I'M A Witch

I'M A Witch
BALAS DENDAM



    Mulutku terbuka hampa menghembuskan nafas singkat tidak percaya akan wajah yang ku lihat itu. Wajah yang sangat aku benci, wajah yang aku pikir tidak akan aku lihat lagi selamanya. Aku pun kembali menoleh menatap Dong Bae lurus dengan mata menyipit licik "aku akan melakukan apapun yang kau minta! Tidak, kali ini aku akan dengan senang hati aku akan melakukannya tanpa kau memintaku!" Jawabku tegas. Aku memutar tanganku menarik jaket Dong Bae cepat, membuat pria itu tertunduk kecil lalu menempelkan bibirku dalam pada bibirnya. Mata Dong Bae melebar kaget dalam hitungan detik, membuat tubuhnya perlahan membeku terdiam di tempat.


    Setelah beberapa detik, aku menarik bibirku perlahan, menoleh menatap wanita yang mematung di tempatnya tercengang melihat adegan menyakitkan hati itu. Matanya melebar dengan bibir terbuka hampa kecil, membuatku puas melihatnya. Mataku menyipit melihat luapan tebal aura Merah yang keluar dari tubuhnya, senyum puasku mengembang cepat, dan aku langsung melepaskan genggamanku dari jaket Dong Bae. Dong Bae terdiam mematung di tempatnya, ia mengusap bibirnya cepat, matanya terlihat berputar kecil kebingungan.


    Chae Ri mengepalkan tangannya erat melihat adegan yang menyakitkan hatinya itu, ia melangkahkan kakinya tegas ke arah kami lalu menarik kerah jaketku kasar "siapa kau?" Tanyanya terbutakan oleh emosi.


    Dong Bae langsung mengulurkan tangannya berusaha melepaskan cengkraman Chae Ri dari jaketku, semenatara aku hanya menatap wanita di hadapanku tajam, sambil tersenyum miring puas melihatnya memberikan reaksi yang sangat aku harapkan. Dong Bae yang sangat tidak mengharapkan situasi panas ini menoleh menatapku


"aku memintamu membuatnya menghilang dari hidupku, bukan membuat masalah baru di hidupku!" Bisiknya kesal.


    Aku pun menjentikkan jariku keras, membuat Chae Ri membeku dan waktu berhenti begitu saja. Dong Bae yang tidak mengerti apa yang aku lakukan, menoleh ke sekililing bingung lalu melambaikan tangannya di depan mata Chae Ri yang mematung di tempatnya. Aku melepaskan cengkraman wanita aneh itu santai lalu merapikan jaketku, sementara Dong Bae tampak melihat sekeliling yang telah membeku takjub melupakan amarahnya dalam hitungan detik.


    "Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa melakukannya?" Sahutku mengatakan isi kepala Dong Bae.


    Mendengarku mengatakan isi pikirannya, membuat Dong Bae langsung menoleh tajam ke arahku dengan wajah semakin merasa takjub. Senyum penuh kesombonganku semakin melebar melihat ekspresi itu, aku pun menoleh lurus menatap wanita yang mematung di hadapanku, menghembuskan nafas besar dari mulutku cepat. Aku melipat tanganku di depan dada memulai tanya jawab.


    "Siapa dia?"


    Dong Bae berdiri di sampingku sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana menatap Chae Ri lurus, ia berdeham canggung sejenak sebelum akhirnya membuka mulut "namanya Hong Chae Ri, aku mengenalnya sejak SMA," jawabnya canggung.


    "Mantanmu?"


    "Bukan."


    "Cinta pertamamu?"


    "Bukan," bantahnya lagi.


    Senyum miringku tersungging cepat mendengar kebohongan Dong Bae barusan. Aku pun mengangguk kecil 'jadi dia cinta pertamanya,' simpulku dalam hati. Aku mengusap kecil hidungku cepat menyembunyikan senyum geliku, lalu menoleh kecil memutar mataku melirik Dong Bae geli "apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanyaku membiarkannya memutuskan.


    Dong Bae terus menatap wanita mungil di hadapannya terdiam, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menunduk dalam menghembuskan nafas beratnya sejenak, lalu menoleh menatapku


"apa kau bisa membuat kejadian barusan ini seolah – olah tidak terjadi?"


    Aku mengangguk kecil lalu membuka mulutku cepat "apa itu permintaanmu?" Tanyaku menatapnya lurus.


    Tiba - tiba waktu kembali bergerak mundur, dan kembali normal sampai sebelum Chae Ri datang memulai keributan itu. Dong Bae kembali memandang ke sekeliling takjub akan kekuatanku untuk ketiga kalinya, sambil membuka mulutnya "wahh… kau benar – benar… ajaib!" Sahutnya tidak percaya.


    Aku berpaling menatapnya tajam "aku hanya memundurkan waktu, sembentar lagi kejadian itu akan terulang kembali, apa yang akan terjadi itu pilihanmu!" Tepisku memperingatkan.


    Dong Bae mengerutkan alisnya mendengar penjelasanku, ia terdiam menunduk kecil membuat aura hitam kembali meluap dari tubuhnya. Suara Chae Ri terdengar semakin mendekat di telingaku "dia sudah dekat, jika tidak ada yang kau inginkan dariku, aku pergi dulu!" Pamitku cepat lalu berbalik hendak meninggalkan Kantor Polisi.


    Dong Bae kembali mengulurkan tangannya menahan langkahku lalu mengangkat pandangannya menatapku lurus "tunggu..." tahannya.


    "Segalanya akan kembali terulang seperti tadi, cepat katakan sebelum terlambat, apa keinginanmu sama?" Tantangku.


    Dong Bae menggeleng kecil "tidak bukan itu maksudku..." timpalnya ragu. Tangannya terasa semkain erat menggenggam lenganku, "ada yang ingin aku tanyakan padamu," ungkapnya.


    "Katakanlah!" Timpalku cepat mengingat waktu kami yang tidak banyak.


    Dong Bae mengigit kecil bibir bawahnya sejenak lalu membuka mulutnya "ciuman itu, kenapa kau melakukan itu tadi?" Tanyanya tiba – tiba.


    Aku pun memutar mataku berpikir sejenak mengapa aku menciumnya tadi, aku tidak memiliki alasan lain di kepalaku. Satu – satunya jawaban yang ada dalam pikiranku, karena aku ingin membalaskan dendamku pada wanita itu. Namun, aku tidak ingin dia mengetahui masa laluku dengan wanita itu. Aku pun memutar mataku menatap pria di hadapanku tajam dan membuka mulutku "karena aku mengabulkan permintaanmu," jawabku berbohong.


    Suara mobil mulai terdengar samar dan berbelok masuk ke Kantor Polisi, lampu taksi itu kembali menyorot kami dan berhenti tak jauh dari kami, menurunkan Chae Ri. Suara hak sepatu Chae Ri terdengar cepat lalu melepaskan tangan Dong Bae yang menahan lenganku kasar, kami menoleh cepat bersamaan namun kali ini mataku tertuju pada benang hitam yang mengikat keduanya.


    Dong Bae menatap Chae Ri lurus yang menatap kami bergantian curiga "siapa kau?" Tanyanya padaku.


    "Seo Wol," jawabku.


    Kemarahan Chae Ri semakin memuncak melihat aura Merah yang meluap tebal dari tubuhnya, aku hanya menggeleng heran pelan lalu membalikkan badanku, hendak kembali melanjutkan langkahku. Namun, Dong Bae membuka mulutnya membuat langkahku kembali terhenti "dia pacarku!" Jawabnya tegas.


    Mataku dan Chae Ri langsung kompak berputar menatap Dong Bae lurus, namun kali ini aku yang menatapnya dengan mata melebar kaget. Aku tersadar, siapapun yang meminta atau siapapun yang mengabulkan itu tidak masalah kali ini. Masa depannya tidak berubah, meskipun apa yang terjadi berbeda namun keputusannya tetap sama. Keputusannya untuk memintaku mengabulkan keinginannya tidak berubah meskipun waktu kembali berputar. Tidak, aku tersadar akan satu hal kali ini.


    Dong Bae berbalik menarik lenganku cepat lalu menunduk menempelkan bibirnya pada bibirku rekat, mataku semakin melebar sementara Dong Bae semakin erat menarikku ke dalam pelukannya. Apa yang aku alami ini membuatku tersadar bahwa keputusan Dong Bae berubah, kali ini ia mengabulkan keinginannya sendiri tanpa memintaku mengabulkannya.


***