
Ga Bi berjalan perlahan menyusuri koridor Rumah Sakit yang terdengar ramai, ia berhenti di depan ruangan Jae Bin lalu mengetuk pintu kaca di hadapannya pelan. Setelah mendengar suara Jae Bin dari dalam, ia membuka pintu kaca di hadapannya lalu membungkuk sopan menyapa Jae Bin yang duduk di mejanya gagah. Senyum Jae Bin mengembang kecil melihat kedatangan Ga Bi, ia bangkit dari kursinya menyapa Ga Bi lalu mempersilahkannya duduk memulai pembicaraan
"untuk saat ini kondisi Haelmoni sangat baik, menurutku Haelmoni bisa pulang dalam 2 hari"
"benarkah?" tanya Ga Bi senang.
Jae Bin mengangguk kuat dengan senyum lebar di ujung bibirnya, ia menyodorkan amplop putih pada Ga Bi "ini adalah obat yang harus Haelmoni minum setiap hari, jika ada keluhan segera bawa Haelmoni kembali ke Rumah Sakit" jelasnya.
Ga Bi mengambil amplop itu sambil mengangguk kecil "baiklah, terima kasih Yoon Seonsaeng" timpalnya sopan.
Keduanya terdiam canggung setelah pembicaraan formal itu selesai, Ga Bi pun berdeham canggung lalu berdiri dari kursinya "kalau begitu saya pergi dulu" pamitnya cepat, namun Jae Bin menahan langkahnya
"Ga Bi –ssi, apa anda sibuk?"
Ga Bi memiringkan kepalanya "ne?" tanyanya bingung,
"apa anda sibuk atau sudah memilik janji dengan orang lain?" tanyanya lagi.
Ga Bi memutar matanya canggung lalu menggeleng kecil "tidak, setelah ini saya berencana mengunjungi Haelmoni sembentar lalu pulang" jelasnya.
Senyum puas tersungging di ujung bibir Jae Bin, ia pun mengangguk kuat "baik, kalau begitu ayo kita makan bersama!" ajaknya tiba – tiba, mata Ga Bi melebar kaget mendengar ajakan itu "ne?" sahutnya begitu saja. Tawa kecil Jae Bin terdengar sejenak lalu ia kembali meyakinkan Ga Bi bahwa apa yang ia dengar itu benar "ya, aku mengajakmu makan siang bersamaku" sahutnya meninggalkan formalitas antara mereka.
000
Ga Bi dan Jae Bin duduk berhadapan canggung sambil menunggu makanan mereka, keheningan menyelimuti mereka setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi meninggalkan meja mereka. Keduanya terus bergerak kecil gelisah sampai Jae Bin membuka pembicaraan lebih dulu
"setelah ini apa yang akan kau lakukan?"
Ga Bi mengedipkan matanya cepat lalu membuka mulutnya "saya… saya akan kerja paruh waktu di Toko Kakak saya" timpalnya canggung.
Tawa kecil Jae Bin terdengar pelan melihat Ga Bi yang salah tingkah di hadapannya, ia menghembuskan nafas panjang sejenak "kamu bisa bicara lebih nyaman denganku" sahutnya berusaha mencairkan suasana. Mendengar itu, Ga Bi langsung menggeleng cepat "tidak bisa, kita baru saja kenal dan anda adalah dokter" tepisya cepat. Tawa pun pecah semakin keras dari mulut Jae Bin mendengar penolakan Ga Bi tanpa berpikir panjang lagi, Jae Bin pun langsung mengeluarkan isi kepalanya setelah berhasil mengendalikan tawanya
"kau sangat lucu, tapi aku merasa lebih nyaman dengan kejujuranmu, aku akan berusaha keras sampai kau merasa dekat denganku dan bicara lebih santai kepadaku" sahutnya yakin.
Ga Bi tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya, ia merasa lebih tenang karena Jae Bin tidak memaksanya justru menghargai keputusannya. Setelah pembicaraan itu, suasana dingin diantara mereka menjadi lebih hangat dan santai, mereka mulai membicarakan banyak hal dan menemukan kecocokan antara mereka. Tawa tidak berhenti terdengar dari mulut mereka, dan keduanya melewati hari bersama tanpa mereka sadari.
Langit yang perlahan menggelap membuat Ga Bi tersadar dari pembicaraan asik mereka, ia mengetuk ponselnya cepat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul Tujuh malam. Matanya langsung melebar kaget
"tidak! Bagaimana ini?" sahutnya panik,
Jae Bin yang mendegar itu langsung mengerutkan alisnya bingung "ada apa Ga Bi –ssi? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya ikut panik.
Ga Bi langsung membereskan barang – barangnya cepat "tidak, saya harus pergi sekarang, saya harus pergi ke Toko Kakak saya" pamitnya cepat lalu beranjak dari kursinya.
Jae Bin yang masih ingin menghabiskan waktu bersama Ga Bi pun langsung berdiri mengejar Ga Bi, menahan lengannya cepat "biar aku antar saja" tawarnya cepat. Ga Bi langsung melambai cepat mendengar tawaran itu "tidak, tidak perlu saya akan naik Bus saja" tolaknya sopan, Jae Bin yang pantang menyerah pun semakin erat menahan lengan Ga Bi "tidak apa, lagipula kamu terlambat karena menghabiskan waktumu bersamaku, kamu akan lebih cepat sampai dari pada naik Bus" tepisnya memberi pertimbangan. Ga Bi melirik jam yang terus berputar ragu, ia pun mengangguk kecil "baiklah, maaf merepotkan Yoon seonsang kalau begitu" putusnya terpaksa.
000
Mobil Jae Bin melaju dengan kecepatan normal menyusuri jalan yang padat, ia menghentikan mobilnya mulus melihat lampu lalu lintas yang berubah warna menjadi merah. Jae Bin menoleh kecil lalu membuka mulutnya memulai pembicaraan santai
"apa Kakak yang kau maksud itu wanita yang datang ke Rumah Sakit?" tanyanya,
Ga Bi teringat akan cerita Neneknya bahwa Jae Bin pernah bertemu denganku sebelumnya, ia pun mengangguk pelan "hmm" gumamnya sambil tersenyum kecil. Jae Bin pun mengangguk paham "begitu rupanya, tapi kalian tidak mirip dan marga kalian tidak sama, apa kalian Sepupu?" tanyanya lagi. Ga Bi memutar matanya canggung mendengar pertanyaan itu, ia tidak mungkin menjelaskan hubungan rumit antara keluarganya denganku, akhirnya ia hanya mengangguk kecil "benar, kami Sepupu, dia lebih tua dariku" jelasnya singkat. Jae Bin menginjak gas mobilnya setelah lampu lalu lintas berubah hijau, ia mengangguk kecil
"begitu rupanya, apa kamu anak tunggal?"
Ga Bi menggeleng "tidak, aku punya satu Adik laki – laki" jawabnya santai,
"benarkah?" tanya Jae Bin takjub.
"apa kalian semirip itu? Kalau begitu apa aku bisa bertemu dengannya?"
"ya, kami semirip itu, hmm… untuk sekarang tidak bisa" jawab Ga Bi mematahkan harapan Jae Bin.
Jae Bin mengerutkan dahinya "kenapa? Apa dia tidak tinggal di Seoul?" tanyanya ingin tahu. Ga Bi pun mengangguk kecil "ya, dia tidak tinggal di Seoul sejak tahun 2004 lalu" jawab Ga Bi canggung, merasakan kecanggungan dari suara Ga Bi, Jae Bin pun menganguk kecil memutuskan untuk tidak membahas lebih dalam lagi tentang keluarga Ga Bi. Ia membuka mulutnya cepat namun suaranya tertahan oleh dering ponsel Ga Bi yang terdengar keras, Ga Bi pun mengeluarkan ponselnya lalu mengangkat panggilan masuk itu
"hallo, Jang Hyeongsa ada apa?" sapa Ga Bi cepat.
Mendengar panggilan "Jang Hyeongsa" membuat pikiran Jae Bin tertuju pada Dong Bae. Ia menggeleng kecil sambil meyakinkan dirinya bahwa Detektif dengan marga Jang tidak hanya Dong Bae di seluruh Korea yang luas ini, ia pun fokus mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik penasaran pada pembicaraan Ga Bi dengan Jang Hyeongsa yang misterius ini. Ga Bi mengangguk kecil mendengar perkataan Dong Bae lalu membuka mulutnya
"baiklah, aku akan ke Apartemen kalian kalau begitu" timpalnya singkat lalu menutup sambungan telfonnya.
Jae Bin kembali mengarahkan pandangannya pada jalan berpura – pura tidak melirik Ga Bi sambil berdeham kecil menunggunya membuka mulut lebih dulu, Ga Bi pun menoleh menatap pria di balik roda kemudi lurus lalu membuka mulutnya
"Yoon Seonsaeng, maaf sepertinya kita harus putar balik" bukanya canggung.
Jae Bin melirik kecil sambil memelankan laju mobilnya "ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya ingin tahu
"Sepupuku tidak membuka Tokonya karena ada sesuatu yang darurat, jadi teman serumahnya memberi tahuku untuk mengunjunginya di Apartemen mereka saja" jelas Ga Bi singkat.
Jae Bin mengangguk kecil "begitu rupanya, baiklah kalau begitu aku akan mengambil jalur untuk putar balik di depan" timpalnya puas lalu memutar roda kemudinya mulus.
Senyum Jae Bin mengembang kecil mengetahui ia memiliki kesepatan sedikit lebih lama bersama Ga Bi, ia berdeham kecil mengendalikan dirinya berusaha menyembunyikan senyum bahagia yang terukir di ujung bibirnya.
000
Mobil Jae Bin berhenti sempurna di depan gedung Apartemenku, Ga Bi langsung melepas sabuk pengamannya pelan lalu menunduk kecil "terima kasih sudah mengantar saya" ucapnya tulus. Jae Bin melepas sabuk pengamannya lalu mendongak kecil menatap gedung Apartemen mewah yang menjulang tinggi di hadapannya, ia membuka mulutnya takjub "waahhh… aku tidak percaya Kakakmu sekaya itu" timpalnya tidak percaya. Tawa kecil pun langsung pecah dari mulut Ga Bi mendengar itu dari Jae Bin
"dia mendapatkannya dengan kerja keras dan perjuangan bertahun – tahun Yoon Seonsaeng" timpalnya remeh.
Ga Bi menyampirkan tali tasnya ke pundak cepat "kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih atas tumpangannya" pamit Ga Bi cepat lalu turun dari mobil Jae Bin. Langkah Ga Bi terhenti mendengar Jae Bin memanggilnya dari jauh, ia pun menoleh cepat sambil menyunggingkan senyum di ujung bibirnya. Jae Bin berlari kecil menghampiri Ga Bi lalu membuka mulutnya
"apa lusa kamu punya waktu?"
Ga Bi memutar kecil matanya canggung "lusa, aku tidak tahu karena Adikku pulang setelah sekian lama, jadi…" tolak Ga Bi halus.
Jae Bin pun mengangguk kecil lalu kembali membuka mulutnya "kalau begitu bagaimana dengan Jumat?" tanyanya lagi, Ga Bi mengangguk kecil "aku tidak ada janji di hari Jumat" timpalnya ringan. Senyum Jae Bin semakin melebar mendengar jawaban itu, ia pun mengangguk puas
"kalau begitu apa kau mau makan malam dengaku hari Jumat?" ajaknya,
Ga Bi memutar matanya ragu sejenak lalu mengangguk kecil "baiklah" putusnya menyetujui.
Langkahku terhenti melihat punggung Ga Bi di depan pintu masuk gedung, Dong Bae menabrak kecil pundakku dari belakang kaget
"hey, kenapa kau berhenti tiba – tiba?" tanyanya sedikit kesal.
Aku menyikut kecil perutnya cepat "lihat itu, lihat itu" tepisku cepat sambil menunjuk punggung Ga Bi, Dong Bae pun menoleh mengikuti arah jariku sambil menyipitkan matanya "siapa itu?" tanyanya tidak mengenali punggung Ga Bi. Aku memutar mataku lalu meliriknya kesal "Jung Ga Bi!" sahutku, Dong Bae melebarkan matanya kaget lalu kembali menatap punggung Ga Bi lurus
"wahh, bagaima kau bisa mengenalinya hanya dengan melihat punggungnya saja?" timpalnya takjub
Aku pun hanya menghembuskan nafas besar sambil menggeleng heran lalu kembali melanjutkan langkahku menghampiri Ga Bi, aku membuka mulutku lebar
"Jung Ga Bi!" panggilku membuatnya menoleh cepat.
Langkahku terhenti dan mataku melebar kaget melihat Jae Bin yang berdiri di hadapan Ga Bi menatapku lurus, aku memutar mataku menatap keduanya bergantian, namun hal yang lebih menggangguku dari tatapan Jae Bin adalah garis hitam yang mengikat kelingking keduanya. Apa maksud semua ini? Apa ini hanya kebetulan atau ini adalah karma yang harus Ga Bi tanggung karena permintaannya hari itu? Aku berharap ini hanya kebetulan.
***