
Lynn terus memandang ke arah pintu kamar mandi. Ia tahu jika ia terus terlarut dalam traumanya, maka ia tak akan pernah bisa bangkit. Selama ini, Giovan selalu bersikap baik padanya. Mulai dari memberinya perhatian, menunggu kepulangannya, bahkan tak memaksakan kehendaknya lagi.
Akhirnya Lynn bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi, di mana Giovan berada. Ia membuka pintu dengan perlahan. Ia melihat Giovan yang terdiam di bawah kucuran air shower, tanpa sehelai benang pun dan tanpa melakukan apa apa.
Lynn memeluk Giovan dari belakang setelah ia menanggalkan pakaiannya sendiri. Ia juga menyandarkan kepalanya ke tubuh bagian belakang Giovan.
"Lakukanlah, aku siap," ucap Lynn.
"Tidak, aku akan menuntaskannya sendiri. Kembalilah ke kamar. Aku tak ingin menyakitimu," ucap Giovan.
Lynn memutar wajah Giovan hingga melihat ke arahnya. Lynn langsung menempelkan bibirnya pada bibir Giovan dan mulai melummatnya perlahan.
"Jika aku sudah memulainya, maka aku tak akan berhenti," ucap Giovan sekali lagi.
"Lakukanlah."
Giovan memutar tubuhnya dan mulai mencium bibir Lynn dengan perlahan dan lembut. Ia memutar Lynn hingga tubuh wanita itu bersandar ke dinding. Giovan memegang tengkuk Lynn dan memperdalam ciumannya.
Dengan perlahan ciuman Giovan mulai turun ke leher jenjang milik Lynn dan menyesapnya dalam hingga meninggalkan beberapa tanda kemerahan. Tubuh Lynn mulai bergetar ketika Giovan memberikan sentuhan di setiap inchi tubuhnya.
Tangan Giovan mulai bergerilya di kedua aset milik Lynn, hingga menimbulkan dessahan yang begitu indah terdengar di telinga Giovan, dan membuat bagian intinya berkedut. Setelahnya, ia juga memberikan sentuhan pada bagian inti milik Lynn hingga wanita itu merasakan ingin sesuatu yang lebih.
"Kita akan melanjutkannya di kamar," ucap Giovan.
Ia mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Lynn dan juga tubuhnya, kemudian ia menggendong Lynn ala bridal.
"I love you," ucap Giovan dengan manik mata yang terus menatap ke arah Lynn. Seketika Lynn merasakan kupu kupu beterbangan dari dalam dirinya.
Giovan kembali mendaratkan ciuman ke bibir Lynn. Ciuman yang awalnya lembut, semakin lama semakin panas, membuat keduanya menginginkan lebih.
"Lakukan sekarang," ucap Lynn.
"As you wish, baby."
Giovan menyatukan miliknya ke dalam inti milik Lynn. Sama seperti saat pertama ia melakukannya, begitu sempit dan nikmat. Setelah Lynn mulai menerima dirinya, Giovan menghentakkannya perlahan, hingga semakin lama semakin cepat. Suara errangan dan dessahan memenuhi kamar, membuat keduanya semakin diliputi kenikmatan dunia.
Setelah bergelut beberapa lama, Giovan berbaring di samping Lynn. Ia menyampingkan tubuhnya dan menatap istrinya, "thank you. I Love you."
"I love you too," seberkas senyuman terbit di wajah Giovan mendengar ucapan Lynn. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memeluk wanitanya dan memberikan ciuman yang dalam di kening. Ia juga menyelimuti Lynn.
"Tidurlah, kita akan pergi pagi pagi besok," ucap Giovan. Keduanya tidur berhadapan dan saling berpelukan. Tubuh keduanya yang tanpa sehelai benang pun kini menempel hingga membuat keduanya kembali merasakan gelenyar yang tak bisa mereka katakan.
Namun, Giovan menepis semuanya. Ia tak ingin membuat Lynn lelah dan besok akan bangun kesiangan. Ia akan membiarkan istrinya itu beristirahat.
Malam pertama Giovan di Kota Zurich menjadi malam yang begitu berkesan baginya. Meskipun ia harus menunggu 1 tahun, tapi kini semua tidak sia sia. Ia mendapatkan maaf dari istrinya.
"I love you," Giovan kembali mengecup pucuk kepala Lynn, seakan tak bosan untuk mengatakan kata cinta.
🧡 🧡 🧡