I'M A Witch

I'M A Witch
200 HARI



Aku mendongak menatap langit malam yang tampak gelap tanpa bulan di atasnya, langit itu menandakan waktuku hanya tersisa Dua Ratus hari di Bumi ini.


    "Jika hari itu datang apa yang akan terjadi padaku?"


    Aku juga tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang tidak terjawab itu, kini menjadi ketakutan terbesarku. Setelah pertanyaan itu muncul di kepalaku begitu saja, pertanyaan - pertanyaan lain pun ikut bermunculan.


    "Bagaimana rasanya menghilang dari dunia ini? Apa aku akan sangat kesakitan saat hari itu tiba? Apa aku akan melalui hari itu seorang diri?"


    Semua pertanyaan yang tidak terjawab itu, membuat rasa takut di hatiku semakin membesar. Aku hanya terdiam hanyut dalam pikiranku, aku berusaha menyembunyikan perasaanku hingga hari itu benar - benar tiba.


    Ga Bi menyodorkan gelas kopi yang masih mengepulkan asap kecil ke arahku sambil membuka mulutnya "jangan pikirkan apapun, nikmatilah waktu istirahat ini sebaik – baiknya," sahutnya. Aku menerima gelas itu sambil tersenyum kecil, merasa aneh harus merasakan kekuatanku yang hilang saat bulan baru. Meskipun aku sudah mengalaminya ribuan kali, namun perasaan aneh itu tetap saja aku rasakan. Aliran hangat perlahan menjalari tubuhku, aku menyesap pelan kopi di tanganku lalu meletakkannya di meja kecil samping kursiku dan kembali menatap keluar jendela besar di hadapanku.


    Ga Bi pun menoleh ke arahku kembali berusaha memulai pembicaraan "apa sekarang Sajangnim (Pimpinan atau atasan) masih tidak bisa mendengar suara... Tuhan?" Tanyanya canggung.


    Aku menggeleng kecil sambil menghembuskan nafas besar dari mulutku, "aku akan semakin takut jika aku bisa mendengar suara Hana lagi..." aku menyesap kopi di gelasku pelan, "jika itu terjadi apa yang harus aku katakan duluan? Apa kau ingin aku memintanya menyelamatkan hidupku? Aku sudah terlalu lama hidup untuk di selamatkan," gurauku pahit.


    Ga Bi pun melepaskan tawa pahit lalu kembali membuka mulutnya "apa yang akan Sajangnim (Pimpinan atau atasan) lakukan sekarang?" Tanyanya. Gelengan kecil terlihat di kepalaku "aku tidak tahu, aku merasa aneh… seakan aku sedang menunggu kematianku," jelasku bimbang.


    Ga Bi tersenyum kecil lalu mengulurkan tangannya menggenggam tanganku erat, itulah hal yang selalu Ga Bi lakukan, menggenggam tanganku dengan senyum kecil serta aura biru yang meluap tebal dari tubuhnya. Aku menghembuskan nafas kecil sejenak lalu menjilat kecil bibirku diam, Ga Bi pun kembali membuka mulutnya memecahkan keheningan yang menyelimuti kami.


    "Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


    Aku menggelengkan kepalaku pelan "tidak ada..." jawabku pelan, aku menunduk kecil "aku juga berharap ada yang bisa kau lakukan untukku, namun aku menyadari tidak ada yang bisa kau lakukan untukku kali ini," jawabku putus asa.


    Mata Ga Bi tampak berkaca - kaca, ia memaksakan senyum lebar di ujung bibirnya "bisakah aku menggunakan harapan terakhirku untuk menyelamatkanmu?" Tanyanya dengan suara serak. Ia mengusap cepat air mata yang mulai menetes dari ujung matanya, berusaha menyembunyikan tangisnya dariku.


    Aku menyunggingkan senyum palsu di ujung bibirku berusaha terihat baik - baik saja "tidak, aku ingin kau menggunakannya untuk sesuatu yang benar - benar dari hatimu!" Jawabku bergurau.


    Tawa kami pecah bersamaan dengan air mata yang mengalir semakin deras dari ujung mata kami. Waktu yang berlalu membuat kami lupa, bahwa pertemuan yang terasa abadi akan berkahir dengan perpisahan pada akhirnya. Namun aku tidak menyangka, bahwa mengetahui akhir itu akan datang ternyata lebih menakutkan, dari pada akhir itu datang secara tiba - tiba.


000


    Langkahnya terhenti di depan seorang wanita tua dengan rambut panjang yang terlihat mulai beruban, mata wanita itu terpejam dengan alat bantu pernafasan di hidungnya. Suara detikan jam terus terdengar keras mengiringi keheningan di Kamar itu, Dong Bae mendongakkan kepalanya perlahan menatap wanita yang tebaring lemah itu, dengan kedua tangan mengepal erat. Rasa marah dan tidak terima kembali menyerang hatinya dalam hitungan detik, ia pun membalikkan badannya meninggalkan kamar itu cepat, membanting pintu di belakangnya keras.


    Kejadian yang sangat ingin ia lupakan itu kembali terputar di kepalanya, kejadian yang membuat masa kecilnya yang indah menjadi mimpi buruk yang terus berulang. Membuat hidupnya kacau dan penuh penderitaan yang seharusnya tidak ia rasakan.


000


20 TAHUN YANG LALU.


    Dong Bae menagis terisak sambil mengayun pelan tangan Ibunya yang terbaring tak sadarkan diri, Ayahnya tampak duduk di depan jendela sambil menatap kosong keluar dengan botol alkohol di tangannya. Setelah hari beralu begitu saja, tangis perlahan kering, ketakutan perlahan sirna, yang tersisa hanya harapan akan keajaiban. Meskipun seberapa besar harapan itu ada dalam hatinya, keajaiban itu tidak akan menjadi kenyataan.


    Setelah hari itu juga, masa kecil Dong Bae berubah menjadi mimpi buruk yang ingin ia lupakan dan sembunyikan dari semua orang. Ayahnya menjadi pemabuk sampai menderita depresi, akibat rasa bersalah atas apa yang menimpa Ibunya.


    Suatu hari Ayahnya masuk ke dalam Kamar Ibunya dalam keadaan mabuk dan menangis sambil memecahkan barang – barang di sekitarnya, Ayahnya tanpa sengaja mendorong Dong Bae hingga terbanting di lantai, terkena pecahan vas bunga yang di bantingnya. Darah segar mengalir deras dari luka – luka di tubuhnya, Dong Bae kecil yang tidak bisa melakukan apapun hanya menangis keras kesakitan, sambil berteriak minta tolong berulang kali.


    Depresi yang di derita Ayahnya semakin membutakannya hari itu, ia kehilangan kendali atas dirinya lalu mengulurkan tangannya mencekik leher istrinya yang terbaring tak sadarkan diri di hadapannya. Kejadian itu akhirnya dapat teratasi berkat seorang perawat yang mendengar suara keributan dari kamar mereka, perawat – perawat lainnya mulai berdatangan menangani situasi dan membawa Dong Bae pergi untuk menerima perawatan.


    Dokter dan para Perawat berlari panik mendorong tempat tidur Cha Hyeon masuk ke dalam ruang ICU, bergerak cepat memberikan pertolongan. Usaha mereka terbayar setelah beberapa jam berusaha menyelamatkan Cha Hyeon dari kondisi kritisnya. Nafas lega terhembus dari mulut mereka, senyum puas akhirnya tersungging di ujung bibir mereka. Namun, harapan akan sadarnya Cha Hyeon yang sangat kecil, membuat semangat itu luntur dalam hitungan detik.


000


Ayahnya duduk tertunduk di hadapan polisi yang mengajukan beberapa pertanyaan padanya, namun Ayahnya hanya menatap kosong ke bawah sambil mengakui segala yang ia lakukan. Pengakuan itu membuatnya harus menanggung hukuman tujuh tahun penjara, ia juga menerima perawatan rehabilitasi atas kondisi mentalnya.


    Kejadian itu menjadi cerita yang tersebar di seluruh Rumah Sakit, semua orang yang melihat Dong Bae langsung memalingkan wajah mereka darinya. Semua bibir membicarakan kejadian itu setiap kali mata mereka bertemu dengan mata Dong Bae, ia mulai di jauhi dan tidak dianggap oleh orang - orang sekitarnya.


    Sejak hari itu Dong Bae menjalani hidupnya sendiri, tidak ada yang mau mendekatinya, dan pandangan semua orang perlahan berubah saat menatapnya. Dong Bae mulai menjalani hidupnya penuh kesendirian sejak hari itu, hingga rasa sepi itu telah menjadi teman sepanjang hidupnya.


***