I'M A Witch

I'M A Witch
HUBUNGAN



Jae Bin berdiri di depan meja Administrasi membaca lembar data pasiennya lalu membalik data – data itu perlahan. Langkah seorang wanita terhenti di sampingnya, membuat Jae Bin menoleh terdiam di tempat menatap wanita yang tersenyum di hadapannya. Mata Jae Bin menatap lurus mata Chae Ri sejenak, lalu ia memalingkan wajahnya cepat kembali menatap data pasien di hadapannya. Chae Ri mengulurkan tangannya menggenggam kecil lengan jubah putih Jae Bin


"bisakah kau tidak bersikap seperti ini padaku? Ini tidak adil" mintanya pilu.


Jae Bin menutup data pasien di tangannya lalu menarik lengannya kasar, berbalik meninggalkan meja Administrasi cepat. Chae Ri pun mengejarnya sambil melemparkan bom yang menghentikan langkah Jae Bin


"aku bertemu Dong Bae…" tahannya cepat, Chae Ri menghembuskan nafas kecil "dia sudah punya pacar" tambahnya sesak.


Jae Bin mengepalkan tangannya erat perlahan, ia menghembuskan nafas panjang sambil memejamkan matanya menenangkan diri sejenak lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Chae Ri begitu saja.


Apa yang terjadi antara Chae Ri, Jae Bin, dan Dong Bae adalah masa lalu yang pahit. Masa lalu penuh luka yang ingin Dong Bae dan Jae Bin kubur dalam – dalam, namun keinginan itu tidak ada pada Chae Ri.


000


MUSIM SEMI 2011.


Dong Bae berjalan menyusuri koridor Sekolah dengan kepala tertunduk dalam, semua siswa yang melihatnya lewat langsung berbisik kecil satu sama lain sambil meliriknya sinis. Ia membuka pintu kelasnya membuat perangkap berisi tepung yang telah di pasang di atas pintu terjantuh menghujaninya cepat, semua siswa yang melihat Dong Bae yang berlumuran tepung langsung melepaskan tawa puasnya, beberapa dari mereka pun mengambil video atas kejadian itu. Hari berat seperti ini sudah biasa bagi Dong Bae selama hidupnya, matanya hanya mentap kosong ke bawah dengan wajah datar membiarkan semua orang puas menertawakannya. Hari itu terus berlalu sampai suatu hari kedatangan dua siswa baru ke dalam kelasnya, kedua siswa itu merubah harinya.


Jae Bin dan Chae Ri berdiri di depan kelas dengan senyum kecil menghiasi bibir mereka. Keduanya memperkenalkan diri singkat di sambut tepuk tangan meriah dari seluruh siswa di dalam kelas, Dong Bae hanya melihat kedua siswa baru itu sejenak lalu kembali memalingkan wajahnya menatap kosong keluar jendela. Jam makan siang tiba membuat semua siswa menutup bukunya cepat, berlarian keluar kelas menuju Ruang Makan bersama teman – temannya. Jae Bin berdiri dari bangkunya menghampiri Chae Ri mengajaknya untuk makan bersama seperti biasanya, keduanya pun melangkahkan  kakinya sambil berbincang kecil, namun langkah mereka terhenti melihat kedatangan segerombol siswa dengan wajah menyebalkan menghampiri meja Dong Bae. Anak – anak nakal itu tampak mengolok – olok Dong Bae atas sesuatu yang mereka tidak ketahui sambil mendorong keras tubuhnya berulang kali, melihat itu membuat Jae Bin merasa tidak nyaman. Ia pun menghampiri mereka membela Dong Bae yang tampak terbiasa atas perbuatan kasar itu, pembelaan itu membuat suasana memanas dan perkelahian besar terjadi akibatnya. Dong Bae, Jae Bin, Chae Ri, dan lima siswa yang terlibat perkelahian itu berdiri berjajar di ruang guru sambil menunduk dalam mendengarkan amukan ganas wali kelas mereka. Itulah kisah awal persahabatan mereka, persahabatan itu terus berlanjut hingga Jae Bin dan Chae Ri mengetahui alasan perlakuan tidak adil yang Dong Bae alami selama ini.


Chae Ri duduk di pinggir lapangan menonton siswa pria kelas mereka yang sedang bermain basket di lapangan. Siswi – siswi yang sejak tadi memperhatikan Chae Ri pun memberanikan diri mendekatinya berusaha menjadi temannya, mereka pun mengobrol santai sampai seorang siswi mengajukan pertanyaan yang membuat amarah Chae Ri tersulut


"Chae Ri –ah, kenapa anak terhormat seperti kau dan Jae Bin mau berteman dengan Dong Bae?"


"memangnya kenapa? Apa yang salah dengan Dong Bae? Kalian yang salah merundungnya tanpa alasan" bela Chae Ri kesal.


Siswi – siswi yang mendengar itu langsung melebarkan mata mereka kaget "tidak, kami tidak merundungnya tanpa alasan!" bantah seorang cepat di sambung anggukan setuju dari tiga orang lainnya. Salah seorang dari mereka pun kembali membuka mulutnya menceritakan apa yang dilakukan ayah Dong Bae hingga berakhir dalam penjara dan rumah rehabilitasi.


Chae Ri menatap Dong Bae lurus setelah mendengar cerita masa lalu Dong Bae itu, ia menunduk kecil lalu bangkit dari tempatnya memanggil Jae Bin dan Dong Bae yang sedang asik bermain basket. Ia menyusupkan tangannya ke sela lengan kedua pria itu membawa mereka pergi jauh ke halaman belakang Sekolah, Chae Ri memutuskan untuk menutup mata dan telinganya rapat – rapat. Ia tidak peduli bagaimana masa lalu Dong Bae, karena ia telah melihat Dong Bae yang sebenarnya sangat berbeda dari ayahnya. Pengertian dan kasih yang Chae Ri tunjukkan itu, membuat Dong Bae jatuh cinta padanya, namun ia menyembunyikan perasaan itu dalam – dalam. Ia merasa untuk berada di sisi Chae Ri dan menjaganya sebagai teman sudah cukup baginya.


000


Hari kelulusan pun perlahan mendekat, ketiganya duduk berhadapan membaca buku di hadapan mereka fokus sampai Chae Ri membanting kecil pensil di tangannya


"aku bosan, tidak bisakah kita bermain sebentar?" rengeknya manja.


Dong Bae hanya meliriknya sambil tersenyum miring sejenak lalu kembali menatap buku di hadapannya, sementara Jae Bin menurunkan pensilnya menatap Chae Ri lurus


"hey, apa kau tidak mau masuk Universitas?" tanyanya mengancam.


Chae Ri memutar matanya kesal mendengar pertanyaan serius itu, ia menghembuskan nafas besar dari mulutnya lalu mengangkat buku di hadapannya "aku akan masuk jurusan desain, pelajaran seperti ini tidak berguna untuk jurusanku Yoon Seonsaengnim" timpalnya sambil melempar kecil buku pelajaran di tangannya. Dong Bae dan Jae Bin saling menatap dengan alis terangkat lalu menggeleng kompak memutuskan untuk diam mengalah pada Chae Ri, Jae Bin pun menghentikan gerakannya sejenak lalu menatap Dong Bae sekilas


"apa kau benar – benar ingin masuk Kepolisian?" tanyanya tiba – tiba.


Chae Ri langsung menoleh cepat menatap Dong Bae dengan mata melebar kaget "Polisi katamu? Kenapa aku tidak tahu apa – apa?" protesnya merasa terkhianati.


Dong Bae menurunkan pensilnya lalu mengangguk kecil "hmm" jawabnya yakin, Jae Bin mengangguk kecil "baiklah, semoga beruntung" timpalnya menghargai keputusan Dong Bae. Chae Ri yang tidak menerima keputusan itu pun membuka mulutnya


"tidak! Aku tidak setuju!"


"apa gunanya jika kau tidak setuju? Siapa kau? Ayahnya? Ibunya?" tepis Jae Bin cepat.


Chae Ri yang semakin kesal dengan perkataan itu melempar bukunya keras ke wajah Jae Bin lalu meringkas barang – barangnya pergi dari ruang belajar dengan langkah kesal. Dong Bae tertawa kecil melihat Jae Bin yang mengusap hidungnya kesakitan, ia menoleh ke arah pintu sejenak


"kau menyukainya tapi kau selalu membuatnya kesal, bagaimana dia bisa menyadari bahwa kau menyukainya?"


"ohh… hidungku baik – baik saja, terima kasih atas perhatiannya" tepis Jae Bin kesal.


Tawa Dong Bae pecah sejenak sambil menggeleng kecil lalu melanjutkan belajarnya, Jae Bin pun menghembuskan nafas besarnya terdiam sejenak lalu membuka mulutnya


"apa menurutmu dia juga menyukaiku?"


"aku yakin" jawab Dong Bae tulus di balik senyum palsunya.


Keyakinan itu membuat Jae Bin memberanikan diri menyatakan perasaannya pada Chae Ri. Segalanya berjalan baik, segalanya berjalan seperti bagaimana harusnya. Jae Bin dan Chae Ri pun bahagia sebagai sepasang kekasih, persahabatan ketiganya pun tetap erat meskipun mereka memiliki mimpi mereka masing – masing. Namun, segalanya yang tampak baik itu tidak berlangsung lama. Malapetaka datang secepat satu kedipan mata, membuat semuanya berubah menjadi mimpi buruk yang tidak bisa ketiganya lupakan begitu saja.


000


MUSIM GUGUR 2018


Chae Ri duduk di dalam sebuah Klub Malam sambil menegak bir di tangannya putus asa, wajahnya tampak lesu dan sorot matanya memancarkan kesepian yang dalam di hatinya. Dong Bae datang dengan langkah cepat ke hadapan Chae Ri melihat keadaannya yang kacau itu, ia berlutut di hadapan Chae Ri lalu menarik botol birnya cepat


"apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harusnya makan malam dengan Jae Bin?"


Chae Ri hanya diam memalingkan wajahnya sambil berusaha meraih botol birnya kembali, namun Dong Bae menghalanginya dan menariknya berdiri cepat "ayo kita pulang, kau sudah mabuk" ajaknya paksa. Chae Ri pun hanya menghembuskan nafas besar pasrah lalu meraih tasnya mengikuti Dong Bae keluar dari Klub, Dong Bae membuka pintu Klub untuk Chae Ri lalu menuntunnya duduk di kursi panjang yang tak jauh di luar Klub. Dong Bae membuka jaketnya lalu menyampirkan jaket itu menutupi tubuh Chae Ri "aku akan membelikan air sembentar untukmu, tunggu disini" katanya cepat lalu berlari masuk ke dalam Toko Swalayan kecil yang tak jauh dari Klub.


Chae Ri duduk tertunduk meneteskan air matanya mengingat apa yang terjadi hari ini, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya menumpahkan tangis yang sejak tadi di tahannya. Dong Bae yang kembali saat Chae Ri sudah menangis terisak pun berlutut cepat menatap wanita itu panik, ia meletakkan botol air yang di bawanya ke samping Chae Ri lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya cepat. Ia mengusap air mata Chae Ri cepat


"ada apa denganmu hari ini? Tidak biasanya kau menangis seperti ini"


"aku hanya lelah, aku menyadari bahwa ia dokter yang harus siap sedia kapanpun, tapi setelah melihatnya meninggalkanku untuk tugasnya berulang kali membuat hatiku sakit"


Beberapa hari berlalu, namun hubungan Chae Ri dan Jae Bin semakin terasa jauh. Jae Bin menghilang tanpa kabar membuat rasa sepi yang mengahntui Chae Ri semakin mengganggu harinya, hubungan yang awalnya indah dan penuh cerita kini terasa hampa dan tidak berarti lagi bagi Chae Ri. Segalanya berlalu begitu saja, sampai suatu malam Jae Bin menghubungi Chae Ri tiba – tiba. Keduanya duduk berhadapan canggung di sebuah café dan tidak ada yang berniat membuka pembicaraan lebih dulu, Chae Ri duduk sambil menatap bayangannya dalam cangkir teh di hadapannya, semetara Jae Bin memainkan jarinya terdiam membisu. Suasana itu terus berlangsung sampai Dong Bae datang dengan langkah cepat


"maaf aku terlambat, banyak kasus yang harus aku tangani tadi" sahutnya memberi alasan.


Kedua sahabatnya yang terdiam menunduk itu membuat Dong Bae merasa sesuatu tidak baik terjadi diantara mereka. Chae Ri menoleh kecil lalu menggerakkan dagunya kecil pada gelas kopi di hadapan Dong Bae


"aku sudah memesankan milikmu" sahutnya singkat lalu kembali menunduk menatap gelasnya.


Dong Bae menoleh menatap Jae Bin dan Chae Ri bergantian canggung "gomawo[1]" jawabnya singkat lalu mengangkat gelas kopinya perlahan, ia terus mengamati situasi lalu menurunkan gelasnya cepat


"kenapa kalian memanggilku kemari?" tanyanya berusaha terdengar santai.


Pertanyaan itu membuat suasana semakin dingin dan canggung, Jae Bin pun membuka mulutnya cepat, menaikkan pandangannya menatap kekasihnya lurus


"mianhae[2]"


"untuk apa?"


"segalanya…"


Dong Bae hanya terdiam canggung sambil melirik kedua sahabatnya bergantian, ia tetap diam menengarkan pembicaraan yang semakin memanas itu. Chae Ri melepaskan tawa kecil sejenak


"kenapa kau mengatakan segalanya? Apa kau tidak tahu salahmu apa?"


"aku tahu"


"katakan kalau begitu!"


Jae Bin terdiam mendengar perintah itu, melihat sikap temannya yang tampak tidak menyadari salahnya itu. Ia memejamkan matanya rapat sambil mengutuk Jae Bin dalam hati, namun ia tidak dapat membelanya dalam situasi ini. Dong Bae memutar matanya pada Chae Ri yang tampak menatap kekasihnya menantang lurus, ia menggeleng kecil sambil menghembuskan nafas besar mengasihani Jae Bin yang tidak akan selamat kali ini melihat ekspresi mengerikan Chae Ri. Jae Bin pun membuka mulutnya setelah terdiam sejenak


"aku meninggalkanmu, tapi dengar aku tidak punya pilihan lain, aku mohon mengertilah"


"aku sudah berusaha mengerti, tapi apa kau berusaha untuk memperbaikinya?"


"aku berusaha!"


"apa usahamu? Menghilang tanpa kabar lalu tiba – tiba mengajakku bertemu? Kau bersikap seolah tidak ada yang terjadi, dengan harapan aku juga akan begitu, maaf tapi aku tidak bisa!"


"aku tidak begitu… maksudku… aishh" timpalnya terhenti putus asa.


Keduanya menghembuskan nafas besar kembali tertunduk dalam, rasa egois yang menguasai Chae Ri semakin membesar membuatnya mengambil keputusan gelap mata yang membuatnya menyesali segala yang terjadi. Chae Ri mengangkat pandangannya lurus "kita putus saja" ucapnya tegas membuat semua mata tertuju padanya, Jae Bin yang termakan rasa kesal hari itu pun membuka mulutnya


"baik, kita putus" timpalnya cepat lalu beranjak dari kursinya meninggalkan Café.


Dong Bae yang masih berusaha memperbaiki hubungan itu pun menahan lengan Jae Bin "hey, tenanglah dulu dia juga sedang marah, itu hanya keputusan gelap mata" bisiknya cepat menenangkan Jae Bin. Usaha Dong Bae sia – sia melihat Jae Bin yang tetap pada pendiriannya, ia melepaskan tangan Dong Bae cepat lalu pergi meninggalkan Café. Dong Bae yang masih berusaha pun mengejar Jae Bin mengajaknya bicara dengan tenang


"Jae Bin –ah dengarkan aku, Chae Ri sedang emosi kau juga sedang emosi jangan mengambil keputusan gegabah, aku tidak ingin kalian menyesal"


"aku tahu, tapi aku rasa itu keputusan terbaik saat ini, maaf kau harus ada di tengah – tengah kami seperti ini"


"aku tidak mempermasalahkan itu, aku tahu kalian masih saling menyukai, aku hanya ingin kalian berusaha bersama jangan malah membuat keputusan yang akan kalian sesali" timpal Dong Bae cepat.


Chae Ri yang mendengarkan itu entah sejak kapan membuka mulutnya "aku tidak menyesal" timpalnya, kedua pria itu menoleh menatap Chae Ri kompak. Dong Bae memutar matanya kesal melihat sikap Chae Ri yang membuat situasi semakin kacau, Chae Ri pun membuka mulutnya meledakkankan bom yang membuat segalanya berakhir termasuk persahabatan mereka


"aku menyukai Dong Bae, aku akan melakukan yang terbaik bersamanya" ucapnya.


Dong Bae melebarkan matanya kaget langsung menatap Jae Bin lurus "aniya[3], Je Bin –ah, itu tidak benar" bantahnya cepat. Chae Ri yang yakin akan keputusannya itu semakin mengobarkan api kemarahan Jae Bin dan Dong Bae


"aku tahu, kau juga menyukaiku bukan?" tanyanya begitu saja.


Dong Bae menoleh cepat menatap Chae Ri kesal "hentikan! Kita tidak seperti itu, Jae Bin –ah itu tidak benar, dengaarkan penjelasanku" tepisnya menahan Jae Bin yang membalikkan badanya hendak meninggalkan Café. Jae Bin memutar tangannya melepaskan tangan Dong Bae dari lengannya, ia melirik sinis kedua sahabatnya itu "aku harap hubungan kalian berjalan lancar" ucapnya dingin lalu meninggalkan Dong Bae dan Chae Ri begitu saja.


Air mata Chae Ri mengalir membasahi pipinya deras dalam hitungan detik, Dong Bae menoleh menatap Chae Ri kesal


"KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU?" teriaknya meluapkan kemarahannya.


Dong Bae menghembuskan nafas besarnya "aku memang menyukaimu, tapi tidak seperti ini, aku bahagia melihat kau dan Jae Bin bahagia bersama, itu lebih baik bagiku" jelasnya putus asa "TAPI KENAPA KAU BERSIKAP SEPERTI INI?" teriaknya menyalahkan Chae Ri kesal.


Chae Ri hanya terdiam menangis di tempatnya, rasa penyesalan dan bersalah semakin membesar setiap detiknya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan "mianhae… mianhae…" ucapnya kehabisan kata – kata. Namun apapun yang ia lakukan, ia tidak dapat memperbaiki segalanya. Segalanya telah berkahir, secepat ia membalikkann telapak tangannya. Setelah hari itu, hari Chae Ri dipenuhi kesepian dan penyesalan, rasa sepi itu menghantuinya membuat segalanya tidak berjalan sebaik saat mereka bersama dulu.


***


[1] Terima kasih dalam bahasa tidak formal.


[2] Maaf dalam bahasa tidak formal.


[3] Tidak dalam bahasa tidak formal.