I'M A Witch

I'M A Witch
KEINGINAN PERTAMA



Dong Bae memarkir mobilnya di parkiran bawah tanah Gedung Apartemen di pusat kota, ia menekan kode pintu utama Unitnya sebelum masuk ke dalamnya. Matanya langsung bertemu dengan mata Chae Ri yang berdiri penuh harap menunggu kedatangannya sejak tadi membuat langkahnya terhenti sejenak, nafas besar pun langsung terhembus dari mulut Dong Bae dan ia melanjutkan langkahnya masuk melewati Chae Ri begitu saja. Chae Ri berbalik cepat membuka mulutnya menahan langkah Dong Bae


"dari mana saja kau?" tanyanya cepat


"bukan urusanmu"


"aku mengkhawatirkanmu!" tekannya berusaha menahan Dong Bae.


Nafas besar kembali terhembus dari mulut Dong Bae, ia memejamkan matanya sambil mendongak menahan emosinya sejenak lalu membalikkan badannya "kau sudah melihatku sekarang, aku baik – baik saja, jadi pergilah!" usirnya halus lalu kembali membalikkan badan hendak masuk ke dalam kamar di sudut ruangan.


Chae Ri menahan lengan Dong Bae cepat lalu menggenggam erat tangannya, matanya tiba – tiba tertuju pada cincin hitam yang melingkar di jari manis pria itu. Matanya menyipit dan rasa takutnya semakin membesar, ia mendongak menatap Dong Bae lurus


"apa kau punya pacar?" tanyanya menuduh,


Dong Bae memutar tangannya melepaskan genggaman Chae Ri "bukan urusanmu" timpalnya dingin.


Chae Ri yang di butakan rasa takutnya pun kembali meraih tangan Dong Bae dan berusaha melepaskan cincin hitam itu secara paksa dari jari manis pria itu, meskipun Dong Bae menahan tangannya Chae Ri tetap berusaha keras melepaskannya. Tiba – tiba suara bantingan kecil terdengar dan cincin itu terguling di lantai entah kemana, keduanya langsung terdiam membuat suasana semakin dingin menyelimuti mereka. Dong Bae kembali menghembuskan nafas berat dari mulutnya lalu melepaskan tangannya kasar dari genggaman Chae Ri, ia berbalik cepat melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya lalu membanting kasar pintu di belakangnya. Dong Bae mengangat kedua tangannya ke pinggang sambil menunduk dalam menenangkan dirinya dalam keheningan, setelah merasa lebih tenang ia berjalan ke arah lemari lalu mengulurkan tangannya membuka pintu lemari. Gerakannya terhenti melihat cincin hitam yang terguling entah kemana itu kembali melingkar di jari manisnya begitu saja, ia kembali teringat akan sindiran halusku beberapa saat yang lalu dan tersenyum kecil sambil menggeleng heran lalu melanjutkan gerakannya cepat.


000


Suara sirine mobil polisi terdengar menjauh melewati Dong Bae yang berjalan santai masuk ke dalam Kantor Polisi sambil mengalungkan kartu kerjanya, beberapa orang yang berpapasan dengannya membungkuk sopan menyapanya sebelum melanjutkan langkah mereka. Dong Bae duduk di mejanya mulai membuka dokumen kasus yang di terimanya pagi itu, setelah memabaca sekilas ia langsung berdiri menuju ruang interogasi memulai pekerjaannya.


Dering ponselnya terdengar menyela proses interogasi yang sedang berjalan, ia pun mengeluarkan ponselnya lalu menolak panggilan itu secepat mungkin melihat nomor yang tidak di kenal yang tertera di layar. Dalam hitungan detik ponsel itu kembali berdering menunjukkan nomor tidak di kenal itu kembali menelfon, membuat Dong Bae kembali mengeluarkan ponselnya lalu mengangkat panggilan masuk itu. Suara kesal seorang pria langsung terdengar dari seberang telfon menghina Dong Bae sesaat setelah ia menerima panggilann itu, Dong Bae langsung memberi tanda pada rekannya di balik Ruang Interogasi lalu berdiri meninggalkan ruangan cepat. Ia memindah ponselnya ke telinga kanan cepat kembali mendengarkan maksud pria asing itu menelfonnya dalam kondisi kesal


"maaf sebelumnya, bisa anda tenang dulu dan jelaskan apa yang terjadi?" tanyanya berusaha menenangkan


"saya sudah berhenti sesuai rambu di depan lampu merah lalu nona ini menabrak saya dari belakang, sekarang bagaimana anda akan bertanggung jawab atas perbuatan istri anda?" desak pria itu meminta pertanggung jawaban.


Dong Bae memijat kecil keningnya lalu membuka mulutnya "bisa anda katakan dimana anda sekarang? Saya akan kesana" mintanya cepat sebelum mengakhiri panggilan itu.


000


Chae Ri berdiri dengan tangan terlipat di depan pinggang dan kepala tertunduk dalam di hadapan pria paruh baya yang berkacak pinggang dengan wajah kesal di hadapannya, pria itu terus memarahinya sambil meminta ganti rugi atas perbuatannya beberapa menit yang lalu. Mobil Dong Bae langsung berhenti sempurna di belakang mobil Chae Ri, lalu ia turun meluruskan situasi itu secepat mungkin. Setelah semuanya selesai pria asing itu pergi dengan rasa kesal meinggalkan Chae Ri dan Dong Bae, setelah mendapatkan ganti rugi atas kerusakan mobilnya.


Dong Bae menghembuskan nafas dalam lalu berbalik hendak meninggalkan Chae Ri begitu saja, namun Chae Ri lagi – lagi menahan lengannya cepat


"bisakah paling tidak kau antarkan aku?" mintanya canggung.


Keheningan canggung menyelimuti keduanya yang hanya menatap lurus sambil menutup mulut mereka rapat. Chae Ri melirik kecil pada pria tampan di balik roda kemudinya lalu memutar matanya pada cincin hitam yang melingkar indah pada jari manis pria itu, nafas kecilnya terhembus dan sorot matanya menjadi sayu. Setelah perjalanan singkat itu, keduanya sampai di depan gedung apartemen megah yang menjulang tinggi lalu Chae Ri turun di depannya.


000


Hari berlalu begitu saja membuat Dong Bae tidak menyadari Matahari telah terbenam dan Bulan telah bersinar di langit malam. Ia mengatap sekeliling kantor yang sepi lalu mengangkat kedua tangannya meregangkan ototnya yang kaku, dan mematikan komputernya berkemas untuk pulang. Ketukan hak sepatu wanita pun perlahan terdengar masuk ke dalam kantor polisi, Dong Bae menghentikan gerakannya sejenak lalu berpaling pada pintu masuk melihat sosok yang datang.


Mataku bertemu lurus dengan mata Dong Bae yang duduk di mejanya menatapku, aku menghentikan langkahku lalu melipat tanganku di depan dada sambil menggerakkan kepalaku memberi kode memintanya menemuiku di luar. Setelah melihat sekeliling sejenak, aku membalikkan badanku kembali melangkahkan kakiku meninggalkan Kantor Polisi itu cepat menunggu Dong Bae di luar.


Langkah kaki pria itu perlahan terdengar cepat, membuatku menoleh cepat langsung menyampaikan tujuanku menemuinya secara tiba – tiba malam itu. Aku mengeluarkan ponselku dari tas tanganku cepat, lalu menyodorkannya pada Dong Bae


"berikan nomor ponselmu!"


"Oh, benar… aku bermaksud untuk datang sembentar ke NEOMA meminta nomor ponselmu" timpalnya teringat.


Dong Bae menerima ponselku cepat lalu mengetuk layar memasukkan nomor ponselnya sesuai permintaanku. Aku menunggu diam sambil melipat kedua tanganku di depan dada, namun mataku melirik kecil terganggu akan suara seseorang yang tanpa sengaja ku dengar dari kejauhan. Aku menjentikkan jariku cepat membuat Dong Bae mengangkat pandangannya padaku


"wae[1]?"


"seseorang datang mencarimu" timpalku singkat memberi kode.


Dong Bae memutar matanya ke sekeliling cepat sejenak, kerutan kecil terlihat di dahinya lalu kembali menatapku "tidak ada siapapun" sahutnya setelah melihat sekeliling Kantor Polisi yang sepi. Aku menggeleng kecil "bukan sekarang" sahutku terhenti melihat jam yang melingkar di tangan kananku "sekitar tiga menit lagi" tambahku. Kening Dong Bae semakin berkerut dalam dan ia menggeleng kecil sambil tersenyum miring kembali memasukan nomor ponselnya dalam ponselku. Rasa tidak percaya Dong Bae terlihat jelas dari senyum di bibirnya itu, melihatnya meragukanku membuat senyum kecilku mengembang sambil menatapnya lurus menunggu peringatanku menjadi kenyataan sembentar lagi.


Tiba – tiba sorot lampu taksi terlihat berbelok masuk lalu berhenti tepat di depan kami. Dong Bae menatap penumpang yang turun dari taksi itu dengan mata menyipit penasaran siapa yang datang kali ini. Kaki mulus seorang wanita dengan sepatu hak tinggi merah muda terlihat turun dari taksi, membuat mata Dong Bae melebar melihat sepatu yang familiar itu. Ia kembali menoleh ke arahku cepat dengan ekspresi kaget dan tidak percaya tergambar sempurna di wajahnya, menatapku lurus kehabisan kata – kata. Aku langsung merampas ponselku cepat dengan senyum kemenangan menghiasi bibirku, lalu berbalik hendak meninggalkannya dengan wanita yang asing bagiku itu. Tangan Dong Bae langsung bergerak cepat menahan lenganku, membuatku menoleh menatapnya lurus. Mataku menyipit melihat matanya yang bergerak kecil panik, namun yang menarik perhatianku bukanlah sorot matanya yang tampak bergetar, tetapi luapan hitam yang perlahan menebal dari tubuhnya. Aura hitam itu mengganggu penglihatanku. Dong Bae pun membuka mulutnya


"kabulkan permintaanku!"


"katakanlah!"


"bisakah kau membuatnya menghilang dari hidupku?" mintanya.


Aku pun menoleh menatap wanita yang berjalan ke arah kami dengan alis berkerut tajam, membuat mataku melebar teringat akan sosok wanita yang berusaha aku lupakan selama ini. Wajah itu, adalah wajah yang membuat aku harus menanggung ganjaran ini, wajah yang sangat aku benci dan tidak ingin ku lihat lagi selamanya.


***


[1] Kenapa?