I'M A Witch

I'M A Witch
PROLOG



    Kami hanya saling menatap diam saat itu, air mata menetes deras dari pelupuk matanya. Aku sadar aku menyakitinya saat kata "maafkan aku," keluar dari mulutku. Aku tidak punya kata - kata lain yang bisa aku katakan padanya saat itu.


    Ia menundukkan kepalanya sambil mengacak kesal rambut hitamnya yang tertata rapi "BUKAN ITU YANG INGIN AKU DENGAR DARIMU!" Bentakknya tidak terima akan permintaan maafku.


    Kami terdiam di tengah kecanggungan dingin yang menyelimuti kami, aku tidak dapat mengatakan apapun padanya selain permintaan maaf yang tidak berguna itu. Aku tidak dapat menahannya karena aku tahu aku telah menyakitinya, meskipun hatiku lebih sakit saat aku menyadari aku telah menyakitinya.


***


Isi hati Seo Wol:


    Aku menatap mata yang terarah lurus padaku hari itu, sorot mata itu berbeda membuatku seakan masuk ke dalam dunianya. Aku tidak melihat apapun saat mata itu menatapku lurus, aku hanya melihat ke kosongan yang besar.


    Bibir merah itu terbuka perlahan menanyakan pertanyaan yang tidak dapat aku jawab, aku mulai meneteskan air mata penuh rasa putus asa sambil menggeleng cepat meluapkan perasaanku. Setelah aku menjalani semuanya dengan kekosongan dan rasa sepi, kehadiranmu membuat keserakahanku kembali menyerang. Di sisa waktuku ini aku mulai memiliki keinginan, aku mulai memiliki harapan.


    Aku bahagia, sangat bahagia. Namun, dalam satu tatapan mata, kenyataan kembali menamparku. Kenyataan menunjukkan pilihan yang sangat aku takutkan, sampai aku kembali bertanya "kenapa aku tidak bisa mengabulkan permohonanku sendiri?" Jawaban atas pertanyaan itu adalah penyesalan.


    Aku menyesal karena aku bahagia saat aku menerimanya masuk ke dalam hidupku.


000


Isi Hati Dong Bae:


    Aku berterima kasih pada takdir yang telah mempertemukanku dengannya. Aku bahagia karena kini aku tidak hidup dalam kesepian yang menyesakkan dadaku, aku bahagia menata mata indahnya di bawah sinar Bulan di setiap malam yang kami lewati bersama. Namun, aku mengetahui bahwa kebahagiaan yang berasal dari takdir ini hanyalah kebohongan manis sesaat. Aku membuka mulutku menanyakan padanya pertanyaan yang paling menakutkan dalam hidupku.


    Mata indah itu mulai meneteskan air mata semakin deras menatapku lurus, membuat hatiku membeku dalam hitungan detik. Aku tidak menerima kenyataan ini, aku tidak menerima takdir yang sesungguhnya ini. Aku memberontak dan melampiaskan semua penyesalan itu padanya.


    Aku melukainya yang sudah terluka karena keputus asaannya sendiri.


000


Isi hati Ga Bi:


    Aku terjebak di antara keraguan, apa kau tidak melihatku sama sekali? Atau kau hanya berpura - pura tidak melihatku? Aku berjanji aku akan melakukan yang terbaik jika kau memberikan aku kesempatan. Jika yang terbaik dari padaku tidak cukup untukmu apa yang harus aku berikan untukmu? Aku menjadi serakah, aku sangat menginginkanmu. Aku tidak menyangka cinta akan sebuta ini mengendalikan hatiku.


    Setelah aku berlari mengejarmu yang juga berlari menjauh dariku, aku menghentikan langkahku dan membiarkanmu semakin menjauh. Aku mulai menyadari bahwa aku tidak sanggup lagi mengejarmu.


    Aku mulai membuka mataku, bahwa kau dan aku bagaikan tanah yang tidak dapat menggapai langit. Bagaikan bulan yang tidak dapat bertemu dengan matahari.


000


    Pilihan yang aku ambil terasa benar, aku masih yakin akan pilihan yang aku ambil ini sampai aku bertemu dengannya. Aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi, maka dari itu aku menahan diriku. Aku mengaguminya, namun aku menyembunyikan perasaan itu, aku ingin bersamanya namun aku malah melangkahkan kakiku menjauh darinya. Aku menutup duniaku untuknya, meskipun ia berusaha keras masuk ke dalam duniaku.


    Aku tidak menyangka apa yang aku ketahui selama ini hanyalah kebohongan dan keegoisan. Aku selama ini tenggelam dalam kemarahan akan sesuatu yang tidak nyata. Kini aku menyesalinya dan aku ingin memperbaiki semuanya.


    Aku membalikkan badanku, namun ia tidak lagi ada di belakangku. Aku mulai melangkahkan kakiku berlari mengejarnya, namun ia sudah sepenuhnya hilang dan aku tidak dapat menemukannya sekeras apapun usahaku untuk menemukannya.


000


Isi Hati Chae Ri:


    Aku menyesali keputusanku hari itu, aku mengakui bahwa apa yang terjadi saat ini itu karena keegoisanku. Aku ingin ia mengusir rasa sepi yang menyelimuti hatiku ini, namun aku membuatnya hancur. Kenapa hanya aku yang kehilangan saat ini? Kenapa semuanya sangat kejam padaku? Aku terus bersembunyi di balik pertanyaan bohong itu. Aku mengetahui jawaban atas pertanyaan itu, namun sikap kekanakanku membuatku menjadi egois dan membuatku buta.


    Aku selalu tinggal dalam kesepian dan penyesalan, berharap mereka mengerti isi hatiku. Namun mereka semakin menjauh, meninggalkanku dalam rasa sepi yang semakin dalam.


    Mereka menatapku berbeda, membuatku ingin merebut mereka kembali dengan cara apapun yang aku bisa.


000


    Kami berdiri berhadapan dengan rasa canggung dan keheningan dingin menyelimuti kami. Tangan Dong Bae terasa semakin erat menggenggam tanganku membuatku merasakan perasaan aneh yang sedang di tahannya, mataku bertemu dengan mata Ga Bi yang berdiri di samping Jae Bin. Mata tajamnya menatap lurus mata Dong Bae di balik kaca matanya, keduanya terdiam seakan saling mengatakan sesuatu dalam hati mereka masing - masing.


    Suara hak sepatu wanita yang mendekat ke arah kami terdengar semakin jelas, membuat kami semua kompak menoleh menatap wanita cantik yang berhenti di tengan - tengah kami. Sorot mata wanita itu penuh dengan amarah dan rasa iri yang tak dapat di tahannya lagi, matanya berputar menatap kami satu persatu tajam bergantian.


    Aku menghembuskan nafas besar dari mulutku hendak memalingkan wajahku dari wanita itu, namun garis tipis terlihat samar dari ujung mataku membuatku menoleh cepat dengan mata terbelalak kaget.


    Garis hitam yang tidak terduga melintang diantara kami, garis hitam yang menjadi sumber kekacauan ini mengikat kami satu sama lain. Namun, mataku tertuju pada garis hitam yang sama yang menujukkan jalurnya, aku mengangkat telapakku kecil melihat garis hitam itu juga mengikat di kelingkingku. Mataku semakin melebar melihat aku yang ikut terikat dalam takdir ini, aku tidak tahu apa hubunganku dalam takdir ini.


    Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini, kenapa aku terjebak diantara mereka? Apa alasannya? Pertanyaan tidak terjawab semakin memenuhi kepalaku. Aku mulai merasa cemas akan apa yang terjadi, aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Aku mulai berburuk sangka pada diriku, apa ini karena sikap serakahku? Atau karena masa laluku yang menghantuiku hingga saat ini? Atau karena aku yang tidak ingin melepaskannya meskipun aku tahu dia akan tersakiti jika saat itu tiba?


    Aku mulai menyalahkan diriku atas apa yang terjadi. Namun, aku tidak ingin melepaskan apa yang telah aku miliki saat ini. Bagiku apa yang aku miliki saat ini adalah hal terbaik dalam hidupku yang tak lagi panjang ini.


***