I'M A Witch

I'M A Witch
KEDAMAIAN



Keheningan menyelimuti keduanya yang duduk berhadapan, aku dan Dong Bae hanya berdiri menatap keduanya yang sejak tadi hanya saling menatap satu sama lain. Dong Bae mengeluarkan ponselnya lalu mengetik pesan singkat pada seseorang, setelah ia menurunkan ponselnya tiba – tiba dering singkat terdengar dari ponselku. Aku pun mengeluarkan ponsel dari saku jaket panjangku membuka pesan yang masuk, mataku melirik Dong Bae sinis melihat pesan yang di tulisnya


“aku merasa sangat canggung.”


Dong Bae ikut melirikku sejenak lalu mengangkat kembali ponselnya mengetik sesuatu, setelah selesai mengirim pesan itu ia kembali menurunkan ponselnya cepat menunggu dering singkat dari ponselku. Ia menggerakkan dagunya menyuruhku membaca pesan darinya setelah mendengar dering singkat dari ponselku, aku pun tersenyum miring sambil menggeleng heran menunduk membaca pesan itu


“apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?” tanyanya.


Aku menggeleng kecil sambil mengetik balasan atas pesan itu lalu memasukan ponselku kembali ke saku jaketku. Dong Bae langsung mengangkat ponselnya membaca balasan atas pesannya


“tidak” jawabku singkat.


Matanya langsung beputar kesal dan ia memasukan ponselnya ke saku celana cepat. Aku hanya tersenyum licik sambil melipat tanganku di depan dada kembali mengamati situasi, keheningan menyelimuti ruangan membuat rasa dingin perlahan menusuk tulangku. Aku mengusap pelan kedua lenganku membuat Dong Bae melirik kecil menatapku, ia langsung melepas jaketnya lalu menyampirkan jaket hitam itu ke pundakku


“kenapa tiba – tiba kau kedinginan?”


“terlalu banyak roh disekitar sini” jawabku pelan.


Dong Bae menoleh ke sekeliling hendak melihat hantu – hantu di sekeliling kami namun


aku mengangkat tanganku menahan gerakannya “berhenti melihat, aku yakin kau tidak akan sanggup melihatnya” sahutku pelan. Dong Bae kembali menoleh mendekatkan bibirnya ke telingaku


“kenapa mereka berkeliaran kemari?” bisiknya penasaran


“karena kehadiran kita, mereka tertarik oleh kehadiran kita yang bisa melihat mereka, kita menolong dua makhluk ini membuat yang lain juga ingin mendapat pertolongan kita” jelasku ringkas.


Dong Bae mengangguk kecil lalu kembali membuka mulutnya “tapi kenapa aku tidak


merasakan apapun?” tanyanya lagi,


“karena sumber kekuatan itu dariku, aku hanya meminjamkan kekuatanku lewat cincin yang


kau pakai itu jika kau tidak mengenakannya lagi segalanya akan hilang darimu” jawabku cepat.


Dong Bae hanya mengangguk kecil paham lalu menatap cincin hitam di jari manisnya. Keheningan kembali menyelimuti kami yang menatap sepasang kekasih yang terus terdiam di hadapan kami, keduanya hanya saling menatap tidak dapat mengungkapkan isi hati mereka.


Ji Hoo pun akhirnya membuka mulutnya lebih dulu mengatakan apa yang tidak sempat ia sampaikan pada pria yang di cintainya itu “apa yang terjadi padamu?” tanyanya hati – hati. Myeong Joon menunduk dalam menahan rasa bersalahnya dalam


“mereka menangkapku” jawabnya singkat,


“dimana tubuhmu?”


Myeong Joon menggeleng kuat “aku tidak tahu” jawabnya tertunduk semakin dalam.


Ji Hoo pun mengangguk kecil, meskipun air mata darah terus mengalir dari ujung matanya, ia memaksakan senyum kecil di ujung bibirnya. Rohnya semakin bersinar membuatku menegakkan tubuhku melihat kejadian itu, Ji Hoo pun memeluk erat pria yang di cintainya itu lalu membuka mulutnya sebelum menghilang menjadi titik sinar kecil yang terbawa angin


“aku memaafkanmu” ucapnya tulus.


Kata terakhir Ji Hoo membawa ketenangan sekaligus rasa bersalah yang besar bagi Myeong Joon, setelah Ji Hoo sepenuhnya menghilang di depan matanya, Myeong Joon pun menoleh menatap kami yang sejak tadi meyaksikan semua kejadian itu. Ia mendekat lalu berlutut di hadapan kami


“kabulkan keinginanku” mintanya yakin,


Dong Bae langsung menoleh menatapku lurus sementara aku hanya meliriknya tajam dengan tangan terlipat di depan dada. Aku menegakkan tubuhku lalu membungkukan badanku di hadapan roh pria itu


“aku tidak mengabulkan keinginan jahat” jawabku menatap mata pria itu yang merah menyala.


Aku kembali berdiri lalu berbalik cepat hendak meninggalkan Rumah itu, namun Myeong Joon berteriak menahan langkahku “aku akan memberikan semua bukti yang kau inginkan, aku mohon…” tahannya terhenti, aku langsung menoleh kembali menatap Myeong Joon yang masib berlutut di tempatnya. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon


“aku mohon, aku tidak ingin kematian Ji Hoo sia – sia” mintanya putus asa,


Myeong Joon menatapku lurus terus menggerakkan tangannya memohon membuatku menyadari bahwa niat jahatnya adalah sesuatu yang lain. Aku kembali mendekat ke arahnya dan berlutut di hadapannya menatapnya lurus


“kau ingin mengkhianati Negaramu rupanya” tebakku yakin.


Sinar merah mata pria itu semakin membara mendengar perkataanku, ia kembali membuka mulutnya cepat “aku akan memberikan apapun, asalkan kau mengabulkan keinginanku, aku mohon… aku mohon…” mintanya cepat. Aku menyunggingkan senyum licik di ujung bibirku puas lalu mengulurkan tangan kiriku, melihat tanganku yang terulur ke arahnya Myeong Joon pun mengulurkan tangannya cepat meraih tanganku. Segala masa lalunya langsung bermain dalam kepalaku, sampai hari kematiannya dalam hutan gelap entah dimana. Aku pun melepaskan tangan pria itu cepat lalu menoleh menatap Dong Bae lurus, melihatku menatapnya Dong Bae pun menatapku lurus penuh harap. Aku mengangguk kecil membuatnya mendekati ke arahku, ia berlutut di hadapan Myeong Joon


“mereka mengkhianatiku duluan, aku hanya melakukan hal yang sama pada mereka” timpalnya


yakin.


Aku menoleh kecil menatap Dong Bae, menaikan alisku “bagaimana keputusanmu?” tanyaku ragu, Dong Bae pun mengangguk kecil menyetujuinya membuatku langsung menjentikkan jariku pelan mengabulkan keinginan Myeong Joon.


000


Dong Bae mendobrak pintu Studio kecil seseorang dan lansgung masuk menggeledah Studio itu, matanaya berputar kecil melihat kondisi ruangan yang berantakan. Kabel telfon serta computer yang telah terputus membuatnya kehilangan bukti penting untuk mengungkap kasus itu, namun ia teringat akan petunjuk yang Myeong Joon berikan semalam


“berangkas rahasia, kami selalu menutupnya di balik lukisan” pesan pria itu.


Dong Bae pun menyusuri setiap sudut rumah mencari lukisan bamboo yang dilihatnya di Rumah Meyoeng Joon itu, langkahnya terhenti melihat lukisan itu dalam satu ruangan kecil di ujung Studio. Dia mengangkat kedua tangannya ke pinggang sambil menghembuskan nafas panjang ‘ternyata itu benar' katanya takjub dalam hati, Dong Bae langsung menurunkan lukisan itu, melihat berangkas yang sama seperti di Rumah Myeong Joon tersembunyi di baliknya. Ia langsung berteriak cepat membaut rekan – rekannya berkumpul di ruangan itu, semua orang disana menatap Dong Bae takjub akan penemuannya itu. Segala proses peneyelidikan berlangsung lancar, sampai para pelaku pembunuhan itu tertangkap dalam pelarian mereka. Dong Bae yang duduk menyaksikan proses sidang menatap para pelaku lurus, namun matanya tertuju pada roh Myeong Joon yang tengah berdiri di belakang mereka. Saat hukuman di jatuhkan roh Myeong Joon perlahan menghilang menjadi titik sinar dan lenyap terbawa angin.


000


Dong Bae keluar dari gedung Pengadilan menghentikan langkahnya melihat punggungku di hadapannya, senyumnya mengembang lebar dan ia kembali melangkah ringan menghampiriku


“sedang apa kau disini?” tanyanya.


Aku membalikan badanku dengan tangan terlipat di depan dada dan senyum licik tersungging di ujung bibirku “selamat atas kenaikan jabatanmu, Jang Hyeongsa” sapaku tidak biasa. Tawa Dong Bae pecah mendengar ucapan itu, ia menggeleng kecil “aku anggap kau tulus mengucapkannya” timpalnya santai.


Kami berjalan berdampingan menuruni tangga gedung Pengadilan, aku menghentikan langkahku lalu membalikan badanku menatap Dong Bae lurus


“aku pergi dulu” pamitku singkat.


Dong Bae langsung menahan lenganku “kau mau kemana?” tanyanya cepat,


Mataku menyipit melihat aura merah muda yang perlahan meluap tipis dari tubuhnya, aku memutar tanganku melepaskan genggamannya lalu melipat tanganku di depan dada “kenapa?” tanyaku mengamatinya lurus. Aura merah muda itu semakin menebal siring tingkahnya yang tampak canggung, Dong Bae membuka mulutnya cepat “untuk merayakannya, aku ingin mengajakmu makan bersama” ajaknya penuh harap. Aku menaikan alisku melihat aura merah muda itu semakin menebal dari tubuhnya, aku mengangguk kecil


“baiklah” timpalku cepat.


Dong Bae tampak melebarkan matanya senang mendengar jawabanku, senyumnya mengembang cerah membuatku terpana akan senyum itu. Jantugku perlahan berdebar semakin cepat, aku pun menunduk melihat tanganku yang perlahan juga meluapkan aura merah muda tipis dari tubuhku. Aku pun menatap tanganku dan Dong Bae bergantian panik, membuat senyumnya meredup menatapku bingung


“ada apa?” tanyanya cemas.


Aku langsung menggeleng cepat “tidak” tepisku singkat, aku pun membalikkan badanku cepat meninggalkannya begitu saja membuat Dong Bae membuka mulutnya “hey! Kau mau kemana?” teriaknya menahanku. Aku terus berjalan cepat melarikan diri tanpa menjawabnya sampai taksi yang ku naiki membawaku pergi dari Pengadilan.


000


Aku terus menatap tanganku yang masih meluapkan aura merah muda tebal, perasaan tidak tenang semakin menghantuiku melihat uara itu terus menebal. Ha Rim yang sejak tadi menatapku


bingung melambaikan tangannya di depan mataku


“apa yang kau lihat?” tanyanya penasaran.


Aku menurunkan tanganku cepat “Ha Rim –ah…” panggilku putus asa, mendengar nada itu Ha Rim pun semakin dalam mengerutkan keningnya bingung. Ia memiringkan kepalanya menatapku lurus


“apa ada sesuatu yang mengganggumu?”


“kenapa warnanya merah muda?” tanyaku tiba – tiba.


Ha Rim yang tampak memahami kodeku itu langusng memperbaiki posisi duduknya cepat “siapa dia? Apa kau mengenalnya?” tanyanya antusias. Aku mengerutkan alisku kesal mendengar pertanyaan yang tidak ingin aku dengar itu


“ini bukan saatnya bercerita tentang siapa dia, aku akan mati sembentar lagi” tepisku mengingatkan Ha Rim akan usiaku yang tidak panjang lagi.


Ha Rim yang mendengar jawabanku barusan menatapku dengan tatapan yang tidak dapat aku mengerti, senyum kecilnya yang hangat tersungging di ujung bibirnya “Wol ­–ah, aku tahu kau takut tapi jangan jadikan itu alasanmu menolak kebahagiaan yang datang ke hidupmu” sahutnya menasihati. Aku menghembuskan nafas kecil sambil menurunkan tanganku perlahan ke pangkuanku, mataku menatap kosong dan mulutku terbuka kecil


“tapi kau tahu sendiri rasanya menjadi seseorang yang di tinggalkan seperti apa” timpalku cepat.


Mata sayu Ha Rim menatapku lurus, ia mengulurkan tangannya membuatku menoleh kecil menatapnya bingung. Perasaan aneh mulai menjalari hatiku melihat Ha Rim mengulurkan tanganya secara suka rela kali ini, ia tersenyum menggoyangkan tangannya kecil memintaku meraih tangannya. Aku pun mengangkat taganku perlahan meraih tangannya ragu, tangan Ha Rim yang hangat menggenggam erat tanganku membuat masa depan wanita tua itu langsung tergambar di kepalaku jelas.


***