
Giovan yang kini selalu membawa mobil ke coffee shop, berdiam di pinggir jalan. Ia sudah berkendara menjauh dari coffee shop, untuk menghindari pertemuannya dengan Lynn.
Jujur saja, ia seperti orang yang tak sadar akan apa yang telah ia lakukan. Ia hanya merasa begitu menginginkan bibir yang sudah ia inginkan sejak beberapa waktu belakangan.
Saar tadi ia menyentuh bibir Lynn dengan jemarinya, jantungnya langsung berdetak dengan cepat dan kencang. Gelenyar aneh juga timbul di dalam tubuhnya. Ia menatap bibir Lynn yang seakan memanggil dirinya untuk kembali mencicipi rasa manis yang pernah ia rasakan.
"Apa yang sudah aku lakukan?!" Giovan memukul setir mobilnya.
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya, ia membiarkannya karena berpikir bahwa itu adalah panggilan dari Lynn yang mencarinya.
Sementara Lynn akhirnya meneruskan pekerjaannya seorang diri. Namun sesekali ia memegang bibirnya dan dadanya. Ia menghela nafasnya pelan, seakan ada sesuatu yang menghambat dan membuatnya sesak.
Lynn membuka ponselnya yang bergetar, terlihat nama Dennis di sana. Pikiran Lynn yang awalnya memikirkan Giovan, kini sudah beralih pada Dennis.
Apa Dennis sudah mau mulai menagih hutang hutangku? - Tiba tiba saja Lynn bergidik. Ia sudah memakai sebagian uang Dennis dan bahkan dengan gajinya ia belum mencapai jumlah uang 2 Milyar milik Dennis.
Ia memang masih menyimpan banyak, tapi jika ditambah dengan gajinya selama beberapa bulan ini .... Lynn menghela nafasnya.
"Ada apa Nis? maaf aku belum bisa mengembalikan uangmu," ucap Lynn.
Mata Lynn membulat ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Dennis. Bulir air mata mengalir begitu saja. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Ia segera keluar dari ruangannya bersama Giovan dan meninggalkan coffee shop. Air matanya masih terus mengalir bahkan ketika ia berlari. Ia langsung kembali ke apartemen untuk mengambil paspor miliknya.
*****
Dennis tadi menghubunginya hanya untuk memberitahukan bahwa Mommynya, masuk ke rumah sakit karena terjatuh di kamar mandi. Dennis yang awalnya sedang berada di showroom, dikejutkan dengan kedatangan Lisa yang tiba tiba dan menangis.
Mommy Lisa dengan Mommy Lynn memang adalah sahabat sehingga dengan cepat berita menyebar. Lisa berharap Dennis mau meminta Lynn untuk segera kembali.
Lynn memegang dan meremas kedua tangannya. Ia beberapa kali melihat ke arah jam besar yang berada di bandara, seakan tak sabar untuk segera naik ke pesawat dan sampai di Jakarta.
Ia bahkan sudah tak ingat lagi untuk menghubungi Giovan atau sekedar pamit pada rekan rekan kerjanya di coffee shop.
Sebuah panggilan yang Lynn tunggu tunggu kini telah terdengar. Ia langsung bangkit dari duduk dan menuju pintu yang akan mengantarkannya ke dalam pesawat.
Mom, Lynn pulang. Aku akan menuruti apapun permintaan Mom kali ini. Maafkan aku. - Lynn tak bisa berpikir lagi. Ia takut, takut sekali.
*****
Giovan akhirnya kembali ke apartemen. Ia memarkirkan mobilnya di tempat biasa dan langsung menuju unit apartemennya. Pikirannya kini bercabang antara apa yang telah ia lakukan pada Lynn dan pada gadis yang ia cintai.
Ya, Giovan sudah melihat ponselnya dan ada beberapa panggilan dari Alexa. Ia tidak menghubungi kembali gadis itu karena ia sedang berusaha untuk melupakan. Namun, baru saja ia membuka pintu, ia sudah disuguhi pemandangan yang sudah sering ia lihat di rumah.
"Dad, Mom ...."
🧡 🧡 🧡