
Langit masih seindah saat itu, hanya saja waktu yang berputar membuat segalanya berubah. Hal itu selalu teringat dalam kepalaku.
Aku Seo Wol, wanita dengan kulit putih, mata hitam, bibir tipis, dan rambut panjang kecokelatan yang terurai indah. Kaki rampingku terus melangkah melewati jalanan Kota yang ramai sore itu, sampai pada suatu Rumah kecil yang tidak jauh dari Stasiun Kereta Bawah Tanah. Tanganku bergerak membalik tulisan yang tergantung di pintu kaca menjadi tulisan "buka," lalu membuka tirai hitam yang tergantung di depan kaca besar rumah itu. Wajahku masih sama seperti saat itu, sangat cantik dan tidak menua sedikit pun, waktuku sama sekali tidak berputar.
Aku berlajan melewati tirai hitam di hadapanku lalu mendongak ke atas dan membuka mulu "APA KAU TIDAK BANGUN?" Teriakku kesal.
Segalanya tetap sama, hanya satu hal yang berubah. Aku bukan lagi wanita cantik yang sopan dan anggun seperti dulu.
Entah dari mana datangnya, tiba – tiba seorang wanita telah berdiri di belakangku, aku menoleh menatap seorang wanita muda dengan rambut pendek sebahu, mata lebar kecokelatan, dengan hidung tinggi serta bibir tipis kemerahan. Wanita itu tersenyum canggung menatapku dengan setelan piama merah muda yang di kenakannya, lalu menunduk sopan.
"Selamat Sore, Sajangnim (Pemimpin atau atasan)!" Sapanya canggung.
Nafas besar terhembus begitu saja dari mulutku "Ga Bi, apa kau tidak bisa melihat jam?" Tanyaku menghina halus.
Ga Bi tertawa kecil lalu membungkuk sembilan puluh derajat "aku akan lebih hati – hati lain kali," timpalnya.
Seperti inilah aku hidup, aku tidak menua, aku tidak bisa melarikan diri, dan yang terkejam adalah aku tidak bisa mati. Itulah ganjaran atas perbuatanku ribuan tahun yang lalu, ganjaran atas ulahku yang ikut campur akan hidup seseorang.
Sejak hari itu, suara Hana tidak terdengar lagi di telingaku. Mereka menghilang bagaikan angin yang tak dapat di lihat atau di sentuh, sekeras apapun usahaku untuk menemukan mereka, aku tetap tidak dapat menemukan mereka.
Aku ada untuk menanggung kesendirian, aku harus hidup sendiri bahkan mungkin akan mati sendiri. Satu kesalahan dapat di maafkan namun tidak untuk kedua kalinya, itulah yang membuatku menanggung ganjaran ini sekarang. Karena aku melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Setelah waktu berputar, hari yang ku tunggu perlahan datang, hari dimana hukumanku ini berakhir.
000
Ga Bi membuka pintu kaca kecil di hadapannya lalu tersenyum menatap bulan separuh yang tergantung indah di langit malam itu, ia menghela nafas panjang yang menyejukkan paru - paru lalu kembali masuk ke dalam Rumah. Ia menyalakan lampu pada papan nama di atas kaca besar itu, membuat Rumah yang awalnya terlihat gelap dan suram itu, menjadi megah dan terang benderang dalam hitungan detik.
Lampu warna – warni mengindahkan halaman Rumah itu, dan lampu bertuliskan "NEOMA" menyala lebih terang dari lampu lainnya. Beginilah hariku terus berulang, saat hari semua orang selesai, hariku baru saja akan di mulai.
Aku memasang lilin di meja Kuil lalu duduk di depan lilin – lillin yang telah menyala terang itu, aku telah menerima semuanya, menerima siapa diriku dan menerima rasa sepi yang aku tanggung sejak saat itu. Rasa sepi itu bagaikan ganjaran terbesar yang selalu menghantui hidupku.
Bell yang tergantung di atas pintu utama tedengar berdering kecil, aku menoleh cepat dan langsung menggerakkan tanganku menaikan tudung kepalaku, duduk di balik selambu putih yang menjadi pembatas antaraku dan tamu yang datang.
Ga Bi membuka pintu Kuil pelan lalu masuk dengan seorang wanita muda yang menjadi tamu pertama kami malam ini "silahkan duduk!" Buka Ga Bi mempersilahkan sopan.
Mataku bersinar kekuningan menerawang ke balik selambu yang menghalangi kami melihat wajah wanita itu, keningku berkerut melihat wanita muda dengan mata sipit yang tampak sayu, wanita itu terus meremas kedua tangannya yang bergetar kecil, dan aura kuning tampak meluap dari tubuhnya. Melihat gerak – gerik itu, aku menyimpulkan wanita ini melakukan sesuatu yang melewati batas, mataku langsung kembali menghitam seiring hembusan nafas keci dari mulutku "katakan apa yang kau inginkan?" Tanyaku langsung tanpa mendengarkan cerita wanita itu lebih dulu.
Ga Bi melebarkan matanya kaget mendengarku langsung pada pertanyaan itu, ia pun membuka mulutnya "Sajangnim (Pimpinan atau atasan), anda harus mendengar ceritanya lebih dulu!" Timpalnya membenarkan pertanyaanku. Aku memutar mataku kesal lalu membuka mulutku "HEY!" Bentakku membuat Ga Bi menaikkan bahunya kaget, "siapa atasan disini? Kenapa kau membantahku? Lagipula sudah jelas dia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan untuk di dengar, apa kau mau mendengarnya?" Amukku cepat kehilangan kesabaran.
Wanita itu pun membuka mulutnya sambil menggeleng cepat "tidak… aku tidak melakukan apapun..." bantahnya cepat.
Aku pun langsung mengerutkan keningku mendengar pembelaan diri itu. Aku kembali menatap wanita itu lurus melihat aura kuningnya yang semakin menebal, aku berdiri mendekat ke selambu putih di hadapanku, mengulurkan tangan kiriku dari bawah selambu itu.
Mataku terbuka lebar kaget melihat apa yang menjadi kecemasan wanita muda itu dari masa lalunya, aku langsung menatap lurus ke arah wanita itu "hey, sejak kapan penguntit itu mengikutimu?" Tanyaku dengan banmal (bahasa sehari - hari) tanpa basa – basi.
Ga Bi langsung membuka mulutnya kaget mendengarku menggunakan bahasa tidak sopan "Sajangnim (Pimpinan atau atasan), anda tidak sopan bicara seperti itu dengan tamu!" Timpalnya memperingatkan.
Aku melirik Ga Bi sinis lalu melepaskan tangan wanita itu, aku menarik tangan kiriku lalu mengulurkan tangan kananku cepat. Wanita itu kembali meletakkan tangannya di atas tanganku, membuat gambaran masa depan wanita itu terlihat jelas di kepalaku dalam hitungan detik. Gumpalan uap kecil terlihat saat aku menghembuskan nafas kecil dari mulutku. Aku menarik tanganku cepat membuat wanita itu kaget dan menarik dirinya dariku begitu saja, Ga Bi pun menopang bahu wanita itu cepat sambil meminta maaf atas tindakanku barusan.
Wanita itu pun langsung membuka mulutnya "apa yang terjadi?" Tanyanya hati – hati.
Aku pun langsung membuka mulutku melepaskan isi hatiku terang – terangan "aku yang seharusnya bertanya kepadamu apa yang kau lakukan?" Tanyaku kesal.
Wanita itu tampak mengerutkan alisnya tidak mengerti maksud perkataanku, ia tampak berpikir keras namun tidak ada jawaban yang keluar dari kepalanya atas pertanyaanku itu. Aku pun melipat tanganku di depan dada mulai menceritakan apa yang aku lihat darinya.
"Apa baru – baru ini kau memutuskan pacarmu?"
"Aku memutuskannya tapi itu sudah sekitar dua bulan yang lalu, ada apa dengan mantanku?"
"Kerja bagus!" Pujiku menghina.
Ga Bi langsung melebarkan matanya kaget "Sajangnim (Pimpinan atau atasan)!" Bisiknya menghentikanku canggung.
Wanita itu tampak tidak menghiraukan perkataanku, fokus pada rasa ingin tahunya "apa yang akan dia lakukan padaku?" Tanyanya cemas.
Mataku menyipit melihat aura kuning yang semakin menebal dari tubuh wanita itu, aku pun memutuskan untuk tidak bermain – main lagi "tidak ada, minumlah air dalam gelasmu!" Perintahku cepat lalu menjentikkan jariku.
Angin kecil terasa bertiup membuat wanita itu menutup matanya, ketika ia membuka matanya ia duduk di pinggir tempat tidurnya dengan segelas air di tangannya. Wanita itu pun meminum air itu dengan gerakan alami, lalu meletakkan gelas itu ke meja kecil di sampingnya dan bersiap untuk tidur.
Tidak ada ingatan apapun di kepalanya tentang mengunjungi NEOMA, Ga Bi, dan aku. Semuanya hilang seakan tidak terjadi apapun, namun air itu yang akan mengubah hidupnya.
000
Ga Bi berdiri dengan wajah kesal dan tangan terlipat di depan dada "Sajangnim (Pimpinan atau atasan), sudah berapa kali ku jelaskan jangan berbicara tidak sopan pada tamu!" Bukanya memulai debat. Aku memutar mataku "kenapa? Lagipula mereka tidak akan mengingat kita," timpalku menyepelekan.
Ga Bi membuka mulutnya hendak kembali membantah namun aku mengeluarkan suaraku lebih dulu "hentikan! Panggilkan tamu selanjutnya!" Perintahku cepat. Ga Bi pun menghembuskan nafas besar dari mulutnya sambil mengusap dadanya berusaha bersabar, ia menggangguk paksa "baiklah," ucapnya menahan emosinya lalu berbalik meninggalkan Kuil.
Begitulah aku menggunakan kekuatanku, tangan kiriku dapat melihat masa lalu seseorang sedangkan tangan kananku dapat melihat masa depan seseorang. Mataku dapat melihat perasaan seseorang dari aura yang meluap dari tubuhnya, hijau adalah gembira, biru adalah sedih, merah muda adalah cinta, hitam adalah patah hati, kuning adalah cemas. Setiap warna memiliki arti auranya, tetapi juga ada warna yang memiliki dua arti aura.
Telingaku dapat mendengar suara hati manusia, termasuk kebohongan yang manusia ucapkan, dan nafasku dapat menjadi tanda kematian manusia. Aku membantu banyak orang selama hidupku, tapi pertolonganku hanya berlaku sekali untuk setiap orang. Alasannya? Sudah aku katakan sebelumnya, 'satu kesalahan dapat di maafkan namun tidak untuk kedua kalinya.'
Maka dari itu, setelah aku menjentikkan jariku mereka akan melupakan tentang kunjungan mereka ke NEOMA, mereka tidak akan melihat NEOMA lagi.
***