I'M A Witch

I'M A Witch
PERTANYAAN



Kaki Dong Bae melangkah lemas di koridor Rumah Sakit setelah melihat ibunya yang terbaring lemah di ruang ICU. Nafas beratnya kembali terhembus mengingat perkataan dokter yang pesimis akan kondisi ibunya yang semakin memburuk, ia pun duduk tertunduk dalam di kursi tunggu sambil memijat kecil keningnya putus asa. Dong Bae terdiam hanyut dalam lamunannya sampai dering ponselnya terdengar keras, ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana melihat nama Chae Ri yang tertera di layar, nafas besarnya kembali terhembus dan ia menunduk dalam mengabaikan panggilan itu. Setelah beberapa saat, dering ponselnya terhenti begitu saja dan ia berdiri dari kursinya hendak meninggalkan Rumah Sakit, namun suara lembut seorang wanita terdengar menahan langkahnya. Ia menoleh menatap seorang Nenek yang duduk seorang diri dengan baju pasien dan syal rajutan merah muda terkalung rapi menutupi lehernya, suara Nenek itu sanggat halus tidak terdengar seperti suara Nenek yang sudah sangat tua


"anak muda, apa kau butuh bantuan?" tanya Nenek itu.


Dong Bae menoleh ke sekeliling ruang duduk melihat tidak ada siapapun disana selian dirinya dan Nenek tua itu, ia memiringkan kepalanya bingung "apa anda bertanya pada saya?" tanyanya sopan.


Nenek itu hanya tesenyum kecil lalu membuka mulutnya mengabaikan pertanyaan Dong Bae "aku pernah mendengar di daerah rumahku ada salah satu rumah yang bisa mengabulkan permintaanmu, tapi setelah kamu mengunjunginya sekali kamu tidak dapat mengunjunginya lagi" ceritanya antusias.


Cerita itu pun menarik perhatian Dong Bae dan ia perlahan duduk kembali di kursinya mendengarkan rumor itu lebih lanjut, seorang ia pun membuka mulutnya penasaran


"benarkah? Bagaimana bisa begitu? Apa mereka tidak salah?"


"aku selalu lewat di depan rumah itu setiap pagi, tapi tidak ada orang, ketika menjelang sore seorang wanita muda akan datang kesana dan mereka dan memulai ritualnya" lanjutnya.


Nenek yang memulai cerita itu pun kembali menegangkan suasana "ada saja yang mengunungi tempat itu setiap malam, tapi setiap bulan baru tempat itu selalu tutup" lanjutnya, ia melambai kecil membuat Dong Bae yang mendengarkannya mencondongkan tubuhnya lebih dekat "aku dengar tempat itu berhantu, jadi wanita yang datang kesana setiap sore itu bisa melihat hantu" bisiknya. Bisikan kecil dan ekspresi ketakutan semakin jelas dari wajah pria yang mendengar cerita itu, namun itu tidak mempengaruhi rasa ingin tahu dan putus asanya. Ia menatap nenek itu lalu menunduk sopan


"maaf Halmeoni[1]apa bisa anda katakan apa nama tempat itu?" tanyanya yakin.


Ekspresi senang terlihat di wajah nenek itu, senyum puasnya mengembang dan sorot matanya menjam mendengar pertanyaan Dong Bae itu, namun ia berusaha mengendalikan ekspresinya lalu membuka mulutnya cepat


"NEOMA" jawabnya singkat.


000


Ga Bi berdiri dari kursinya mendengar dentingan bell kecil yang tergantung di atas pintu masuk, senyumnya mengembang menyambut kedatangan Dong Bae sebagai tamu pertama malam itu. Dong Bae masuk dengan langkah canggung sambil menatap ke sekeliling dengan perasaan asing dan canggung, ia menatap Ga Bi lurus lalu menggaruk belakang kepalanya bingung. Ga Bi pun membungkuk sopan menyapanya cepat


"annyeonghaseyo[2] saya Ga Bi, bisa katakan siapa nama anda?" tanyanya seperti biasa


"nama saya Dong Bae, Jang Dong Bae…" jawabnya canggung.


000


Aku memungut lilin besar yang terguling di tanah lalu meletakkannya pada barisan di hadapanku, aku mengambil korek lalu menggesek batangnya cepat membuat kobaran api kecil menyinari Kuil remang tempatku berdiri. Aku menyalakan lilin – lilin di hadapanku satu per satu pelan, tiba – tiba suara pintu terdengar di telingaku membuat gerakanku terhenti cepat. Mataku melirik kecil menunjukkan bayangan seseorang dari sudut mataku, bayangan tidak familiar itu pun membuat rasa waspadaku tersulut dan aku membalikkan badanku cepat dengan lilin tanganku. Api lilin di tanganku menyinari wajah sosok itu, menunjukkan setiap lekukan wajahnya dengan jelas. Mata pria itu melebar kaget, membuatku melebarkan mataku melihat sosok pria asing yang tanpa sengaja ku temui beberapa waktu yang lalu. Aku menjatuhkan lilin di tanganku begitu saja membuat kobaran api perlahan menjalari seluruh Kuil dan mulai melahap Kuil itu dalam hitungan detik, mata pria itu tidak berputar dan ketakutan sama sekali tak tampak dalam wajahnya. Mataku menyipit melihat pria itu tidak menunjukkan reaksi yang aku inginkan, aku melangkahkan kakiku menginjak api yang menyala di hadapanku mendekat pada pria itu lalu mengulurkan tanganku hendak menutup mata pria itu perlahan.


Dong Bae melihat tanganku yang perlahan terulur ke arahnya itu pun mengangkat tangannya cepat mencengkram kuat lenganku, membuat mataku melebar kaget akan gerakan cepatnya itu. Ia menyunggingkan senyum miring di ujung bibirnya


"kau bukan manusia rupanya" sahutnya pelan.


Kobaran api yang melahap Kuil itu perlahan memadam dan hilang begitu saja, namun Kuil itu tampak baik – baik saja seperti tidak terjadi apapun sebelumnya. Aku memutar tanganku cepat menggenggam tangannya kuat kembali membuktikan bahwa kejadian hari itu adalah kesalahan kecil namun usahaku sia – sia, kejadian itu adalah kenyataan.


Ga Bi berlari panik masuk ke dalam Kuil cepat, langkahnya terhenti menatapku sedang mencengkeram erat tangan pria asing itu dengan mata tajam kami yang saling menatap satu sama lain. Ga Bi langsung berlari ke antara kami melepaskan cengkeramanku lalu mengulurkan tangannya hendak menutup mata Dong Bae, namun gerakannya terhenti mendengar suara pria itu


"makhluk apa kau?" tahannya,


Ga Bi pun menurunkan tangannya menatap pria yang mengarahkan matanya lurus ke arahku, Ga Bi berpaling menatapku lurus yang masih mengunci pandanganku pada pria asing itu, aku pun membuka mulutku cepat


"kau juga makhluk apa? Apa Hana yang mengirimmu kemari?" timpalku.


Pertanyaanku membuat Ga Bi menatap kami bergantian bingung, tidak tahu apa yang harus ia lakukan di tengah kami.


***


[1] Nenek.


[2] Sapaan "Hallo" dalam bahasa formal.