
Aku memijat belakang leherku yang membengkak kerena benturan semalam, aku menghembuskan nafas besar terus mengeluh kesakitan membuat Ga Bi memejamkan matanya terganggu
"Sajangnim, jika kamu merasa sakit pergilah ke Rumah Sakit, jangan mengeluh disini terus!"
Aku meliriknya sinis lalu menurunkan tanganku, mulai mengangkat sendokku menyantap sarapannku. Ga Bi melepas celemeknya lalu duduk di hadapanku, mulai mengangkat sendoknya makan bersamaku. Suasana terdengar hening sampai aku membuka mulutku
"apa yang akan kau lakukan setelah sarapan?"
"tentu saja tidur…" jawabnya cepat.
Aku memutar mataku sambil menyendok supku melirik Ga Bi lalu menyunggingkan senyum miring. Ga Bi pun membuka mulutnya yang penuh dengan makanan
"Sajangnim sendiri? Apa yang akan kamu lakukan?"
"aku akan ke Rumah Sakit"
"lagi?"
"hey, nenekmu butuh teman, kalau kau dan adikmu tidak mengunjunginya, siapa lagi yang akan mengunjunginya kalau bukan aku?"
"waaahh… Sajangnim membuatku terlihat seperti cucu yang buruk sekarang, aku manusia yang butuh tidur, tidak sepertimu" protesnya kesal.
Begitulah suasana sarapan kami setiap pagi, ketika salah satu dari kami membuka mulut, perdebatan kecil selalu saja terjadi sampai salah satu dari kami melarikan diri dari meja makan.
000
Jae Bin berjalan di ikuti gerombolan dokter dan perawat di belakangnya, ia masuk ke kamar VIP menemui Ha Rim yang menjadi pasiennya mulai hari ini. Senyumnya melebar kecil menatap Ha Rim yang juga tersenyum padanya, Jae Bin membuka data pasien dari perawat di sampingnya membaca catatan terakhir pemeriksaan Ha Rim.
Pintu kamar Ha Rim yang terdengar membuat semua orang disana menoleh menatapku kompak, Ha Rim pun tersenyum semakin lebar
"kau datang" sapanya.
Aku membeku di tempatku menatap pria dengan jas putih di hadapanku, wajah itu tidak dapat aku lupakan. Keheningan dingin menyelimuti kamar Ha Rim dalam hitungan detik, Ha Rim yang merasakan kecanggungan itu membuka mulutnya mencairkan suasana
"dia cucu tertuaku, Wol –ah kemarilah" panggilnya membuyarkan lamunanku.
Aku mengedipkan mataku menyadarkan diri cepat, melangkahkan kakiku kembali masuk ke dalam lalu menutup pintunya cepat. Aku berjalan melewati dokter itu lalu menunggingkan senyum kaku pada Ha Rim, ia meraih tanganku lalu menepuknya pelan. Pria itu tersenyum melihat kami, ia menatapku lalu membuka mulutnya
"senang bertemu denganmu, mulai hari ini saya dokter yang akan bertugas menangani nenek anda, nama saya Yoon Jae Bin" sapanya sambil mengulurkan tangannya.
Aku menghembuskan nafas berat sambil memaksakan senyumku "senang bertemu dengan anda juga Yoon Seonsaeng[1], saya Seo Wol" sapaku sopan, aku mempersiapkan diriku sejenak lalu menjabat tangannya.
Bayangan masa depan pria itu pun mulai berputar di kepalaku, ia tampak duduk di satu meja panjang yang penuh dengan orang di sekelilingnya. Ia satu – satunya orang yang tampak muram di meja itu, namun yang membuat mataku melebar adalah wajah yang ku kenal duduk di hadapannya, keduanya menoleh kompak melihat kedatangan Chae Ri yang berdiri dengan wajah kaget menatap keduanya canggung. Aku menutup mataku cepat berusaha berhenti melihat masa depannya meskipun usahaku sia – sia, gambaran masa depan pria itu semakin jelas bermain di kepalaku. Aku melihat ketiganya tampak berbicara serius dan ia memukul pria yang duduk di hadapannya tadi, sementara Chae Ri melihat kejadian itu dengan mata melebar kaget dan tangan terkatup di depan mulutnya yang terbuka hampa. Aku menarik tanganku cepat membuat Jae Bin kaget dan membuat suasana semakin canggung, Ha Rim yang melihat kejadian itu pun membuka mulutnya menutupi sikapku
"maaf, dia agak canggung dengan orang baru, sebenarnya dia sangat baik dan sopan" sahutnya cepat.
Jae Bin hanya tersenyum kecil sambil mengangguk canggung, setelah memeriksa keadaan Ha Rim sejenak, Jae Bin menundukkan kepalanya sopan lalu berbalik meninggalkan ruangan Ha Rim bersama dokter dan perawat lainnya.
Setelah pintu kamarnya tertutup, Ha Rim langsung menoleh cepat ke arahku mengeluarkan rasa penasarannya "apa yang kau lihat tadi?"
"dia akan memukul seseorang"
"lalu?"
"aku mengenal orangnya" jawabku tertunduk pasrah.
Ha Rim mengangguk kecil setelah mendengar penjelasanku, ia bersandar di bantalnya ringan mulai berpikir cepat. Aku menarik kursi di samping meja kecil lalu duduk di samping ranjangnya melipat tanganku di depan dada
"berhenti berpikir!"
"wae? Apa kau tidak cemas?"
"ani[2]" jawabku cepat.
Ha Rim tersenyum kecil sambil mengulurkan tangannya menepuk pipiku pelan, ia menghembuskan nafas besar "Wol –ah, aku menghabiskan sebagian hidupku bersamamu, aku menenalmu bagai ibumu"
"aku tidak punya ibu" timpalku membunuh suasana.
Tawa kecil kami pecah bersamaan, Ha Rim menepuk pundakku memberi kekuatan lalu kembali membuka mulutnya "bagaimana kau bisa mengenal orang yang akan di pukulnya itu?"
"dia pria yang tidak terlihat itu"
"benarkah? Lalu apa yang terjadi?"
"kami bertemu di NEOMA, aku akhirnya memutuskan untuk melakukan perjanjian dengannya, aku…"
"ingin tahu" timpal Ha Rim tepat membaca pikiranku.
Aku mengangguk kecil kembali hanyut dalam pikiranku "Ha Rim –ah, apa yang kau lakukan jika cinta pertamamu masih menghantuimu?" tanyaku tiba – tiba. Ha Rim mengerutkan keningnya geli mendengar pertanyaan baru dariku itu, tawa kecilnya pecah dan ia membuka mulutnya "kenapa tiba – tiba kau bertanya soal percintaan padaku?" tanyanya tidak percaya. Aku tersenyum miring tidak mengerti apa yang terjadi padaku juga kali ini, aku menggeleng kecil sambil menaikkan kedua bahuku sejenak
"aku juga tidak tahu"
"Wol –ah, perasaan itu persoalan rumit, perasaan juga bukan masalah yang bisa kau selesaikan dengan bantuan orang lain, jawaban yang bisa aku berikan padamu hanya lakukan sesuai kata hatimu"
"sesuai kata hati?"
"hmm, seseorang menghantui orang lain setelah mencampakkan orang itu karena ia tidak menahan orang itu sesuai kata hatinya. Begitu pula seseorang yang di hantui setelah di campakkan, ia tidak menolak seseorang itu sekeras kata hatinya" jelas Ha Rim terdengar bijak.
Aku mengedipkan mataku beberapa kali mengerti maksud Ha Rim kali ini, aku mengangguk kecil sambil mencerna kembali sarannya. Ha Rim pun tersenyum semakin lebar "sudah jangan di pikirkan terus, bagaimana Ga Bi dan Do Suk? Mereka cucuku yang sebenarnya tapi merekalah yang paling jarang mengunjungiku" tanyanya kesal. Aku tersenyum kecil teringat akan perdebatanku dan Ga Bi saat sarapan tadi, aku membenarkan posisi dudukku sejenak
"kenapa? Kau mulai merasa mereka bukan cucu yang baik?" hinaku halus.
Ha Rim tertawa kecil mendengar pertanyaanku, ia menghembuskan nafas panjang sejenak "tidak, aku paham mereka bekerja untuk membayar biaya pengobatanku, kami tidak selamanya akan bergantung padamu terus" timpalnya canggung.
Aku menghembuskan anfas berat sambil menurunkan pandanganku "mianhae[3], aku berjanji untuk membuat keturunanmu hidup bahagia tapi aku mengingkari janji itu"
"tidak apa, kau melakukannya juga karena permintaanku"
"tetap saja..." tepisku canggung.
000
Dong Bae duduk di dalam mobilnya yang terparkir sempurna di depan sebuah Café megah di pusat kota Seoul. Nafas besarnya terhembus dan ia melirik kecil meja panjang di dalam Café yang di isi oleh wajah – wajah yang sangat di kenalinya, ia melepas sabuk pengamannya hendak turun dari mobil namun gerakannya terhenti. Matanya bergerak mengikuti seorang pria tinggi yang berjalan masuk ke dalam Café dengan tas kertas di tangannya, ia terdiam sejenak lalu mengusap wajahnya tidak tahu harus berbuat apa. Nafas besarnya kembali terhembus, membuatku membuka mulutku
"apa kau seputus asa itu?" tanyaku.
Dong Bae langsung menoleh kaget menatapku yang sudah duduk di kursi penumpang sebelahnya entah sejak kapan. Ia menatapku dari atas ke bawah dengan mata lebar lalu membuka mulutnya "hey!" panggilnya
"hmm"
"sejak kapan kau ada disini? Tidak… tidak… bagaimana kau bisa tahu aku disini?"
"sejak kau menghembuskan nafas besarmu setelah melihat pria itu masuk ke dalam, tidak… tidak… aku bisa mendegar suaramu dimanapun kau berada" jawabku menirukannya dalam satu tarikan nafas cepat.
Dong Bae melepaskan tawa kecilnya sambil menggeleng singkat, ia kembali menatap keluar jendela sejenak lalu kembali menoleh menatapku lurus "apa yang harus aku lakukan?" tanyanya. Aku mengangkat kedua bahuku singkat "kenapa kau tanya padaku?" timpalku balas bertanya
"maksudku apa kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu?"
"aku tidak seajaib itu meskipun aku ingin Jang Dong Bae –ssi" sahutku mematahkan harapannya.
Aku menatap lurus Jae Bin yang duduk di tengah – tengah kerumunan itu, nafas besarku terhembus begitu saja teringat akan apa yang aku lihat di Rumah Sakit tadi. Aku pun menunjuk kecil ke arah pria itu
"siapa dia?"
"yang mana?" tanya Dong Bae tidak mengerti.
Aku semakin mengulurkan tanganku menunjuk Jae Bin "pria tinggi dengan kaca mata yang membuatmu ragu itu" jelasku membuat Dong Bae berdeham canggung. Aku melirik Dong Bae yang terdiam sambil menggaruk lehernya canggung, membuatku menyimpulkan bahwa apa yang aku lihat itu benar. Aku pun melipat kedua tanganku di depan dada cepat
"kalau begitu jangan turun!" putusku cepat,
Dong Bae menoleh menatapk bingung "wae? Apa kau tahu sesuatu?" tanyanya penasaran.
Aku menggeleng cepat menyembunyikan penglihatanku tadi siang, membuat Dong Bae semakin penasaran dan memaksaku mengatakan apa yang aku ketahui "kau tahu sesuatu rupanya, katakan!" mintanya memaksa. Aku menggeleng semakin cepat membuat Dong Bae semakin memaksaku, mataku pun tanpa sengaja menagkap Chae Ri yang masuk ke dalam Café itu, membuatku menunjuk tajam
"Chae Ri datang!"
Dong Bae langsung menoleh menatap keluar jendela, membuatku langsung menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri secepat mungkin. Mata Dong Bae melebar melihat kursi penumpang yang kosong dalam hitungan detik setelah ia menoleh sejenak, ia melepaskan tawa kecil tidak percaya akan sikapku yang pengecut itu. Dering singkat terdengar dari ponselnya membuat Dong Bae mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya membaca pesan yang masuk itu
"aku sudah memberimu kode 'jangan turun' ingat itu!"
Tawa Dong Bae pecah semakin keras melihat peringatan kecilku itu, ia menutup ponselnya lalu menyalakan mobilnya pergi meninggalkan Café itu menuruti peringatanku. Ia berputar balik di jalan besar dan masuk ke daerah Rumah – Rumah, menghentikan mobilnya di depan Rumah bertuliskan NEOMA di atasnya.
000
Ga Bi berdiri menyambut tamu yang datang setelah mendengar dentingan kecil bell yang tergantung di atas pintu masuk, matanya melebar melihat Dong Bae yang datang
"Jang Hyeongsa, ada apa anda kemari?"
Dong Bae tersenyum canggung lalu melirik pintu kayu yang membatasi ruang tunggu dan Kuil, Ga Bi tersenyum kecil sambil mempersilahkan Dong Bae menemuiku di dalam Kuil sendiri.
Dong Bae membuka pintu kayu di hadapannya, matanya langsung melebar kecil melihat butiran cahaya indah yang mengambang memenuhi Kuil, matanya semakin melebar melihat rambutku yang menyala terang dalam kegelapan Kuil itu. Ia melangkah masuk pelan sambil melihat ke sekeliling heran lalu mengangkat tangannya menyentuh butiran sinar putih yang berjatuhan dalam Kuil. Aku yang merasakan energi Dong Bae ketika ia menyentuh butiran cahaya itu, membuka mataku lalu menghembuskan nafas pelan
"kau menuruti saranku rupanya" sahutku santai.
Dong Bae menoleh kaget lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana, ia duduk tak jauh di belakangku, mengangguk kecil sambil tersenyum miring "hmm" gumamnya. Aku melirik menatap bayangannya, luapan aura abu – abu terlihat samar dari ujung mataku membuat senyumku tersungging kecil. Aku kembali memejamkan mataku lalu mengatupkan kedua tanganku di depan dada, membuat rambutku kembali menghitam perlahan. Melihat itu, Dong Bae semakin melebarkan matanya takjub lalu mengulurkan tangannya hendak menyentuh rambutku. Aku berbalik cepat membuat gerakan Dong Bae terhenti dan mata kami langsung bertemu lurus, pria itu tampak menatap tangannya dan wajahku bergantian cepat lalu tertawa canggung sambil menarik tangannya perlahan. Aku melipat kedua tanganku di depan dada sambil memperbaiki posisi dudukku lebih nyaman, menatap Dong Ba dengan alis terangkat sebelah
"kenapa kau memilih untuk mengikuti saranku?"
"kau mengancamku, bagaimana aku tidak mengikutinya?" guraunya ringan.
Aku melepaskan tawa kecilku sambil mengalihkan tatapanku dari pria tampan di hadapanku itu, kami tertawa bersama sejenak sampai Ga Bi membuka pintu Kuil dan mengusir Dong Bae secara halus
"aku tahu kalian sedang akrab, tapi tamu pertama kita sudah datang" sahutnya santai.
Dong Bae tersenyum miring sambil menggaruk belakang kepalanya malu lalu beranjak dari tempatnya "kalau begitu aku tunggu di luar" pamitnya singkat.
Aku melebarkan mataku mendengar itu "kau tidak pulang?"
"apa kau mengusirku, Sajangnim?" tanyanya sakit hati.
Aku membuka mulutku hendak menimpali pertanyaan konyol itu, namun Ga Bi menyelaku lebih dulu "ya, aku mengusirmu, Dong Bae –ssi!"
Mata kami langsung berputar kompak menatap Ga Bi yang tersenyum lebar menatap Dong Bae lurus. Tatapan itu membuat Dong Bae memiringkan kepalanya dengan perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan "waahh… perasaan aneh apa ini? Aku merasa seperti orang asing sekarang" bisiknya canggung.
000
Jae Bin duduk tertunduk di hadapan Chae Ri yang menatapnya lurus, semua orang di sekeliling mereka tampak tertawa lepas sambil melempar canda satu sama lain, namun wajah mereka tidak menunjukkan kebahagiaan sama sekali. Setelah lama berkumpul, satu per satu orang di meja itu perlahan meninggalkan Café pulang ke Rumah mereka masing – masing, sampai tersisa Jae Bi dan Chae Ri yang duduk berhadapan di selimuti keheningan. Jae Bin menunduk memainkan jarinya canggung, sementara Chae Ri menatap gelas soju[4] di tangannya. Jae Bin memutuskan untuk beranjak dari kursinya cepat, namun Chae Ri menahan langkahnya
"lama tak jumpa" sapanya berat,
Jae Bin menoleh menatap wanita yang duduk tertunduk di hadapannya lalu merampas cepat gelas kecil di tangan wanita itu, menegak isinya sampai habis. Ia membanting gelas itu di meja lalu berbalik meninggalkan Chae Ri seorang diri disana.
Chae Ri keluar dari Café dengan langkah terhuyung mabuk, ia berjalan tak tentu arah sambil memijat kecil kepalanya yang terasa sakit akibat pengaruh alkohol. Tiba – tiba sebuah taksi berhenti tepat di belakangnya lalu supir taksi itu turun dan menuntun Chae Ri masuk ke dalam taksinya. Setelah mengantarkan Chae Ri pulang sampai ke Rumahnya, supir itu pergi dan berhenti di ujung kompleks rumah wanita itu. Jae Bin membuka kaca mobilnya membayar taksi yang Chae Ri naiki sambil mengucapkan rasa terima kasihnya atas bantuan supir itu. Tiba – tiba ponselnya berdering singkat dan ia melihat nama yang tertera di layar, Jae Bin mengetuk ponselnya membuka pesan yang masuk dari Dong Bae
"maaf aku tidak bisa hadir malam ini, aku harus lembur mendadak" tulisanya pada ruang obrolan.
Jae Bin menggerakkan jarinya hendak membalas pesan itu "apa kau sengaja untuk menghindar dariku?" namun ia mengurungkan niatnya, dan menghapus pesan itu cepat. Ia menghembuskan nafas panjang dari mulutnya sambil memijat kecil keningnya pelan, setelah terdiam sejenak, Jae Bin kembali menyalakan mobilnya lalu pergi meninggalkan kompleks.
***
[1] Panggilan kepada orang yang memiliki profesi yang di anggap lebih tinggi seperti guru, dokter, dan lainnya.
[2] Tidak dalam bahasa tidak formal.
[3] Maaf dalam bahasa tidak formal
[4] Minuman beralkohol khas Korea Selatan.