
Dong Bae tertunduk dalam melihat tagihan Rumah Sakit ibunya yang semakin mahal setiap bulannya, meskipun banyak orang memberinya saran untuk menyerah namun Dong Bae masih memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti ibunya akan kembali membuka matanya. Dong Bae mengeluarkan kartu berwarna biru dari dompetnya, lalu menyerahkan kartu itu pada penjaga meja Administrasi membayar tagihan yang tertera
"bisakah saya membayarnya dengan cicilan?" tanyanya kehilangan harga diri.
Penjaga pun memberikan penjelasan singkat mengenai sistem cicilan lalu mempertanyakan persetujuan Dong Bae tentang syarat – syarat yang berlaku, setelah mendengar persetujuan Dong Bae, ia memproses pembayaran sejenak lalu mengembalikan kartu Dong Bae beserta bukti pembayarannya.
Langkah kami membawa kami pada satu sama lain secara kebetulan membuat kami saling menatap dengan mata menyipit
"kenapa kau kemari?" tanya kami kompak,
Dong Bae memiringkan kepalanya "aku mengurus Ibuku, dia di rawat disini, kau sendiri?" jawabnya cepat.
Aku memutar mataku canggung "aku… menjenguk Neneku" jawabku ragu.
Dong Bae yang merasakan keraguanku pun mengembangkan senyum miringnya curiga "kau bohong" tuduhnya cepat, tawa kecilku pun pecah lalu aku melipat kedua tanganku di depan dada "apa barusan kau menuduhku?" timpalku tidak terima. Dong Bae ikut melipat tangannya di depan dada sambil mengangguk kuat "hmm" gumamnya menantang, ia menaikan sebelah alisnya
"tidak ada bukti yang kuat jika kau benar – benar menjenguk nenekmu kemari" tambahnya menyombongkan diri.
Aku hanya menatapnya dengan wajah datar sambil menggeleng sejenak lalu melangkahkan kakiku anggun, melewati Dong Bae yang menoleh mengikuti arahku pergi. Dong Bae pun mengejarku cepat sampai kami terhenti di depan kamar VIP yang biasanya aku kunjungi, aku menggeser pintu di hadapanku menunjukkan Ha Rim yang menoleh ke arah pintu dengan batang kayu rajutan di kedua tangannya. Aku menoleh dengan alis terangkat sombong menatap Dong Bae yang terdiam di tempatnya sambil menelan air liurnya malu, Ha Rim yang melihat kedatangan pria yang tidak di kenalinya itu pun menatapku bingung sambil membuka mulutnya "siapa?" tanyanya tanpa mengeluarkan suara. Aku duduk di samping Ha Rim seperti biasa lalu menoleh kecil
"kalau kau mau masuk, masuklah, kalau tidak, pergilah" sahutku tidak peduli.
Dong Bae pun mengedipkan matanya tersadar dari lamunanya lalu melangkahkan kakinya canggung, ia menaikkan padangannya perlahan menatap Ha Rim yang duduk di atas ranjang menatapnya lurus. Senyum Ha Rim mengembang perlahan membuat Dong Bae memberanikan dirinya melangkah lebih dekat padanya, Ha Rim mengulurkan tangannya meraih tangan Dong Bae
"senang bertemu denganmu anak muda, siapa namamu?" sapa Ha Rim.
Mataku menyipit melihat luapan aura hitam pada tubuh Dong Bae, aku memutar mataku menatap pria itu lurus. Dong Bae tampak memaksakan senyum kecilnya lalu memutar matanya menatap Ha Rim canggung "Jang Dong Bae" jawabnya pelan. Ha Rim menepuk kecil tangan Dong Bae lalu memutar matanya melihat cincin hitam yang melingkar di jari manisnya, Ha Rim yang sangat mengenal cincin itu mengangkat pandangannya cepat mengamati pria muda di hadapannya lurus – lurus. Aku yang melihat Ha Rim tampak menyadari cincin itu pun melepas tangan Ha Rim dari Dong Bae cepat, lalu menutupi wajah Dong Bae dari padangan Ha Rim
"berhenti melihat!" perintahku.
Ha Rim terus menggerakkan tubuhnya berusaha melihat wajah Dong Bae, sementara Dong Bae menatapku dengan alis berkerut bingung "apa yang kau lakukan?" tanyanya. Aku pun membalik paksa tubuh Dong Bae lalu mendorong punggungnya sampai keluar dari pintu cepat, aku mengangkat jariku ke depan wajahnya
"pertemuan selesai, kau boleh pergi sekarang!" usirku cepat lalu menggeser pintu yang memisahkan kami cepat.
000
Langkahku terhenti mendengar suara Dong Bae yang memanggilku dari kejauhan, aku pun menoleh menatapnya yang berlari kecil menghampiriku dengan senyum cerah di wajahnya. Mataku menyipit melihat aura hijau yang telah meluap tebal dari tubuh pria itu
"cepat sekali perasaannya berubah" hinaku remeh.
Dong Bae pun menaikan alisnya "apa?" tanyanya tidak mendengar perkataanku. Aku pun menggeleng kecil "tidak apa, aku pikir kau sudah pergi" tepisku mengalihkan pembicaraan, Dong Bae pun membuka mulutnya hampa sambil memasukkan kedua tangannya santai ke dalam saku celana. Kami berjalan berdampingan pelan sampai keluar dari Rumah Sakit, langkah kami terhenti mendengar suara serah seorang pria yang memanggil Dong Bae dari arah berlawanan. Kami menoleh kompak menatap pria berambut putih, keriput kecil terlihat di wajahnya, sorot mata pria itu sangat sayu, dan tubuhnya yang terbalut kemeja kotak – kotak terlihat sedikit kurus. Mata Dong Bae langsung melebar kaget melihat pria itu
"Appa[1]…" panggilnya pelan,
"Appa katamu?" tanyaku kaget.
Dong Bae menoleh sejenak menatapku sambil mengangguk kecil, lalu kembali berpaling menatap ayahnya yang melangkahkan kakinya semakin dekat dengan kami. Pria tua itu menatapku lurus lalu meraih tangan kiriku cepat, aku langsung membuka mulutku hampaku tidak siap akan masa lalu pria akan aku lihat kali ini. Mataku langsung melebar melihat kekacauan hidup pria itu akibat rasa bersalahnya pada istrinya, ia tampak berlutut sambil menggenggam erat tangan istrinya yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Air mata pria itu tidak berhenti mengalir deras meratapi akibat perbuatannya hari itu, mataku semakin melebar melihat apa yang telah terjadi pada seorang anak laki – laki kecil yang menangis kesakitan dengan tangan penuh luka menganga. Pecahan kaca tampak menancap di lengannya membuatku ikut merasakan rasa sakit anak itu.
Aku langsung menutup mataku rapat berusaha berhenti melihat masa lalu pria itu namun aku tidak bisa menghentikannya. Suatu malam yang gelap pria itu tampak masuk ke dalam kamar dengan tatapan kosong, serta tali panjang di tangannya. Pria itu mengusap lembut dahi anaknya yang tertidur pulas di tempat tidurnya, tangannya perlahan bergerak turun melilitkan tali itu pada leher anak laki – laki yang tidak berdosa itu lalu menccekiknya kuat. Isak tangis kesakitan anak itu tidak lagi dihiraukannya, ia di butakan bisikan dalam hatinya untuk mati bersama sebagai satu keluarga utuh. Beruntung perbuatannya itu di hentikan oleh adiknya yang terbangun dan keluar dari kamar, adiknya melihat pintu kamar yang terbuka kecil membuatnya mendekati kamar itu dan menyelamatkan anak malang itu. Wanita itu menoleh dengan tatapan marah melihat anak yang sudah tidak sadarkan diri itu lalu membuka mulutnya.
Kisah itu berhenti begitu saja saat Dong Bae melepaskan tangan ayahnya dari lenganku cepat, aku menghembuskan nafas besar dari mulutku sambil mengedipkan mataku beberapa kali berusaha mengendalikan diriku. Ia membalikkan tubuhku cepat menghadap ke arahnya
"apa kau baik – baik saja?" tanyanya cemas.
Aku hanya mengangguk cepat sambil menenangkan diriku, hembusan nafas cepat terdengar samar dari mulutku sejenak sampai aku berhasil mengendalikan diriku sepenuhnya. Dong Bae berbalik menyembunyikanku di balik pundak lebarnya
"kenapa Appa datang kemari?"
"a –aku… aku ingin melihat ibumu" jelasnya.
Mataku melebar melihat bekas luka jahitan pada lengan Dong Bae di balik kemejanya yang tergulung rapi, aku langsung mendongak kecil menatapnya lurus melihat bekas luka kecil di lehernya yang berupa garis tebal. Segalanya terlihat sama, membuatku semakin merasakan sakit yang ia rasakan hari itu. Membuat hatiku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan pada orang lain, rasa sedih yang terlihat meluap dari tubuhku.
***
[1] Ayah.