I Travel, I Love

I Travel, I Love
SABAR



Setelah dari cafe, tempat di mana ia makan malam bersama Alexa dan teman temannya, Giovan tidak langsung kembali ke hotel. Ia berjalan menyusuri trotoar tak tentu arah sampai ia melihat sebuah club yang dari pintu masuk saja bisa terlihat kerlap kerlip lampu di bagian dalam.


Suara musik yang berdentum terus saja terdengar saling bersahut sahutan. Pikirannya yang kacau seakan menggiringnya untuk masuk ke dalam. Giovan melihat ke kiri dan ke kanan di mana banyak meja meja yang terisi oleh para pria yang sedang bercumbu dengan wanita yang memakai pakaian begitu seksi.


Giovan berjalan menuju meja bartender. Ia memesan segelas kecil minuman. Saat minuman sudah berada di hadapannya, ia langsung menegaknya tanpa pikir panjang.


"Lagi."


"Lagi."


"Lagi."


Ia terus menambah minumannya hingga pada akhirnya ia mulai meracau dan tak sadarkan diri di meja bartender. Seperti kepada semua pelanggan, bartender itu akan membantu semua pengunjung yang mabuk agar bisa pulang.


*****


tokk tokkk tokkk ....


Lynn yang sudah tertidur terpaksa bangun karena suara ketukan yang tidak berhenti di pintu kamar hotelnya.


ceklekkk


Lynn sangat kaget ketika di depan pintu sudah berdiri seorang pria yang sedang memapah Giovan. Pria itu juga datang bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik menurut Lynn.


"Hmm, aku titip dia padamu ya. Aku sudah menanyakan pada resepsionis kalau kakakku datang ke sini bersamamu, jadi .... aku pergi dulu," ucap Alexa.


"T-tapi."


Alexa memutar tubuhnya kemudian mendekat ke arah Lynn, "Aku seperti pernah melihatmu, tapi di mana ya?"


waduhh, apa jangan jangan wanita di depanku ini tahu kalau aku yang kabur karena dijodohkan? tidak tidak, apa ia salah satu tamu undangan yang datang ke pernikahanku? apa Dad dan Mom memasang fotoku begitu besar? Ahhh tidak, tidak,tidak boleh ada yang mengenaliku. - Lynn.


"Mungkin anda salah orang, nona. Memang wajah saya ini agak sedikit pasaran. Mungkin nona bertemu dengan kembaran saya," ucap Lynn asal.


"Apa kamu punya kembaran?" tiba tiba saja Alexa menjadi sangat antusias. Sejak dulu ia sangat tertarik dengan anak kembar, bahkan berharap ia bisa memiliki anak kembar.


"Ya, aku punya ... bayanganku," ucap Lynn sambil tersenyum.


"Wah menyenangkan sekali. Kapan kapan kita harus ngobrol. Aku ingin tahu lebih banyak lagi tentang saudara kembar. Sekarang aku harus pergi dulu, kekasihku sedang menungguku. Sampai jumpa," Alexa akhirnya keluar dari kamar hotel dan segera menyusul Darren.


Lynn menutup pintu kamarnya kemudian memutar tubuhnya melihat ke arah Giovan yang kini tengah terbaring di atas tempat tidurnya.


"Jadi kamu pergi hanya untuk mabuk mabukan, hah?! Dasar pria," ucap Lynn dengan kesal. Ia pun mengambil bantal dan meletakkannya di sofa. Ia juga menarik selimut, membiarkan Giovan dengan selimut tipis yang lebih pantas disebut kain sprei.


Ia pun segera memejamkan matanya karena memang ia masih sangat mengantuk.


*****


Giovan mengerjapkan matanya. Ia merasa sangat pusing. Ia menatap ke langit langit, menyadari kalau ia sudah berada di hotel tenpatnya menginap.


Siapa yang membawaku pulang? - batinnya.


Ia meninggikan tubuhnya, bersandar di kepala tempat tidur kemudian menatap ke sekeliling. Ia melihat Lynn sedang tertidur di atas sofa di kamar hotelnya.


Giovan bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berjalan mendekati Lynn. Ia sedikit berlutut untuk menyamakan tinggi. Lynn yang awalnya tidur menghadap ke atas, kini sedikit berputar hingga wajahnya dan wajah Giovan saling berhadapan.


deggg


Giovan tidak pernah melihat seorang wanita tidur, kecuali Mom Daniela. Jantungnya kembali berdetak cepat, membuatnya langsung memalingkan wajah. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Lynn untuk membangunkan wanita di hadapannya.


Gedebugg


"Aduhhh!!! Ahhh ...," Lynn meringis kesakitan karena ia terjatuh dari sofa yang menjadi tempatnya bermimpi semalam.


"Akhirnya bangun juga," ucap Giovan.


"Apa yang kamu lakukan, hah? Kenapa kamu mengganggu tidurku?" gerutu Lynn masih mendekap bantal di pelukannya.


"Justru seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan di kamarku?"


Mata Lynn langsung membulat dan segar seketika.


"Kamarmu? Mana yang kamu katakan sebagai kamarmu, hah?!" Lynn mencebik kesal.


"Tentu saja ini ka ... marku," Giovan memindai ke sekeliling. Ia mengerutkan keningnya, baru menyadari bahwa ini bukan kamar hotel yang kemarin ia tempati.


*****


"Ceritakan padaku, bagaimana aku bisa sampai ke kamarmu?" tanya Giovan sambil duduk berhadapan dengan Lynn. Saat ini mereka sedang menyantap sarapan pagi di restoran hotel.


"Seorang gadis cantik dan seorang pria tampan mengantarmu. Mengganggu tidurku saja," kembali Lynn menggerutu.


"Apa kamu tidak berpikir sebelum mabuk, hah?! Kamu itu pasti akan merepotkan orang lain," Lynn menyantap kembali sarapannya.


Giovan mengeluarkan ponselnya. Ia baru teringat kalau seharusnya ia memeriksa ponselnya sebelum bertanya pada Lynn, itu pasti akan menjawab pertanyaannya.


Alexa? - Giovan mengepalkan tangannya dan tiba tiba suasana hatinya kembali memburuk. Ia pergi minum untuk menghilangkan pikirannya tentang Alexa, namun justru Alexa dan kekasihnya yang menjemputnya di club.


Memalukan! - gerutunya dalam hati.


"Kamu tahu, gadis itu cantik sekali. Ia juga sangat baik dan ramah. Kekasihnya juga sangat tampan. Mereka terlihat begitu serasi. Hanya dirimu saja yang merepotkan," ucap Lynn.


Brakkk


"Diam kamu! Jangan mencampuri urusanku. Kamu bukan siapa siapa yang berhak mencampuri urusan pribadiku," Giovan langsung bangkit dari sana dan meninggalkan Lynn.


Lynn yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya langsung kaget hingga sendok yang ia gunakan jatuh ke lantai. Semua yang berada di dalan restoran itu melihat ke arahnya.


Malu? Ya, sekali lagi Giovan mempermalukannya di depan umum.


Sabar Lynn, sabar. Stok sabarnya masih banyak kan. Di dalam koper juga masih ada. Di dalam celengan di rumah juga masih banyak. Jadi ... sabar ya sabar. - Lynn mengelus dadanya beberapa kali.


🧡 🧡 🧡