
Dong Bae berbalik cepat dengan rasa canggung dalam hatinya, ia berdeham kecil sebelum membuka mulutnya
"maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu" bukanya.
Aku langsung memaksakan senyum kecil di ujung bibirku cepat sambil menggeleng kecil "tidak apa, aku bisa pergi sendiri" tepisku cepat.
Aku pun melambaikan tanganku pada Dong Bae pelan lalu berbalik menatap ayahnya, aku menunduk kecil sejenak lalu melangkahkan kakiku meninggalkan ayah dan anak itu di depan Rumah Sakit dengan perasaan canggung yang tidak menyenangkan.
000
Dong Bae membuka pintu Rumahnya mendengar bell yang berbunyi beberapa kali, ia tersenyum sambil menunduk sopan melihat kedatangan pemilik rumah yang tidak di duganya itu. Dong Bae mempersilahkan wanita paruh baya itu masuk, mereka duduk berhadapan membuat Dong Bae memiliki firasat buruk atas kedatangan tiba – tiba itu. Wanita paruh baya itu meremas tangannya cemas sambil menyunggingkan senyum kaku
"jadi begini, suamiku tertipu oleh rekan bisnisnya dan kami kehilangan seratus juta sehingga usaha kami bangkrut" bukanya ragu.
Mata Dong Bae melebar kaget "apa Ahjumma[1] ingat bagaimana wajah orang yang menipu Ahjussi[2]? Aku bisa membantumu mencarinya" timpal Dong Bae cepat. Wanita itu melambaikan tangannya cepat mendengar tawaran Dong Bae
"tidak… tidak perlu, meskipun kami mencarinya kami tidak punya bukti bahwa dia menipu kami karena surat - suratnya lengkap dan terbukti akurat secara hukum, aku justru harus menyampaikan permintaan maafku pada Hyeongsanim" tepisnya cepat.
Wanita itu meraih tangan Dong Bae "maaf kami harus memberikan rumah ini pada Bank untuk melunasi hutang kami, jadi aku datang untuk menyampaikan bahwa aku terpaksa…" jelasnya terhenti canggung.
Dong Bae yang tampak mengerti arah pembicaraan itu pun tersenyum kecil lalu menempuk pelan tangan wanita paruh baya itu "tidak apa, aku mengerti Ahjumma" jawabnya tulus. Air mata menetes perlahan di pipi wanita itu karena rasa bersalahnya pada Dong Bae dan situasinya yang tidak terduga itu, ia berulang kali meminta maaf pada pria muda itu disela isak tangisnya. Dong Bae pun menepuk pelan tangan wanita yang menggenggamnya erat itu memberikan penghiburan yang ia bisa, namun otaknya mulai berputar kemana ia harus tinggal sementara waktu.
Dong Bae menggeser kontak ponselnya melihat nama – nama yang tertera di laya sambil berpikir siapa yang harus ia telfon malam itu. Jempolnya terhenti melihat nama Sajangnim tertera di layar, ia memutar matanya sambil menggigit bibir bawahnya ragu. Apa yang aku katakan saat kami melakukan perjanjian pun kembali terucap di kepalanya "dia akan mengabulkan permintaanku bukan?" tanyanya sendiri, ia pun memberanikan diri mengetuk gambal telfon di kontakku lalu menempelkan ponselnya ke telinga cepat.
000
Dering ponselku membuat Ga Bi menoleh kecil melihat nama yang tertera di layar, keningnya berkerut membaca nama yang ku masukan "dia yang tidak terlihat, siapa?" bacanya bertanya – tanya bingung. Ga Bi pun meraih ponselku lalu mengangkat panggilan itu
"hallo" sapanya sopan
"Sajangnim?" panggil Dong Bae ragu.
Ga Bi menurunkan ponselnya kembali melihat nama yang tertera di layar, ia melepaskan tawa kecilnya sambil menggeleng heran lalu kembali menempelkan ponselnya ke telinga
"Jang Hyeongsa, ini Ga Bi. Sajangnim sedang di dalam dengan tamu, apa ada yang ingin anda sampaikan?"
"aaah… maaf aku belum terbiasa dengan kehidupan kelelawar kalian, aku ingin bertanya sesuatu tapi aku bisa menundanya nanti"
"katakan saja apa yang ingin anda tanyakan, aku yakin sajangnim mendengarnya sekarang" sindir Ga Bi sambil melirik ke pintu Kuil jahil.
000
Aku melirik sinis mendengar pembicaraan Ga Bi dan Dong Bae di luar sana. Aku kembali memutar mataku lurus menatap anak remaja yang duduk setengah berlutut di hadapanku, aku pun memutuskan untuk segera mengakhirinya penasaran dengan apa yang ingin Dong Bae tanyakan padaku. Aku membuka mulutku cepat
"kau masih anak Sekolah? Apa Ibumu tahu kau kemari?" tanyaku terang – terangan melihatnya datang dengan seragam sekolah lengkap.
Anak perempuan itu menggeleng membuat poni yang menutupi dahinya bergerak kecil "aku datang diam – diam, aku gunakan tabunganku kemari dan aku tidak mengambil uang ibuku, jadi tolong kabulkan keinginanku!" mintanya langsung. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada berlutut di hadapanku
"aku sangat ingin masuk Universitas terbaik, bisakah kau membuatku lulus tes?" mintanya cepat.
Aku tersenyum puas dengan kerja samanya yang cepat itu, aku langsung mengulurkan tangan kananku "pegang tanganku" sahutku singkat. Anak itu langsung mengulurkan tangannya menggenggam tanganku erat, aku mengangguk kecil melihat bahwa sebenarnya ia juga akan lulus tes tanpa bantuanku. Aku melepaskan tangan halusnya perlahan
"kau akan lulus, percayalah pada dirimu" simpulku singkat.
Anak itu tersenyum cerah lalu membungkuk dalam "gamsahamnida[3]… gamsahamnida!!" ucapnya meluapkan kebahagiaannya.
Aku pun mengangkat tanganku hendak menjentikkan jariku mengusir anak itu, namun ia membuka mulutnya "tunggu sembentar!" tahannya tepat waktu. Ia memiringkan kepalanya dengan alis berkerut dalam
"jika aku tidak tahu jawabannya, jawaban apa yang harus aku pilih agar aku bisa lulus?"
"nomor Tiga" jawabku cepat lalu menjentikkan jariku tanpa menunggu lagi.
Aku langsung mengetuk keras pintu kayu di hadapanku cepat membuat Ga Bi menoleh kaget sejenak, lalu menunduk kecil meminta maaf pada tamu yang duduk di kursi tunggu depan Kuil. Ia masuk dengan langkah kesal lalu membuka mulutnya mulai mengomel
"Sajangnim, sudah ku katakan jangan melakukan itu!" sahut kami kompak sambil saling menatap lurus.
Aku menghela nafas pendek sejenak "kenapa Dong Bae menelfonku?" tanyaku langsung
Aku mencibirkan bibirku berpikir keras lalu mengangguk yakin "panggil dia kemari kalau begitu, aku akan mendengarnya secara langsung" putusku cepat.
000
Dong Bae duduk dengan wajah kusut di hadapanku, membuatku menyadari ada sesuatu yang tidak beres darinya. Aku menghembuskan nafas besar dari mulutku sejenak sebelum membuka mulutku
"katakan apa masalahmu kali ini?"
Dong Bae tampak menatapku lurus seakan ia sudah mengharapkanku membuka pembicaraan lebih dulu, ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku "kau bilang kau akan mengabulkan permintaanku kan?" tanyanya memastikan. Aku memutar mataku sejenak lalu mengangguk kuat "hmm" gumamku membenarkan, mendengar jawabanku membuat Dong Bae menghembuskan nafas lega sambil menunjukkan kepuasan dalam hatinya. Aku yang mulai mencurigai sikapnya kali ini pun membuka mulutku tajam
"selama kau tidak memintaku membunuh seseorang untukmu aku akan mengabulkannya" timpalku membunuh rasa bahagianya.
Dong Bae menatapku sinis "hey! Kau pikir aku orang macam apa? Aku polisi, bagaimana mungkin aku berniat membunuh orang?"
Aku mengangkat kecil kedua bahuku "bisa saja, manusia tetap manusia" timpalku tidak peduli.
Dong Bae melambai kecil sambil kembali menarik tubuhnya tegap "lupakan, aku sudah tidak punya tenaga untuk ribut denganmu" tepisnya cepat, ia memperbaiki posisi duduknya setengah berlutut "kabulkan keinginanku kali ini" mintanya terdengar putus asa. Aku menaikkan sebelah alisku curiga mendengar nada suaranya yang berubah drastis dalam hitungan detik itu
"katakanlah!"
"berikan aku rumah" mintanya tiba – tiba.
Tawa kecil Ga Bi langsung pecah mendengar permintaan sederhana di balik rasa putus asa Dong Bae itu, kami langsung menoleh kompak menatap Ga Bi yang bersandar di palang pintu sambil tertawa lepas seorang diri. Ga Bi yang menyadari tatapan itu perlahan menghentikan tawanya membuat suasanya menjadi canggung, aku kembali menatap Dong Bae lurus sambil mengangguk kecil "baiklah, aku akan memberikannya, anggap saja ini permintaan maafku atas kejadian di Kantor Polisi kemarin" jawabku tenang.
000
Dong Bae berdiri di depan pintu Apartemen mewah sambil melihat sekeliling takjub. Ia pun membuka ponselnya membaca pesan dariku lalu menekan nomor kode pintu masuk di hadapannya perlahan, suara kecil terdengar dari pintu itu lalu ia membuka gagang pintu hitam di hadapannya. Apartemen dengan interior mewah langsung memanjakan matanya, apartemen itu telah terisi lengkap dengan perabotannya dan semua yang ia butuhkan sudah tersedia di dalamnya. Ia pun mengetuk ponselnya cepat lalu menempelkan ponselnya ke telinga sambil melihat sekeliling Apartemen itu tidak percaya, nada panggil terdegar di telinganya namun dering ponsel seseorang tiba – tiba terdengar bersamaan dengan nada panggil di telinganya. Ia menoleh cepat dan matanya langsung melebar kaget, melihatku berdiri di belakangnya dengan ponsel di tanganku entah sejak kapan. Dong Bae mengangkat tangannya menunjuk ke arahku lurus
"kenapa kau disini?"
"ini Rumahku" jawabku tenang.
Kami duduk berhadapan di ruang tengah tanpa mengatakan apapun sejak tadi. Dong Bae menggerakkan kakinya cepat sambil berpikir keras lalu menatapku memutar matanya menatapku lurus
"jadi untuk sementara kita akan tinggal bersama katamu?" tanyanya memastikan.
Aku pun mengangguk kuat "hmm, setelah proses pembelian Apartemen baruku selesai aku akan pindah dan Apartemen ini akan jadi milikmu sepenuhnya" jelasku yakin. Dong Bae kembali menoleh ke sekeliling Apartemen itu sambil membuka mulutnya hampa, tawa hinaku pun pecah mendengar suara hatinya "wahh, ini gila" sahutku mengatakan isi hatinya "apa kau tidak pernah melihat Apaertemen?" tanyaku menghina. Dong Bae mengangguk kuat
"hmm, aku tidak pernah melihat Apartemen sebagus ini dan aku semakin tidak percaya Apartemen ini akan menjadi milikku" timpalnya cepat.
Aku hanya menggeleng heran lalu bangkit dari sofa berbalik menuju dapur, Dong Bae pun ikut bangkit dari duduknya berlari kecil mengikutiku. Ia melihat dapur mewah yang tertata rapi dan alat masak yang lengkap serta perabotan yang tampak mahal, ia membuka kulkas besar di ujung dapur melihat berbagai bahan makanan yang terlihat enak di dalamnya. Dong Bae menoleh kecil menatapku yang sedang mengisi gelas airku
"apa kau memasak makananmu sendiri?"
"kadang - kadang"
"apa yang biasanyanya kau masak?"
"mi instan" jawabku mematahkan harapannya yang terlihat tinggi akan kemampuan memasakku.
Dong Bae menggeleng kecil sambil melepaskan tawanya setelah mendengar jawabanku "apa yang aku harap darimu?" bisiknya cepat. Aku berjalan keluar dapur dengan segelas air di tanganku "aku mendengarnya…" timpalku keras membuat Dong Bae melipat kedua bibirnya masuk ke dalam mulutnya canggung. Ia menutup kulkas di hadapannya cepat lalu berlari mengejarku masuk ke balkon luas di depan ruang tengah, matanya melebar kecil melihat dekorasi unik balkon yang sangat nyaman untuk bersantai. Aku duduk di sofa luas seperti biasanya, sementara Dong Bae berjalan menuju ayunan panjang di ujung balkon lalu duduk disana. Ia mengayunkan dirinya pelan sambil menatap lurus ke langit pagi yang indah sambil sesekali melirikku dari ujung matanya, aku pun menoleh cepat menatapnya lurus
"apa kau tidak kerja?"
Pertanyaanku membuatnya tersadar lalu bangkit dari ayunan cepat berlari panik meninggalkan balkon, ia menoleh sejenak "aku berangkat dulu, sampai jumpa nanti" pamitnya sambil tersenyum kecil lalu berlari meninggalkan apartemen.
***
[1] Bibi / Tante.
[2] Paman / Om.
[3] Terima Kasih dalam Bahasa Formal.