I'M A Witch

I'M A Witch
GARIS HITAM



Aku dan Ga Bi berdiri di depan sebuah makam dengan karangan bunga putih di tanganku. Ga Bi berlutut mengeluarkan makanan yang di bawanya dari Rumah dan menatanya di depan Kuburan itu rapi, senyum kecil tersnungging di ujung bibirnya


"Eomma[1], makanlah yang banyak, aku membawa semua makanan kesukaan Eomma hari ini" sahutnya bangga.


Aku menunduk meletakkan karangan bunga di tanganku ke tengah – tengah Kuburan itu "lama tak jumpa, Han Seung Hee" sapaku singkat lalu kembali menegakkan tubuhku perlahan, Ga Bi tersenyum kecil lalu membuka mulutnya "hari ini hanya aku dan Sajangnim, Do Suk akan tiba besok jadi dia akan datang lusa, Haelmoni…" jelas Ga Bi terhenti. Aku menatap punggung Ga Bi yang mulai meluapkan aura Biru dari tubuhnya canggung, aku menghembuskan nafas panjang sejenak teringat akan apa yang terjadi hari itu.


000


MUSIM GUGUR, 2004.


Keramaian terdengar di seluruh sudut Sekolah setelah upacara kelulusan selesai di laksanakan, Ga Bi yang berjalan keluar dengan map Biru di tangannya melebarkan senyum manisnya melihat kedua orang tuanya yang telah menanti kedatangannya di depan gerbang Sekolah. Ia berlari memeluk kedua orang tuanya penuh kebahagiaan memberikan Ijasah kelulusannya dari SMA, tawa tak berhenti terdengar dari mulut ketiganya dan kebahagiaan itu terus belangsung sampai matahari terbenam. Wanita paruh baya dengan mata bundar, hidung mungil, serta bibir tipis yang kemerahan menoleh setelah mendengar namanya di panggil dari kejauhan. Suara manisnya terdengar menyambut kedatangan Ha Rim lalu ia memeluk Ha Rim erat membagikan kebahagiannya


"aku senang kau bahagia Seung Hee –yah" bisik Ha Rim tulus.


Seung Hee mengangguk kecil lalu melepas pelukannya menyambutku yang datang bersama Ibunya, ia memelukku erat "terima kasih Wol –ah" ungkapnya tulus. Aku menepuk kecil pundaknnya lalu melepaskan pelukannya pelan, tangan Seung Hee perlahan menjalar menggenggam tangan kananku, membuatku melihat apa yang seharusnya tidak aku lihat di hari bahagia itu. Aku langsung menarik tanganku dari genggaman Seung Hee cepat membuat semua mata langsung tertuju padaku, itulah awal kehancuran yang membuat kebahagiaan yang pernah terlewati menjadi tragedi dalam satu kedipan mata.


000


Ga Bi membuka pintu Kuil cepat dengan air mata membasahi pipinya, aura Merah bercampur Biru meluap tebal dari tubuhnya membuatku yakin bahwa ia telah mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya ia ketahui. Aku berusaha tetap tenang dan membuka mulutku


"apa terjadi sesuatu?"


"Eonni[2] sudah melihatnya kan? Masa depan Eomma" tanyanya langsung.


Aku menghembuskan nafas kecil dari mulutku membuat semua lilin yang menyala dalam Kuil langsung mati dalam hitungan detik. Aku menunduk kecil sejenak lalu mengangguk kuat "hmm, aku mengetahuinya" jawabku terus terang, air mata semakin deras mengalir dari ujung mata Ga Bi mendengar jawabanku. Aku berjalan mendekatinya perlahan


"apa yang kau ketahui?" tanyaku mencari tahu


"Appa[3], mempunyai wanita lain"


"bagaimana kau mengetahuinya?"


"aku melihatnya sendiri, wanita itu…" jawab Ga Bi sesak.


Aku mengangguk kecil namun mataku berputar langsung menatap ke arah pintu Kuil yang terbuka lebar menunjukkan Ha Rim yang mematung di tempatnya dengan mata melebar kaget. Mataku langsung melebar "Ha –Ha Rim –ah" panggilku canggung. Ga Bi langsung menoleh kaget dan mengatupkan kedua tangannya di depan mulutnya yang terbuka hampa, aku pun langsung menghampiri Ha Rim dan mengulurkan tanganku ke depan matanya namun ia menahan tanganku


"kabulkan permintaanku" cetusnya tiba – tiba.


Mataku semakin melebar melihat masa lalu yang Ha Rim sembunyikan selama ini, bibirku bergetar hebat dan aku perlahan menurunkan tanganku dari hadapannya menatap mata Ha Rim lurus. Senyum kecil tersungging di bibirnya meskipun sorot matanya sayu menunjukkan kesedihan yang mendalam di hatinya, hari itu aku melihat betapa beratnya menjadi seorang Ibu, aku tidak menyangka Ha Rim menyimpan semuanya sendirian selama ini. Aku memejankan mataku sambil menghembuskan nafas berat terpojok oleh situasi ini, aku pun mengangguk kecil "baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu" putusku terpaksa. Aku mengepalkan tanganku perlahan


"aku ingin Seung Hee tidak pernah mengetahui apa yang terjadi" minta Ha Rim yakin.


Mataku melebar mendengar permintaan tidak terduga itu, aku pun membuka mulutku hendak merubah keputusan Ha Rim namun ia menahan suaraku lebih dulu "aku tahu, tapi ini lebih baik dari pada ia mengetahui semuanya" timpal Ha Rim cepat. Bibirku semakin bergetar cepat dan aku menggeleng kuat berusaha merubah pikiran Ha Rim yang bulat itu, tiba – tiba suara Ga Bi terdengar menimpali pembicaraan kami


"aku setuju, aku juga akan membuat permohonan yang sama dengan Haelmoni" timpal Ga Bi yakin.


Aku semakin terpojok mendengar tuntutan yang sama keluar dari mulut Ga Bi, aku menggeleng semakin cepat "ada apa dengan kalian berdua?" tanyaku putus asa. Ga Bi mendekat ke arah kami lalu mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya


"aku mohon Eonni, aku tidak ingin Ibuku terluka" mintanya memohon.


Permintaan itu akhirnya menjadi kenyataan dalam satu jentikan jari, harapan akan masa depan yang lebih baik setelah permohonan itu terkabul tidak menjadi kenyataan sesuai keinginan Ha Rim dan Ga Bi. Masa depan justru semakin menyakiti Seung Hee yang mereka lindungi.


Benang takdir keduanya semakin menghitam setiap harinya, pertengkaran terus terjadi antara keduanya namun Seung Hee tidak dapat menemukan alasan yang sesungguhnya di balik pertengkaran itu. Segalanya yang terjadi setelah hari itu membuat Seung Hee tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang membuat semua ini terjadi. Sementara aku semakin di hantui rasa cemas akan benang takdir Seung Hee yang semakin menghitam setiap harinya, benang itu semakin cepat menghitam setelah aku mengabulkan keinginan Ha Rim hari itu. Benang hitam itu membuat kondisi mental Seung Hee semakin memburuk setiap harinya, segalanya semakin buruk setelah pria yang di cintainya itu pergi meninggalkannya begitu saja. Kondisi mental Seung Hee semakin memburuk sekeras usahanya mencari tahu apa yang terjadi pada kehidupannya yang terasa sempurna itu, namun sesuai permintaan Ha Rim, sekeras apapun usaha Seung Hee mencari tahu alasannya ia tidak akan pernah mengetahui alasannya.


Semua itu terus berlanjut sampai hari dimana aku melihat benang itu putus di depan mataku sendiri, hari itu adalah hari dimana Seung Hee mengakhiri hidupnya sendiri. Aku hanya bisa berlutut dengan tangis penuh rasa bersalah di depan makam Seung Hee, meskipun Ha Rim tidak menyalahkanku karena itu permintaannya, namun rasa bersalah itu terus saja menghantuiku. Hingga detik ini, aku semakin tidak dapat melupakan apa yang terjadi hari itu, karena tanpa sepengetahuan siapapun aku bertemu lagi dengan Seung Hee.


000


Kami berjalan berdampingan hening menuju keluar pemakaman, langkah Ga Bi terhenti tiba – tiba dan ia mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. Ia mengetuk pelan layar ponselnya lalu menempelkan ponselnya ke telinga cepat


"hallo" sapanya sopan.


Keningku berkerut kecil mendengar suara Jae Bin dari seberang telfon, aku berbalik menatap Ga Bi yang sedang berbicara dengan Jae Bin lurus. Suara – suara kecil langsung terdengar jelas di telingaku "Ga Bi –ssi, ada yang ingin saya sampaikan terkait kondisi Haelmoni, apa bisa kita bertemu hari ini?" mintanya sopan. Ga Bi langsung mengangkat tangan melihat jam yang melingkar di lengannya lalu mengangguk kecil "baiklah, sekitar satu jam lagi saya akan sampai di Rumah Sakit" timpalnya. Setelah mendengar jawaban Jae Bin dan menyampaikan salam perpisahan, Ga Bi menutup telfonnya lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaket. Gerakannya terhenti melihatku menatapnya lurus dengan alis berkerut curiga, ia menggeleng kecil sambil menyunggingkan senyum kecil


"aku yakin Sajangnim sudah mendengarnya sendiri, jangan berpikiran aneh – aneh" tepisnya sebelum aku mengatakan isi pikiranku.


Ga Bi berjalan cepat melewatiku sambil tertawa kecil, semenatara aku terus menatap punggungnya dengan perasaan aneh dalam hatiku.


***


[1] Ibu.


[2] Kakak/Panggilan wanita kepada wanita yang lebih tua.


[3] Ayah.