I Travel, I Love

I Travel, I Love
BERHENTI BEKERJA



Mom Jane terbangun, ia merasakan tangannya berat. Ia mencoba mengangkat tangannya perlahan dan ternyata hal itu membangunkan Lynn.


"Mom, mommy sudah bangun?" Mom Jane yang mendengar suara Lynn langsung menampakkan senyum di wajahnya.


"Ka-kamu pulang, sayang? kamu kembali?" tanya Mom Jane bersemangat.


"Ya mom, Lynn di sini," jawab Lynn dengan tetap memegang tangan Mom Jane.


"Mengapa kamu kabur? dasar anak nakal!" tiba tiba saja Mom Jane memukul kepalanya. Ia kira pertemuannya dengan Mommynya itu akan sangat melankolis, tapi ternyata ia malah mendapatkan pukulan.


"Sakit, Mom!" teriak Lynn.


"Mommy juga sakit, sakit menahan malu ketika calon besan kita tidak menemukanmu," ungkap Mom Jane, membuat Lynn menundukkan kepalanya. Ia tahu ia melakukan hal yang salah dengan kabur, tapi ia benar benar tak ingin menikah, apalagi dengan seseorang yang tidak ia kenal.


"Sekarang Mommy tidak mau tahu, kamu harus segera menikah!"


Deghhh


Mom Jane baru saja sadar dan langsung memaksanya kembali untuk menikah. Lynn tidak lupa dengan janjinya, bahwa ia akan menuruti apapun keinginan Mommynya itu.


"Mom, sebaiknya mommy fokus untuk kesembuhan kaki Mommy. Lihatlah kaki Mom bengkak begitu," ucap Lynn.


"Mommy tidak mau sembuh jika kamu tidak mau berjanji bahwa kamu akan mengikuti semua keinginan Mommy!"


"Tapi, Mom! Saat ini aku sudah bekerja dan aku harus segera kembali untuk menyelesaikan pekerjaanku. Aku terikat kontrak di sana. Kali ini saja aku meminta izin, untung diberikan," ucap Lynn. Ia terpaksa harus sedikit berbohong.


"Daddy akan membantumu membayar penalti nanti meskipun kamu melanggar kontrak kerjamu."


"Tidak bisa seperti itu, Mom. Aku tidak ingin namaku jelek, apalagi ini pertama kalinya aku bekerja," ujar Lynn.


"Jadi kamu lebih menyayangi pekerjaanmu dibandingkan Mommy?" tanya Mom Jane.


"Bukan begitu maksudku," Lynn menghela nafasnya pelan. Ia sangat berharap Dad Stanley berada di sana agar bisa membantunya.


"Kalau kamu tidak mau, sebaiknya kamu keluar. Kamu tidak perlu lagi memikirkan ataupun mengkhawatirkan keadaan Mom. Anggap saja Mom sudah tidak ada," Mom Jane langsung menarik selimut dan menyampingkan tubuhnya,membelakangi Lynn.


"Baiklah. Aku akan menuruti apapun yang Mommy inginkan. Tapi izinkan aku untuk menyelesaikan semua pekerjaanku terlebih dulu. Aku berjanji tidak akan kabur lagi. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan semuanya," ungkap Lynn.


Kini wajah Mom Jane berubah sumringah. Ia sudah berhasil membuat putrinya untuk menuruti keinginannya. Sekarang yang ia perlu lakukan hanya kembali menemui keluarga Sebastian dan melanjutkan perjodohan kedua anak mereka.


Lynn keluar dari ruang rawat. Ia melihat kedatangan Dad Stanley.


"Dad, aku akan pergi lagi. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum aku menuruti semua keinginan Mommy," Lynn pergi dari hadapan Dad Stanley dengan langkah gontai.


"Sayang, Dad akan bicara dengan Mommy."


"Jangan. Tidak perlu Dad. Aku sudah berjanji pada Mommy. Jika memang Mommy bahagia, mungkin aku harus melakukannya."


Dad Stanley hanya bisa menghela nafasnya. Ia sedih sebenarnya melihat keadaan putrinya, namun keinginan Mom Jane yang ingin sekali melihat putrinya menikah sepertinya sangat menggebu gebu.


Giovan datang pagi pagi ke coffee shop. Ia masuk ke dalam ruangan dan mengernyitkan dahinya. Suasana ruangan itu tak berubah banyak, hanya ada beberapa lembar kertas yang sepertinya sudah selesai dikerjakan oleh Lynn.


"Apa Mira belum datang?" tanya Giovan kepada salah satu pegawai.


"Belum. Kemarin juga ia pulang dengan terburu buru," jawab pegawai itu.


Ke mana dia? - batin Giovan. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya itu.


Hingga malam, tak ada tanda tanda kedatangan Lynn. Sejak pagi Giovan sudah mencoba menghubunginya, namun sama sekali tidak tersambung.


Lynn yang baru sampai kembali di apartemennya, langsung membaringkan tubuhnya. Ia bahkan belum menyalakan kembali ponselnya. Hati dan pikirannya masih kacau dengan janji yang ia buat kepada Mom Jane.


Ia bukan gadis cengeng, karena itulah menghadapi hal seperti ini pun ia tak menangis. Hanya saja hatinya dipenuhi gundah yang teramat besar. Ia menghela nafasnya berkali kali dengan kasar.


Keesokan paginya, Lynn kembali ke coffee shop.


"Mir, kamu dicariin bos tuh. Ke mana aja kemarin?"


"Ahh maaf, kemarin aku sedang ada urusan keluarga. Aku lupa minta izin," ucap Lynn sambil tersenyum.


Lynn segera masuk ke dalam ruangan dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai, meskipun hanya 1 hari.


ceklekkk


Lynn menolehkan wajahnya dan melihat Giovan yang sudah berdiri di ambang pintu. Keduanya saling menatap hingga tak menyadari bahwa kini jantung mereka telah berdetak dengan sangat cepat.


"Kamu kemarin ke mana?" tanya Giovan untuk memecah keheningan di antara mereka.


"Ah maaf, aku ada urusan sebentar."


"Kenapa tidak mengabari? Lihat kamu membuat pekerjaan terbengkalai," ujar Giovan.


"Maafkan aku. Aku akan segera menyelesaikannya. Setelah ini, aku ingin bicara denganmu," ucap Lynn.


Giovan menangkap sesuatu yang berbeda dari Lynn. Tak ada Lynn yang ceria seperti biasanya. Wajahnya terlihat sendu dan sedang memiliki beban yang sangat berat.


Giovan yang merasa penasaran akhirnya duduk di samping Lynn. Ia menyingkirkan semua kertas di hadapan Lynn kemudian memegang bahu gadis itu dan menghadapkan ke arahnya.


"Jangan membuatku penasaran, apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Giovan.


Apa ia akan meminta pertanggungjawabab padaku tentang ciuman itu? Apa dia akan memintaku menikahinya? - batin Giovan menebak nebak.


Lynn menatap Giovan kemudian menghela nafasnya agar dirinya lebih tenang.


"Aku akan berhenti bekerja."


🧡 🧡 🧡