I Travel, I Love

I Travel, I Love
THANK YOU, MISS



3 bulan berlalu, pagi ini Lynn sangat malas sekali bangun dari tidurnya. Ia merasa tubuhnya ingin terus berlama lama di balik selimut.


"Apa sudah akan masuk musim dingin?" gumam Lynn. Ia meraba tempat tidur di sebelahnya, namun ternyata kosong. Giovan tidak ada di sana.


Ia melihat jam di layar ponsel yang ia letakkan di atas nakas, matanya membulat ketika melihat angka yang tertera di sana.


"Whattt?? Sudah jam 11," Lynn segera bangkit dari tidurnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri dengan menggunakan air hangat. Setelahnya ia langsung turun ke bawah untuk mencari keberadaan Giovan.


"Mel, di mana suamiku?" tanya Lynn pada Melissa.


"Tuan sudah berangkat, Miss."


"Mengapa dia tidak membangunkanku?"


"Tuan bilang katanya biarkan Miss istirahat. Jangan mengganggu karena Miss pasti kelelahan," Melissa menutup mulutnya karena tersenyum.


Ya, semalaman Giovan menggempurnya hingga ia merasa sangat kelelahan. Ntah mengapa Giovan semalam begitu sangat seksi baginya hingga ia bahkan bersikap sangat liar. Jika memikirkannya, seketika Lynn menjadi sangat malu.


Lynn yang menyantap makan siangnya, kini memegang ponsel. Ia ingin menghubungi Giovan. Tapi sebelum ia melakukannya, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Halo."


"Mengapa kamu tidak membangunkanku?" tanya Lynn.


"Aku tidak tega melihatmu kelelahan dan masih sangat mengantuk."


"Kalau saja kamu tidak menggempurku semalaman, tentu aku tidak akan kelelahan," gerutu Lynn. Di seberang telepon, Giovan tertawa.


"Apa kamu tidak ingat siapa yang semalam begitu menikmati dan juga begitu agresif?"


Seketika Lynn malu dan wajahnya memerah. Ia menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya.


"Tapi aku suka," ucap Giovan yang membuat Lynn semakin terbakar.


"Ahhh kamu terus menggodaku. Sudah ah, aku tidur saja lagi," ucap Lynn.


"Tidurlah, baby. Jadi nanti malam kita bisa mengulangi lagi seperti semalam. Kumpulkan lagi tenagamu," Giovan sangat suka menggoda Lynn.


"Ahh kamu menyebalkan!" Lynn yang malu akhirnya memutuskan panggilan tersebut.


Ia telah selesai makan dan akhirnya kembali ke kamar. Ia membuka gorden kamarnya dan tampak taman belakang yang begitu indah. Lynn duduk di balkon sambil mengenakan sebuah sweater. Ia sangat yakin musim dingin akan segera datang karena ia bisa merasakan dari angin yang menerpa wajahnya.


*****


1 minggu berlalu dan benar saja, salju mulai turun di Kota Sydney. Salju di Australia berbeda dengan salju di negara Eropa dan Amerika. Jika di Eropa dan Amerika, musim salju terjadi pada bulan Desember, sementara di Australia, musim salju terjadi di bulan Juni/Juli.


Hari ini hari Sabtu, sehingga Giovan tidak pergi ke cafe. Dulu saat Lynn masih pergi berkeliling Eropa, ia akan menghabiskan waktunya 1 minggu full untuk bekerja, tak ada kata libur.


Namun sekarang, ia masih bergelung di bawah selimut bersama Lynn yang saat ini tengah memeluknya. Giovan mengecup hidung dan mata Lynn, membuat wanita itu terusik.


"Ahh jangan menggangguku, aku masih mengantuk," Lynn memutar tubuhnya, membelakangi Giovan.


Giovan terus mendekati dan memeluk Lynn dari belakang. Ia mencium bahu dan tengkuk Lynn hingga membuat wanita itu bisa merasakan hawa panas yang keluar dari mulut dan hidung Giovan.


Lynn kembali memutar tubuhnya dan kembali memeluk Giovan, "Kamu hangat sekali, aku suka."


Giovan menyunggingkan senyumnya dan mulai memberikan ranggsangan pada istrinya itu. Sesuatu seperti tiang sudah mulai tegak di bawah sana, menunggu untuk dipuaskan.


"Baby, I love you," bisik Giovan di telinga Lynn yang langsung membuat tubuh Lynn bergetar.


"Aahhh, I love you too."


"Ahhh ...," suara dess ahan lolos begitu saja dari bibir Lynn dan membuat Giovan terus melancarkan aksinya.


Keduanya bergelut di bawah selimut untuk mencari kehangatan satu sama lain. Hingga waktu menunjukkan pukul 12 siang, mereka baru keluar dari kamar.


"Mel, apa kita punya cake coklat?" tanya Lynn.


"Cake? Coklat?"


"Hmmm ...."


"Tidak ada Miss. Bukankah belakangan anda tidak menginginkannya?" tanya Melissa.


Lynn menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Benar juga. Tapi sekarang aku sangat menginginkannya."


"Aku akan membuatkannya, Miss."


"Kamu bisa? Apa tidak merepotkanmu? Sebaiknya kita beli saja."


"Tidak perlu Miss, semua bahan ada di dalam kulkas dan aku bisa mengerjakannya dengan cepat."


"Ahhh terima kasih Mel, aku senang sekali. Kamu benar benar temanku," puji Lynn.


*****


Lynn duduk di sofa ruang keluarga. Ia memegang sebuah piring berisi cake coklat dan sisanya ia letakkan di atas meja. Ia menyalakan televisi dan menikmatinya.


Giovan? Giovan masih terlelap karena semalam ia pulang agak larut dan ia lanjut dengan menggempur Lynn tadi pagi.


"Mel, kemarilah. Duduk dan makan bersamaku," ajak Lynn.


"Aku harus mengerjakan tugas tugasku dulu," ucap Melissa.


"Tugas? Kamu tidak sendirian Mel, masih banyak pelayan yang lain. Mengapa sepertinya kamu senua yang mengerjakan?" Lynn yang ingin ditemani oleh Melissa jadi menggerutu kesal.


"Bukan tugas rumah. Aku ingin mengerjakan tugas kuliahku."


"Kuliah?" tanya Lynn heran karena ia tak pernah melihat Melissa pergi.


"Ya, aku mengambil kuliah secara online dan ini sudah semester keempat. Aku akan menghadapi ujian. Aku sangat berterima kasih pada Tuan Giovan yang sudah membantuku mencari tempat kuliah."


"Giovan membantumu?" tanya Lynn lagi.


"Iya Miss. Tuan Giovan membantuku karena ia bilang ia sangat berterima kasih karena sudah memberitahukan akun media sosial Miss Miracle anda," bisik Melissa.


"Jadi kalian melakukan kerja sama? tukar tambah?"


Seketika Melissa tertawa dengan ungkapan yang dikeluarkan oleh teman sekaligus majikannya itu.


"Bisa dikatakan begitu, lumayan kan cuma keluar 1 info ... hidupku akan berubah menjadi lebih baik," ucap Melissa. Melissa terpaksa tidak melanjutkan kuliah karena kedua orang tuanya meninggal. Ia tak memiliki tabungan apalagi pekerjaan saat itu, hingga ia memutuskan untuk mencari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Menurutnya jika menjadi ART, setidaknya ia memiliki tempat tinggal, tidak perlu mengeluarkan uang.


Lynn tertawa melihat kejujuran Melissa dan bagaimana temannya itu memiliki semangat untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik.


"Baiklah kalau begitu aku tidak akan mengganggumu. Selesaikan tugasmu dan ... ku rasa sebaiknya kamu pergi kuliah yang sebenarnya saja Mel. Aku akan membantumu," ucap Lynn sambil tersenyum.


Melissa sangat senang sekali. Meskipun kuliahnya sempat tertunda karena keterbatasan biaya, tapi ia bisa bertemu dengan orang orang yang begitu baik padanya.


"Thank you, Miss. I love you so much," Lynn merentangkan kedua tangannya dan menyambut Melissa.


🧡 🧡 🧡