
Langkah kakiku terdengar kecil menyusuri lorong Rumah Sakit yang ramai, aku terus mengarakan mataku ke depan tanpa mempedulikan suara – suara yang terus terdengar di telingaku.
Kakiku akhirnya berhenti pada kamar VIP di ujung Lorong, dengan tulisan pasien: Bang Ha Rim. Aku langsung menggeser pintu Kamar itu perlahan, meletakkan karangan bunga yang ku bawa di meja kecil samping ranjang pasien, lalu menatap lurus wanita tua yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Mataku memutar ke arah tangan keriputnya membuat rasa ingin tahuku semakin membesar, aku pun mengulurkan tangan kananku perlahan berusaha tidak menibulkan suara sedikitpun namun mulut Ha Rim terbuka tiba - tiba mengeluarkan suara seraknya "jangan coba mengintip!" Sahutnya memperingatkan.
Aku langsung berdeham kecil, menarik tanganku perlahan canggung tertangkap basah. Ha Rim membuka matanya perlahan lalu tertawa kecil "meskipun jantungku sudah tidak berfungsi dengan baik, tapi pendengaranku masih sangat baik, bagaimana kabarmu?" Tanyanya santai. Aku berdeham kecil sambil menyisir rambut panjangku ke belakang lalu duduk di kursi samping ranjang, aku menyunggingkan senyum kecil di ujung bibirku sambil mengangguk kecil "hmm… aku baik," jawabku singkat. Aku melipat tanganku di depan dada sambil memangku satu kakiku "bagaimana perasaanmu?" Tanyaku canggung.
Senyum cerah tersungging di ujung bibir wanita itu, meskipun sorot matanya sayu dan nafasnya terdengar berat, senyum itu sangat indah membuat semua orang yang melihatnya merasa tenang. Ha Rim menggerakkan tubuhnya berusaha duduk tegap lalu mengangguk kecil
"aku baik, segalanya terasa baik membuatku tidak merasa takut sedikitpun," jawabnya tenang.
Senyum canggung tersungging di ujung bibirku, aku menunduk kecil terdiam hanyut dalam perasaan anehku.
Ha Rim menolehkan kepalanya berusaha menatapku lurus, ia mengulurkan tangannya menepuk kecil pipiku membuatku langsung memutar mataku lurus menatapnya. Senyumnya semakin merekah dan ia membuka mulutnya "seharusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana perasaanmu?" Balasnya bertanya.
Aku memalingkan pandanganku darinya sejenak, lalu memaksakan senyum kecilku "aku baik - baik saja," jawabku berbohong.
Ha Rim menghela nafas berat singkat lalu menepuk kecil pipiku lagi "jangan berbohong padaku, aku sudah mengenalmu sejak aku lahir Wol..." tepisnya lembut. Ha Rim tersenyum kecil lalu menepuk pundakku pelan "kau sudah hidup dengan baik, aku yakin kau tidak akan merasakan sakit sepertiku jika hari itu tiba. Kau juga tidak perlu takut, Ga Bi akan bersamamu jika itu tidak cukup aku akan menyuruh Do Suk menemanimu juga!" Ucapnya penuh kasih sayang.
Mataku terus menatap mata sayu di hadapanku lurus, tangan keriputnya yang terulur kembali menepuk pipiku memberikan penghiburan kecil bagiku. Aku pun mengangguk kecil membuat senyum kecil tersungging di bibir Ha Rim cepat, ia menarik tangannya dari pipiku lalu membuka laci di bawah meja kecil di samping ranjangnya. Tangannya mengeluarkan syal rajutan berwarna merah terang lalu menyodorkannya padaku, aku menerima syal itu sambil menatap Ha Rim bingung.
"Hadiahku untukmu, aku berpikir apa yang harus aku berikan karena kau telah memiliki segalanya, tapi setelah menjalani sebagian hidupku denganmu aku menyadari ini yang kau butuhkan jadi aku merajutnya untukmu," jelasnya.
Aku mengerutkan keningku bingung dengan maksud perkataan Ha Rim, apa yang aku butuhkan? Aku bahkan tidak tahu apa itu. Mulutku pun terbuka menyampaikan rasa ingin tahuku "apa yang aku butuhkan?" Tanyaku sambil menatap lurus syal merah di tanganku. Ha Rim tertawa kecil mendengar pertanyaanku itu, ia mengambil syal itu lalu mengalungkannya di leherku
"aku yakin kau akan mendapatkan jawabannya!" Timpalnya membuatku semakin bingung.
000
Aku menutup pintu di belakangku, melangkahkan kakiku pelan dengan pandangan kosong memikirkan maksud perkataan Ha Rim tadi. Nafas besar terhembus dari mulutku begitu saja, membuatku mempercepat langkahku berusaha melupakan teka – teki ini sejenak.
Dua pria yang mengejar pria bertopi Hitam itu terus berteriak, membuat semua orang menyingkir dari jalan mereka semakin dekat ke arahku.
Aku memutar mataku sambil menghembuskan nafas kecil 'tidak hari ini!' Putusku dalam hati.
Aku memalingkan wajahku sambil menutupi hidung dan bibirku lembut dengan syal yang terkalung di leherku, tidak peduli dengan keributan itu. Aku melangkahkan kakiku menyeberangi jalan cepat, berusaha tidak menatap pria yang datang dari arah berlawanan itu.
Pria dengan topi Hitam itu menabrak bahu kiriku cepat, membuat langkahku terhuyung, dan tubuhku kehilangan keseimbangan. Namun, tangan seseorang meraih tanganku cepat lalu menarikku kuat, sementara aku menutup mataku rapat bersiap – siap akan masa depan apa yang akan aku lihat kali ini. Tangan seseorang itu mencengkram erat tanganku, lalu sebelah tangannya terasa melingkar di pinggangku menahan keseimbanganku, menarikku masuk ke dalam pelukannya.
Nafas berat terdengar cepat di telingaku, membuatku membuka mataku perlahan. Aku menoleh cepat, membuat mataku melebar menangkap rahang tegas seorang pria yang menopang tubuhku kuat. Pria itu menunduk ke arahku cemas sambil melepaskan pegangannya dari pinggangku canggung, menarik tubuhnya cepat.
"Apa anda baik – baik saja, Nona?" Tanyanya.
Mataku melebar cepat dan aku mengalihkan pandanganku pada tangannya yang mencengkram tangan kananku erat, hal yang muncul di kepalaku 'ada apa ini? Kenapa aku tidak melihat apa – apa?' Tanyaku dalam hati.
Pria itu menarik tangannya perlahan hendak melepaskan genggamannya dariku, membuatku bergerak cepat meraih tangan pria itu lagi memastikan bahwa ini benar. Aku semakin erat mencengkram tangan pria asing itu, membuatnya menoleh dengan mata melebar kaget menatap wajahku, dan tanganku yang menggenggam tangannya erat bergantian.
Mataku semakin melebar mengetahui bahwa aku tidak melihat apapun dari pria itu, aku tidak melihat masa depannya. Mata kami bertemu lurus dan pria itu melambai kecil di depan mataku.
"Nona, apa anda baik - baik saja?" Tanyanya canggung.
Aku hanya terdiam menatapnya hanyut dalam pikiranku yang penuh pertanyaan, pria itu mengalihkan padangannya sejenak pada buronannya tadi, lalu kembali menatapku lurus "Nona, jika anda tidak apa - apa bisa lepaskan tanganku?" Mintanya sopan. Mata pria itu kembali mengicar buronannya yang semakin jauh sejenak, lalu kembali menatapku cemas.
Aku hanya terdiam hanyut dalam pikiranku, baru pertama kalinya ini terjadi setelah aku menghabiskan Ribuan tahun di dunia ini. Otakku terus berputar keras mencari jawabannya, meskipun aku tahu seberapa keras aku berusaha menemukannya dalam kepalaku, jawaban itu tidak pernah aku temukan.
Aku pun hanya terpaku menatap pria misterius itu sambil meyakinkan diriku bahwa aku benar - benar tidak bisa melihat masa depannya. Namun, aku mendapatkan pertanyaan yang menjadi teka – teki penting untuk di pecahkan lebih dulu saat ini. Apakah aku yang tidak melihat masa depannya? Atau masa depannya yang tidak terlihat? Aku tidak tahu pilihan mana yang benar atau mungkin kedua pilihan ini salah.
***