
Sejak pria itu meraih tanganku, aku memiliki hidup baru. Hidup yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, aku memiliki seseorang yang memandangku dengan cara yang berbeda. Hidup kami baik – baik saja, sampai pria itu tiba – tiba menghilang bagaikan angin.
Aku memejamkan mataku berusaha mendengar keseluruh sudut desa malam itu, aku berusaha mendengar suara pria itu. Keramaian kecil terdengar perlahan, seluruh orang masih terdengar berkabung akibat meninggalnya Putra Mahkota setelah pemberontakan terjadi. Beberapa prajurit tampak berlari menyusuri seluruh pelosok desa sambil menempelkan selebaran berupa pencarian para pengkhianat yang mendalangi pemberontakan besar itu. Aku memejamkan mataku semakin erat melupakan tujuan awalku dan mendengar semakin dalam lagi mengenai pemberontakan yang telah menewaskan Putra Mahkota malam itu, pengunjung kedai makanan berbisik kecil membicarakannya diam – diam. Rumor yang beredar, pemberontakan itu di dalangi oleh anak Selir Hwang yang telah di turunkan dari pangkatnya sebagai Selir Agung, anak Selir itu bekerja sama dengan kelompok pemberontak yang bersembunyi di Gunung Timur. Kuil yang tampak bersinar terang itu menjadi gelap seketika saat aku membuka mataku, aku menghembuskan nafas cepat dari mulutku lalu bangkit meninggalkan Kuil mencari pria yang membuat hatiku tidak tenang itu.
000
Mata tajam pria itu mengintai halaman luas Istana yang tampak sepi, wajahnya tertutup rapat oleh cadar hitam yang di kenakannya. Kakinya bergerak perlahan di atas Atap semakin dalam masuk ke Istana, ia melompat turun di hadapan Kamar megah dengan papan bertuliskan Kamar Putri Mahkota. Ia menoleh ke sekeliling sejenak lalu melangkahkan kakinya perlahan menyusup ke dalam kamar itu dengan pisau kecil di tangannya, pria itu membuka kain selambu yang tegantung di depan pintu lalu berlutut di samping wanita yang tertidur pulas dalam Kamar itu. Ia mengangkat pisau di tangannya dengan mata melotot kejam, lalu menusuk wanita itu cepat namun tidak ada reaksi dan darah tidak mengalir dari tubuhnya. Tangan pria itu langsung bergerak cepat membuka selimut yang teralas di hadapannya, ia pun langsung memukul lantai kayu kesal melihat gulungan bantal dan kain yang tersembunyi di balik selimut itu.
Pria itu pun berdiri membalikkan badannya cepat, namun saat itu juga pedang runcing telah terhunus di hadapannya. Mata pria itu menyipit menatap lurus mata sipit wanita di hadapannya, paras wanita itu sangat cantik hidungnya terukir tegap, dan bibir tipisnya tampak kemerahan. Rambut hitam wanita itu terurai panjang menutupi punggungnya, kakinya perlahan melangkah maju mengintimidasi pria asing yang menyusup ke dalam kamarnya itu. Alisnya perlahan terangkat kecil
"kamu pikir aku tidak mengetahui kedatanganmu?" tanyanya tegas.
Kaki pria itu pun bergerak mundur perlahan seiring dengan gerakan kaki wanita itu yang maju mendekatinya, matanya berputar menatap kecil pedang yang terhunus di depan dadanya berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.
Derap langkah perlahan terdengar dan pintu Kamar itu terbuka cepat menunjukkan kedatangan prajurit yang langsung mengepungnya, para prajurit itu kompak mengeluarkan pedang mereka lalu ikut menguhuskannya pada pria yang telah terpojok itu. Seorang dengan seragam biru dan topi bulat yang tampak terhormat membungkuk sopan pada wanita di hadapannya
"Putri Mahkota, apa anda baik – baik saja?" tanyanya sopan.
Wanita itu pun mengangguk kecil "bawa dia pada departemen keadilan untuk di interogasi" perintahnya penuh wibawa.
Mendengar perintah itu, kepala prajurit pun membungkuk sopan sejenak lalu bergerak menjalankan perintah Putri Mahkota yang di dengarnya. Ia membelenggu pria itu lalu mengangkat tangannya hendak membuka cadar yang menutupi wajah pria itu.
Gerakan kepala prajurit itu terhenti merasakan angin keras yang bertiup dari luar pintu menyebabkan kekacauan pada pendengaran semua orang dalam ruangan itu, penyusup yang melihat kejadian itu memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri. Namun keputusannya itu membawanya pada akhir hidupnya, Putri Mahkota yang bergerak cepat itu langsung menghunuskan pedangnya menembus perut pria itu lalu menariknya cepat. Angin ribut yang menyerang ruangan itu tiba – tiba berhenti, saat tubuh pria itu terbanti ke lantai, mata wanita yang menusuknya itu bertemu dengan sosok berjubah putih yang misterius. Darah segar mengalir deras dari tubuh pria yang tergeletak di tanah itu dalam hitungan detik.
Melihat aliran darah yang perlahan mendekati kakiku, aku mengangkat kepalaku menatap wajah wanita dengan pedang berlumuran darah di tangannya. Mataku menguning perlahan dan aku berteriak keras menjatuhkan semua orang dalam Kamar itu bagai pohon tumbang dalam hitungan detik, wanita itu pun menjatuhkan pedangnya cepat menutup telinganya yang kesakitan akibat teriakan kerasku. Aku berjalan lurus ke arahnya dengan tangan terulur namun seseorang menahan kakiku cepat, membuatku menunduk menatap pria yang kucari menahan kakiku erat dengan tangannya. Melihatnya masih bernyawa aku pun berlutut cepat menopang tubuhnya ke dalam pelukanku, tanganku bergerak berusaha menyembuhkan lukanya namun ia menahan gerakanku. Masa lalu pria itu langsung terlihat dalam kepalaku, aku melihat perbuatannya yang keji, aku melihat pengkhianatannya, dan kematian banyak orang yang terjadi akibat perbuatannya. Aku melihatnya membunuh Putra Mahkota.
Gerakan kecil terdengar dari belakangku, tangan wanita yang masih berjuang membalaskan kematian suaminya itu bergerak mengayunkan pedangnya ke arahku. Aku pun menoleh cepat sambil menulurkan tanganku lurus, saat itu juga dentuman kecil terdengar dan sinar terang melahap sekelilingku cepat. Tangan pria dalam pelukanku terangkat menyentuh pipiku lembut, bibirnya tampak bergetar namun ia berusaha membuka mulutnya mengatakan apa yang ingin ia sampaikan padaku
Setelah mengatakan permohonan maafnya, pria itu menutup matanya dan aku hidup dalam hukuman yang menimpaku hingga saat ini.
000
Dong Bae tampak berpikir keras setelah mendengar cerita Ga Bi tentang masa laluku, matanya menyipit pelan merasakan keganjalan dari cerita itu. Ga Bi menoleh kecil menatap Dong Bae yang merasa aneh akan cerita itu
"waeyo?" tanyanya.
Dong Bae tersadar dari lamunannya menoleh kecil menatap Ga Bi, ia menggeleng pelan "tidak, aku merasa aneh saja saat mendengar cerita itu" jelasnya, Ga Bi pun merasa tertarik mendengar pendapat baru itu, ia memperbaiki posisi duduknya menyerong ke arah Dong Bae "apa yang aneh?" tanyanya mencari tahu. Dong Bae pun ikut memperbaiki posisi duduknya mendekat pada Ga Bi
"menurut ceritamu, Sajangnim menjalani hukuman karena menyelamatkan pria itu untuk kedua kalinya bukan?"
Ga Bi memutar matanya lalu mengangguk yakin "hmm, benar" gumamnya.
Dong Bae menjentikkan jarinya yakin "disana letak kejanggalannya" timpalnya cepat "begini, menurut ceritamu barusan, aku menangkap sebelum dia menyelamatkan pria itu hukuman itu sudah di jatuhkan atasnya, jadi menurutku kesalahan Seo Wol bukan karena pria itu" jelasnya.
Ga Bi menaikkan alisnya bingung mendengar teori Dong Bae barusan "bagaimana Jang Hyeongsa bisa berpikir begitu?"
"Seo Wol mengulurkan tangannya saat itu, karena gerakannya itu segalanya terjadi, dan yang terpenting menurut pengamatanku jika memang itu karena Seo Wol menyelamatkan nyawanya untuk kedua kalinya, kenapa pria itu tetap mati? Seharusnya kan dia terus hidup karena Seo Wol menyelamatkannya" jelas Dong Bae yakin.
Mata Ga Bi melebar mendengar analisa baru dari Dong Bae barusan, ia menepuk tangannya dengan mulut terbuka hampa. Dong Bae langsung berdeham malu sambil menahan senyum bangganya mendengar tepuk tangan Ga Bi yang keras itu, ia melambai cepat "sudah… sudah… hentikan, ayo kita pulang" tepisnya malu lalu berajak dari kursi meninggalkan Ga Bi.
Ga Bi pun berdiri cepat melangkahkan kakinya mengejar Dong Bae "wahh… apa ini alasan Jang Hyeongsa menjadi Detektif? Anda sangat keren" pujinya sambil mengangkat kedua jempol cepat. Dong Bae pun melepaskan tawa kecilnya malu sambil menggeleng kuat "hentikan, kau membuatku malu" timpalnya lalu melangkahkan kakinya lebih cepat meninggalkan Ga Bi.
***