I'M A Witch

I'M A Witch
KERJA SAMA



Seorang wanita di temukan tewas berlumuran darah dalam sebuah Rumah beberapa hari yang lalu, berita pembunuhan wanita itu pun telah tersiar di seluruh stasiun televisi Korea. Wanita itu meninggal dengan dua luka tusukan pada perut, kaki mayat wanita yang tampak bengkak terkilir itu membuat Dong Bae menduga ia melarikan diri dari seseorang yang akan melukainya hingga jatuh terkilir. Wanita itu tinggal di Seoul seorang diri sementara keluarganya tinggal di Daejeon yang merupakan kota asalnya, wanita itu adalah pekerja kantoran biasa yang di kenal baik oleh rekan kerjanya. Semua orang mengenalnya sebagai wanita yang baik dan tidak pernah melakukan hal buruk pada orang lain, latar belakang yang bersih itu membuat kasus pembunuhan ini semakin susah untuk Dong Bae tangani.


Setelah memberikan gambaran besar tentang kasus itu, Dong Bae menatapku penuh harap sedangkan aku menatapnya dengan wajah datar dan tatapan kosong. Aku memiringkan kepalaku berpura – pura bodoh


"aku tidak mengerti" sahutku tenang.


Dong Bae langsung menahan nafasnya penuh rasa kesal sambil mengangkat tinjunya ke udara namun ia menahan diri, dan mengendalikan emosinya cepat. Ga Bi yang tampak memahami sifatku menutup mulutnya cepat berusaha menahan tawanya, ia berdeham kecil sambil menggeleng heran lalu meninggalkan kami berdua menuju mejanya.


Dong Bae menghembuskan nafas besarnya sejenak lalu kembali membuka mulutnya


"baik, akan ku jelaskan sekali lagi" ulangnya keempat kalinya.


Aku mengangkat tanganku cepat menghentikan suaranya, lalu tersenyum miring "aku tidak bodoh, lagipula berita tentang wanita itu sudah tersiar dimana – mana" tepisku cepat. Dong Bae langsung terdiam menatapku semakin kesal, namun tujuannya menceritakan semua ini padaku membuatnya berusaha bersabar dan mengendalikan dirinya. Aku melipat tanganku di depan dada cepat


"kau ingin aku membantumu kan?"


Dong Bae mengangguk cepat dengan wajah penuh harapan mendengar pertanyaanku barusan. Aku menggigit kecil bibir bawahku curiga melihat sikap antusias itu "apa maumu?" tanyaku menuduh. Dong Bae memutar matanya ragu lalu menggaruk kecil belakang kepalanya sejenak


"tim yang berhasil menangani kasus ini akan naik jabatan, jadi aku sangat ingin menanganinya"


"naik jabatan berarti gajimu lebih banyak…" simpulku.


Dong Bae mengangguk cepat "hmm… benar, jika aku berhasil naik jabatan aku akan memberikanmu apapun yang kau minta, aku janji" tawarnya cepat sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku cepat.


Aku melepaskan tawa kecilku mendengar janji yang sering aku dengar dari manusia yang datang padaku itu, melihat tawa kecilku itu kening Dong Bae pun langsung berkerut kecil. Ia menurunkan kelingkingnya cepat "ada apa? Kenapa kau menertawakanku?" tanyanya penasaran, aku semakin keras melepaskan tawaku mendengar pertanyaan lanjutan dari kejadian yang sering aku alami itu, membuat kerutan di kening Dong Bae semakin dalam. Aku pun menggeleng cepat sambil berusaha mengendalikan tawaku, lalu menghembuskan nafas besar lega. Aku mengangguk kecil


"baiklah, kau sudah membuatku tertawa kali ini, jadi aku akan membantumu" putusku begitu saja.


Mata Dong Bae melebar mendengar keputusanku itu, ia langsung meraih tanganku cepat "BENARKAH?" tanyanya memastikan, ia semakin erat menggenggam tanganku penuh kebahagiaan dengan senyum cerah serta ucapan terima kasih yang tak berhenti keluar dari mulutnya. Aku terdiam melihat senyum cerah itu, mataku tak dapat berpaling dan seakan duniaku terasa sangat damai. Luapan merah muda perlahan keluar dari tanganku, mataku langsung melebar kaget dan aku menarik tanganku cepat dari genggaman Dong Bae. Aku melihat aura merah muda yang semakin menebal dari tanganku sendiri, membuat rasa cemas menyerang diriku dalam hitungan detik. Dong Bae menatapku dan tanganku bergantian bingung


"apa yang terjadi?" tanyanya, tiba – tiba ia melebarkan matanya kaget "apa kau bisa melihat masa depanku sekarang?" tebaknya senang.


Ia kembali meraih tanganku cepat "katakan apa yang kau lihat?" mintanya penuh harap.


Aku menatapnya lurus sambil menggeleng kaku "tidak ada" jawabku pelan.


Mata kami saling menatap lurus membuat suasana hening yang sejuk menyelimuti hati kami, aku langsung menarik tanganku cepat berpaling dari Dong Bae, membuatnya berdeham kecil ikut memalingkan wajahnya dariku. Aku berdeham kecil


"kalau begitu aku akan ikut denganmu pagi nanti" simpulku cepat,


Dong Bae mengangguk "hmm… baiklah, sampai nanti kalau begitu" pamitnya canggung sambil beranjak dari tempatnya perlahan.


Dong Bae membalikkan badannya cepat "ohh ya, aku lupa menanyakan padamu, kau ingin makan apa untuk sarapan nanti?" tanyanya canggung, aku hanya tersenyum kecil "aku akan makan apapun, coba tanyakan Ga Bi saja dia yang suka pilih – pilih" saranku cepat. Dong Bae pun mengangguk kecil lalu melambai pelan ke arahku sebelum membalikkan badannya meninggalkan Kuil.


Kami duduk berdampingan dalam mobil hening menikmati perjalanan canggung pagi itu, aku berdeham kecil lalu menoleh menatap Dong Bae di balik kemudinya


"apa tidak masalah jika timmu tahu aku terlibat? Bukannya kau malah akan di hukum?"


"karena itu kita lakukan diam – diam" timpalnya cepat.


Aku melepaskan tawa kecilku mendengar jawaban Dong Bae barusan, aku menggeleng kecil kehabisan kata – kata atas perbuatannya. Mobil Dong Bae berbelok tajam membawa kami semakin jauh dari Kantor Polisi membuatku mengerutkan alisku, aku menoleh menatap pria aneh di sampingku cepat mengerutkan alisku meminta penjelasan. Dong Bae membuka mulutnya hampa teringat


"aaa… kita akan pergi melihat mayatnya dulu" jelasnya.


Aku mengangguk kecil lalu menoleh menikmati pemandangan di luar jendela yang tampak indah di bawah sinar cerah matahari, kami hanya menutup mulut kami diam sampai dering ponsel Dong Bae memecahkan keheningan. Kami kompak memutar mata melihat layar kecil di tengah – tengah mobil yang menunjukkan panggilan masuk dari Chae Ri, deham kecil terdengar dari Dong Bae singkat lalu ia mengulurkan tangannya mengetuk layar menolak panggilan itu. Aku menaikkan alisku sambil menoleh perlahan menatapnya lurus sementara Dong Bae memutar matanya canggung


"aku sedang tidak ingin bicara dengannya"


"sebenarnya jika kalian bicara juga tidak apa" simpulku cepat teringat akan tali hitam yang mengikat kelingking mereka.


Dong Bae menoleh sejenak menatapku curiga setelah mendengar jawaban anehku barusan, ia mengusap bibirnya cepat "hey, jujurlah padaku sekarang! Kau tahu sesuatu kan?" mintanya gelisah. Aku melirik kecil melihat aura kuning yang meluap tipis dari ujung mataku membuatku menoleh cepat memastikan apa yang aku lihat itu benar, aku membuka mulutku hampa sambil mengangguk kuat terdiam membiarkannya hanyut dalam rasa gelisahnya. Dong Bae yang melihat anggukan kuat itu semakin penasaran membuat aura kuning di tubuhnya semakin tebal dalam hitungan detik. Ia pun membuka mulutnya cepat


"hey, apa maksud anggukan mencurigakan itu? Kau benar – benar tahu sesuatu kan?"


"aniyo[1] Jang Hyeongsanim"


"kenapa aku merasa kau seperti tahu sesuatu? Perasaan burukku biasanya sangat akurat… aneh sekali…"


"aku bukan manusia yang bisa kau tebak dengan perasaanmu Jang Hyeongsanim" tepisku cepat.


Setelah pembicaraan yang berakhir menggantung itu, kami pun sampai pada gedung penyimpanan mayat. Dong Bae menunjukkan kartu identitasnya pada penjaga sebelum akhirnya kami di persilahkan masuk dengan tenang, kami menyusuri lorong sepi yang terasa dingin menuju ruang ketiga dari ujung lorong itu. Penjaga menarik kotak besi milik wanita itu lalu meninggalkan kami setelah memindahkan mayat itu ke meja otopsi, Dong Bae menatapku sambil menangguk kecil memulai penyelidikan rahasia ini secepat mungkin.


Aku menatap lurus mayat di hadapanku lalu menunduk melihat setiap titik tubuh wanita itu, luka tusukan yang menganga di depan mataku sama sekali tidak menganggu konsentrasiku. Dong Bae yang sejak tadi menatapku menggeleng kecil dengan mata menyipit tajam


"kau terlihat seperti orang ahli, tapi entah kenapa aku meragukanmu"


"diamlah" potongku cepat.


Aku mengangkat tubuhku kembali tegap, menoleh cepat menatap Dong Bae "aku tidak menemukan apapun di tubuhnya dengan kekuatan manusia, jadi mari kita mulai kecurangan ini" simpulku menghinanya halus. Dong Bae yang tidak merasa terhina oleh perkataanku pun membuka tangannya mempersilahkanku melakukan apa yang bisa aku lakukan kali ini, aku langsung mengulurkan tangan kiriku menyentuh mayat di hadapanku cepat.


***


[1] Tidak / Bukan dalam bahasa semi formal.