Lynn sangat senang karena kehidupannya begitu tenang, karena tidak mendapatkan gangguan dari kedua orang tuanya yang selalu menanyakan ini dan itu.
Setelah selesai, Giovan dan Lynn merapikan semuanya kembali ke atas troli. Mereka pergi ke kamar mandi bersama untuk membersihkan gigi mereka. Keduanya merasa aneh satu sama lain, namun ada getaran di dalam diri mereka masing masing yang tidak bisa dijabarkan.
Lynn yang melihat Giovan berjalan ke sofa merasa tidak tega. Ukuran sofa dan ukuran Giovan sepertinya tidak pas.
"Tempat tidurnya sangat besar, kita bisa tidur bersama," ucap Lynn.
"Tidak, kamu tidurlah. Aku tidak apa, aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman denganku."
"Bukankah kamu berkata bahwa kita bisa memulainya dari awal?"
Giovan melihat ke arah Lynn dengan tatapan penuh harap, "Kamu mau?"
Lynn menganggukkan kepalanya, membuat Giovan tersenyum dan langsung memeluknya, "Terima kasih."
Kini mereka berdua telah berada di atas tempat tidur, menghadap ke langit langit. Tak ada pembicaraan karena mereka terdiam, seakan semuanya tertahan di tenggorokan mereka.
"Lynn ..."
"Bas ..."
Mereka berdua tertawa ketika memanggil nama masing masing secara bersamaan.
"Kamu dulu," sekali lagi mereka tertawa karena mengatakannya bersama.
"Selamat malam," ucap Giovan tersenyum.
"Selamat malam," balas Lynn. Ia langsung tidur menyamping, memunggungi Giovan. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, seperti seorang gadis remaja yang sedang kasmaran.
Sementara Giovan tidur menyamping namun memandangi punggung Lynn. Ia senang, ia bahagia. Mungkin malam ini ia bisa tertidur nyenyak, tidak seperti malam malam sebelumnya.
🧡 🧡 🧡