I'M A Witch

I'M A Witch
MERAH MUDA



Dong Bae berdiri dengan senyum puas di depan atasannya. Ia sangat bahagia sampai tidak dapat menyembunyikan senyum lebarnya sama sekali. Hari yang di tunggunya pun kini tiba, ia dengan bangga menjalani prosesi kenaikan jabatannya setelah berhasil menyelesaikan kasus pembunuhan Ji Hoo minggu lalu. Dong Bae mengeluarkan ponselnya lalu membuka daftar kontak, jarinya terhenti ragu sejenak. Ia mengetuk layar ponselnya cepat lalu menempelkan ponselnya ke telinga menunggu nada panggil yang berdering.


000


Aku menghentikan gerakanku merasakan getaran kecil dari kantong celanaku, aku mengeluarkan ponselku cepat melihat nama “dia yang tidak terlihat” tertera di layar. Keningku berkerut kecil melihat Dong Bae yang menghubungiku di Siang bolong seperti ini, aku tidak terbiasa dengan kehidupan baruku. Aku tidak biasa memiliki seseorang yang emnghubungiku di Siang hari hari seperti ini. Ha Rim yang menatapku terdiam melihat ponselku bingung membuka mulutnya memecah pikiranku


“kenapa tidak di angkat? Apa nomor yang tidak di kenal?” tanyanya.


Aku langsung mengangkat pandanganku menatap Ha Rim lurus lalu melepaskan tawa kecil, aku menggaruk canggung dahiku pelan “bukan, perasaanku aneh melihat ada seseorang yang menghubungiku siang – siang seperti ini” jawabku gugup. Ha Rim tertawa kecil mendengar isi hatiku barusan, ia menggeleng kecil lalu kembali membereskan barang – barangnya “angkatlah, dia pasti ingin menyampaikan sesuatu padamu” sahutnya santai. Aku pun menyunggingkan senyum pendek lalu mengetuk pelan layar ponselku dan menempelkannya cepat ke telinga sambil berjalan keluar dari Kamar Ha Rim.


Aku bersadar di tembok santai membuka mulutku cepat “ada apa?” tanyaku tanpa berbasa – basi, tawa kecil terdengar dari seberang telfon “SAANGNIMMM!!!!” panggilnya girang membuat keningku berkerut curiga. Aku menjauhkan ponselku dari telinga melihat jam di layar ponselku yang menunjukkan pukul Satu Siang, aku kembali menempelkan ponselku


“hey, ini masih siang, apa kau sudah mabuk?” tanyaku.


Tawa Dong Bae pecah semakin keras mendengar pertanyaanku barusan “tidak” jawabnya singkat


“lalu?”


“ayo, makan siang denganku sekarang! Aku akan mentraktirmu makanan enak” ajaknya.


Kerutan di keningku semakin dalam mendengar penawaran mencurigakan itu, aku pun langsung membuka mulutku cepat mencurhkan rasa curigaku “hey, masalah apa yang kau buat kali ini? Sikap baik yang berlebihan ini membuatku takut” timpalku. Hembusan nafas kesal terdengar keluar dari mulut Dong Bae cepat


“eeihhh…” protesnya tidak terima, “ini penawaranku yang paling tulus, aku benar – benar berterima kasih padamu” tepisnya.


Aku melepaskan tawa kecil mendengar kata – kata manis itu “baiklah” putusku mengalah, “dimana kita akan bertemu?” tanyaku menyetujui ajakkannya.


Dong Bae terdengar bersorak puas mendengar keputusanku “aku akan menjemputmu, dimana kau saat ini?” tanyanya.


Aku membuka mulutku hampa ragu, aku menoleh kecil ke dalam ruangan Ha Rim lalu menggaruk kecil kepalaku bingung “tidak perlu, aku pergi sendiri saja” tolakku canggung. Gumaman bingung terdengar dari mulut Dong Bae


“memangnya kenapa? Apa kau ada janji?” tanyanya ingin tahu


“aku sedang menjemput Ha Rim di Rumah Sakit” jelasku singkat.


Dong Bae yang teringat akan hari ini pun membuka mulutnya “ahhh…” sahutnya “benar juga, hari ini Halmoni keluar dari Rumah Sakit!” lanjutnya cepat.


Aku mengangguk kecil “hmm” gumamku singkat, aku kembali menoleh sejenak “aku tidak tega meninggalkannya” lanjutku.


Dong Bae terdiam sejenak mendengar perkataanku lalu melepaskan tawa kecil “aku tahu kau orang yang baik” ucapnya tiba – tiba. Mataku melebar kecil mendengar kata – kata manis itu, tanpa aku sadari aura merah muda telah meluap tipis dari tubuhku. Aku terdiam hanyut dalam perasaan menggelitik yang menyerang hatiku secara tiba – tiba itu


“kalau begitu tunggu aku, aku akan menjemput kalian” putusnya cepat.


Aku yang masih hanyut dalam perasaan aneh itu terdiam di tempatku sampai Dong Bae membuyarkan


lamunanku “Sajangnim? Sajangnim?” panggilnya. Aku pun mengedipkan mataku beberapa kali, berdeham canggung berusaha mengendalikan diriku


Dong Bae tertawa kecil “baiklah, tunggu aku kalau begitu, sampai nanti!” timplanya ceria lalu menutup telfonnya cepat.


Aku menurunkan tanganku dengan tatapan kosong, lalu memijat kecil keningku sambil menghembuskan nafas besar dari mulutku. Gerakanku terhenti melihat aura Merah Muda yang telah meluap dari tubuhku entah sejak kapan, aku menjauhkan tanganku memastikan aura yang ku lihat itu dengan benar. Mataku melebar kaget melihat aura Merah Muda yang benar – benar meluap keluar dari tubuhku, aku membolak – balik tanganku cepat “aku sudah gila” bisikku panik. Aku pun mengusap kedua tanganku cepat berusaha


menghilangkan aura itu, meskipun usahaku sia – sia. Ha Rim yang sejak tadi sudah menatapku sambil bersandar di palang pintu membuka mulutnya


“apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyanya sambil menatapku licik.


Aku menarik diriku dengan mata melebar kaget, aku pun menghembuskan nafas panjang sambil menutup mataku rapat “hey… kau mengagetkanku…” bisikku.


Ha Rim melipat kedua tangannya di depan dada lalu menggerakkan dagunya dengan senyum licik tersungging lebar di bibirnya. Aku pun melirik kecil melihat luapan aura Merah Muda yang masih meluap tipis dari tubuhku, aku memutar mataku sambil berdeham canggung menutup mulutku rapat. Aku langsung berjalan cepat melewati Ha Rim masuk ke dalam Kamar menghindari pertanyaan yang akan keluar dari mulutnya, Ha Rim hanya melepaskan tawa geli melihat sikap tidak biasaku ini, ia pun berbalik masuk kembali membereskan barangnya.


000


Mobil Dong Bae melanju mulus menyusuri jalan menuju Rumah Sakit, senyum kecil tak berhenti tersungging di ujung bibirnya. Hari ini adalah salah satu hari yang paling sempurna dalam hidupnya, dan ia berharap hari ini akan tetap menjadi hari yang membahagiakan baginya.


Senyumnya kembali mengembang melihatku dan Ha Rim yang berdiri di depan pintu utama menunggu kedatangannya, ia menggerakkan tangannya lihai memutar roda kemudi, menghentikan mobilnya


sempurna di depan kami. Pria itu turun dengan senyum hangat menatap kami lalu membungkuk sopan di hadapan Ha Rim


“lama tak jumpa, aku ikut senang Halmoni sudah lebih sehat sekarang” sapanya hangat.


Ha Rim yang senang akan sikap manis itu tersenyum kecil lalu menepuk pelan bahu Dong Bae “senang bertemu dengan Jang Hyeongsa lagi, terima kasih sudah menjemput kami” balasnya menyapa hangat. Dong Bae mengulurkan tangannya mengambil barang – barang Ha Rim lalu memasukkannya ke bagasi, ia tersenyum kecil “masuklah, Halmoni pasti lelah berdiri sejak tadi” sahutnya cepat di sambut tawa kecil Ha Rim.


Aku bersandar di samping mobil menatap Dong Bae yang tampak berbeda hari ini, aku memiringkan kepalaku curiga


“hey!” panggilku.


Dong Bae yang sibuk menata barang – barang Ha Rim di bagasi hanya menaikkan alisnya tanpa menoleh menatapku “hmm” gumamnya singkat, aku melipat kedua tanganku di depan dada “ada apa denganmu hari ini? Kau sangat mencurigakan” tanyaku terganggu.


Dong Bae hanya melepaskan tawanya lalu menutup bagasi mobilnya setelah selesai


menatap barang Ha Rim, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana


santai sambil memutar matanya berpikir kecil


“hmm, hari ini adalah salah satu hari yang membahagiakan untukku, aku teringat hari ini tidak akan terjadi jika kau tidak membantuku jadi aku ingin menepati janjiku padamu” jelasnya semakin membuatku bingung.


Kerutan di keningku semakin dalam mendengar penjelasan itu, Dong Bae hanya tertawa kecil lalu berjalan melewatiku masuk ke dalam mobil. Aku pun hanya melangkahkan kakiku masuk ke dalam mobil, sambil berpikir keras maksud perkataan Dong Bae barusan.


***