I'M A Witch

I'M A Witch
TRAGEDI



Seoul, 2023.


    Seorang pria dengan tubuh bidang tampak bergerak cepat memukul bola tenis yang memantul ke arahnya, mata sipitnya menatap tajam ke arah bola dengan kaki terbuka memasang kuda – kuda kuat.


    Sorakan deretan wanita yang menonton dari pinggir Lapangan, terdengar seiring gerakan menawan pria itu memukul bola tenis yang datang ke arahnya cepat. Getaran jam di lengan kirinya membuat konsenstrasi pria itu pecah, lalu ia mengangkat tangannya melambai kecil menghentikan permainan.


    Ia melihat nama yang tertera pada layar jamnya lalu berlari kecil ke samping lapangan mencari ponselnya. Jempol rampingnya bergerak kecil mengetuk layar ponselnya cepat, lalu menempelkan ponsel hitam itu ke telinga.


    "Dengan deketktif Jang Dong Bae," sapanya sopan.


    Matanya melebar kecil mendengar laporan seorang pria dari seberang telfon lalu ia mengangguk kecil "baiklah, kita bicarakan lebih lanjut di Kantor!" Putusnya lalu mematikan sambungan telfonnya cepat.


000


    Dong Bae berjalan memasuki Kantor Polisi yang terletak di tengah kota, lalu masuk ke dalam Ruang Interogasi mengamati situasi interogasi yang sedang berlangsung. Matanya menatap lurus pria tua yang duduk tertunduk di hadapan seorang polisi dengan wajah babak belur, nafas besar langsung terhembus dari mulut Dong Bae melihat pria itu. Ia menunduk dalam sambil memijat kesal keningnya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan kali ini.


    Seorang pria muda dengan seragam polisi yang sejak dari duduk di dalam ruangan itu pun menoleh lalu membuka mulutnya


"apa yang akan Sunbae (Senior) lakukan sekarang?" Tanyanya sopan.


    Dong Bae menekan tombol di meja ruangan, memanggil rekannya yang sedang berbicara dengan pria paruh baya itu. Dong Bae pun keluar dari ruangannya lalu menunduk sopan di hadapan pria yang tampak tidak terlalu tua darinya itu, ia menghembuskan nafas berat sejenak sebelum membuka mulutnya "kali ini apa yang terjadi?" Tanyanya seakan kejadian ini sudah terjadi berulang kali.


    Pria tinggi dengan rambut terbelah samping rapi, mata lebar, dan hidung tegas itu pun menjawab Dong Bae canggung "Ayahmu memukul orang asing di jalan, aku sudah bicara dengan korbannya, keterangan saksi matanya juga jelas bahwa Ayahmu yang memukul orang itu tanpa sebab," jelasnya.


    Dong Bae menunduk dalam mendengar kejadian itu kembali terulang, ia pun memberanikan dirinya mengajukan pertanyaan


"apa Sunbae (Senior) bisa beri tahu aku bagaimana ciri – ciri orang di pukulnya itu?" Tanyanya memastikan.


"Tubuhnya tinggi, sedikit berisi, kepalanya sedikit botak, dan pria itu memakai kalung tentara di lehernya," jelasnya menggambarkan sosok yang di pukul Ayahnya itu.


    Dong Bae mengacak rambutnya kesal akan kejadian yang terus terulang itu, ia mengangguk kecil lalu membuka mulutnya "biar aku urus semuanya, terima kasih atas bantuan Sunbae (Senior)," putusnya cepat sambil memaksakan senyum pahit.


    Dong Bae masuk ke dalam Ruang Interogasi, duduk berhadapan dengan Ayahnya diam. Keheningan canggung itu terus menyelimuti mereka, sampai pria tua di hadapan Dong Bae itu membuka mulutnya.


    "apa kau berhasil menangkapnya? Dia yang menabrak ibumu kan?"


    Mendengar nada tegas itu, Ayah Dong Bae melebarkan matanya kaget lalu menutup mulutnya sambil menundukkan kepalanya perlahan. Dong Bae menunduk dalam berusaha mengendalikan dirinya di depan Ayahnya, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, ia lelah dengan hidupnya yang terjebak di masa lalu itu.


000


20 tahun yang lalu.


    Seorang wanita dengan rambut terikat satu berdiri di depan Halte menunggu kedatangan bus dengan senyum indah di ujung bibirnya. Tiba – tiba seorang wanita dengan setelan santai dan tas belanja di tangannya datang menyapa wanita itu dari jauh "Cha Hyeon!" Panggilnya.


    Mendengar namanya terpanggil, wanita dengan rambut terikat itu menoleh dan senyumnya semakin melebar "Ji Yoo!" Balasnya menyapa ceria.


    Keduanya berpelukan erat, lalu berdiri berjajar menunggu di depan Halte bersama. Tak lama bus berwarna biru terlihat dari kejauhan dan berhenti sempurna di depan Halte, pintu bus itu terbuka dan anak – anak kecil langsung turun dengan tertib dari bus itu. Cha Hyeon yang melihat anak laki – laki dengan pipi tembam dan rambut tipis yang tertata rapi turun, membuatnya membuka mulut dengan senyum cerah


"Dong Bae!" panggilnya sambil membungkuk membuka tangannya.


    Dong Bae pun langsung tertawa cerah sambil berlari ke dalam pelukan Ibunya yang hangat, Cha Hyeon mengegakkan tubuhnya menggendong putra semata wayangnya itu, lalu mencium pipinya penuh kasih sayang. Namun, Dong Bae tidak mengetahui itu adalah hari terkahir ia merasakan pelukan hangat serta mendengar suara ibunya.


000


    Hujan deras membasahi seluruh kota malam itu, Cha Heyon keluar dari kamar putranya setelah membacakan dongeng singkat. Guntur yang meledak keras membuat rasa cemasnya semakin membesar, menunggu suaminya yang masih dalam perjalanan pulang. Dering telfon yang tiba – tiba terdengar membuat Cha Hyeon menoleh cepat, lalu berlari mengangkat gagang telfon yang berdering itu. Suara suaminya terdengar samar meminta bantuannya untuk membawa payung ke Halte yang tidak jauh dari Rumah mereka, Cha Hyeon pun menutup telfonnya cepat langsung berlari keluar dengan payung di tangannya secepat mungkin.


    Nasib malang pun menghampirinya hari itu, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju menabraknya membuat tubuh kurusnya terbanting keras di tanah. Pengemudi mobil itu keluar dari mobilnya menunduk melihat Cha Hyeon yang terbaring sekarat di tanah, rasa takut yang menghantui pengemudi dengan kepala botak itu menggelapkan matanya. Ia langsung berbalik cepat kembali masuk ke dalam mobilnya lalu memutar roda kemudinya meninggalkan Cha Hyeon yang sudah tidak sadarkan diri.


    Seluruh kejadian itu terekam di kamera pengawas yang terpasang di jalan itu, namun rekaman itu tidak cukup membantu polisi menangkap pelaku yang menabrak Cha Hyeon malam itu. Satu – satunya yang tersisa dari pelaku penabrakan itu hanya kalung besi tentara yang terjatuh di lokasi kejadian.


000


    Setelah hari itu, hidup Dong Bae dan Ayahnya berubah. Dong Bae menajadi anak yang pendiam, ia berusaha keras menjadi polisi agar ia dapat menemukan pelaku yang telah menabrak Ibunya. Segala usaha telah ia lakukan, meskipun ia tidak mendapatkan hasilnya hingga saat ini.


    Ayah Dong Bae pun sangat terpukul atas kejadian ini, ia menyalahkan dirinya sendiri dan menjadi pemabuk. Setiap melihat seorang pria dengan kepala botak mengenakan kalung besi tentara di lehernya, Ayahnya akan langsung memukul pria itu, seakan pria itu adalah pria kejam yang menabrak istrinya malam itu.


    Segalanya terus menghantui Dong Bae, seakan waktunya tidak berputar sampai ia menemukan siapa yang telah membuat Ibunya terbaring antara hidup dan mati sampai saat ini. Meskipun harapan semakin padam dan usaha terasa sia - sia, Dong Bae tetap tidak bisa melepaskan masa lalunya itu.


***