
Malam ini, Giovan menatap istrinya dengan bingung karena sedari tadi ia bisa merasakan kalau tatapan Lynn begitu tajam melihatnya.
"Mengapa kamu terus melihatku seperti itu?" tanya Giovan. Ia pun bangkit dan menghampiri Lynn yang sedang bersandar padakepala tempat tidur.
"Kamu main rahasia rahasiaan ya denganku?" tanya Lynn.
"Rahasia? rahasia apa?" Giovan mengerutkan dahinya karena bingung.
Lynn melipat kedua tangan di depan dada. Ia menghela nafasnya pelan dan akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Kamu membantu Melissa untuk kuliah?" tanya Lynn.
"Hmm ... aku kasihan padanya. Ia ingin belajar, tapi tak ada biaya," Lynn melihat dan mendengar tak ada keraguan ataupun keinginan untuk menyembunyikan semua itu dari cara Giovan berbicara dan melihatnya.
"Maaf jika aku tidak mengatakannya kepadamu. Sebenarnya aku ingin berterima kasih padanya karena telah memberitahukan padaku tentang apa yang biasa kamu lakukan. Kalau kamu tidak suka aku melakukannya, aku akan menghentikannya dan memberikan kompensasi yang lain," ucap Giovan lagi. Ia tak ingin Lynn salah paham dengan apa yang ia lakukan pada Melissa.
Lynn tersenyum, "Aku tidak marah, justru aku bangga padamu bisa membantunya. Apa aku boleh meminta sesuatu?"
"Tentu saja, baby. Anything for you," ucap Giovan tersenyum.
"Melissa hanya melakukan perkuliahan secara online saja. Izinkan dan bantu dia untuk bisa berkuliah seperti orang orang lain, karena aku tahu masa masa perkuliahan akan menyenangkan untuknya."
"Kamu ingin aku melakukan itu?"
"Hmm, apa kamu tidak mau?" tanya Lynn ragu.
"Aku mau. Aku akan mengabulkan keinginanmu," Giovan tersenyum. Lynn pun segera memeluk suaminya itu dengan erat, kemudian berbisik, "Aku juga menginginkanmu, apa kamu akan mengabulkannya?"
Tanpa banyak bicara, Giovan langsung membuka pakaiannya dan mengungkung Lynn, "Kalau yang satu ini, aku akan selalu mengabulkannya."
Malam itu, mereka kembali larut dalam pergelutan panas yang penuh dengan cinta.
*****
Sudah beberapa hari ini Lynn merasa kurang enak badan. Kepalanya pusing dan ia tak ingin makan. Bahkan buah pun ia tak mau.
"Baby, kamu harus makan. Lihatlah wajahmu sudah pucat seperti itu. Kita ke dokter saja ya," pinta Giovan.
Lynn menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa apa. Mungkin hanya kurang tidur dan masuk angin."
Salju yang mulai turun membuat suasana menjadi lebih dingin, meskipun di dalam rumah menggunakan pemanas.
"Tidak bisa begitu, sayang. Kamu sakit bukan hanya sekarang tapi sudah beberapa hari. Kali ini saja ikuti keinginannku," ucap Giovan.
Lynn melihat ke arah wajah Giovan yang memelas, pada akhirnya ia pun menyetujui.
Seketika Giovan ingin tertawa melihat wajah Lynn yang sepertinya sangat takut untuk pergi ke dokter.
"Memangnya kamu takut disuntik?" tanya Giovan.
"Hmm ... aku tidak mauu!!"
"Tapi kamu tidak takut dengan suntikanku," ucap Giovan yang sontak langsung membuat wajah Lynn memerah bagaikan tomat.
"Ahhh mesummm!!" Lynn memukul bahu Giovan yang sedang menggodanya.
*****
Mereka kini sedang duduk di kursi tunggu di rumah sakit. Giovan langsung membawa Lynn menemui seorang dokter umum yang praktek di sana. Dengan sweater yang cukup tebal, mereka menunggu giliran.
"Nyonya Sebastian," panggil seorang perawat.
Giovan dan Lynn langsung masuk ke dalam ruangan. Mereka melihat seorang wanita paruh baya yang sedang menulis sesuatu di atas kertas.
Ia kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum pada keduanya. Dokter tersebut menanyakan aoa keluhan yang dirasakan oleh Lynn, kemudian memeriksa tekanan darah milik Lynn.
Dokter itu tersenyum, "Kapan terakhir anda datang bulan?"
"Hmm, saya tidak terlalu ingat dok karena memang jadwalnya tidak pernah teratur."
"Untuk diagnosa pastinya, saya menyarankan anda bertemu dengan seorang dokter obgyn."
"Apa ada masalah dengan kandungan saya?" tanya Lynn cemas. Meskipun ia tahu Giovan mengalami infertilitas, tapi bukankah itu tidak menutup kemungkinan bahwa ia bisa hamil. Namun jika ia yang bermasalah saat ini, maka mereka benar benar tak akan bisa memiliki anak.
"Tidak Nyonya. Menurut prediksi saya, saat ini anda sedang mengandung. Oleh karena itu untuk lebih pasti sebaiknya anda menemui seorang dokter kandungan," jelas sang dokter.
Tak bisa dipungkiri ada rona rona harapan di wajah kedua suami istri itu. Mereka pun segera pamit dan Giovan kembali mendaftarkan Lynn di dokter kandungan.
Giovan terus menggenggam tangan Lynn, bahkan ia merasa tangannya kini lebih dingin daripada suhu di luar. Jantungnya berdetak cepat dan tak sabar untuk mengetahui apakah dugaan dokter umum tersebut benar. Bagaimanapun juga, Giovan sangat berharap memiliki anak bersama dengan Lynn.
"Tanganmu dingin," ucap Lynn sambil melihat ke arah Giovan yang tengah menggenggamnya. Ia bisa melihat raut wajah Giovan yang begitu tegang.
"Tenanglah, Benar ataupun tidak diagnosa ini, kita harus tetap bersyukur. Bagaimanapun, kita akan selalu bersama," ucap Lynn. Ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Giovan.
"Terima kasih."
🧡 🧡 🧡