I'M A Witch

I'M A Witch
DUNIA LAIN



Aku teridam mematung di tempatku, namun tidak hanya aku yang terdiam menatap keduanya lurus. Dong Bae yang sejak tadi berdiri di belakangku juga berdiri menatap pria dengan kacamata kotak yang juga menatapnya lurus, sementara Ga Bi hanya menatap kami bergantian dengan mata berputar bingung tidak tahu haru berbuat apa. Jae Bin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan senyum miring tersungging kecil di ujung bibirnya


“lama tak jumpa, Jang Hyeongsa” sapanya terdengar sinis.


Ga Bi langsung menoleh menatap Dong Bae kaget mengetahui keduanya saling mengenal, sementara Dong Bae terus menutup mulutnya diam sambil mengepalkan tangannya erat. Ga Bi mengangkat jarinya menujuk kedua pria itu bergantian “apa kalian saling kenal?” tanyanya tidak percaya,


Jae Bin melebarkan senyumnya “hmm, kami teman sekolah” timpalnya santai.


Mataku melebar kecil mendengar kebohongan dari Jae Bin barusan, aku menoleh kecil menatap Dong Bae


yang tampak tegang lalu melipat tanganku di depan dada


“selamat malam Yoon Seonsaeng, jika tidak ada yang perlu anda sampaikan anda bisa pergi” usirku halus.


Jae Bin langsung memutar matanya menatapku lurus dengan senyum kaku, aura merah meluap tipis dari tubuhnya membuatku menyadari ia sedikit tergangu dengan perkataanku. Aku melirik kecil melihat luapan aura hitam dari ujung mataku, aku pun menjentikkan jariku membuat waktu berjalan mundur cepat. Dong Bae menoleh cepat melihat sekelilingnya yang mulai bergerak mundur


“apa yang kau lakukan?”


“menunda pertemuan singkat ini” timpalku cepat lalu menjentikan jariku kembali saat Ga Bi dan Jae


Bin belum sampai di Apartemen.


Aku membalikkan badanku “telfon Ga Bi seperti yang kau lakukan tadi, tapi kali ini katakan padanya


tidak perlu datang kemari, untuk hari ini kita lakukan penyelidikannya berdua saja” perintahku mengulangi apa yang telah terjadi. Dong Bae pun mengangguk kecil “baiklah” jawabnya singkat mulai bergerak mengeluarkan ponselnya. Aku menghembuskan nafas berat melihat aura hitam yang tidak berhenti meluap dari tubuh Dong Bae, setelah ia menurunkan ponselnya dari telinga, aku pun membuka


mulut pedasku


“apa kau sesedih itu? Memangnya apa yang terjadi antara kau dan dia?” tudingku cepat.


Dong Bae memijat keningnya pelan berusaha menyembunyikan perasaannya, namun aura hitam yang


meluap dari tubuhnya semakin menebal. Aku mengulurkan kedua tanganku ke depan matanya, membuat Dong Bae menarik dirinya cepat kaget. Ia mengerutkan dahinya “apa yang kau lakukan?” tanyanya curiga, aku kembali mengulurkan tanganku menutup matanya


“membuka matamu” jawabku lalu memejamkan mataku.


Aku menurunkan tanganku perlahan dari mata Dong Bae, ia pun kembali membuka matanya perlahan. Matanya langsung melebar kaget dan ia menoleh kesekeliling dengan mulut terbuka hampa


“apa ini?” tanyanya ketakutan.


Mata Dong Bae berputar semakin cepat melihat dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya, aku hanya


menggeleng kecil sambil menghembuskan nafas berat melihat tingkah naeh itu. Kerutan semakin dalam menghiasi dahi Dong Bae, ia terus melihat hantu – hantu yang bertebaran di seluruh sisi kota, rengekan kecil pun mulai keluar dari mulutnya


“hey, apa yang kau lakukan padaku?”


“kau sendiri yang bilang kalau kau merasa seperti orang asing antara aku dan Ga Bi kemarin”


timpalku santai.


Dong Bae langsung meraih lengan jaketku cepat “ahhh… aku menyesal, maafkan aku, aku tidak ingin


melihat ini…” rengeknya memohon.


Aku menggeleng kecil sambil memutar tanganku melepaskan gengamannya lalu berjalan meninggalkannya


menuju parkiran bawah tanah. Dong Bae terus merengak ketakutan sepanjang perjalanan menuju parkiran, ia terus menoleh penuh rasa ketakutan sambil berteriak kaget beberapa kali melihat hantu – hantu yang muncul begitu saja dari segala arah. Aku mengusap kecil telingaku kesal lalu berbalik cepat


Dong Bae merengek semakin keras “heyy… aku mohon aku tidak sanggup melihat semua ini…” keluhnya.


Aku menghembuskan nafas kecil lalu mengulurkan tanganku menangkap pipinya, Dong Bae langsung terdiam lurus menatapku membuat keheningan sejuk menyelimuti kami. Aku menatapnya lurus


“tenanglah, agar mereka tidak mengganggumu kau harus tenang, jika kau bersikap seperti ini mereka akan


terus mendekatimu” jelasku.


Dong Bae mengedipkan matanya beberapa kali lalu berdeham kecil mendengarkan nasihatku, ia mengangguk kaku “ba –baiklah” jawabnya canggung. Aku pun mengangguk kecil lalu menurunkan


tanganku perlahan dari pipinya.


Dong Bae mematung di tempatnya menatap roh Ji Hoo yang tidak dapat ia lihat sebelumnya, begitu pula Ji Hoo yang merasa bahwa kini Dong Bae dapat melihatnya. Aku menghembuskan nafas besar


“benar, kalian sedang saling menatap” sahutku terganggu.


Keduanya langsung menoleh menatapku bingung sejenak lalu kembali saling menatap lurus. Ji Hoo pun


membuka mulutnya “bukankah kemarin dia tidak bisa melihatku?” tanyanya, aku pun menggangguk kecil “hmm, mulai sekarang dia bisa” timpalku cepat. Aku menjentikkan jariku di depan mata Dong Bae membuatnya menoleh kaget menatapku


“w –wae?” tanyanya tersadar dari lamunannya,


“tanyakan apa yang ingin kau tanyakan” timpalku santai.


Dong Bae membuka mulutnya hampa sambil mengangguk kecil, ia langsung bergerak mengeluarkan buku


catatan kecil di saku jaketnya memulai interogasi. Dong Bae berdeham kecil sejenak


“senang bertemu denganmu Ji Hoo –ssi, saya Jang Dong Bae” sapanya canggung.


Tawa kecilku pecah mendengar sapaan canggung itu, Dong Bae pun langsung menoleh dengan alis berkerut


kesal menatapku “hey!” panggilnya. Aku hanya melirik kecil ke arahnya sambil melipat tanganku di depan dada sambil berdeham kecil. Dong Bae kembali menatap Ji Hoo lurus menyampaikan pertanyaannya, segalanya berlangsung lancar sampai tiba – tiba aku mendengar suara langkah seseorang yang mendekat ke arah Rumah.


Aku membekap cepat mulut Dong Bae sambil menoleh ke belakang cepat, Dong Bae yang memberontak mengeluarkan suaranya di balik mulutnya yang terbekap membuatku mengangkat jari telunjukku ke depan bibir cepat. Menyadari ada yang tidak beres, Dong Bae terdiam menungguku mengatakan sesuatu. Suara langkah itu terdengar semakin dekat membuat mataku melebar yakin


“seseorang datang” simpulku cepat melepas bekapanku pada mulut Dong Bae.


Pria itu melebarkan matanya kaget mulai menoleh ke sekeliling panik, ia mencondongkan tubuhnya ke


arahku “apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kau tidak tahu itu siapa?” tanyanya cemas. Aku langsung menjentikkan jariku membuat waktu berhenti, dan langsung menarik lengan Dong Bae keluar dari Rumah itu cepat. Langkah kami terhenti melihat wajah yang menjadi sumber kasus ini, keningku langsung berkerut dalam mengamati pria itu lurus – lurus


“apa kalian bisa melihatku?” tanyanya hati – hati.


Aku langsung menatap Dong Bae yang menatapku lurus dengan ekspresi kaget yang sama, kami langsung


menoleh kembali menatap roh Myeong Joon yang menatap kami penuh harap. Aku berbalik menatap Rumah di hadapanku lalu mendongak melihat jendela yang menembus ke dalam kamar, aku mendekat ke arah Dong Bae sambil membuka mulutku


“kita dalam masalah” bisikku,


Dong Bae berbalik mengikuti arah pandanganku, matanya ikut melebar kaget melihat Ji Hoo yang


telah menatap kami dari balik jendela. Mata birunya mengalirkan air mata darah menatap pria yang di tunggunya selama ini, mata biru pria itu juga menatap ke arah yang sama.


***