I'M A Witch

I'M A Witch
DIA YANG KEMBALI



    Suara tabrakan besar kembali terdengar samar di ikuti dengan teriakan ribut beberapa orang dari seberang jalan, pria asing itu memalingkan tatapannya dariku sejenak lalu kembali menatapku "jika anda baik – baik saja, bisa tolong lepaskan tangan saya Nona?" Mintanya lagi.


    Aku pun tersadar cepat dari pikiranku lalu menarik tubuhku tegap menjauh sambil menunduk sopan. Pria itu pun menunduk sopan ke arahku cepat lalu segera pergi mengejar pencuri yang sejak tadi menjadi sasarannya, perasaanku menjadi sangat aneh melihat pria itu berlari menjauh dariku.


    Aku melanjutkan langkahku lalu membuka mulutku kecil "jatuh," bisikku pelan.


    Ketika kata itu keluar dari mulutku kaki pria yang menjadi sasaran kedua orang itu tersandung dan ia jatuh terguling di tanah. Pria muda yang ternyata adalah polisi itu pun segera berlutut sambil mengeluarkan borgol dari saku celananya menangkap pria yang di kejarnya sejak tadi.


    Mata pria itu berputar kecil mendengar suara hak sepatu tinggi yang melewatinya cepat, ia pun menoleh kecil menatapku yang yang berjalan melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Pria itu pun memalingkan wajahnya cepat kembali fokus pada pekerjaannya, ia memborgol kedua tangan pria itu dan membawanya ke kantor polisi.


000


    Dong Bae menjatuhkan dirinya sambil menghembuskan nafas dalam lega setelah menyelesaikan interogasi dalam waktu yang lama, ia memutar kursinya berbalik menatap jendela kecil di belakangnya yang menunjukkan langit malam yang gelap. Matanya pun langsung berputar melihat jam di tangan kirinya yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam, ia langsung membereskan barangnya cepat beranjak meninggalkan kantor polisi.


    Mobil hitam Dong Bae berhenti sempurna di depan pintu kedatangan Bandara, ia mematikan mesinnya lalu turun dan bersandar santai di depan mobilnya. Setelah cukup lama menunggu, seorang wanita dengan rambut bergelombang panjang yang terurai cantik, kulit putih, mata sipit dengan alis tipis, hidungnya terukir tegap, dan bibir tipisnya yang kemerahan menyunggingkan senyum manis berjalan kea rah Dong Bae. Suara manis wanita itu terdengar memanggil namanya, membuat Dong Bae mengangkat pandangannya dari posel di tangannya cepat. Senyum kecil tersungging di bibir Dong Bae, ia melambai kecil pada wanita itu lalu menegakkan tubuhnya yang bersandar di depan mobil santai.


    Wanita itu berhenti tepat di hadapan Dong Bae lalu melingkarkan tangannya pada pinggang pria itu memeluknya erat, sementara Dong Bae berdeham canggung sambil berusaha melepaskan pelukan wanita cantik itu "Chae Ri, kita di tempat umum..." bisiknya gugup.


    Wanita yang di panggilnya Chae Ri itu pun mengerutkan keningnya "lalu kenapa?" Protesnya kekanakan.


    Dong Bae pun akhirnya semakin kuat melepaskan lengan Chae Ri lalu menarik koper ungu wanita itu membawanya ke Bagasi, sementara Chae Ri berjalan masuk ke dalam mobil Dong Bae dengan wajah berkerut kesal.


    Mobil Dong Bae melaju cepat menyusuri jalan yanga cukup padat malam itu. Keduanya terus menatap lurus ke depan menutup mulut mereka rapat, Chae Ri pun melirik Dong Bae yang tampak gagah di balik roda kemudi lalu membuka mulutnya memecahkan keheningan


"bagaimana kabarmu?" Tanyanya santai.


    Dong Bae menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirnya "baik, kau sendiri?" Timpalnya balik bertanya.


    "Apa kau tidak penasaran kenapa aku kembali?" Balas Chae Ri bertanya.


    Dong Bae menghentikan mobilnya di balik garis lurus lampu penyeberangan yang berwarna merah, lalu menoleh menatap Chae Ri "aku tidak peduli alasanmu, lagipula cepat atau lambat kau akan pergi lagi..." jawabnya santai lalu kembali menatap lurus ke jalan.


    Chae Ri membuka mulutnya hendak menimpali kata – kata kejam Dong Bae barusan, namun dering ponsel Dong Bae menghentikan suaranya. Dong Bae menekan layar kecil di hadapannya mengangkat telfon yang masuk itu.


    "Detektif Jang Dong Bae," sapanya sopan.


    "Hyeongsanim (Detektif), ini dari Rumah Sakit!" Sapa suara wanita dari seberang telfon.


    Dong Bae pun langsung menepi lalu mendengarkan perawat wanita itu lebih serius "ya, anda bisa menyampaikannya," sahutnya penuh harapan.


    Perawat itu pun menyampaikan maskudnya kali itu membuat Dong Bae langsung melebarkan matanya kaget, dan mengakhiri pembicaraan secepat mungkin "baik, saya akan kesana sekarang!" Ucapnya lalu menutup sambungan telfon, kembali menjalankan mobilnya.


    Chae Ri pun membuka mulutnya cepat "aku ikut denganmu!" Mintanya. Namun, penolakan cepat langsung terdengar dari mulut Dong Bae "tidak, aku akan pergi sendiri!" Tepisnya cepat.


000


    Aku melangkahkan kakiku santai di koridor Rumah Sakit menuju ruangan VIP seperti biasanya, suasana ramai yang panik membuat keningku berkerut dan rasa penasaranku membesar. Beberapa perawat tampak bergantian keluar dari kamar seorang pasien yang tampaknya dlam kondisi kritis.


    Aku pun menghentikan langkahku memberikan jalan bagi perawat – perawat itu lalu mengikuti kemana tujuan mereka. Mataku menyipit kecil melihat wanita tua yang terbaring di dalam ruangan itu, membuat perasaan aneh pun mulai menjalari hatiku. Aku memutar otakku berusaha mengingat dimana aku pernah melihat wanita itu, namun tidak ada ingatan apapun yang muncul di kepalaku.


    Kondisi wanita itu terlihat semakin memburuk meskipun para dokter dan perawat telah memberikan penanganan untuknya, dokter pun memutuskan untuk membawa pasien itu ke ruang ICU membuat para perawat mulai bergerak mempersiapkan proses pemindahannya.


    Aku membalikkan badanku hendak melanjutkan langkahku, namun tanpa sengaja tangan kananku menyentuh tangannya yang terulur lemah melewati ujung ranjangnya. Uap kecil langsung tehembus di mulutku, aku menoleh dengan mata melebar kaget namun yang aku lihat bukanlah kematian wanita itu.


000


    Aku hanya melepaskan tawa kecil sambil menggeleng pelan menyembunyikan pikiranku darinya, Ha Rim menghentikan rajutannya lalu memperbaiki posisi duduknya menyerong ke arahku "aku tahu ada sesuatu yang mengganggumu, katakanlah! Siapa tahu aku bisa membantumu," mintanya lembut. Aku pun menurunkan pandanganku ragu, namun aku pun akhirnya menceritakan hal aneh yang terus saja terjadi dua hari ini. Aku membuka mulutku pelan


"aku tidak bisa melihat masa depan seseorang, itu membuatku merasa aneh."


    Ha Rim memiringkan kepalanya kaget semakin tertarik dengan ceritaku "siapa dia? Kau mengenalnya?" Tanyanya.


    Aku pun menggeleng cepat lalu menceritakan pertemuanku dengan polisi asing itu dan semua yang terjadi hari itu. Ha Rim yang mendengar ceritaku itu semakin bingung dan mengerutkan dahinya berpikir keras, ia menggeleng kecil sambil membuka mulutnya "sangat aneh, selama aku menghabiskan sebagian hidupku denganmu aku tidak pernah mendengar kejadian seperi ini..." simpulnya heran.


    Aku mengangguk kuat "hmm… benar, ini juga aneh bagiku," timpalku setuju.


    Ha Rim kembali menoleh menatapku lurus "lalu kejadian aneh apa lagi yang pikirkan?" Tanyanya.


    "Aku melihat masa depan seseorang, tapi rohnya tidak ada," jelasku datar.


    Mata Ha Rim melebar kaget "APA DIA SUDAH MATI?" tanyanya kaget. Aku langsung menoleh ke arah pintu dengan mata melebar kaget lalu menatap Ha Rim yang membekap mulutnya kesal.


    Ha Rim tampak mengintip ke arah pintu malu lalu tersenyum canggung "mian (maaf)," ucapnya cepat.


    Aku menghembuskan nafas besar dari mulutku sambil menggeleng heran, menyandarkan tubuhku santai. Ha Rim pun kembali menyampaikan rasa penasarannya akan wanita itu


"apa yang terjadi padanya?"


    "Aku tidak tahu."


    "Apa yang kau lihat kalau begitu?"


    "Rohnya mengikuti seorang anak kecil," jawabku memecahkan rasa penasaran Ha Rim.


    Anggukan kecil terlihat di kepala Ha Rim mendengar jawabanku, aku menghembuskan nafas kecil lalu bangkit dari kursiku hendak meninggalkan ruangan Ha Rim namun ia menahanku.


"Kau sudah mau pulang?"


"Tentu saja…" timpalku cepat.


"Kenapa cepat sekali?"


"Waktunya mencari uang, ruangan indahmu ini tidak murah!" Timpalku membuat Ha Rim menutup mulutnya cepat.


000


    Langkahku terhenti di depan kamar pasien kosong yang terbuka lebar, mataku berputar kecil melihat nama yang tertera di samping pintu "Kang Cha Hyeon" bacaku pelan. Aku memalingkan wajahku cepat lalu melanjutkan langkkahku meninggalkan Rumah Sakit. Tanpa aku sadari, aku kembali berpapasan dengan pria aneh itu.


    Pria itu berlari masuk ke dalam Rumah Sakit dengan wajah cemas melewatiku begitu saja, begitu pula denganku yang berjalan lurus melewatinya begitu saja.


    Aku berjalan santai sambil mengeluarkan kunci mobil dari tas kecilku menuju mobil merah yang terparkir sempurna tak jauh dari pintu masuk Gedung bawah tanah, aku mengulurkan tanganku meraih daun pintu mobil pelan namun gerakanku terhenti.


    Mataku melebar menatap wajah seorang pria yang turun dari mobil biru dengan tas kerja serta jas putih di tangannya, mata sipitnya terlihat indah di balik kaca mata yang tergantung di batang hidungnya yang tegas, bibir tipisnya tampak merona, dan pipinya yang sedikit tirus menunjukkan garis rahangnya yang tegas. Wajahnya tidak berubah, tetap sama seperti bagaimana aku mengingatnya, tetap sama seperti saat itu.


***