I'M A Witch

I'M A Witch
PENGKHIANATAN



Kami berdiri di depan Rumah megah yang terhalang garis polisi, beberapa orang tampak berlalu lalang masuk ke dalamnya, dan beberapa wartawan tampak sibuk meliput perkembangan penyelidikan kasus pembunuhan Ji Hoo. Seorang polisi tampak mengangkat garis kuning yang menghalangi pintu melihat kedatangan Dong Bae ke lokasi kejadian, Dong Bae menoleh kecil "dia rekanku, aku bertanggung jawab atasnya jadi biarkan dia masuk" sahutnya memperkenalkanku secara singkat. Polisi itu mengangguk kecil lalu mempersilahkanku masuk mengikuti Dong Bae, mata kami berputar melihat sekeliling Rumah mewah dengan interior modern yang tidak seharusnya menjadi lokasi pembunuhan. Aku langsung melirik ke arah lantai dua tajam melihat roh Ji Hoo yang telah menungguku di ujung tangga, aku menghembuskan nafas kecil membuat Dong Bae menoleh cepat lalu mencondongkan tubuhnya menunduk ke arahku


"kau melihat sesuatu kan?"


"ujung tangga atas" bisikku cepat sambil memalingkan wajahku berpura – pura tidak melihat Ji Hoo.


Dong Bae langsung menoleh dengan penasaran, lalu mengintip cepat ke arah lantai dua namun ia tidak melihat apa – apa. Ia kembali menoleh cepat "apa yang kau lihat? Tidak ada apa – apa disana" bisiknya kesal, aku pun berpaling cepat menurunkan pandanganku dari tangga "rohnya" bisikku singkat. Mata Dong Bae melebar kaget


"RO–" teriaknya terhenti karena aku telah membekap erat mulutnya.


Aku mengangkat tanganku melayangkan pukulan kecil di lengannya cepat, lalu mengangkat jari telunjukku ke depan bibir "diamlah" bisikku kesal. Dong Bae langsung membekap mulutnya cepat sambil melihat ke sekeliling panik, ia menarikku ke halaman belakang rumah itu melanjutkan pembicaraan secara pribadi. Setelah memastikan tidak ada siapapun di sekeliling kami, Dong Bae kembali menatapku lurus


"benarkah rohnya berkeliaran disini?"


Aku hanya menghela nafas panjang lalu mengangguk kecil sambil melipat tanganku ke depan dada, Dong Bae kembali mengangkat tangannya ke pinggang berpikir keras mengatasi masalah ini "apa tidak ada yang bisa kau lakukan?" tanyanya bingung


"ada, tapi tidak saat ini"


"apa yang kau lihat selain… ya, Ji Hoo –ssi?"


"saat aku menyentuh mayatnya tadi, aku sudah tahu bahwa rohnya ada disini"


"kau sudah tahu? Bagaimana..?"


"aku tidak bisa melihat masa depan seseorang yang sudah meninggal, jika aku bisa melihatnya berarti rohnya belum meninggalkan dunia ini, singkatnya dia belum sepenuhnya meninggal" jelasku sederhana.


Dong Bae mengangguk kecil paham akan penjelasan singkatku barusan. Ia melihat ke sekeliling yang dipenuhi petugas penyelidik lalu kembali menatapku lurus "apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya, aku teringat akan lukisan yang Ji Hoo tatap di kamar Myeong Joon tadi "kita lihat sesuatu" ajakku cepat.


Dong Bae menatap pigura besar di hadapannya dengan alis berkerut dalam, sementara aku menatap lurus pigura itu seakan melihat sesuatu yang  berbeda dari Dong Bae. Pria itu menoleh cepat menatapku "apa kau melihat sesuatu?" tanyanya pelan. Aku menoleh ke arah yang berlawanan dengan Dong Bae menatap lurus Ji Hoo yang tengah berdiri di sampingku, mata birunya menggambarkan kesedihan atas kematiannya yang tidak adil ini. Aku kembali melirik lukisan itu sejenak "hmm… aku melihat sesuatu" timpalku cepat. Aku langsung berpaling menatap Dong Bae lurus "kita lanjutkan malam ini dalam keadaan tidak terlihat" sahutku cepat lalu berbalik meninggalkan Dong Bae yang berpikir keras akan apa maksud perkataanku.


000


Dong Bae mengetuk pintu Kamarku pelan sambil melihat jam di Ruang Tengah yang menunjukkan pukul Sebelas Malam. Keningnya berkerut dalam tak kunjung mendengar jawaban dariku setelah ia mengetuk lebih dari sekali, ia pun menempelkan telinganya lekat pada pintu berusaha mendengar sesuatu dari dalam namun hanya keheningan yang dapat di dengarnya. Dering ponselnya terdengar keras, membuat Dong Bae bergerak cepat mengeluarkan ponselnya dari saku celana


"oh… Ga Bi –ssi" sapanya canggung


"Jang Hyeongsa, apa Sajangnim sudah berangkat dari Rumah?"


Dong Bae langsung berdeham canggung mendengar pertanyaan itu sambil menggaruk belakang kepalanya bingung, ia pun membuka mulutnya menjelaskan situasi yang di hadapinya kini "hmm… jadi begini kami pulang setelah melakukan penyelidikan singkat siang tadi, setelah kami makan siang bersama Sajangnim masuk ke kamar dan tidak keluar sejak itu" jelasnya canggung. Dong Bae pun membuka pintu kamarku perlahan lalu mengintip ke dalam kamar melihatku terbaring di atas kasur


"sekarang dia sedang tidur" lanjutnya.


Mendengar kata "tidur" Ga Bi langsung bangkit dari kursinya bergegas menutup NEOMA dan pergi menuju Apartemen kami.


000


Ga Bi dan Dong Bae tidak berhenti berdebat keras sepanjang perjalanan menuju lokasi kejadian, mobil Dong Bae melaju cepat di tengah jalan raya dengan sirine polisi menyala di atasnya


"KENAPA ANDA MEMBIARKANNYA TIDUR? SAJANGNIM TIDAK BOLEH TIDUR!"


"aku juga tidak tahu kalau Sajangnim tidak boleh tidur, tidak ada yang pernah mengatakan tentang itu padaku… kenapa sekarang kau menyalahkanku?" timpalnya mengabaikan formalitas antara mereka


"SAJANGNIM SUDAH MEMBERIMU KODE!!" teriak Ga Bi kesal.


Dong Bae hanya menutup telinganya yang sakit akibat teriakan melengking Ga Bi barusan, ia kembali fokus mengemudikan mobilnya cepat menuju lokasi pembunuhan.


Keduanya langsung melepas sabuk pengaman cepat, turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam Rumah itu panik. Langkah Dong Bae terhenti menyadari ia tidak bisa melihat apapun dengan mata manusianya yang tidak berguna ini, Ga Bi yang mendengar suara bisikan kecil pun mendongak cepat lalu melangkahkan kakinya berlari menaiki tangga secepat mungkin. Keduanya sampai dalam kamar Myeong Joon, mata Dong Bae berputar kemanapun berusaha melihat sesuatu sementara Ga Bi langsung menghembuskan nafas lega melihatku duduk menatap pigura besar di hadapanku dengan tangan terlipat di depan dada. Aku menoleh perlahan


"kau sudah sampai?" sapaku santai,


Ga Bi langsung menghembuskan nafas besar lalu mendekat ke arahku dengan langkah kesal "Sajangnim, sudah aku katakan berapa kali jangan hilang tiba – tiba seperti ini!" amuknya cemas.


Aku hanya mengkorek pelan telingaku sambil menutup sebelah mataku tidak menghiraukan omelan Ga Bi lalu melambai cepat "lupakan… lupakan… aku disini baik – baik saja, sekarang suruh pria bodoh ini menurunkan pigura itu" perintahku setengah menghina.


Ga Bi menoleh menatap Dong Bae yang tampak kebingungan melihat Ga Bi berbicara dengan udara hampa lalu menunjuk pigura besar di hadapan mereka


"pria bodoh, Sajangnim menyuruh anda menurunkan pigura itu!" perintah Ga Bi santai.


Dong Bae hanya membuka mulutnya hampa tidak percaya akan kata – kata Ga Bi barusan "waahh… aku terluka dengan perlakuan ini" ungkapnya sakit hati,


"aku baru saja di perintah anak kecil, sangat memalukan" sahutku mengatakan isi pikiran Dong Bae.


Ga Bi langsung membungkuk dalam "maafkan saya, tapi saya bukan anak kecil" sahutnya sopan meminta maaf, Dong Bae yang mendengar itu langsung melebarkan matanya kaget lalu menoleh menatap Ga Bi lurus


"hey! Katakan dimana atasanmu itu?"


Ga Bi langsung bergeser menunjuk kursi kosong di sampingnya, membuat Dong Bae semakin kesal akan mata manusia yang tidak membantunya sama sekali itu "waah… aku bahkan tidak bisa melawannya dengan situasi ini, aku bagai berbicara dengan udara" sahutnya putus asa.


Dong Bae pun bergerak cepat menurunkan pigura di hadapan mereka perlahan, matanya semakin melebar kaget melihat berangkas di balik pigura itu. Ga Bi menoleh cepat, langsung menarik dirinya kaget melihat sosok Ji Hoo yang telah berdiri di depan jendela menatap berangkas itu lurus. Ia menoleh ke arahku menaikkan alisnya meminta penjelasan, aku menunjuk Ji Hoo kecil


"nona terkenal saat ini" jelasku singkat.


Ga Bi yang mengerti bahwa itu adalah roh korban kasus pembunuhan ini pun menutup mulutnya yang terbuka hampa kaget. Ia tidak menyangka bahwa arwahnya terlihat sangat cantik, kecuali mata biru yang menyala itu. Ji Hoo menoleh ke arahku


"aku mengetahuinya sejak lama, namun aku tidak pernah menanyakannya" bukanya


"hmm… aku sangat menyukainya, tapi aku tidak tahu bahwa menyukainya bisa membuatku mati"


"kau menyesalinya?"


"tidak, aku hanya merasa di tinggalkan, dia bahkan tidak kembali untuk mencariku" ungkap Ji Hoo meneteskan air mata darah dari ujung matanya.


000


Pyongyang, 2015.


Myeong Joon berdiri di depan ruangan panglima tentara dengan seragam lengkap membalut tubuhnya rapi, ia mengetuk pintu di hadapannya pelan menunggu seseorang di dalamnya mempersilahkannya masuk. Ia memberi hormat sopan kepada komandannya lalu melipat kedua tangannya di belakang pinggang tegas, panglima tentara itu menatap Myeong Joon lurus


"Mars, saya memiliki misi baru untukmu" bukanya sambil membalik map dokumen di tangannya.


Pangima itu melipat kedua tangannya di depan bibirnya serius "pergilah ke Korea Selatan untuk membantu pengelapan uang sesuai dengan perjanjian ini, laporkan apapun perkembangannya" perintahnya.


Myeong Joon pun hanya bisa menerima perintah itu dan menjalankan misinya. Hatinya terasa asing saat menginjakkan kakinya pertama kali di Korea Selatan, ia tidak mengenal siapapun dan ia tidak memiliki siapapun untuk membantunya. Hari demi hari berlalu membuat Myeong Joon berhasil menyesuaikan diri karena kerja kerasnya, ia pun berhasil masuk ke salah satu perusahaan keuangan di kota Seoul memulai misi rahasianya.


Misinya berjalan dengan baik sampai hari itu ia menolong Ji Hoo yang menjatuhkan dokumen – dokumen berat yang di bawanya, niat Myeong Joon awalnya mendekati Ji Hoo untuk mendapatkan informasi sebanyak – banyaknya dari wanita itu. Namun niat itu berubah menjadi perasaan cinta yang membuat Myeong Joon menjadi serakah, ia benar – benar menginginkan kehidupan baru dan melupakan tujuan awalnya datang ke Korea Selatan. Myong Joon pun mulai memutuskan hubungannya dengan Negara asalnya secara perlahan.


Kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya seperti yang Myeong Joon harapkan, Myeong Joon yang hari itu mempersiapkan kejutan indah untuk Ji Hoo menerima telfon dari seseorang yang tidak di kenalnya. Myeong Joon pun mengangkat telfon itu dengan mata lebar serta tubuh terdiam kaku, getar ketakutan perlahan terlihat semakin jelas di bibirnya. Ia menutup sambungan telfon itu lalu mematikan ponselnya secepat mungkin, rasa panik mulai menguasai tubuhnya, ia bergerak cepat mengemasi barang – barangnya bersiap untuk pergi menyelamatkan dirinya. Ketukan keras tiba – tiba terdengar dari pintu Rumahnya, Myeong Joon yang termakan rasa panik pun akhirnya membuka jendela lantai dua Rumahnya lalu melompat untuk menyelamatkan dirinya. Ia berlari secepat mungkin untuk bisa lepas dari gerombolan pria yang mengejarnya.


000


Dong Bae menunduk dalam dengan hembusan nafas besar dari mulutnya setelah berulang kali gagal membuka berangkas besi di hadapannya. Ga Bi ikut menuduk memijat kecil keningnya putus asa setelah melihat kegagalan Dong Bae berulang kali itu, ia pun melirikku yang duduk sambil memainkan kukuku santai


"Sajangnim, kau tahu kodenya kan?"


Dong Bae menoleh kecil menatap Ga Bi penuh harap, sementara Ji Hoo dan Ga Bi menatapku membuatku mengangkat pandanganku menatap mereka bergantian. Aku kembali menunduk memainkan kukuku setelah menatap mereka sejenak, tetap diam menutup mulutku. Dong Bae kembali menghembuskan nafas besar dari mulutnya lalu menatap pintu berangkas di hadapannya putus asa, ia meninju kecil pintu besi itu


"baiklah, kita gunakan cara curang saja" putusnya.


Aku menaikkan pandanganku cepat "akhirnya" sahutku lega, Ga Bi langsung menoleh menatapku lurus "apa yang akan dia lakukan?" tanyanya padaku membuat Dong Bae menoleh cepat menatap Ga Bi lurus. Aku menggerakkan daguku kecil ke arah Dong Bae


"dia punya sesuatu di kantong celananya" bongkarku cepat,


Ga Bi pun langsung menoleh cepat menatap Dong Bae yang mengeluarkan kotak hitam kecil dari saku celananya, ia menyalakan alat itu lalu menempelkan ujung bulatnya pada pintu berangkas di hadapannya. Ga Bi yang melihat alat itu semakin termakan emosinya


"kenapa anda tidak menggunakannaya sejak tadi?" tanyanya kesal,


Dong Bae menoleh kecil membuka mulutnya "jika aku menggunakan ini, bagaimana aku menjelaskannya saat penulisan laporan penyelidikan, ini barang yang tidak seharusnya dimiliki polisi" jelasnya masuk akal.


Ga Bi menggangguk kecil "lalu bagaimana anda menjelaskannya sekarang?"


"aku akan menghancurkan pintu berangkasnya setelah kita selesai"


"ide bagus" timpal Ga Bi.


Keduanya mengangguk kecil sambil melemparkan senyum kecil pada satu sama lain sejenak, membuatku merasa aneh dengan pemandangan itu "hey, sejak kapan kalian sangat kompak?" sahutku curiga. Ga Bi hanya menatapku dengan senyum lebar sejenak, lalu kembali menoleh melihat proses pembukaan berangkas itu.


Mata Dong Bae langsung melebar melihat isi berangkas itu yang dapat menjadi bukti kuat mengungkap kasus pembunuhan Ji Hoo, seragam tentara dengan pistol, kalung identitas, dan topinya tertata rapi di dalam berangkas itu. Selain seragam itu terdapat amplop cokelat yang tersegel, tumpukan uang, serta laptop hitam di dalam berangkas itu. Aku pun mengintip kecil sejenak lalu menoleh pada Ji Hoo yang berdiri di seberangku diam


"apa yang ingin kau lihat lebih dulu?"


"isi laptop itu" mintanya tanpa ragu.


Aku pun menoleh menatap Ga Bi menggangguk kecil menyuruhnya melakukan sesuai keinginan Ji Hoo, Ga Bi pun mengambil laptop hitam itu lalu menyalakannya tepat di hadapanku. Gerakan Ga Bi terhenti melihat satu video yang bernama untuk Ji Hoo, ia melirik kecil ke arahku ragu lalu memutar video itu.


Wajah Myeong Joon terlihat jelas di layar dengan senyum canggung terukir di ujung bibirnya, ia berdeham kecil sebelum akhirnya menyampaikan tujuannya membuat video itu. Ia melambai cepat


"Ji Hoo –yah anyeong[1]…" sapanya canggung.


Senyum kecil di bibirnya melebar menjadi tawa lepas sejenak lalu ia kembali melanjutkan kata – katanya tenang "sebenarnya aku ingin menyampaikan permohonan maafku melalui video ini, aku ingin minta maaf karena aku telah membohongimu selama ini" ungkapnya ragu. Ia menghembuskan nafas besar sejenak lalu kembali menatap lurus ke kamera yakin


"sebenarnya aku bukan Kim Myeong Joon, namaku adalah Kim Song Won dari Pyeongyang. Tujuanku awalnya menjalankan misiku untuk penggelapan uang bagi kepentingan politik, namun setelah bertemu denganmu tujuanku berubah. Aku tidak tahu bagaimana reaksimu nanti ketika melihat rekaman ini, aku berharap kau mau memaafkanku dan menerima ketulusan hatiku, aku juga berharap kau masih mau bersamaku setelah kau melihat rekaman ini. Maafkan aku telah membohongimu selama ini, aku berjanji jika kau menerimaku aku tidak akan meniggalkanmu, aku akan menjadi pria yang lebih baik bagimu. Terima kasih telah hadir dalam hidupku, aku beruntung memiliki wanita sempurna sepertimu. Saranghae[2] Ji Hoo –yah" ucapnya panjang lebar.


Air mata Ga Bi tak berhenti menetes haru sepanjang video, sementara aku dan Dong Bae hanya menatapnya dengan alis terangkat heran kompak. Aku menghembuskan nafas besar lalu menatap Ji Hoo lurus


"apa yang akan kau minta sekarang?"


"bisakah kau menemukannya?"


Ga Bi menoleh kecil menatap kami yang sedang saling menatap lurus bergantian, aku pun mengangguk kecil lalu bangkit dari dudukku cepat


"baiklah, tapi tidak sekarang" jawabku.


Ga Bi langsung membuka mulutnya antusias "wae?" tanyanya tidak terima, Dong Bae pun langsung menoleh mentap Ga Bi cepat "ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya tidak tahu apa – apa. Aku dan Ga Bi langsung kompak menatap Dong Bae lurus "urusan wanita" jawab kami bersamaan.


***


[1] Hallo dalam bahasa tidak formal.


[2] Aku mencintaimu.