I'M A Witch

I'M A Witch
HARI BERSAMA



Dong Bae menekan kode pintu sambil menguap lebar lalu masuk ke dalam Apartemen dengan langkah lesu, ia menaikkan pandangannya perlahan langsung menghentikan langkahnya kaget


"HEY! JANGAN MUNCUL TANPA SUARA SEPERTI INI!" teriaknya kesal.


Aku berdiri diam menatapnya dengan tangan terlipat di depan dada lalu berpaling sambil menggeleng kecil. Dong Bae melepas sepatunya cepat lalu berjalan masuk sambil menatapku lurus – lurus "kau sudah mau berangkat?" tanyanya basa – basi, ia meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tengah lalu berjalan masuk ke Dapur menuangkan air dalam gelasnya. Aku mengangguk kecil "hmm… aku harus pergi ke suatu tempat dulu" jawabku singkat, Dong Bae menurunkan gelasnya sambil mengangguk kecil "baiklah, sampai besok" timpalnya lalu masuk ke dalam kamarnya cepat.


000


Ha Rim menoleh dengan alis terangkat sebelah heran meminta penjelasan atas pengumuman mengejutkanku, aku meliriknya sejenak lalu berdeham kecil terdiam. Ha Rim melipat tangannya di depan dada


"aku tahu kau tidak membeli Rumah baru, jadi kau pasti punya alasan untuk menerimanya tinggal di Rumahmu, katakan apa alasanmu?"


"aku pikir jika aku sering bertemu dengannya, perlahan aku bisa melihat masa depannya, jadi… ya begitulah…"


Ha Rim menghembuskan nafas berat mendengar alasan sederhana itu, ia menurunkan bahunya lemas "Wol –ah, hidupmu tidak lama lagi, kenapa kau tidak menikmatinya? Lakukan apa yang ingin kau lakukan, pergilah kemana kamu ingin pergi, apa kau tidak ingin menyenangkan dirimu sekali saja?" tanyanya cemas.


Aku meliriknya sejenak "apa itu yang di lakukan manusia jika ia tahu ia akan mati?" tanyaku santai.


Ha Rim kembali menghembuskan nafas berat, ia tidak tahu harus berkata apa lagi padaku. Aku mengangkat tanganku melihat jam sejenak lalu meraih tasku cepat beranjak dari kursiku "aku pergi dulu" pamitku cepat, Ha Rim pun mengangguk kecil "baiklah, hati – hati di jalan" timpalnya sambil melihat punggungku lurus.


000


Sepasang kekasih muda duduk di hadapanku sambil melihat sekeliling kuil bingung, keraguan tampak jelas di mata mereka dan aura kuning yang meluap tipis menguatkan rasa ragu itu. Aku menghembuskan nafas besar "dasar manusia penuh keraguan" bisikku menghina, pasangan itu langsung menoleh cepat ke arahku


"ya? Apa anda mengatakan sesuatu?" tanya si pria.


Aku pun menggeleng cepat meskipun mereka tidak dapat melihatnya "tidak, katakan apa masalah kalian?" mintaku seperti biasa.


Keduanya langsung membenarkan posisi mereka berlutut di hadapanku sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada mereka masing – masing, wanita muda yang tampak cantik itu pun membuka mulutnya cepat


"kami ingin menikah dan hidup bersama, tapi orang tua pacarku tidak menyukaiku, mereka tidak merestui hubungan kami"


Pria dengan mata sipit dan hidung tegas itu pun menimpali perkataan pacarnya "benar, aku tidak tahu kenapa orang tuaku tidak menyukainya tapi kami ingin bersama, bisakah kau bantu kami agar kami bisa bersama?" mintanya langsung.


Aku menyipitkan mataku melihat benang di jari kelingking kanan kedua orang ini, mataku bergerak kecil melihat benang itu tidak berwarna merah muda melainkan hitam. Mereka di takdirkan untuk berpisah, meskipun mereka berakhir menikah, suatu saat nanti mereka akan bercerai. Aku pun mengangguk kecil setelah melihat takdir asli kedua orang ini, aku membuka mulutku


"kalian harus membeli rumah sendiri, menikahlah dan tinggal di rumah itu" sahutku memperingatkan lalu menjentikkan jariku cepat.


Ga Bi langsung menghampiriku cepat penuh dengan rasa penasaran "apa yang kau lihat? Kenapa kau mengatakan itu?"


"alasan perpisahan mereka adalah orang tuanya, jika mereka tinggal bersama dengan orang tuanya maka mereka lebih cepat berpisah"


"jadi mereka akan tetap berpisah maksudmu?"


"hmm… benangnya berwarna hitam, aku bisa membuatnya merah muda selama mereka berpisah dengan orang tua pria itu" jelasku menuhi rasa penasarannya.


000


Malam terasa begitu cepat berlalu, matahari perlahan terbit membangunkan kota yang tertidur. Setelah waktu terus berputar, suasana kota pun perlahan semakin ramai. Aku masuk ke dalam rumah dengan wajah tenang semenatara Ga Bi tampak lesu dan lelah, ia langsung berjalan menuju dapur seperti biasanya namun langkahnya terhenti kaget. Ia bersandar di tembok cepat dengan mata lebar dan mulut terbuka hampa


"ahh… Hyeongsanim, apa yang anda lakukan disini?"


Dong Bae berbalik dengan sutil dan penggorengan berisi telur dadar menatap Ga Bi bingung "memasak?" jawabnya ragu. Ia memindahkan telur yang di dadarnya ke piring makan cepat lalu melepaskan celemeknya santai


"aku sudah menyiapkan sarapannya, ayo makan" ajaknya dengan senyum miring yang tampan.


Dong Bae berjalan melewati Ga Bi dengan piring telur di tangannya lalu duduk di meja makan cepat, ia menatapku yang terdiam menatap sarapan yang telah tersedia rapi di meja "kenapa? Kau terkesan dengan bakatku?" guraunya percaya diri. Aku memalingkah wajahku yang tersenyum mendengar rasa percaya diri itu sambil menggeleng kecil, menarik kursi di hadapanku duduk di depan Dong Bae. Ga Bi pun datang dengan botol jus di tangannya lalu menuang jus itu pada gelasku perlahan, ia menoleh pada Dong Bae


"apa anda juga minum jus?" tanyanya sopan.


Aku menurunkan gelasku anggung "hey, kenapa kau sopan sekali padanya? Tidak seperti dirimu"


"Jang Hyeongsa adalah orang yang baru kita kenal Sajangnim, jadi kita harus sopan padanya"


"dia orang yang berbicara dengan banmal saat kita pertama kali bertemu denganku, jadi lupakan rasa sopanmu itu"


"wahh… apa kau menyimpan dendam padaku sejak hari itu?" timpal Dong Bae berdebat.


Dong Bae keluar dari kamarnya dengan setelah rapi bersiap untuk berangkat kerja, ia berjalan sambil memasang jam di tangan kirinya lalu menoleh ke sekeliling ruang tengah yang kosong mencariku. Ia pun menggerakkan kepalanya mengintip ke pintu kamarku, Dong Bae melangkahkan kakinya pelan lalu mengetuk pintu kamarku


"Sajangnim, aku berangkat kerja dulu" pamitnya.


Aku langsung membuka pintu kamarku cepat "hey, apa kau bisa mengantarku ke Rumah Sakit?" mintaku canggung.


Dong Bae tertawa kecil lalu mengangguk "baiklah aku akan mengantarmu, apa kau sudah siap?" timpalnya cepat.


Mobil Dong Bae melaju dengan kecepatan normal menyusuri jalan raya yang padat dengan mobil – mobil lainnya. Ia pun menghentikan mobilnya sempurna di balik garis lampu merah lalu menoleh menatapku


"apa Nenek itu juga penyihir?"


Aku menggeleng cepat "bukan, dia manusia, di bukan Nenekku juga"


"lalu? Siapa dia?"


"Ha Rim adalah Nenek Ga Bi, sebelum Ga Bi, dia yang menjadi pelayanku setelah dia menua dan beberapa kejadian terjadi, Ga Bi menggantikan tugasnya sekarang" jelasku singkat.


Dong Bae mengangguk kecil lalu menjalankan mobilnya kembali melihat lampu lalu lintas yang telah berganti hijau. Ia memutar roda kemudi lihai sambil kembali melanjutkan pembicaraan "apa penyakit yang di deritanya?" tanyanya hati – hati


"aritmia[1]"


"apa dia bisa sembuh?" tanyanya lagi.


Aku menggeleng kecil "menurut keterangan Dokter yang menanganinya, dia tidak akan sembuh" jawabku membuat suasanan menjadi hening.


Mobil Dong Bae berhenti sempurna di depan Rumah Sakit setelah beberapa menit perjalanan, aku melepas sabuk pengamanku santai "terima kasih sudah mengantarku" ucapku tulus. Dong Bae tersenyum sambil melambai kecil padaku "bagaimana kau akan pulang nanti? Apa aku perlu menjemputmu?" tawarnya, aku tersenyum miring mendengar tawaran itu


"apa kau tidak sibuk? Pekerjaanmu ringan sekali rupanya" tolakku menghina halus.


Aku menutup pintu mobil Dong Bae cepat lalu berjalan masuk tanpa menoleh lagi. Dong Bae hanya tersenyum kecil melihat punggungku sejenak lalu menjalankan mobilnya meninggalkan Rumah Sakit.


000


Dong Bae memijat keningnya membaca kasus pembunuhan yang harus ia tangani, tangannya bergerak sibuk membalik lembar kasus sambil memutar rekaman interogasi berulang kali mencari petunjuk baru. Ia menutup laporan di tangannya lalu melempar kecil dokumen itu ke atas mejanya, sambil menunduk lesu dengan hembusan nafas besar. Dong Bae menoleh ke sekeliling melihat Bulan yang telah bersinar di luar jendela, ia langsung mengangkat tangan kirinya melihat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia mengeluarkan ponselnya cepat membuka ruang obrolan deganku lalu mengirimkan pesan singkat. Setelah menunggu beberapa menit, dering kecil terdengar dari ponselnya membuat Dong Bae langsung membukaa ponselnya membaca pesan yang masuk


"apa kau sudah sampai di NEOMA?"


"aku sibuk."


Jawaban singkat itu memecahkan tawa Dong Bae begitu saja setelah membacanya. Ia menutup ponselnya cepat lalu berdiri dari kursinya meninggalkan Kantor Polisi.


000


Ga Bi menaikan alisnya heran melihat kedatangan Dong Bae yang semakin sering ke NEOMA, ia menghembuskan nafas besar dari mulutnya singkat "kenapa lagi kali ini?" tanyanya. Dong Bae berdeham kecil sejenak dengan gerakan canggung membuat Ga Bi semakin menyipitkan matanya curiga dengan sikap itu, ia pun menggeleng heran lalu bangkit dari kursinya membuka pintu Kuil.


Alisku terangkat kecil melihat kedatangan Dong Bae kali ini "apa kau tidak bosan bertemu denganku?" tudingku cepat,


"tidak, apa kau bosan?"


"hmm… sangat" timpalku tanpa berpikir panjang


Dong Bae belurut di hadapanku dengan senyum miring yang licik di ujung bibirnya, membuatku menarik diriku cepat sambil meyipitkan mata curiga menatap senyum tidak biasa itu. Ga Bi melipat tangannya di depan dada menatap kami jijik


"apa yang kalian lakukan sekarang? Mengerikan!" hinanya kesal,


Dong Bae membuka mulut manisnya cepat "sajangnim, apa kau bisa melihat masa lalu seseorang?" tanyanya pura – pura tidak tahu.


Aku menghela nafas dalam sejenak sambil memutar mataku merasakan sesuatu yang tidak beres dari pertanyaan itu "katakan! Masalah apa yang kau buat lagi kali ini?" mintaku langsung pada pokok pembicaraan.


Semangat Dong Bae langsung berkobar mendengar jawaban yang ia inginkan dariku, ia langsung melipat kakinya duduk di hadapanku lalu mulai menceritakan kasus yang di tanganinya kali ini.


***


[1] Kelainan irama jantung yang menjadi pertanda adanya gangguan sistem kelistrikan jantung yang membuat irama jantung bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan sama sekali.