I'M A Witch

I'M A Witch
KETAKUTAN



Air mataku mengalir begitu saja melihat Ha Rim menatapku dengan senyum tulus di bibirnya, senyum itu seakan memberi tahuku bahwa ia siap menghadapi semuanya dan senyum itu sangat menyakitkan hatiku. Perasaan yang tidak pernah aku rasakan lagi selama ini kini kembali aku rasakan. Tangan Ha Rim yang bebas bergerak terulur ke arahku, ia mengusap lembut air mataku dengan senyum teduh yang menghiasi bibirnya


“aku baik – baik saja” ucapnya pelan.


Air mataku mengalir semakin deras mendengar kebohongan dari kata – kata manis Ha Rim, aku menggeleng kecil sambil melepaskan tangannya pelan. Ha Rim terus menatapku lurus lalu mengangkat daguku mengarakan wajahku padaku lurus


“kau harus mengabulkan keinginan terkahirku seusai janjimu, Sajangnim” tagihnya,


aku menggeleng semain kalut mendengar kata perpisahan yang menyakitkan itu “tidak, aku tidak mau” tolakku cepat.


Ha Rim mengusap air mataku lembut lalu menepuk pipiku pelan, ia berbalik mengeluarkan cincin hitam dengan lubang bulat di tengahnya dari laci samping tempat tidurnya, lalu meletakkan cincin itu di tanganku. Ia melipat jariku menggenggam cincin itu erat


“perjanjiannya seperti itu Wol –ah” tepisnya tenang.


Ha Rim menarikku dalam pelukanaya erat sambil mengusap lembut penggungku “jangan lemah, aku yakin kau akan mendapatkan seseorang yang akan selalu bersamamu seperti aku, Ga Bi, dan Do Suk” sahutnya tenang. Aku pun memeluk Ha Rim erat mencurahkan perasaanku yang tidak dapat aku sampaikan padanya selama ini, aku memeluknya erat menebus rasa bersalah yang tidak dapat aku katakan di dalam hatiku.


000


Nenek tua yang sejak tadi berdiri menatap adegan mengharukan di balik pintu Kamar Ha Rim itu membalikkan badannya, lalu pergi meninggalkan kamar itu dengan langkah pelan dan kedua tangan telipat di belakang. Senyum kecilnya mengembang perlahan seiring air mata yang menetes dari ujung matanya, tangan keriputnya bergerak kecil mengusap air mata di pipinya seiring langkahnya yang semakin menjauh dari Kamar Ha Rim.


000


Aku terdiam menatap cincin Ha Rim yang tergeletak di atas meja kaca kamarku, tiba – tiba ketukan pintu kamarku terdengar pelan membuatku tersadar dari lamunanku. Aku menyembunyikan cincin itu cepat, lalu berdiri membuka pintu kamarku cepat. Ga Bi berdiri dengan senyum kecil


“saatnya berangkat” ucapnya mengingatkan.


Aku pun mengangguk kecil “baiklah, aku akan bersiap dulu” jawbaku canggung lalu menutup pintu kamarku cepat.


Menyembunyikan sesuatu yang penting dari orang lain sangatlah menyebalkan, perasaanku tidak tenang setiap kali menatap Ga Bi setelah melihat masa depan Ha Rim. Aku juga tidak tahu bagaimana cara memberi tahunya tentang ini, itu semakin membuat perasaanku tidak tenang.


Tanganku bergerak menyalakan lilin – lilin di meja Kuil sambil memikirkan perosalan berat ini, meskipun aku sudah menghadapinya berulang kali setiap keturunan, tapi tetap saja ini berat bagiku. Tiba – tiba suara Ga Bi terdengar samar di telingaku, aku menoleh kecil mendengar percakapannya dengan suara familiar dari telfon. Suara tawa kecil seorang pria terdegar menanggapi perkataan Ga Bi, aku pun mengarahkan konsentrasiku pada pembicaraan itu “Yoon Jae Bin?” panggilku menebak. Setelah pembicaraan singkat keduanya, Ga Bi mematikan sambungan telfonnya lalu bangkit dari kursinya, aku pun berbalik cepat kembali menyalakan lilin berpura – pura tidak mendengar pembicaraan itu. Ga Bi membuka pintu Kuil cepat lalu masuk menghampiriku pelan


“Sajangnim, besok kan bulan baru” bukanya mencurigakan,


aku menoleh perlahan dengan alis berkerut “lalu?” tanyaku pura – pura tidak tahu.


“apa orang yang kau maksud Yoon Jae Bin?” tanyaku memastikan.


Ga Bi mengangguk kecil “hmm…” gumamnya singkat. Aku meletakkan lilin di tanganku perlahan lalu membalikkan badanku menghadap Ga Bi lurus “ada yang ingin aku tanyakan padamu, masuklah sembentar” mintaku membuat suasana tenang yang menyemilmuti kami menjadi serius dalam hitungan detik.


000


Kami duduk berhadapan diam di dalam Kuil sampai aku membuka mulutku menyampaikan hal yang mengganggu hatiku sejak tadi


“aku melihat seseorang mengajakmu bicara beberapa hari lalu…” bukaku terhenti ragu.


Ga Bi langsung memutar matanya berpikir keras tentang sosok seseorang yang aku maksud ini, ia memiringkan kepalanya dengan telunjuk di depan dagunya “aku tidak mengerti siapa yang Sajangnim maksud” bisiknya kebingungan. Aku pun mengangguk kecil lalu membuka mulutku menjelaskan ciri – ciri wanita muda yang aku lihat hari itu, wanita itu terasa sangat familiar bagiku dan entah kenapa dia terasa sangat akrab denganku. Ga Bi pun teringat akan wanita muda yang aku maksud hari itu, ia membuka mulutnya hampa sambil menjentikkan jarinya kecil


“aaahhh… wanita itu!!!” sahutnya.


Aku mengangguk kuat melihat Ga Bi tampak mengingat wanita itu “hmm, apa kau ingat apa yang ia katakan padamu?” tanyaku ingin tahu.


Ga Bi melipat tangannya di depan dada dan wajahnya menjadi sangat curiga mengingat kejadian beberapa hari yang lalu itu, ia menggeleng kecil sambil membuka mulutnya “tidak ada yang penting dari kejadian itu, aku merasa wanita itu sangat aneh” bukanya. Aku menaikan alisku sejenak “aneh katamu?” tanyaku semakin penasaran. Ga Bi mengangguk cepat lalu menceritakan apa yang di katakan wanita misterius itu padanya


“wanita itu hanya menyapaku sopan lalu berkata padaku bahwa hari itu aku akan bertemu seseorang yang tepat untukku, bukankah itu aneh? Seakan dia telah melihat masa depanku, apa Sajangnim juga melihat


hal yang sama?” tanyanya ingin tahu.


Pikiranku hanyut akan cerita Ga Bi yang sangat aneh itu, aku pun mulai menghubungkannya dengan kejadian – kejadian hari itu. Tamu misterius itu datang di hari pertemuan pertama Ga Bi dan Jae Bin, hubungan keduanya pun semakin dekat hingga saat itu. Semua yang di katakan wanita itu benar adanya, pertanyaan yang tersisa adalah siapa wanita itu? Aku mulai memainkan kuku tanganku cemas melihat jawaban yang muncul di kepalaku begitu saja. Aura kuning samar pun mulai meluap tipis dari tubuhku, Ga Bi yang melihatku memainkan kuku tanganku mengulurkan tangannya cepat menepuk bahuku


“apa sesuatu terjadi karena wanita itu?” tanyanya hati – hati.


Aku menghembuskan nafas panjang sambil menggeleng kecil “sementara ini hanya kecurigaanku saja, aku belum bisa memastikannya” jawabku tidak yakin. Ga Bi menatapku lurus mengharapkan penjelasan yang lebih dariku, aku pun menggeleng cepat “tidak” tolakku lagi. Ga Bi pun menghela nafas berat lalu mengangguk kecil dengan rasa kecewa tergambar jelas di wajahnya “baiklah, aku tidak bisa memakasa Sajangnim” putusnya.


Aku tahu apa yang aku takutkan ini akan kembali cepat atau lambat, namun kedatangannya yang tiba – tiba ini tidak pernah menjadi hal yang aku harapkan sama sekali. Ketakutan ini membuatku bertanya – tanya apa kali ini aku kembali di permainkan oleh sesuatu yang lebih berkuasa dariku? Tidak, lebih tepatnya


bukan sesuatu, tapi seseorang.


***