
Wanita cantik dengan rambut panjang yang tergulung rapi tampak berjalan di koridor Kantor dengan tumpukan dokumen berat di tangannya, ia tampak kesulitan membawa tumpukan dokumen itu namun tidak ada seorangpun yang datang membantunya bahkan mempedulikannya. Langkah wanita itu terhuyung dan ia terjatuh ke lantai kehilangan keseimbangannya, semua orang yang melihat kejadian itu hanya menatap wanita itu sejenak lalu kembali melakukan pekerjaan mereka mengabaikan wanita itu. Tangan kurusnya sibuk bergerak mengumpulkan dokumen – dokumen yang di jatuhkannya, tiba – tiba tangan seorang pria dengan jam tangan hitam yang melingkar sempurna terulur membantunya mengumpulkan dokumen yang berserakkan di lantai. Mata bulatnya berputar cepat menatap wajah si pemilik tangan itu, dalam hitungan detik matanya telah bertemu mata kecokelatan seorang pria tampan dengan rambut pendek rapi yang terbelah pinggir, alis hitam pria itu terlihat rapi, hidungnya tampak tinggi, dan bibir tipisnya menyunggingkan senyum kecil pada wanita itu. Tangan pria itu terulur menyodorkan dokumen yang di kumpulkannya membuat wanita itu mengulurkan tangannya, menyentuh tangan halus pria itu menerima dokumen yang tersodor di hadapannya. Mata keduanya berputar turun pada kartu karyawan yang tergantung di leher mereka masing – masing, wanita itu melihat nama pria tampan di hadapannya begitu pula sebaliknya. Senyum pria itu semakin mengembang cerah
"Ji Ji Hoo –ssi" panggilnya gagah,
wanita bernama Ji Hoo itu pun menunduk malu sambil mengangguk kecil lalu membuka mulutnya perlahan "ne, Shin Myeong Joon –ssi" sapanya manis dengan senyum cerah.
Keduanya semakin dekat setiap harinya, mereka pun saling menunjukkan ketertarikan terhadap satu sama lain. Hari demi hari telah berlalu, sampai akhirnya mereka resmi menjadi sepasang kekasih yang mendapat dukungan dari banyak orang. Segalanya berjalan lancar hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga bulan berganti tahun, banyak kenangan indah telah mereka buat bersama. Hingga suatu hari, pada hari ulang tahun Ji Hoo, Myeong Joon memberinya cincin sebagai tanda cintanya sekaligus mengajak Ji Hoo untuk hidup bersama selamanya. Kebahagiaan mereka semakin terasa membesar setiap harinya, namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
000
Malam itu, Ji Hoo yang tidak mengetahui apapun akhirnya sampai di Rumah Myeong Joon, ia menekan nomor kode pintu Rumah itu dengan hai berbunga lalu membuka pintu hitam di hadapannya begitu saja. Kening wanita itu berkerut dalam melihat Rumah yang tampak sunyi dalam gelap di hadapannya itu, tanpa rasa takut dan curiga Ji Hoo pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam Rumah itu. Ia menyalakan lampu ruang tengah membuat Rumah kosong itu tampak lebih terang dari sebelumnya, ia pun membuka mulutnya cepat
"Oppa[1]…" panggilnya namun tidak ada jawaban apapun dari Myeong Joon.
Ji Hoo berjalan ke arah tangga pelan melihat ruangan atas juga sangat gelap seperti saat ia masuk ke dalam Rumah tadi, ia pun melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga itu lalu berbelok ke arah pintu yang tak jauh dari tangga.
Wanita itu mengulurkan tangannya cepat membuka pintu di hadapannya, seketika saat pintu itu terbuka pisau tajam langsung menusuk perutnya lalu tercabut cepat bagai hembusan angin. Ji Hoo menutup luka di perutnya sambil berbalik cepat hendak melarikan diri dari Rumah itu, namun kakinya tersandung membuatnya jatuh terguling di tangga. Wanita itu mengumpulkan sisa tenaganya berusaha bangkit meskipun darah segar terus mengalir dari luka di perutnya, seseorang menahan lengannya kuat lalu menariknya cepat membuatnya berbalik ke arah seseorang yang tak dapat dilihatnya itu, pisau tajam kembali menusuk perutnya lebih dalam membuat Ji Hoo langsung jatuh tergeletak ke tanah. Begitulah akhir hidup wanita malang itu, tidak ada yang mengetahuinya dan tidak ada juga yang mengira akhir hidupnya ternyata seperti ini.
000
Aku melepaskan tangan wanita itu dengan nafas cepat terhembus dari mulutku, Dong Bae mengangkat tangannya cepat menahan pundakku sambil menatap lurus ke arahku cemas. Dong Bae menegakkan tubuhku perlahan sambil membuka mulutnya
"apa yang kau lihat?"
"seseorang membunuhnya"
Aku menggeleng cepat sambil mengendalikan nafasku berusaha untuk tenang "aku tidak tahu tujuan mereka, tapi aku melihat wajahnya" jawabku di sela nafasku yang terengah. Dong Bae pun melebarkan matanya "mereka?" ulangnya kaget, aku mengangguk kecil membuat Dong Bae menghembuskan nafas kecil dengan kasus yang semakin rumit ini, namun ia merasa sedikit lega mendengarku melihat wajah seseorang yang membunuh wanita bernama Ji Hoo ini. Aku menoleh kecil menatap mata Dong Bae "jangan senang dulu, aku tidak punya buktinya, bagaimana bisa kau bersaksi tanpa bukti?" timpalku mematahkan harapan Dong Bae. Aku pun teringat akan Rumah yang menjadi tempat Ji Hoo kehilangan nyawanya itu, aku menoleh cepat menatap Dong Bae lurus
"kita pergi sekarang!"
"eodi[2]?"
"lokasi kejadian"
"untuk apa?" tanyanya bingung.
Aku memutar mataku kesal mendengar pertanyaan itu "mencari bukti! Untuk apa lagi kalau tidak mencari bukti?" timpalku kesal. Dong Bae mengangkat kedua tangannya ke pinggang cepat lalu membuka mulutnya memulai debat
"hey! Aku sudah melakukannya selama Empat hari, tapi aku tidak menemukan apapun, kenapa kita harus mencari bukti disana lagi?"
"Empat hari sebelumnya kau tidak bersamaku, sekarang kau bersamaku. Aku bisa melihat apa yang tidak bisa matamu yang normal ini lihat, Jang Hyeongsanim" tekanku kesal.
Dong Bae membuka mulutnya hendak membantah, namun ia menahan suaranya berpikir sejenak. Ia mengangguk kecil menyetujui perkataanku "benar juga, itu tujuanku melibatkanmu kali ini" akunya kalah. Aku menghembuskan nafas besar sambil menggeleng heran akan kebodohan konyolnya itu, sementara Dong Bae mengangguk kecil menyadari kesalahannya. Dong Bae pun menutup kembali kain putih mayat di hadapan kami lalu memanggil penjaga untuk mengembalikan mayat Ji Hoo pada kotak besinya, penjaga yang tiba – tiba terpeleset kehilangan keseimbangannya membuat mayat yang di angkutnya nyaris terjatuh. Aku dan Dong Bae langsung bergerak cepat menangkap mayat Ji Hoo, namun saat tanganku menyentuh mayat itu gumpalan uap terhembus dari mulutku dan aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat dari seseorang yang sudah mati. Aku pun menahan gerakan penjaga yang hendak menutup kotak besi penyimpanan Ji Hoo, lalu mengulurkan tanganku sekali lagi memastikan apa yang aku lihat tadi benar. Gumpalan uap kecil langsung kembali terhembus dari mulutku dan aku melihat roh wanita itu, ia sedang duduk menatap lukisan pohon bambu yang tergantung di kamar Myeong Joon. Aku langsung menoleh perlahan menatap Dong Bae dengan mata terbuka lebar penuh arti.
***
[1] Panggilan wanita kepada pria yang lebih tua.
[2] Kemana?