
"Dad! Mom!" ucap Giovan saat melihat kedua orang tuanya tengah bercumbu di sofa. Ia sudah sering melihatnya di rumah, namun setiap kali ia melihatnya ia merasa matanya sudah ternodai.
Dad Mikael yang tengah memangku Mom Daniela menghentikan aktivitasnya kemudian menoleh ke arah putra sulungnya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Dad Mikael dan tanpa rasa bersalah kembali melanjutkan aktivitasnya dengan Mom Daniela.
"Mengapa kalian datang? Apa kalian akan kembali memaksaku untuk menerima perjodohan?" tanya Giovan.
Mom Daniela bangkit dari pangkuan suaminya dan berjalan mendekati Giovan.
"Sayang, maafkan Mommy jika memaksa dirimu untuk masuk dalam sebuah perjodohan. Tapi ini semua Mom lakukan demi dirimu. Apa kamu tahu rumor yang berkembang di luar sana?"
"Aku tidak peduli, Mom. Sesuatu yang hanya rumor, tak seharusnya dipercaya dan mempengaruhi kehidupan kita," ucap Giovan.
"Mom tahu, tapi Mom memikirkan dirimu."
"Aku bisa mencari pasangan sendiri, Mom. Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Apa Mom yakin kehidupanku akan lebih baik jika aku menikah dengan wanita yang tidak kukenal? bahkan aku tidak mengetahui bagaimana wajahnya," ujar Giovan sekali lagi.
"Apakah kamu akan mempertimbangkannya jika kami memperlihatkan fotonya padamu?" tanya Mom Daniela.
"Mom!!"
"Sudahlah sayang, jangan memaksanya lagi. Biarlah dirinya mencari pasangan sendiri, kita hanya perlu mendukungnya."
"Lalu bagaimana dengan calon besan kita? Ia pasti akan kecewa kembali dan menganggap kita hanya mempermainkan mereka."
"Tenanglah, Tuan Stanley pasti akan mengerti," ucap Dad Mikael menenangkan istrinya.
"Jika Dad dan Mom sudah selesai, bisakah kalian meninggalkanku? Aku sedang butuh waktu sendiri," ucap Giovan.
Dad Mikael pun bangkit dari duduknya. Ia langsung mengajak istrinya keluar dari apartemen putranya. Ia akan membawa Daniela ke hotel dan menghabiskan malam panjang mereka.
*****
Sesampainya di Jakarta, Lynn langsung menuju ke rumah sakit tempat Mom Jane dirawat. Ia mendapatkan informasi secara lengkap dari sahabatnya, Dennis.
Ia berhenti dan terdiam sesaat di depan sebuah ruangan VIP dan mengatur nafasnya. Ia membuka pintu perlahan.
"Lynn," Dad Stanley yang melihat kedatangan Lynn langsung berdiri dan memeluk putrinya.
"Bagaimana keadaan Mom?" tanya Lynn saat melihat Mom Jane sedang terlelap.
"Mommy hanya memar dan keseleo, tapi untuk sementara waktu harus dirawat karena ada pembengkakan di kaki," Dad Stanley menjelaskan.
"Dad, maafkan aku," ucap Lynn sambil memeluk Daddynya itu.
"Dad yang seharusnya minta maaf. Maaf karena kami memaksakan kehendak kami."
Lynn menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya tahu bahwa kedua orang tuanya hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Hanya saja ia masih ingin bebas dan masih ingin mencapai cita citanya.
Setelah selesai memeluk Daddynya, Lynn berjalan menuju tempat tidur Mommynya. Ia melihat kaki Mom Jane yang terlihat sedikit bengkak. Ia duduk di kursi samping tempat tidur dan menggenggam erat tangan Mommynya.
Dad Stanley mendekatinya kemudian mengelus rambut Lynn dan mengecup pucuk kepala putrinya itu.
"Mengapa Mommy bisa jatuh, Dad?" tanya Lynn.
"Dad tidak tahu, hanya saja beberapa hari ini Mommy selalu menanyakan tentang keberadaanmu. Mungkin Mommy sedang sangat merindukanmu."
Perasaan bersalah langsung menyelimuti Lynn. Ia memejamkan matanya karena telah membuat Mommynya itu khawatir.
*****
Giovan tidak dapat memejamkan matanya. Ia selalu terbayang kejadian tadi siang di mana ia melummat bibir Lynn yang terasa sangat manis dan membuat jantungnya berdetak kencang.
Ia memegang bibirnya dan kembali mengulang kejadian itu dalam ingatannya. Tanpa sadar ia memeluk bantal dan kembali mencium, seakan bantal yang sedang ia peluk saat ini adalah Lynn.
Ponsel Giovan yang ia letakkan di atas nakas bergetar. Ia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya malam malam.
Alexa?
Perasaaan Giovan menjadi campur aduk. Jantungnya kembali berdetak cepat. Hanpir tidan pernah Alexa menghubunginya, namun kali ini ....
"Halo."
"Kak! Maafkan aku. Aku tidak sengaja mengatakan pada Uncle dan Aunty bahwa aku bertemu denganmu. Apa mereka sudah menemuimu?:
Giovan menghela nafasnya. Kini ia tahu dari mana kedua orang tuanya mengetahui keberadaannya. Namun yang Giovan tidak tahu adalah bahwa kedua orang tuanya hanya berpura pura tidak tahu dan membiarkannya bebas sesaat.
"Tidak apa apa, Al."
"Kakak tidak marah padaku?"
"Tentu saja tidak, aku tidak marah padamu."
"Ahhh aku menyayangimu, Kak."
Deggg
Ucapan Alexa terasa langsung menyentuh hatinya. Kalau saja saat ini Alexa tidak memiliki kekasih, mungkin ia akan langsung datangbpada gadis itu dan memeluknya.
Giovan membuka laci nakas yang persis berada di samping tempat tidurnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop dengan gambar logo sebuah rumah sakit di bagian atas kirinya.
Secara diam diam, Giovan pernah melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Di sana ia baru mengetahui bahwa ia mengalami kelainan hormon di mana ia mengalami infertilitas atau ketidaksuburan. Hal itu bukan berarti ia tidak bisa punya anak, hanya saja ia akan kesulitan untuk mendapatkannya.
Ia menghela nafasnya pelan dan mengembalikan amplop itu ke dalam laci. Inilah salah satu alasan dirinya tak ingin menikah. Ia tak ingin membebani pasangannya dengan keadaan dirinya. Melihat Alexa yang sangat menyukai anak kecil, pasti Alexa berharap memiliki anak sendiri, terlebih lagi ia sudah memiliki kekasih yang bisa dikatakan jauh lebih sempurna dibandingkan dirinya.
Ingatannya kembali pada Lynn. Ia kembali menghela nafasnya pelan. Ia juga tak ingin menjadikan Lynn sebagai sebuah pelarian karena jujur hatinya masih tertambat pada seorang Alexa.
Tak lama berselang, Giovan pun terlelap sambil memegang ponsel di mana ada foto Alexa yang terpampang di layar.
🧡 🧡 🧡