
Seorang wanita muda dengan gaun putih dan sepatu hak tinggi berwarna merah terang melangkahkan kakinya, menyusuri jalan dengan deretan Rumah si sebelah kanan dan kirinya. Mata lebarnya yang kecokelatan terlihata cerah dan senyum lebar tak pernah pudar dari bibirnya, ia terus berjalan pelan menikmati udara segar yang bertiup kecil menyapu rambut panjangnya yang terurai lurus. Kakinya terhenti di depan Rumah kecil dengan papan bertuliskan NEOMA di atasnya, senyum wanita itu semakin mengembang lebar dan ia menghembuskan nafas panjang dari mulutnya cepat. Sorot matanya terlihat seakan ia sangat mengenal Rumah itu bagai Rumahnya sendiri. Wanita itu mengangkat pandangannya mengintip ke dalam Rumah yang tampak kosong itu.
Tiba - tiba pintu rumah itu terbuka lebar menunjukkan Ga Bi yang berlari pelan dengan rantang makanan di tangannya sambil berteriak kecil "baiklah, kalau begitu aku pergi dulu Sajangnim" pamitnya sambil jalan. Mata Ga Bi melebar kecil saat bertemu dengan mata cokelat wanita misterius itu, ia menyungingkan senyum canggungnya sambil menunduk sopan pada wanita itu. Wanita itu terus menatap Ga Bi yang berjalan perlahan melewatinya dengan senyum lebar yang aneh menghiasi bibirnya. Ga Bi terus melangkah canggung sambil sesekali menoleh kebelakang, ia terus menemukan wanita itu berdiri diam menatapnya di tempat sambil tersenyum manis, namun senyuman manis itu terasa mengerikan bagi Ga Bi. Perasaan canggung dan curiganya membuat Ga Bi melangkahkan kakinya lebih cepat namun wanita itu membuka mulutnya menghentikan langkah Ga Bi
"hari ini adalah hari keberuntunganmu gadis cantik" ucapnya begitu saja.
Suara halus wanita itu terdengar manis di telinga Ga Bi, ia pun mnghentikan langkahnya cepat lalu menoleh dengan wajah bingung "apa?" tanyanya canggung. Senyum wanita itu kembali melebar dan ia membuka mulutnya
"kau akan bertemu dengan orang yang tepat hari ini" timpalnya lagi.
Ga Bi melepaskan tawa canggung dari mulutnya, ia memiringkan kepalanya berpikir keras lalu menunduk sopan pada wanita itu tanpa mengatakan apapun. Ga Bi kembali membalikkan badannya dari wanita itu, ia memutar matanya bingung lalu melangkahkan kakinya kali ini berlari secepat mungkin meninggalkan wanita aneh itu.
Wanita muda itu kembali menoleh menatap Rumah di hadapannya itu, senyumnya meredup sejenak melihatku di balik jendela dengan tangan terlipat di depan dada menatapnya tajam penuh rasa curiga. Wanita itu kembali menyunggingkan senyum lebarnya lalu menunduk kecil, ia membalikkan badannya cepat lalu pergi meninggalkan NEOMA dengan langkah ringan.
000
Ga Bi masuk ke ruang VIP dengan rantang makanan serta karangan bunga indah di tangannya, senyum cerahnya mengembang mendengar sambutan hangat neneknya yang sedang merajut di atas tempat tidurnya. Setelah meletakkan bawaannya di atas meja, Ga Bi menarik kursi lalu duduk di samping neneknya
"bagaimana perasaan Halmeoni[1]? Apa ada yang sakit?"
Ha Rim menggeleng kecil lalu mengulurkan tangannya menepuk pelan pipi Ga Bi manja. Keduanya saling menatap sejenak sebelum Ga Bi beranjak dari kursinya, mengeluarkan makanan yang telah di masaknya dari Rumah. Suasana manis yang bahagia menyelimuti keduanya sampai seorang dokter tampan masuk ke dalam memecahkan suasana, Ga Bi bangkit dari kursinya cepat lalu membungkuk sopan menyapa Jae Bin yang datang dengan senyum cerah. Jae Bin memeriksa kondisi Ha Rim sejenak lalu membuka mulutnya
"kondisi Halmeoni, semakin membaik, tetap makan yang cukup dan minum obatnya tepat waktu, dengan begitu mungkin Halmeoni bisa pulang" simpulnya positif.
Ga Bi tersenyum cerah mendengar kabar itu "benarkah Seonsaengnim?" tanyanya memastikan,
Jae Bin menoleh kecil menatap Ga Bi sambil mengangguk kuat lalu kembali menatap Ha Rim "apa ini cucu Halmeoni juga?" tanyanya basa – basi.
Ha Rim mengangguk kecil dengan senyum cerah "benar, ini cucuku" jawabnya menjelaskan,
Ga Bi menatap Neneknya bingung sambil memiringkan kepalanya meminta penjelasan, Ha Rim pun mengedipkan matanya cepat memberi kode membuat Ga Bi membuka mulutnya hampa memahami kode itu lalu kembali menatap Jae Bin lurus. Tawa canggungnya pecah begitu saja "benar, namaku Jung Ga Bi, tolong jaga Nenekku dengan baik" sapanya sopan. Jae Bin pun mengangguk kecil lalu mengulurkan tangannya cepat
"namaku Yoon Jae Bin, senang bertemu denganmu Ga Bi –ssi" timpalnya memperkenalkan diri.
Ga Bi dengan sigap mengulurkan tangannya cepat menjabat tangan Jae Bin sejenak. Keduanya saling melemparkan senyum canggung sampai Jae Bin meninggalkan Ga Bi dan Ha Rim di ruangan itu, Ga Bi terus menatap Jae Bin yang meninggalkan ruangan sampai ia menghilang di balik pintu lalu menghembuskan nafas kecilnya. Ha Rim yang melihat senyum itu memukul keras lengan cucunya, membuat Ga Bi menoleh cepat sambil mengusap kecil lengannya
"SAKIT!" teriaknya kesal.
"benarkah?"
Ha Rim mengangguk cepat lalu menarik Ga Bi agar dia kembali duduk di kursinya, ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Ga Bi "apa kau tahu Wol –ie bertemu dengan seseorang yang tidak bisa ia lihat masa depannya?" bisiknya penasaran. Mata Ga Bi melebar mendengar pertanyaan itu "bagaimana Halmeoni mengetahuinya? Tidak, tidak… sejak kapan?" tanyanya cepat
"tentu saja Wol –ie menceritakannya padaku, sekitar tiga minggu yang lalu mungkin, aku sudah lupa kapan"
"waaahhhh… Sajangnim, benar – benar keterlaluan, dia baru memberi tahuku saat pria itu tiba – tiba muncul di NEOMA beberapa hari lalu" jelasnya tidak percaya.
Ha Rim yang mendengar itu langsung melebarkan matanya "pria itu datang ke NEOMA katamu? Seperti apa wajahnya?" tanyanya penasaran.
Ga Bi pun membuka mulutnya mulai mendiskripsikan wajah Dong Bae dan menceritakan pertemuan mereka di NEOMA, sampai bagaimana akhirnya kami melakukan perjanjian malam itu. Ha Rim pun mendengarkan semua itu sambil sesekali memberikan reaksi dan mengajukan pertanyaan mengobati rasa penasarannya.
000
Ga Bi berjalan di koridor Rumah Sakit dengan rantang kosong di tangannya menuju pintu keluar. Matanya berputar kecil dan terhenti pada pria yang duduk di ruang makan dengan segelas kopi di hadapannya, pria itu menatap keluar jendela membuat Ga Bi penasaran apa yang di lihatnya disana. Ga Bi melangkahkan kakinya pelan mendekati meja pria itu lalu membuka mulutnya
"apa yang membuat Yoon Seonsaeng menatap keluar sefokus itu?" tanyanya membuat Jae Bin menoleh cepat menatap Ga Bi yang berdiri di samping mejanya.
Senyum kecil Jae Bin tersungging perlahan lalu ia kembali menoleh keluar jendela sejenak "aku tidak tahu, aku juga masih mencari jawaban atas pertanyaan itu" jawabnya ambigu, Ga Bi mengerutkan keningnya mendengar jawaban itu lalu melipat tangannya di depan dada
"aku tahu apa yang Yoon Seonsaeng cari" timpalnya.
Kata – kata itu membuat Jae Bin semakin tertarik mendengarkan Ga Bi, ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperbaiki posisi duduknya condong menatap Ga Bi. Ia tersenyum miring
"katakan jawabanmu"
"kebebasan."
Mata Jae Bin melebar dan senyumnya perlahan memudar setelah mendengar jawaban itu. Keduanya saling menatap diam seakan waktu terasa berhenti berputar, dering ponsel Jae Bin memecahkan keheningan antara mereka, membuat Jae Bin mengalihkan pandangannya lebih dulu. Jae Bin berdeham kecil sambil bangkit dari kursinya, mengangkat tangannya menunjuk ke belakang acak "aku harus pergi, ada pasien darurat" pamitnya cepat namun terdengar canggung. Ga Bi pun mengangguk kecil mempersilahkannya pergi sambil menunduk kecil sopan, ia terdiam di tempatnya menatap punggung lebar pria yang menjauh darinya itu
"apa jawabanku benar?" tanyanya pada udara hampa.
***
[1] Nenek.