I'M A Witch

I'M A Witch
TIDUR



    Dong Bae menarik pelan bibirnya, lalu menarik lenganku berbalik meninggalkan Chae Ri yang mematung di tempat dengan air mata membasahi pipinya. Kami masuk ke dalam mobil biru yang terparkir tak jauh di belakang kami, Dong Bae memutar roda kemudinya menjalankan mobilnya cepat melewati Chae Ri meninggalkannya begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun.


    Dong Bae berdeham canggung membuat suasana tidak nyaman yang menyelimuti kami semakin menyesakkan hatiku, aku pun menoleh menatapnya lurus "hey! Apa kau memang sudah berniat melakukannya sejak awal?" Tanyaku memecah keheningan. Dong Bae hanya memutar matanya canggung menatap kaca spion sejenak, lalu berdeham kecil lagi tidak menjawab pertanyaanku. Ia terus diam menatap lurus ke arah jalan, membuatku menjentikkan jari cepat mengubah warna lampu lalu lintas menjadi merah dalam hitungan detik. Melihat lampu yang berganti tiba – tiba itu, Dong Bae langsung menginjak remnya dalam membuat decitan kecil terdengar dari ban mobilnya, ia menoleh cepat dengan wajah kesal


"HEY! JANGAN GUNAKAN KEKUATANMU SEMBARANGAN SEPERTI INI!" Bentaknya kesal.


    Aku melipat kedua tanganku di depan dada "kenapa? Lagi pula aku tidak akan mati..." sahutku santai.


    "Kau tidak, bagaimana denganku? AKU?"


    "Aku juga tidak akan membiarkanmu mati begitu saja, sangat di sayangkan jika kau mati secepat ini," timpalku santai.


    Mulut Dong Bae terbuka hampa tidak percaya akan sikap santaiku barusan, ia menghembuskan nafas besar sambil memalingkan wajahnya membuat suasana hening kembali menyerang kami. Aku pun kembali mengulang pertanyaanku yang belum terjawab beberapa menit lalu


"jadi, apa kau sengaja melakukannya?"


"Mwo (Apa)?"


"Ciuman itu."


"Hmm…" gumamnya.


    Aku memutar mataku mendengar kejujurannya barusan, Dong Bae kembali menjalankan mobilnya setelah lampu berganti warna hijau sambil membuka mulutnya lagi "kenapa kau tidak menanyakan alasannya?" Tanyanya. Aku menggeleng kecil "aku sudah tahu alasannya," timpalku cepat.


    Dong Bae tersenyum kecil mendengar jawabanku "aku lupa kau bukan wanita biasa," guraunya remeh.


    Aku melirik kecil mendengar gurauan kecil iti "kenapa? Kau semakin takjub akan kekuatanku?" Timpalku mengikuti arus.


    "Hmm… aku tidak menyangka kau seajaib itu! Wah... aku kehabisan kata - kata!" Timpalnya melebih - lebihkan rasa takjubnya.


    Dong Bae menoleh kecil menatapku sejenak sambil membuka mulutnya kembali melanjutkan pembicaraan.


"Jadi, dimana aku harus menurunkanmu sekarang?"


"NEOMA," jawabku singkat.


"Apa kau juga tinggal di NEOMA?"


Aku menggeleng kecil "tidak, hanya Ga Bi yang tinggal disana," jawabku. Aku mengarahkan pandanganku pada jalan berbelok yang akan kami lewati beberapa saat lagi, aku mengangkat jariku tinggi "disana," sahutku cepat.


    Mata Dong Bae terlihat mengikuti kemana arah jariku sejenak "disana?" Tanyanya tidak mengerti.


    Aku mengangguk kecil "hmm, jika berbelok kesana kita akan sampai di Rumahku," jelasku.


    Dong Bae mengangguk kecil dengan mulut terbuka hampa, akhirnya mengerti maksudku. Ia pun mengeluarkan suaranya "kenapa jauh sekali? Bukankah butuh setengah jam sampai Satu Jam dari sini untuk sampai ke NEOMA?" Sahutnya.


    Aku hanya menaikkan bahuku "aku sudah terbiasa, jadi tidak terasa jauh sama sekali..." timpalku santai.


"Lalu bagaimana kau ke NEOMA biasanya? Apa Ga Bi menjemputmu?"


"Kadang dia menjemputku, kadang aku naik Kereta Bawah Tanah," jawabku sambil mengingat.


Dong Bae mengangguk kecil paham "tetap saja, sangat jauh..." bisiknya canggung.


"Tidak juga, terkadang aku hanya perlu membuka pintu aku bisa langsung sampai..." sahutku ringan penuh rasa percaya diri.


000


    Aku duduk di balik selambu putih menatap pria muda yang tampak pucat, ia menutup erat telinganya dan tubuhnya tampak bergetar hebat, dengan seorang ibu yang mendampingi pria itu cemas.


    Ga Bi tampak menggaruk kepalanya bingung bagaimana menjelaskan situasi pria itu, ia berdeham kecil lalu membuka mulutnya "jadi, laki – laki ini pergi berlibur dengan teman – temannya lalu mereka bermain di dalam lift Hotel… menekan angka lalu ya…" jelas Ga Bi canggung.


    Mendengar penjelasan itu, Ibu dari anak muda itu mengangguk lalu mengatupkan kedua tangannya di depan dada "tolong selamatkan anakku, aku akan melakukan apapun asal kamu menyelamatkannya!" Timpalnya memohon.


    Aku menyipitkan mataku melihat bayangan hitam memeluk pria muda itu lalu aku berdiri mengambil satu lilin di belakangku, dan berbalik menudingkan lilin itu ke depan selambu menunjukkan wujud bayangan itu lebih jelas. Wanita dengan baju putih dan rambut panjang se pinggang tampak memeluknya, bibir wanita itu dekat pada telinganya membisikkan sesuatu yang tidak dapat ku dengar. Mataku perlahan memancarkan sinar kekuningan, aku menyipitkan mataku menatap hantu wanita itu lurus – lurus, berusaha mendengar apa yang ia bisikkan pada telinga anak itu.


    Mata hantu itu memerah tiba – tiba membuat anak itu langsung berteriak keras, lalu bergerak hendak menyerang Ibunya bagai Singa yang menerkam mangsanya. Ga Bi langsung berlari menahan tubuh anak itu cepat, aku langsung menjatuhkan lilin di tanganku bangkit dari dudukku melewati selambu putih di hadapanku menutup mata wanita paruh baya yang berteriak ketakutan melihat putranya. Aku mengangguk kecil pada Ga Bi, membuatnya bergerak cepat menuntun wanita itu keluar meninggalkan kami berdua di dalam Kuil itu.


    Setelah mengunci pintu Kuil, aku dan Ga Bi pun memulai pekerjaan kami. Ga Bi tampak merapatkan giginya berusaha keras menahan pria yang memberontak dalam belenggunya. Aku berbaring di samping mereka, memejamkan mataku perlahan, dalam hitungan detik rohku telah berdiri di samping tubuhku yang terbaring di lantai kayu. Rambutku perlahan menguning dan mataku pun memancarkan sinar kuning, aku menatap hantu wanita yang memeluk anak muda itu sambil membisikkan sesuatu di telinganya. Kali ini aku mendengar bisikannya dengan sangat jelas "ikutlah denganku, tidak ada orang yang lebih setia dariku!" Bisiknya membuat pria itu terus berteriak histeris sambil menutup telinganya.


    Aku langsung melepaskan tawaku mendengar bisikan itu, membuat hantu wanita itu memutar mata merahnya menatapku tajam. Aku menggangkat kedua tangannku ke pinggang sambil menatap sinis hantu itu


"hey! Sadarlah, kau bahkan tidak terhitung sebagai orang!" Hinaku menantang.


    Amarah hantu itu tersulut mendengar hinaanku barusan, ia melepaskan pria muda yang menjadi mangsanya, menghilang bagaikan angin. Ia kembali muncul di hadapanku sambil menatapku tajam, wajahnya sangat buruk rupa, dan mata merahnya menandakan bahwa ia mati bunuh diri. Wanita itu langsung mengulurkan tangannya mencekik leherku cepat lalu mendorongku sampai menabrak jajaran lilin di dalam Kuil. Gumpalan asap mulai menguap dari tubuh hantu itu, tangannya mulai terlihat bergetar membuat senyum puasku mengembang cepat. Aku langsung menggerakkan tanganku cepat meraih satu batang lilin lalu mengunuskannya ke dada hantu wanita itu, membuatnya terbakar dan menghilang menjadi abu.


    Nafas legaku terhembus dan aku menjatuhkan diriku cepat bersandar di tembok Kuil lemas, Ga Bi yang melihat semua itu dengan wajah cemas membuka mulutnya "apa anda baik – baik saja Sajangnim (Pimpinan atau atasan)?" tanyanya.


    Aku mengangkat pandanganku menatap Ga Bi lurus lalu mengangguk kecil sambil memaksakan senyum miringku, aku pun berdiri melangkah ke posisi awalku lalu menutup mataku perlahan. Mataku kembali terbuka lebar seiring mulutku yang terbuka hampa menarik nafas dalam kaget, aku langsung mengangkat tubuhku duduk sambil terbatuk kecil.


    Inilah alasan mengapa aku tidak pernah tidur, karena rohku akan keluar dari tubuhku dalam beberapa detik setelah aku memejamkan mataku. Kemampuan ini sangat hebat di mata semua orang tetapi tidak di mata Ga Bi, aku sering kali menggunakannya untuk melarikan diri darinya sehingga ia harus mencariku kemana – mana dengan kemampuan melihat hantunya. Kemampuan itu ia dapatkan sesuai permintaannya setelah aku membuat kekacauan dan melarikan diri dengan wujud arwah, membuatnya menyelesaikan kekacauanku sendiri.


000


    Pria dengan mata sipit di balik kaca mata yang tergantung di batang hidungnya yang tegas, bibir tipis, dan rahang tegas tampak berjalan cepat sambil memakai jas putihnya. Ia berjalan masuk ke Ruang Operasi dengan kedua tangan terangkat, lalu berdiri pada posisinya bersiap memulai operasi. Matanya sangat tajam dan gerakan tangannya sangat lihai, membuat operasi berjalan lebih cepat dari yang di perkirakan.


    Pintu kaca otomatis terbuka menunjukkan pria itu berjalan keluar sambil memijat lehernya dan memutar ringan kepalanya, ia menjatuhkan dirinya di kursi ruangannya santai sambil menghembuskan nafas lega, lalu menoleh membuka ponselnya setelah sekian lama di Ruang Operasi. Matanya berputar kecil melihat tujuh pesan baru dari grup obrolan, membuatnya menggerakkan jempolnya mengetuk layar ponselnya membuka pesan itu.


    Ruang obrolan sangat ramai membicarakan kepulangan Chae Ri yang tiba – tiba dan rencana mereka untuk mengadakan reuni.


    [Bagaimana dengan Jae Bin?]


    Nafas besar pria itu terhembus dan ia pun menunduk dalam menutup ponselnya cepat. Tak lama dering panjang ponselnya terdengar membuatnya mengangkat kepalanya cepat, ia melihat nama yang tertera di layar lalu menggeser tanda hijau di layar ponselnya cepat


"Hmm... Yong Woo," sapanya.


"Jae Bin, apa kau sudah membaca pembicaraan di ruang obrolan?"


"Aku sudah membacanya barusan," jawab Jae Bin.


Keheningan canggung menyelimuti keduanya sejenak, sampai Yong Woo kembali membuka mulutnya. Ia berdeham pelan "lalu bagaimana? Apa kau akan datang?" Tanyanya hati – hati. Pria itu memutar matanya berpikir keras mendengar pertanyaan temannya itu, ia mengusap bibirnya pelan


"akan ku pikirkan lagi," jawabnya tidak memberi kepastian.


Setelah pembicaraan kecil Jae Bin menurunkan ponselnya dari telinga menutup panggilan itu. Ia meletakkan ponselnya ke meja di hadapannya lalu beranjak dari kursinya cepat meninggalkan ruangannya.


***