
Pagi menjelang, cahaya mentari masuk ke dalam kamar melalui sela sela gorden. Di dalam kamar hotel, 2 insan manusia tengah tidur sambil berpelukan. Tak ada jarak di antara mereka, hanya pakaian yang mereka kenakan.
Lynn terbangun, ia merasa tubuhnya begitu hangat dan nyaman. Matanya mengerjap dan melihat pahatan Tuhan yang begitu indah. Ia ingin melepaskan pelukan Giovan dari tubuhnya, namun ia seperti terhipnotis untuk terus memandangi wajah polos Giovan yang sedang terlelap.
Ia tersenyum dan dengan jari jarinya ia menyusuri wajah Giovan, tapi tak menyentuh. Dulu sebelum ia mengalami hal buruk yang dilakukan oleh Giovan, ia sempat merasakan jantungnya selalu berdetak cepat saat bersama.
Lynn akan mulai tidak suka ketika Giovan langsung pergi menemui Alexa, meskipun Giovan mengantarnya pulang terlebih dahulu. Semakin hari, rasa di dalam hatinya semakin besar hingga ia merasa cemburu dan mulai bertanya tanya, bahkan ia sempat mengikuti ke mana keduanya pergi.
Lynn menghela nafasnya pelan setelah menurunkan tangannya. Ia ingin memutar tubuhnya dan melepaskan pelukan Giovan dari pinggangnya, namun ternyata Giovan mengeratkan pelukannya.
"Jangan ke mana mana, biarkan seperti ini dulu," ucap Giovan sambil menghirup harum rambut Lynn yang masuk ke indera penciumannya.
"T-tapi ..."
Giovan membuka matanya dan Lynn seakan melihat sesuatu yang indah di sana. Ia tak pernah memperhatikan mata Giovan yang ternyata memiliki warna campuran atau lebih dikenal dengan nama heterochromia parsial, di mana dalam 1 mata terdapat 2 warna yang berbeda.
"Ma-matamu?" ucap Lynn bertanya tanya.
"Hmm, memang berbeda. Ini karena aku sudah mengkonsumsi obat obatan dalam jangka waktu yang lama."
Lynn menautkan kedua alisnya, meminta penjelasan dari Giovan.
"Apa kamu akan tetap bersamaku setelah mendengar penjelasan dariku?" tanya Giovan berubah sendu.
"Katakanlah. Aku akan memikirkannya lagi setelah itu."
Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya Giovan mengatakan, "Aku akan sulit punya anak, bahkan mungkin tak akan bisa. Dokter mengatakan bahwa aku mengalami infertilitas, karena itulah aku terus mengkonsumsi obat obatan untuk meningkatkan kesuburanku, tapi sepertinya tidak berhasil."
"Tapi aku ingin memiliki anak, jadi aku akan melakukan apapun," Giovan memejamkan matanya.
"Memiliki anak atau tidak, itu bukanlah hak kita, karena anak adalah pemberian dari Tuhan. Kita hanya perlu berdoa dan berserah, mungkin Tuhan akan membuka pintu itu untuk kita."
"Kamu tidak ingin memiliki anak? Apa kamu akan meninggalkanku setelah mengetahui semuanya?"
Lynn tersenyum kemudian menggenggam tangan Giovan, "Aku ingin memiliki anak, memiliki sebuah keluarga kecil. Tapi jika memang tidak bisa, kita bisa mengadopsi anak. Bukankah di luar sana masih banyak anak anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang?" jawab Lynn dengan bijak.
"Terima kasih," Giovan langsung memeluk Lynn dan tanpa sadar ia mencium kening Lynn hingga menimbulkan getaran dan gelenyar berbeda di tubuh Lynn.
Giovan memundurkan sesikit tubuhnya hingga kini jarak wajah mereka begitu dekat dan mata mereka saling menatap. Lynn yang merasa tersihir saat melihat manik mata Giovan, baru tersadar ketika merasakan benda kenyal menempel di bibirnya.
Jantungnya berpacu dan tubuhnya bergetar. Tak bisa dipungkiri bahwa sejak awal, ia menyukai ciuman Giovan. Namun, malam di mana Giovan mengambil miliknya secara paksa, sekelebat kembali dalam memorinya.
Lynn memundurkan sedikit tubuhnya, "M-maaf."
"Aku yang seharusnya minta maaf. Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi," Giovan segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Lynn yang menatapnya.
Di luar, Lynn merasa sangat bersalah karena dirinya tahu bahwa Giovan pasti menginginkannya. Bagaimanapun, seorang pria pasti membutuhkan hal tersebut. Sementara itu di dalam kamar mandi, Giovan sudah menanggalkan pakaiannya dan akan menuntaskan hassratnya yang terlanjur bangkit hanya dengan berciuman dengan Lynn.
Namun dari belakang, Lynn memeluk pinggangnya dan menempelkan kepalanya ke punggung Giovan, "Lakukanlah, aku siap."
"Tidak, aku akan menuntaskannya sendiri. Kembalilah ke kamar. Aku tak ingin menyakitimu," ucap Giovan.
Lynn memutar wajah Giovan hingga melihat ke arahnya. Lynn langsung menempelkan bibirnya pada bibir Giovan dan mulai melummatnya perlahan.
🧡 🧡 🧡