I'M A Witch

I'M A Witch
DONGENG



    Dua Belas Ribu tahun yang lalu, Dewi Hana dengan Tiga kepribadian berbeda berkumpul menciptakan dunia yang awalnya kosong. Pribadi Hana yang pertama menciptakan segala yang hidup di dunia ini, mulai dari tumbuhan, hewan, hingga manusia. Pribadi kedua melihat dunia itu masih terasa hampa, ia pun menuliskan cerita pada setiap cipataan menjadikannya takdir kehidupan segala ciptaan itu. Dunia itu perlahan terasa lebih indah dan nyaman bagi mereka dan segala ciptaan mereka, segalanya terlihat baik sampai Hana yang terakhir melihat dunia itu semakin penuh dengan ciptaan mereka yang berkembang biak dan semakin banyak. Ia mengatakan kepada pribadi yang lain "ada baiknya kita menentukan masa hidup mereka, agar dunia ini tidak penuh dan kalian tidak kelelahan mengurus mereka" usulnya bijak. Kedua pribadi lainnya pun menyetujui usul itu, maka pribadi Hana yang terakhir berkelana mengelilingi dunia mengumpulkan jiwa - jiwa yang terlalu lama hidup dan membawanya kembali pada pribadi pencipta.


    Setelah hari menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun, ketiga Hana merasa jenuh akan ciptaan mereka yang tidak dapat melihat dan berbicara dengan mereka. Maka Pribadi pencipta dan penulis takdir menciptakan seseorang yang berbeda dan sesuai dengan keinginan mereka. Mereka menciptakan wanita yang sangat cantik, dengan rambut panjang hitam, kulit putih dan bibir, merah merona. Wanita itu menjadi ciptaan kesayang bagi Hana, mereka menempatkannya jauh dari semua orang dan menyembunyikannya di Gubuk kecil dalam Hutan yang gelap.


    Wanita itu tidak pernah menunjukkan wajahnya pada siapapun dan tidak ada seorangpun yang berani mendekati Gubuk kecilnya, Hana menyebarkan berita di seluruh desa bahwa ia lahir dengan wajah yang buruk rupa hingga akhirnya di asingkan karena membawa kesialan. Wanita muda itu naik ke Gunung di siang hari untuk memetik tumbuhan obat dan keluar di malam hari untuk membeli bahan makanan.


000


    Suatu malam, wanita itu keluar dengan jubah putih yang menutupi seluruh tubuhnya, ia berjalan di Pasar yang sudah tidak terlalu ramai membeli segala bahan makanan yang ia butuhkan. Ketika dalam perjalanan kembali ke Gubuknya, wanita itu mendongak menatap lampion yang beterbangan memenuhi langit malam itu. Ia terseyum kecil lalu memejamkan matanya perlahan mengucapkan permohonan di dalam hatinya, wanita itu kembali membuka matanya setelah mengucapkan permohonan lalu berbalik kembali hendak melanjutkan langkahnya. Namun, gerakanya terhenti melihat seorang pria muda berdiri di hadapannya sambil menunduk menatapnya lurus, wanita muda itu pun menunduk dalam berusaha menyembunyikan wajahnya sambil menggerakkan kakinya cepat melewati pria tampan itu.


    Melihat paras cantik wanita yang melewatinya barusan, pria itu jatuh hati padanya. Ia bergerak menghalangi langkah wanita cantik itu lalu membuka mulutnya


"kenapa wanita cantik sepertimu keluar malam – malam begini?" Tanyanya berusaha menahan wanita itu.


    Kerutan kecil mulai terlihat di dahi wanita muda itu, ia tetap menutup mulutnya rapat lalu kembali menggerakkan kakinya hendak melewati pria asing itu begitu saja. Pria yang melihat wanita incarannya hendak menghindarinya pun kembali menggerakkan tubuhnya cepat membuat tangan wanita itu tidak sengaja menabrak lengannya yang kuat.


    Wanita muda itu langsung menjatuhkan bahan makanan yang di belinya menunduk ketakutan sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya, setelah ia menabrak pria asing di hadapannya itu. Ketika ia membuka matanya sinar kuning bagai warna bulan yang indah terpancar dari bola matanya sejenak, nafasnya terengar cepat, dan tubuhnya mulai bergetar kecil. Wanita itu menoleh ke sekeliling melihat beberapa orang telah mendekat ke arahnya sambil berbisik kecil satu sama lain, ia pun langsung berlari cepat melewati pria asing di hadapannya berbelok ke gang kecil yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


    Melihat wanita cantik itu melarikan diri darinya, pria muda itu mengejarnya cepat namun langkahnya terhenti di depan jalan kecil itu begitu saja. Wanita yang di kejarnya telah lenyap bagaikan angin, ia berjalan cepat menyusuri jalan kecil itu, namun kemanapun matanya berputar mencari sosok wanita itu, ia tidak di temukan dimanapun.


000


    Seorang Panglima perang berdiri di depan prajuritnya bersiap untuk turun ke Medan Perang. Pria itu dengan gagah duduk di atas kudanya dan mengayunkan pedang di tangannya menumpas lawan, namun keberuntungan tidak ada di pihaknya. Ia mengalami kekalahan dan terpaksa melarikan diri dari medan perang untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Pria itu terus berlari pelan menyusuri Hutan yang gelap dengan darah mengalir deras keluar dari luka – luka di tubuhnya, nafasnya terengah, dan pandangannya perlahan kabur. Pria itu akhirnya jatuh tak sadarkan diri di tengah hutan yang gelap, ia tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya.


    Pria muda itu perlahan membuka matanya, tenggorokannya terasa kering dan rasa sakit yang luar biasa menjalari tubuhnya. Ia mengerang kecil berusaha menggerkkan tubuhnya, sampai terdengar suara pintu yang terbuka. Matanya berputar ke arah pintu cepat, menunjukkan wanita cantik dengan rambut panjang yang tergulung ke atas rapi membawa nampan berisi mangkuk besar di tangannya.


    Wanita itu menghampirinya cepat sambil membuka mulutnya "apa anda baik – baik saja tuan?" Tanyanya.


    Hari pun terus berlalu, pria yang awalnya datang dengan kondisi luka parah dan tak sadarkan diri itu perlahan semakin membaik. Wanita itu tampak terlihat cemas mengetahui malam Bulan Purnama akhirnya datang. Rasa cemas wanita cantik itu semakin memuncak melihat langit yang perlahan semakin gelap, ia tidak bisa menunjukkan kepada pria asing itu tentang siapa dia yang sebenarnya. Wanita muda itu pun keluar dari kamarnya mengetuk pintu kayu kamar pria asing itu, bermaksud untuk mengusir pria itu. Namun suara pria itu tak kunjung terdengar setelah ia mengetuk beberapa kali, wanita itu memutuskan untuk membuka pintu kayu di hadapannya pelan.


    Matanya melebar kaget melihat kamar kosong di hadapannya, segalanya telah tertata rapi dan terlihat selembar kertas tergeletak di tengah lantai kamar itu. Ia pun membungkuk cepat meraih kertas itu yang ternyata adalah sepucuk surat yang di tulis oleh pria asing yang telah menghilang itu, matanya terus bergerak membaca setiap kata dalam surat itu dan tangannya perlahan jatuh. Perasaan aneh dalam hatinya membuat wajah sedih tergambar jelas dalam hitungan detik, ia melipat kembali surat yang di tinggalkan untuknya lalu keluar dari kamar kecil itu.


000


    Mata wanita itu langsung bersinar kuning menatap lurus Bulan Purnama yang tergantung cerah di langit. Dalam hitungan detik, rambut hitamnya berubah menjadi kuning yang tampak bercahaya bagaikan sinar Bulan. Inilah alasannya Hana memisahkan hidupnya dari dunia luar, karena ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki manusia.


`Ia duduk di dalam Kuil kecil di belakang Gubuknya, setelah menyalakan semua lilin di atas meja panjang Kuil itu, ia memejamkan matanya perlahan membuat titik sinar kecil perlahan berjatuhan ke tanah begitu saja di dalam Kuil itu. Bisikan suara halus terdengar menyapa di telingnya, membuatnya tersenyum kecil.


    "Hentikan Hana!" Bisiknya lembut.


    Perlahan tubuhan – tumbuhan yang awalnya layu kembali menjadi segar, ranting – ranting yang kering menghasilkan buah, dan air mengalir di sungai yang awalnya kering. Suara teriakan perlahan terdengar di telinganya, kening wanita itu mulai berkerut dan ia memejamkan matanya semakin erat berusaha mendengar suara itu lebih jelas. Suara langkah segerombol orang tampak terdengar menyusuri Hutan, nafas cepat seorang pria yang berlari jauh dari gerombolan itu semakin jelas terdengar di telinganya. Langkah kaki pria itu terhenti cepat di ujung jurang tinggi, gerombolan pria yang mengejarnya telah berdiri mengepungnya dengan pedang di tangan mereka masing – masing.


    Wanita itu membuka matanya cepat, seluruh lilin di Kuil itu padam dengan sendirinya, dan titik cahaya kekuningan menghilang begitu saja membuat Kuil itu menjadi gelap gulita. Nafasnya terengah, jantungnya berdetak semakin cepat, suara bisikan kecil perlahan terdengar di telinganya. Suara Hana perlahan datang dan berbisik lembut di telinganya.


    "Pergilah! Selamatkan dia!" Bisik suara halus itu.


    Gumpalan uap kecil terlihat keluar dari mulutnya meskipun saat itu cuacanya tidak dingin, tangannya bergetar ketakutan dan wanita itu menggeleng kuat


"tidak Hana, itu sudah takdirnya… dia memang harus mati," tepisnya meyakinkan diri.


    Bisikan hati pria itu tiba - tiba terdengar di telinganya, membuat wanita itu menunduk dalam sambil menutup telinganya, berusaha mengabaikan bisikan hati pria itu sekuat tenaganya. Namun, mata wanita itu terbuka lebar dan ia mengangkat kepalanya menatap bulan purnama yang terlihat jelas di luar jendela. Tangan wanita itu mengepal perlahan dan ia beranjak dari tempatnya meninggalkan Kuil itu cepat.


***