
Pesawat yang dinaiki Lynn dan Giovan kini telah mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Setelah pernikahan, Lynn belum pernah menginjakkan kaki lagi di kota kelahirannya itu, begitu pula dengan Giovan.
Mereka berdua telah ditunggu oleh sebuah mobil lengkap dengan supir. Giovan tahu, itu semua pasti disediakan oleh Daddynya, Mikael.
"Kita ke rumahmu," ucap Giovan pada Lynn. Ia pun memerintahkan supir untuk menuju ke rumah orang tua istrinya.
"Apa tidak sebaiknya kita menemui orang tuamu terlebih dulu?" Lynn tidak ingin dianggap tidak sopan.
"Dad dan Mom pasti akan mengerti. Kita akan melihat keadaan Mommymu terlebih dulu, okay?" Lynn akhirnya menganggukkan kepala.
Hatinya penuh dengan kekhawatiran, dan tercetak dengan jelas di wajah Lynn. Ia terus berpikir siapa yang menciptakan keributan di rumah.
Apa Dad Stanley berselingkuh? atau ada masalah di perusahaan? Ataukah Kak Michael? Tapi masalah apa? - batin Lynn.
Ia tak bisa menemukan sesuatu yang bisa dikaitkan dengan semua suara suara kekacauan itu. Giovan yang tahu kegelisahan Lynn pun menggenggam sebelah tangan.
"Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai."
"Terima kasih," ucap Lynn.
"Jangan berterima kasih padaku. Aku hanya tak ingin melihatmu gelisah."
Lynn pun langsung memeluk Giovan. Supir yang melihat dari kaca spion turut bahagia melihat keromantisan pasangan tersebut. Dalam hatinya bergumam bahwa Tuan Mikael dan Nyonya Daniela pasti akan sangat senang mendengar berita seperti ini.
*****
"Mom!" panggil Lynn sambil mencari keberadaan Mom Jane.
"Nona," sapa salah seorang pelayan.
"Di mana Mommy?"
"Di kamar Tuan Michael," jawab pelayan itu.
"I-iya, Non," Lynn menangkap rasa gugup dalam cara bicara pelayan di rumahnya itu. Ia langsung berjalan menuju kamar kakaknya. Tanpa mengetuk lagi, ia langsung membukanya.
Lynn membulatkan matanya ketika melihat kamar Kakaknya yang biasanya rapi, kini seperti kapal pecah. Bahkan ia melihat kakaknya sedang duduk di lantai dengan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya, sementara Mom Jane berada di sebelahnya, berusaha untuk menenangkannya.
"Mom, Kak. Apa yang terjadi?" Mom Jane memberikam isyarat agar Lynn tidak terlalu banyak bertanya dulu.
Mom Jane membantu Michael untuk naik ke atas tempat tidur, kemudian menyelimutinya. Setelahnya, ia meminta 2 orang pelayan untuk membersihkan dan membereskan kamar putranya, tanpa mengganggu ketenangan tidurnya.
*****
"Whattt??? patah hati?" Lynn seakan tak bisa percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mom Jane. Mwmang Lynn tak pernah melihat kakaknya menyukai seorang wanita. Bahkan dulu saat sekolah, ia sering dijuluki si kutu buku.
Dan sekarang, mendengar kakaknya sedang patah hati, membuat Lynn merasa aneh. Kakaknya itu sudah berubah menjadi pria yang tampan, tidak culun lagi, tapi mengapa masih bisa patah hati.
Ia baru tahu kalau Kak Michael tengah menjalin hubungan dengan seorang wanita selama setahun belakangan ini dari cerita Mom Jane. Wanita ini adalah cinta pertama Kak Michael saat masih masa Sekolah Menengah Atas.
"Memangnya kenapa bisa sampai patah hati, Mom?" tanya Lynn.
"Kekasih kakakmu memilih pria yang lebih mapan dan menganggap bahwa karir sebagai dokter tidak bisa mencukupi kehidupannya."
Lynn menghela nafasnya pelan, "Tenanglah, Mom. Aku yakin kakak akan bisa melewati semua ini. Ini hanya akan terjadi sementara saja."
"Mom juga berharap seperti itu. Padahal, kalau kakakmu mau membantu Daddy di perusahaan dan diperkenalkan sebagai putra dari Thomas Group, pasti hal ini tak akan terjadi," ucap Mom Jane.
"Tapi hal ini ada baiknya juga, Mom. Bukankah kita jadi bisa melihat mana wanita yang tulus, mana yang tidak. Kakak adalah pria yang baik dan ia berhak mendapatkan wanita yang baik juga," ujar Lynn.
"Ya, kamu benar sayang," Mom Jane mengusap matanya yang masih mengalirkan air mata.
Sementara itu, Giovan yang tengah duduk seorang diri di ruang tamu pun beranjak menuju kamar tidur Michael. Ntah keberanian dari mana ia mampu melakukan itu.
🧡 🧡 🧡