
* Flashback on
"Aku pergi dulu," ucap Giovan ketika mereka baru sampai di rumah setelah kembali dari coffee shop. Giovan selalu mengantar Lynn kembali ke rumah mereka, sebelum ia pergi keluar lagi.
"Kamu akan pergi lagi?" tanya Lynn yang sudah melihat beberapa hari ini Giovan selalu pergi lagi setelah mengantarnya sampai di rumah.
"Ya."
"Kamu akan pergi ke mana?" tanya Lynn yang ntah mengapa jadi ingin tahu.
Giovan mengerutkan dahinya dan menatap Lynn dengan tajam, "Jangan mencampuri urusanku. Ingat perjanjian kita!"
Mendengar ucapan Giovan yang begitu ketus, membuat Lynn terdiam. Lynn menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya melihat Giovan pergi meninggalkan rumah.
* Flashback off
Lynn tersenyum sendiri setelah turun dari panggung. Ia menyadari bahwa ia hanyalah seorang istri di atas kertas dan sesuai perjanjian di antara mereka berdua bahwa mereka tak akan mencampuri urusan masing masing.
Lynn duduk di sebuah meja tinggi dan memesan minuman. Ia tak melepaskan topengnya karena tak ingin siapapun mengenalinya. Setelah selesai minum, ia pun keluar dari cafe. Ia melihat ke arah Giovan sekilas kemudian pergi.
*****
Sesampainya di rumah, Lynn langsung membersihkan diri dan berbaring di atas tempat tidurnya. Ia memandang langit langit kamarnya dan mulai menerawang.
Apakah kehidupan seperti ini yang kamu inginkan, Lynn? kehidupan yang bebas, tapi sekaligus tak dianggap. - Lynn.
Tenggorokannya terasa kering. Ia pun keluar dari kamar ingin mengambil minum di dapur. Baru saja ia keluar, ia melihat Giovan yang baru pulang. Biasanya Lynn tak masalah, namun ketika melihat Giovan pulang dengan senyum yang begitu lebar, rasanya hatinya terasa sakit.
"Kamu belum tidur?" tanya Giovan masih dengan senyum di wajahnya.
Apa bertemu dengan wanita cantik itu semembahagiakan itu untuk dirimu? Bahkan kamu tidak ingat sudah membentakku. - Lynn.
"Aku haus."
"Ooo," Giovan meninggalkan Lynn dan berjalan menuju kamar tidurnya dengan sesekali bersenandung dan wajah yang tak henti menampilkan senyum. Lynn pun akhirnya kembali ke kamar tidurnya setelah menghabiskan minumnya.
*****
"Miss," sapa Melissa.
"Ah Mel, selamat pagi!" sapa Lynn.
"Miss mau membuat sesuatu?"
"Hmm, tiba tiba saja aku ingin makan sandwich," ujar Lynn.
"Aku bantu, Miss," dengan cekatan Melissa membantu Lynn membersihkan dan mencuci sayur selada dan juga tomat.
Lynn memasak daging ham sebagai isian untuk sandwich nya. Ia pun menyusun sandwich itu satu persatu dan memotong roti hingga membentuk segitiga.
"Cantik sekali, miss," puji Melissa.
"Terima kasih. Aku belajar membuatnya dari seorang koki di coffee shop," ucap Lynn sembari terkekeh. Memang sebelumnya ia tak pernah menginjakkan kaki di dapur. Ia hanya perlu berteriak dan semua akan tiba di kamar tidur atau di ruang duduk tempatnya menonton televisi.
Kadangkala Lynn merindukan semua itu. Ia menyesal juga telah sering berbuat seenaknya hingga kedua orang tuanya mulai menjodohkannya ke sana ke sini. kalau saja ia berlaku baik, mungkin orang tuanya tak akan melakukan iti dan ia masih hidup bebas dan nyaman.
Bukan tanpa alasan Lynn sebenarnya berbuat begitu. Ia hanya ingin mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Dad Stanley memang sangat menyayanginya, namun ia sangat sibuk bekerja hingga ia hanya melimpahi Lynn dengan uang agar putrinya senang. Sedangkan Mom Jane selalu pergi dan berkumpul dengan teman teman sosialitanya. Mom Jane menyayanginya dan selalu membanggakan dirinya, juga kakaknya. Ia melimpahi Lynn dengan pakaian bagus dan membelikan tas tas bermerk.
Lynn sebenarnya hanya ingin selalu berkumpul dengan kedua orang tuanya, juga kakaknya. Namun sepertinya sangat sulit hingga akhirnya ia selalu berulah agar mereka memperhatikannya. Hingga terakhir terakhir ia selalu menumpahkan semuanya melalui nyanyian dan membuat channel pribadinya.
Bekerja di coffee shop membuat Lynn belajar banyak dan ia sungguh berterima kasih pada Giovan. Namun, apakah semua itu harus dibayar dengan rasa sakit hati yang amat sangat?
"Ini untukmu," ujar Lynn dan memberikan sandwich itu untuk Melissa. Tentu saja dengan senang hati Melissa menerimanya dan langsung melahapnya.
Brak bruk brakk ...
Terdengar suara hentakan kaki turun dari tangga dan menghampiri. Tanpa basa basi, Giovan langsung meminum teh milik Lynn dan mengambil sandwich yang berada di dalam genggaman Lynn.
"Aku pergi dulu. Kamu pergi sendiri, aku sibuk," Lynn hanya bisa terdiam melihatnya.
"Abasss!!! Sandwichku!!!" Lynn berteriak kesal. Sementara Giovan langsung pergi tanpa peduli.
🧡 🧡 🧡