
Ga Bi membalik papan di depan pintu masuk menjadi tutup lalu menutup tirai hitam di samping pintu masuk, ia mematikan lampu ruang tunggu cepat lalu kembali masuk ke dalam Kuil. Ia duduk di tengah – tengahku dan Dong Bae yang masih saling menatap sinis lalu melipat tangannya di depan dada melirik kami bergantian sejenak sebelum membuka mulutnya
"jadi Sajangnim tidak bisa melihat masa depan…" bukanya terhenti lalu menoleh ke arah Dong Bae "maaf, siapa nama anda tadi?" tanyanya cepat
"Dong Bae"
"aah… benar, Dong Bae –ssi" sahutnya.
Aku pun menghembuskan nafas pelan lalu mengangguk kecil sambil menundukkan kepalaku, Dong Bae pun kembali membuka mulutnya menyampaikan rasa ingin tahunya
"siapa kalian? Makhluk apa kalian sesungguhnya?" tanyanya terang – terangan.
Ga Bi pun membuka mulutnya sambil mengangkat tangannya ke depan dada "aku Jung Ga Bi, aku bisa di sebut pelayannya, aku seratus persen manusia" sahutnya menjelaskan dirinya cepat. Ia menggerakkan tangannya ke arahku "ini-"
"aku Seo Wol, aku penyihir" timpalku percaya diri cepat.
Aku menaikan alisku menantang Dong Bae dengan harapan ia akan menunjukkan tanda – tanda ketakutan namun dugaanku salah, aura merah yang menggambarkan keberanian semakin meluap dari tubuhnya. Dong Bae membuka mulutnya menyampaikan dugaan – dugaan aneh di kepalanya
"kenapa kau hanya muncul di malam hari?" tanyanya.
Tawa kecilku pecah melihat luapan aura yang semakin tebal itu, aku menggeleng heran melihat sifat pria asing yang sangat berbeda dari orang lainnya. Aku pun membuka mulutku melayani rasa ingin tahunya jujur
"aku penyihir Bulan, kekuatanku lebih kuat di malam hari karena cahaya Bulan membantuku, teknisnya aku menggunakan energi Bulan untuk melakukan pekerjaanku"
"mwoya[1]? Apa kau Sailor Moon?"
Senyumku mengembang kecil mendengar pertanyaan lucu itu "aku tidak tahu siapa itu Sailor Moon tapi dia terdengar cantik" timpalku remeh.
Ga Bi yang melihat tawa kecilku itu langsung berteriak kesal "AISH SAJANGNIM!! INI BUKAN WAKTUNYA UNTUK BERGURAU!!" bentaknya.
Aku pun melirik Ga Bi sinis "dia sudah melihat kita dan seluruh isi Kuil ini, aku harus melakukan sesuatu" timpalku,
"lakukan saja kalau begitu, lakukan seperti biasa!" tepisnya.
Aku langsung mengangkat tanganku mendorong kecil kepalanya "apa kau tuli? Aku sudah bilang aku tidak bisa melihat masa depannya, apa yang harus aku lakukan?" hinaku kesal. Ga Bi membuka mulutnya hampa teringat akan pernyataanku barusan, ia pun menyisir poninya kebelakang cepat mulai berpikir keras mencari solusi untuk masalah besar ini.
Dong Bae yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu pun membuka mulutnya cepat "apa ada yang aneh dariku?" tanyanya, aku pun mengangguk kuat
"iya! Kau sangat aneh, kau orang teraneh yang pernah ku temui sepanjang hidupku ini" timpalku menekan.
Ga Bi pun melotot kesal ke arahku "Sajangnim, anda tidak boleh menggunakan banmal pada tamu!" bisiknya memperingatkan
"dia sudah menggunakan banmal sejak tadi!" tepisku tidak peduli.
Dong Bae yang tidak peduli akan perdebatan kecil kami itu pun membuka mulutnya fokus pada rasa penasarannya sendiri "apa yang harus aku lakukan agar kau bisa melihat masa depanku?"
"aku juga tidak tahu, jika aku tahu aku sudah melakukannya sejak tadi! Apa kau bo-"
"Sajangnim…" tahan Ga Bi sambil berdeham canggung.
Aku menghembuskan nafas besar dari mulutku menahan emosiku yang dapat meledak sewaktu – waktu. Aku pun menunduk dalam terpaksa melakukan pilihan terakhir yang tidak ku duga akan ku lakukan untuk kedua kalinya ini, aku menepuk kedua lututku cepat
"baiklah!" putusku yakin membuat semua mata menatapku lurus dengan ekspresi kaget.
Aku mengangguk kecil "kita lakukan saja!" ajakku
"Sajangnim apa yang akan kau lakukan kali ini?" tanya Ga Bi cemas akan keputusan misteriusku ini.
Aku menatap Ga Bi lurus sejenak lalu menoleh menatap Dong Bae yang menatapku dengan wajah penasaran sejak tadi, aku pun mengulurkan tanganku pada Dong Bae cepat "lakukan perjanjian denganku" mintaku cepat. Mendengar keputusanku itu, Ga Bi langsung meraih tanganku lalu menyeret tubuhnya ke hadapanku cepat
"aku tidak punya pilihan, Ga Bi –ah ini satu – satunya cara agar dia tidak membocorkan rahasia kita"
"aku tahu… aku tahu tapi… Sajangnim kau tidak harus melakukan perjanjian dengannya, jika dalam dua ratus hari dia tidak memutuskan perjanjiannya denganmu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi"
"Ga Bi –ah, kesalahan hanya di lakukan sekali" timpalku memberi kode.
Mata Ga Bi melebar mendengar kodeku itu, ia tampak mengangguk paham akan kode yang aku berikan lalu menoleh menatap Dong Bae sejenak sebelum akhirnya ia menyerah akan keputusanku itu. Ga Bi kembali menggeser badannya membuatku dan Dong Bae kembali kembali berhadapan lurus, aku menaikan daguku angkuh dengan senyum licik tersungging lebar di bibirku
"mari kita ulangi lagi" bukaku lalu kembali mengulurkan tanganku.
Ga Bi menoleh menatap Dong Bae yang tampak ragu menatap tanganku yang terulur ke arahnya, aku melirik tanganku lurus sejenak lalu kembali membuka mulutku
"kita lakukan perjanjian"
"apa yang akan aku dapatkan sebagai balasannya?"
"kau tahu cara berbisnis ternyata"
"aku meminta jaminan bukan berbisnis, Seo Wol –ssi"
"aku akan mengabulkan Tiga keinginanmu, seperti aku mengabulkan keinginan Ga Bi"
"hanya Tiga?" tanyanya ragu. Dong Bae memutar matanya sejenak teringat akan ibunya yang tak sadarkan diri, ia kembali menatapku lurus "apa yang harus aku berikan kepadamu? Harta? Cinta? Nyawa?" tanyanya serius.
Tawa hinaku pecah mendengar pertanyaan itu, aku menggeleng kecil "wahh… kalian terlalu banyak nonton drama, aku tidak butuh itu" tolakku cepat
"lalu apa yang kau minta?"
"tutup mulut dramatismu itu" timpalku tegas sambil menatap pria asing itu lurus.
Dong Bae tampak melebarkan matanya kecil melihat tatapan mengerikanku itu, ia berdeham kecil sejenak lalu mengangguk kecil "baiklah, aku akan menjaga rahasia ini" sahutnya menyetujui. Ga Bi yang mendengar keputusan Dong Bae yang terasa mudah itu melebarkan matanya
"anda menyetujuinya? Begitu saja?" tanyanya tidak percaya,
Dong Bae menatapku lurus sambil mengangguk kuat yakin, ia pun mengulurkan tangannya menjabat tanganku tegas. Seketika itu juga, seluruh lilin yang menyala di dalam Kuil itu langsung padam, membuat ruangan itu hanya di sinari oleh sinar Bulan yang menerobos dari jendela di belakangku. Setelah aku menarik tanganku, cincin hitam dengan dengan lubang bulat kecil di tengahnya langsung terlingkar di jari manis Dong Bae. Ia langsung mengangkat tangannya menatap cincin yang melingkar di jarinya secara ajaib itu lalu menatapku diam menunggu penjelasanku
"ah… itu tanda, dia juga memilikinya" jelasku singkat sambil menunjuk Ga Bi yang mengangkat tangan kanannya menunjukkan cicinnya cepat.
Dong Bae menatap cincin Ga Bi sejenak lalu kembali menatap cincinnya lurus, ia menghembuskan nafas kecil lalu menaikkan pandangannya kembali menatapku lurus. Aku teringat akan kecerobohan Ga Bi dan membuka mulutku "ahh… kau boleh melepasnya, jika cincin itu hilang, cincin itu akan kembali dengan sendirinya ke jarimu, jadi kau tidak perlu cemas" jelasku sambil melirik Ga Bi sinis "seseorang sudah sering meninggalkannya dimanapun sesuka hatinya" sindirku halus lalu menyunggingkan senyum licik.
Ga Bi pun langsung memalingkan wajahnya perlahan sambil berdeham canggung berpura – pura tidak mendengar sindiranku barusan.
000
Dong Bae menoleh menatap lurus Rumah kecil di belakangnya lalu mengangkat tangannya menatap cincin hitam yang telah melingkar sempurna di jari manisnya, ia mengigit kecil bibir bawahnya ragu sejenak lalu menurunkan tangannya berpaling meninggalkan Rumah itu cepat.
Melihat Dong Bae telah melangkahkan kakinya dari depan Rumah, Ga Bi membuka lebar tirai di hadapannya lalu berlari cepat ke dalam Kuil menghampiriku. Ia pun terus melompat kecil di belakangku sambil melampiaskan rasa penasarannya
"apa yang akan kau lakukan? Apa rencanamu kali ini? Apa benar kau tidak dapat melihat masa depannya? Kapan pertemuan pertama kalian? Apa yang terjadi hari itu?" tanyanya bertubi – tubi antusias.
Aku memejamkan mataku kesal lalu menoleh cepat dengan eskpresi kesal tergambar jelas di wajahku, aku langsung menodong lilin di tanganku ke depan wajah Ga Bi "lakukan pekerjaanmu dan diamlah!" jawabku kesal. Ga Bi pun langsung menutup mulutnya dengan nyali menciut lalu meniup lilin yang terulur di hadapannya cepat.
***
[1] Apa, Apaan. Terkadang juga bisa menjadi reaksi baik ataupun buruk terhadap suatu situasi.