
Matahari yang perlahan terbit membuat Ga Bi membuka mulutnya hampa akhirnya memahami mengapa aku menunda pencarian Myeong Joon semalam, Dong Bae yang sejak tadi melirik Ga Bi curiga langsung membuka mulutnya menyampaikan rasa penasarannya
"ada apa? Apa yang tidak aku ketahui lagi kali ini?"
Ga Bi langsung menoleh dengan wajah bingung "ne?" tanyanya cepat, ia pun teringat akan ketidak tahuan Dong Bae lalu menganggguk kecil "aaa… tidak, Ji Hoo –ssi tadi meminta Sajangnim mencari dimana Myeong Joon –ssi, tapi Sajangnim menundanya sementara" jelasnya.
Dong Bae tampak mengerutkan alisnya semakin dalam "kenapa dia menundanya?" tanyanya ingin tahu,
Ga Bi langsung mengulurkan tangannya menunjuk Matahari yang perlahan terbit di luar jendela, Dong Bae yang melihat ke arah jari Ga Bi menunjuk, semakin bingung lalu menoleh kecil menatap Ga Bi sekilas "Matahari?" tanyanya. Ga Bi mengangguk kuat "arwahnya hanya dapat keluar dan masuk kembali ke tubuhnya di Malam hari, jadi Sajangnim harus kembali ke tubuhnya sebelum Matahari terbit" jelasnya singkat, Dong Bae mengangguk paham setelah mendengar penjelasan itu, ia memutar roda kemudinya mulus lalu kembali membuka mulutnya
"jika dia tidak kembali sebelum Matahari terbit apa yang terjadi?" tanyanya penasaran.
Ga Bi melipat kedua tangannya di depan dada berpikir keras "hmm… menurut pengalamanku dia akan berkeliaran dalam wujud arwah sampai langit kembali gelap" timpalnya ragu.
Dong Bae menyunggingkan senyum kecil mendengar jawaban unik itu, ia pun melirik kecil Ga Bi di sampingnya lalu berdeham canggung sebelum membuka mulutnya "Ga Bi –ssi, apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya hati – hati. Ga Bi menoleh kecil dengan senyum manis di ujung bibirnya lalu mengangguk mempersilahkan Dong Bae mengungkapkan isi pikirannya
"bagaimana bisa kamu menjadi pelayan Seo Wol?"
Ga Bi membuka mulutnya hampa sambil mengangguk santai sejenak lalu mengeluarkan suaranya menjawab pertanyaan sederhana itu "sekitar… Tiga Ribu Delapan Ratus Sembilan Puluh Tujuh tahun yang lalu mungkin…" buka Ga Bi terhenti karena Dong Bae yang menginjak rem mobilnya mendadak setelah mendengar usiaku yang tidak ia ketahui sebenarnya. Dong Bae menoleh cepat
"maafkan aku Ga Bi –ssi, aku tidak sengaja, aku kaget mendengar berapa usianya"
"tidak apa… tidak apa… aku yakin semua orang juga kaget mendengarnya, tapi sebenarnya Sajangnim berusia Dua Belas Ribu tahun" timpalnya tenang.
Dong Bae membuka hampa mulutnya sambil memiringkan kepalanya kaget mendengar usiaku yang sebenarnya untuk pertama kali.
Dong Bae dan Ga Bi duduk berdampingan di kursi taman sepi dengan segelas kopi hangat di tangan mereka masing – masing. Ga Bi pun membuka mulutnya menceritakan dongeng keluarga yang diturunkan padanya hingga saat ini.
000
3.897 TAHUN YANG LALU.
Gumpalan asap tebal terlihat meluap ke atas langit, malam yang gelap terlihat menyala terang dengan kobaran api besar yang telah melahap sebuah desa kecil yang tak jauh dari Gubukku. Aku mengintip kecil dari balik pohon lebat, melihat pembantaian besar yang terjadi di Desa itu karena pengkhianatan salah satu penghuninya terhadap Raja. Aku berbalik masuk ke dalam hutan gelap mengabaikan kobaran api besar serta teriak kesakitan, minta tolong semua orang di dalamnya. Setelah luapan asap tebal itu perlahan menipis, aku kembali melangkahkan kakiku keluar mendekat ke Desa itu dengan jubah putih yang menutupi seluruh tubuhku.
Desa itu tidak menyisahkan apapun selain debu dan tanah, segalanya hancur tidak menyisahkan apapun dan seorangpun. Aku terus melangkah perlahan mengamati sekeliling desa itu dengan mataku yang bersinar kekuningan, langkahku terhenti melihat arwah seorang anak kecil yang tampak menagis sambil memeluk lututnya duduk di tanah. Aku memutar arahku cepat mendekati arwah anak itu lalu berlutut di hadapannya
"apa kau tidak terima dengan kematianmu?"
Anak itu mengangkat wajahnya menunjukkan mata biru cerah menatapku lurus, ia pun langsung meraih tanganku cepat namun tangannya menembus tanganku membuat harapannya sirna. Aku yang melihat mulut anak itu bergerak seakan mengatakan sesuatu itu memejamkan mataku perlahan, lalu membuka mataku dan menoleh cepat melihat tubuhku yang terlah terjatuh di tanah. Aku kembali menatap anak kecil di hadapanku yang membuka mulutnya tercengang melihat semua kejadian ajaib ini
"apa yang kau katakan tadi?"
Anak itu kembali teringat akan apa yang ingin ia sampaikan padaku, ia kembali meraih tanganku cepat lalu berlutut memohon "aku mohon, selamatkan adikku, dia tertimpa reruntuhan Rumah, aku terus mendengar suara tangisnya tapi aku tidak bisa berbuat apa – apa" mintanya putus asa.
Aku langsung menoleh kecil ke arah jari mungil anak itu menunjuk, tangis seorang anak perlahan terdengar samar di telingaku. Aku langsung menutup mataku lalu terbangun dengan pandangan menatap ke langit malam gelap, aku menarik tubuhku berdiri mengikuti kemana arah arwah anak kecil itu membawaku.
Kayu – kayu yang hangus terbakar menimbun anak mungil yang terus menangis kesakitan di bawahnya, aku menyingkirkan tumpukan kayu hangus itu cepat lalu gerakanku terhenti melihat wajah anak itu lalu menoleh menatap arwah anak yang menuntunku pada anak ini. Senyum manis anak itu mengembang menyadari betapa terkejutnya aku melihat adik kembarnya yang berhasil aku selamatkan, aku menggendong cepat anak itu kedalam pelukanku lalu membawanya ke dalam Kuil. Aku langsung menyalakan semua lilin di meja Kuil cepat lalu memanggil arwah anak yang kutemui itu, aku pun berbaring memejamkan mataku cepat lalu membuka mataku menatap lurus anak kecil di hadapanku
"terima kasih" ucapnya saat aku membuka mataku
"apa yang harus aku lakukan padanya?"
"terimalah dia, aku yakin dia akan menerimamu dengan senang hati"
"apa kau ingin bertemu dengannya?" tawarku.
Anak kecil yang membuka matanya perlahan itu terkejut melihat saudara kembarnya yang telah duduk di hadapannya, air mata langsung menetes deras dari ujung matanya dan ia memeluk erat saudaranya yang menghilang sejak pembantaian itu. Keduanya saling berpelukan erat lalu kakaknya pun memberikan pesan terkahirnya pada adik kembarnya
"bagaimana dengan eonni[1]?"
"aku…" jawabnya ragu, ia tersenyum hangat "aku bahagia melihatmu menjalani hidup dengan baik" jawabnya tulus.
Setelah pelukan hangat untuk yang terakhir kalinya, arwah anak kecil itu menghilang bagai titik embun yang bersinar terang dan menghilang sebelum menyentuh ke tanah, melihat kakaknya yang menghilang ke keabadian itu tangis anak itu pecah dalam tidurnya. Ia terus meneteskan air matanya deras sambil membuka matanya perlahan.
000
Ga Bi mengela nafas dalam lalu menegak pelan kopinya setelah menceritakan kisah pilu leluhurnya. Ia menurunkan gelas kopinya perlahan lalu menoleh menatap Dong Bae
"setelah itu, leluhurku berkata pada Sajangnim terimalah aku menjadi pelayanmu, aku akan melayanimu dengan setia sampai keturunan terakhirku" lanjutnya.
Dong Bae mengangguk kecil "lalu Sajangnim menerima leluhurmu hingga sampai padamu sekarang" simpulnya singkat,
Ga Bi mengangguk kecil "hmm" gumamnya terhenti, ia kembali menatap ke langit pagi yang indah "Sajangnim mengatakan pada leluhurku, aku akan memberikan kebahagiaan padamu dan keturunanmu, tapi kalian cukup melayaniku sampai saatku tiba" lanjutnya teringat akan waktuku yang tak panjang lagi.
Mendengar itu, Dong Bae menatap Ga Bi lurus lalu mengigit kecil bibir bawahnya ragu. Ga Bi pun menoleh kecil menatap Dong Bae yang tampak menyimpan sesuatu dalam pikirannya
"ada apa?"
"aku ingin tahu sesuatu"
"apa yang terjadi pada Sajangnim?" tebaknya.
Keduanya tertawa kecil bersama sejenak, lalu Dong Bae menghembuskan nafas besar dari mulutnya. Ga Bi memalingkan wajahnya menatap bayangannnya yang terpantul di gelas kopi yang di pegangnya sejak tadi, ia mengangkat wajahnya perlahan sambil membuka mulutnya
"Sajangnim, melakukan kesalahan" bukanya.
Dong Bae menatap Ga Bi dengan kening berkerut kecil "Kesalahan?" tanyanya bingung,
Ga Bi mengangguk kecil "hmm, kesalahan hanya dilakukan sekali, kesalahan yang di lakukan kedua kalinya akan membawa hukuman bagimu" jelasnya membuka cerita.
000
Aku berlari menyusuri hutan gelap mendengar suara hati pria asing yang ku selamatkan beberapa hari lalu. Pria itu tampak gagah berani menghadapi musuh yang mengelilinginya, namun hatinya menjerit meminta pertolongan pada siapapun yang bisa mendengarnya. Darah segar mengalir dari luka di keningnya yang basah oleh keringat, detak jantungnya semakin cepat, dan langkahnya terpojok di ujung jurang tinggi. Ia menoleh kecil melihat dasar jurang yang tertutup kabut tebal lalu menatap pedang yang terhunus ke arahnya, kakinya pun bergerak cepat menjatuhkan dirinya ke jurang tinggi itu membuat para prajurit yang mengejarnya langsung berlari cepat berusaha menangkapnya, meskipun usaha itu sia – sia.
Tubuh pria itu mengambang tak jauh dari dasar jurang membuatnya membuka matanya kaget, menatap seseorang dengan jubah putih menutupi seluruh tubuhnya berdiri tegap di hadapannya. Ia terbanting kecil di tanah lalu berusaha bangkit menoleh ke belakang cepat
"siapa kau?"
Sosok itu tidak bergerak ataupun mengeluarkan suaranya sedikitpun, membuat pria itu semakin tertantang dan berdiri mendekatinya perlahan. Aku yang mendengar langkah pria itu membuka mulutku
"berhenti" tahanku.
Mendengar suaraku, pria itu melebarkan matanya "nona bercadar?" panggilnya hati – hati.
Aku pun membuka penutup kepalaku perlahan menunjukkan wajahku ke hadapan pria asing itu, lalu melangkah maju perlahan ke bawah cahaya Bulan yang bersinar menyorot ke dasar jurang. Pria itu terdiam menatapku yang mendekat ke arahnya yakin, aku pun mengulurkan tanganku
"jika kau percaya padaku, ulurkanlah tanganmu" mintaku.
***
[1] Panggilan wanita kepada wanita yang lebih tua