
"Abasss!!!" Lynn menggerutu kesal karena lagi lagi ia dibangunkan. Ia masih sangat mengantuk karena beberapa hari belakangan ini tidurnya sangat kurang sekali.
"Cepat siapkan pakaianku, aku mau pergi," perintah Giovan.
"Ahh biasanya kamu bisa menyiapkan semua sendiri, kenapa sekarang nyuruh-nyuruh?" tanya Lynn sambil memanyunkan bibirnya dan mengacak acak rambutnya.
"Kamu belum mulai bekerja saja sudah malas begini. Kalau begitu kamu aku pecat saja!" ungkap Giovan dengan kesal.
Seketika mata Lynn membuka penuh dan langsung berlari ke kamar mandi. Giovan yang melihatnya membulatkan matanya. Awalnya ia yang mau mandi, mengapa Lynn yang malah masuk ke sana.
"Mira!! kenapa kamu yang masuk?" tanya Giovan.
"Aku kan harus rapi lebih dulu, setelah itu menyiapkan keperluanmu. Kalau dirimu dulu, nanti aku ditinggal lagi," jawab Lynn.
Giovan akhirnya mengalah, ia pun duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
5 menit ... 10 menit ... 20 menit ... 30 menit ...
Lynn tidak juga keluar, membuat Giovan jadi meradang. Baru ia akan mengetuk pintu, Lynn membuka pintu dari dalam dengan rambut yang basah dan wajah yang segar.
Deggg
Giovan sedikit kaget, hingga jantungnya berdetak lebih cepat. Sementara Lynn hanya tersenyum, kemudian berlalu dari sana menuju ke dalam kamar tidurnya. Giovan yang masih berdiri mematung di depan kamar mandi akhirnya tersadar dan masuk ke dalamnya untuk membersihkan diri.
Lynn menggunakan pakaian kerja yang ia miliki, kemeja dengan rok sepan dan blazer warna senada. Ia juga mengeluarkan sepatu heels nya dan meletakkannya di dekat pintu. Ia hanya berdandan tipis karena memang ia tak suka dengan make up yang berlebihan.
Lynn menyiapkan pakaian kerja Giovan, meskipun ia tidak tahu apa pekerjaan pria itu. Ia melihat ke sekeliling kamar tidur Giovan. Meskipun tak terlalu besar, tapi sangat rapi. Ia menjadi malu sendiri jika melihat dirinya yang berantakan.
Ia keluar dari kamar dan duduk di sofa. Lynn melakukan semuanya hanya dalam 15 menit, berganti pakaian, make up, dan menyiapkan pakaian Giovan. Ia sudah terbiasa melakukan gerak cepat jika bersiap siap, yang membuatnya lama hanya saat harus bangun dari tempat tidurnya.
Giovan keluar dari kamar mandi dan seperti biasa hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Lynn melihatnya sekilas, kemudian kembali fokus dengan televisi di hadapannya.
Giovan masuk ke dalam kamar tidurnya dan melihat pakaian yang disiapkan oleh Lynn. Ia tersenyum saat melihatnya, kemudian mengambil pakaian itu dan mengembalikannya ke dalam lemari.
Ia keluar menggunakan pakaian casual. Ia mengambil sepatu kets nya dan memakainya. Lynn yang melihatnya langsung melotot.
"Kamu mau ke mana?" tanya Lynn.
"Sudah kukatakan aku akan bekerja," jawab Giovan.
"Lalu aku?"
"Tentu saja ikut denganku, bukankah kamu asistenku?"
Giovan akan berjalan menuju pintu keluar. Lynn yang merasa salah kostum, tidak memiliki waktu untuk menggantinya. Ia terpaksa mengikuti Giovan, meskipun harus menggunakan rok sepan dan blazer, serta sepatu heels.
**
Giovan berjalan di sepanjang trotoar dari apartemennya, menuju ke sebuah coffee shopyang tak jauh dari sana. Lynn yang menggunakan sepatu heels kerepotan dengan langkah Giovan yang cukup lebar.
"Tunggu aku!" teriak Lynn.
"Lambat!"
"Bukan aku yang lambat, tapi kamu yang teelalu cepat. Lihat saja kakimu itu, panjang bener kayak galah."
"Eh jangan donk, aku kan belum tahu kalau mengumpat itu dilarang. Tapi ngomong ngomong, berapa besar gajiku? Sepertinya kita belum membicarakan ini. Lalu, apa sebenarnya pekerjaanmu?" Lynn mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masih sambil mengikuti langkah Giovan.
Memasuki sebuah coffee shop, Giovan disapa oleh beberapa pelayan di sana. Ia pun naik ke atas, ke ruangannya diikuti oleh Lynn. Lynn menoleh ke kiri dan ke kanan, melihat lihat interior coffee shop tersebut.
"Kamu pemilik coffee shop ini?" tanya Lynn.
"Tidak," jawab Giovan santai. Ia tidak ingin ada yang tahu dirinya yang memiliki coffee shop dan juga cafe yang sebelumnya memanggil Lynn untuk bekerja.
"Baguslah!" ucap Lynn tiba tiba.
"Bagus?" tanya Giovan dan Lynn mengangguk.
"Bukankah akan lebih bagus kalau aku yang memiliki coffee shop ini, jadi hidupmu bisa terjamin karena bisa terus bekerja denganku."
"Tidak. Aku rasa aku juga tak akan lama bekerja denganmu. Kalau aku sudah mendapatkan uang, aku akan pergi," ucap Lynn.
"Pergi? kamu mau ke mana?" tanya Giovan.
"Ntahlah, tapi setidaknya aku ingin berkeliling dunia," jawab Lynn.
"Lalu sekarang apa yang harus kukerjakan?" tanya Lynn.
"Apa yang bisa kamu kerjakan?" tanya Giovan.
"Aku adalah lulusan jurusan administrasi. Menurutmu apa yang bisa kukerjakan?" Giovan menepuk keningnya karena Lynn selalu menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi.
"Mengapa kamu selalu bertanya padaku lagi?"
"Karena aku sendiri tidak tahu apa yang ingin kukerjakan. Tujuanku hanya satu, yakni mendapatkan uang. Lalu, kamu mempekerjakanku karena membutuhkan tenagaku kan? apa yang ingin kamu mau aku kerjakan?"
"Periksa laporan penjualan ini dan buat dalam sebuah laporan bulanan. Kamu bisa menggunakan laptop ini," Giovan memberikan laptop kepada Lynn.
Tanpa banyak bicara, Lynn meraih tumpukan kertas dan juga laptop dari tangan Giovan. Ia menyalakan laptop itu dan mulai mengerjakannya.
Aku harus melakukan yang terbaik. Bukankah ini semua mudah bagimu, Lynn? Yang perlu kamu lakukan hanya kerja, kerja, dan kerja, karena yang kamu butuhkan hanya uang, uang, dan uang. - Lynn.
Cukup dengan 2 jam saja, Lynn sudah selesai merampungkan semua laporan itu. Dulu saat masih kuliah, ia sebenarnya bisa mendapatkan nilai yang baik, hanya saja ia lebih suka bermain dengan teman temannya, hingga kadang kuliahnya terbengkalai.
"Sudah," ucap Lynn dan memberikan semuanya pada Giovan.
"Sudah?"
"Iya sudah," ucap Lynn lagi.
Giovan memeriksa sekilas laporan itu dan melihat bahwa apa yang dikerjakan oleh Lynn benar benar rapi sekali. Lynn memang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, tapi kalau masalah administrasi seperti itu, itu adalah hal kecil dan sangat mudah baginya.
Lynn kembali duduk di sofa dan melihat ke luar jendela yang memiliki kusen berwarna coklat gelap, yang mengelilingi kaca es atau bisa dikatakan sebagai kaca buram.
Ia hanya termenung dan hanya author yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.
🧡 🧡 🧡