
"W-what do you mean?! Are you kidding me?!" (Apa maksudmu?! Apa kau bercanda?!) tanya Kevin pada William, memastikan bahwa yang didengarnya adalah salah.
"Ck.. Apa wajahku terlihat bercanda?!" jawab William dengan wajah serius sambil meletakkan laptop yang ada dipangkuannya ke atas meja.
"Maksudku, bukankah ini terlalu cepat? Vian belum benar benar tamat dari sekolah menengah atas, bahkan kelulusannya masih satu minggu lagi. Kenapa harus buru buru?" tanya Kevin lagi, yang masih sedikit bingung dan tidak menyangka.
"Aku hanya mengurus perpindahannya saja. Untuk pergi dari mansion ini tentu saja menunggu dia menerima kelulusan lebih dulu. Setelah itu, Vian akan langsung pergi ke London, dia harus segera menyelesaikan kuliahnya!"
"Kenapa harus ke London?" tanya lagi oleh Cindy pada William, yang langsung mendapat jawaban dari William, Kevin, dan Alice dengan menaikkan sebelah alis mereka. Karena merasa aneh dengan pertanyaan Cindy yang jelas Cindy tau betul bahwa Kuliah di London adalah tradisi dan juga sudah jadi keharusan bagi keluarga mereka.
"Maksudku, Ini masih bulan Maret, dan mahasiswa baru di London University masuk bulan Agustus, masih 3 bulan lagi, waktu yang cukup luang. Kenapa tidak kita gunakan waktu itu untuk liburan dan bersenang senang bersama, selagi menunggu Vian masuk kuliah? kenapa harus tergesa gesa?" Jelas Cindy pada William dan Kevin yang terlihat diam menatapnya, berbeda dengan Alice yang dari tadi tampak diam tak bersemangat kini langsung tersenyum setelah mendengar pernyataan dari Cindy.
"Cindy benar, sayang! Kenapa tidak kita habiskan waktu tiga bulan itu untuk bersama sama saja? Kita bisa Liburan bersama atau apapun itu semacamnya sebelum Vian benar benar pergi ke London!" Alice yang dari tadi diam akhirnya membuka suara pada suaminya karena jujur ia pun tak rela jika Vian diberangkatkan ke London secepat itu.
Alice sebenarnya juga sama terkejutnya seperti Kevin dan Cindy, bahkan sangat terkejut. Karena William belum pernah membicarakan hal ini dengan dirinya secara empat mata. Dan Alice pun tidak pernah menanyakannya karena mengira suaminya merasakan hal yang sama sepertinya, yaitu belum siap memberangkatkan Vian ke London. Tapi ternyata perkiraannya salah, diamnya William ternyata karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan dan juga kepergian Vian sampai lupa membicarakannya dengan Alice yang juga merupakan Istrinya sekaligus Momny Vian.
"Dia itu ke London hanya sementara, bukan pergi selama lamanya, lagi pula setiap tahun dia akan pulang. Dia hanya akan menyelesaikan S1 saja disana, dan akan melanjutkan S2 disini, jika itu memang yang kamu inginkan! Dia harus segera mempersiapkan dirinya untuk menggantikanku sebagai pemimpin perusahaan kita!"
"Bagaimana kalau kita tukar saja? S1 di Singapore dan S2 di London. Vian masih sangat muda, dia masih anak anak bahkan usianya baru 18 tahun, aku tidak yakin dia akan bisa tanpa jangkauan dan bimbingan kita.." mohon Alice pada suaminya.
"How about the International University Singapore? Itu salah satu university terbaik di dunia, Vian bisa kuliah disana tanpa harus pergi jauh dari kita, setelah Vian beranjak dewasa baru kita pikirkan lagi untuk dia pergi ke London!" seru Cindy dengan bersemangat.
"Jika dia terus bersama kita, maka dia tidak akan menjadi pria dewasa! Dia akan terus menjadi pemuda sombong dan angkuh karena selalu berlindung dan dimanja oleh dua mommy!" tegas William pada mereka berdua, hingga membuat Alice dan Cindy duduk terdiam disofanya.
"Sayang, kau marah? Aku adalah mommy nya, aku hanya khawatir pada putraku apalagi dia tidak akan tinggal bersama kita selama 4 tahun itu pun belum tentu kalau dia lulus, jika tidak lulus? Berarti harus bertambah beberapa tahun lagi, itu waktu yang sangat lama sayang.." ucap Alice dengan lemah, sambil mengelus elus lengan suaminya.
"Aku daddy nya, aku ingin putraku menjadi pemimpin yang layak dan ini yang terbaik untuk putraku! aku tidak akan mengubah keputusanku! lebih cepat Vian pergi, maka lebih baik!" tegas William.
"Kalian berdua itu kenapa? Bukankah William tadi sudah bilang, setiap tahun Vian akan pulang! Kita juga bisa mengunjunginya kapan pun! Dan kau bilang tadi apa Alice? Tanpa Vian selama 4 tahun atau lebih? Oh come on! Apa kau lupa? Vian itu sangat cerdas, bahkan aku sangat yakin dia akan menyelesaikan kuliahnya kurang dari 2 tahun!" sambung Kevin pada Alice dan Cindy yang terlihat tengah memasang wajah memelas.
Cindy hanya diam sambil terus memikirkan cara agar Vian tidak jadi di berangkatkan ke London, walaupun sebenarnya Cindy tau cepat atau lambat Vian akan tetap kuliah di London, tapi setidaknya William memundurkan waktu agar Vian tidak segera pergi.
"Kenapa kita sibuk menentukan sendiri, tanpa memikirkan keinginan Vian yang akan berkuliah? Bagaimana kalau kita tanya langsung pada vian saja? Dia ingin kuliah di London atau Singapore?" seru Cindy dengan pertanyaannya dan merasa senang, karna Vian pasti akan lebih memilih kuliah di singapore karena selain tidak perlu pergi jauh dari keluarga nya, Vian juga masih tetap bisa melakukan pekerjaan impiannya, yaitu di perusahaannya sendiri.
"tok tok!" bunyi ketukan yang berasal dari luar pintu ruang kerja
"Permisi tuan nyonya.."
"Diluar ada pelayan, sayang apa kau memanggilnya?" tanya Kevin pada Cindy.
"Tidak aku tidak memanggilnya" jawab Cindy.
"Masuklah!" titahnya dengan suara sedikit keras agar pelayan yang berada dibalik pintu mendengar.
"Permisi tuan nyonya.. Mohon maaf mengganggu waktunya, ada yang bisa saya bantu atau saya lakukan?"
"Tolong bawa ini ke bawah, kami sudah selesai!" titah Alice sambil memberikan piring dan gelas sarapan tadi pada pelayan.
"Ini saja, nyonya? Kalau begitu saya permisi.."
"Wait!" (tunggu!) titah Willian pada pelayan yang hendak keluar itu.
"Ada apa tuan?" tanya pelayan itu setelah ia kembali mendekat.
~
Vian masih berada di kamar Laura, tengah tertawa pada adiknya yang terlihat merajuk sambil melipat kedua tangannya dan membuang mukanya menatap ke tembok.
"Hey, mau sampai kapan kau menoleh kesana? Nanti lehermu akan sakit!" tanya Vian pada Laura yang masih merajuk dan hendak mogok bicara dengannya.
"Wait! What's time is it?" (Tunggu dulu! Jam berapa ini?) tanya Vian pada dirinya sendiri dan langsung menoleh pada arloji yang melingkar di tangannya.
"Hah! It's already 8.20! It's too late! Hurry up, you're late!" (Ini sudah jam 8.20! Ini sudah terlambat! Cepatlah, kau terlambat!) ucap Vian pada Laura tapi hanya dibalas dengan Laura yang terlihat menatapnya dengan tajam.
"Oh yaampun! Iya iya, aku yang akan mengantarmu sekolah, Cepat bersiaplah!" titah Vian lagi tapi Laura masih saja menatap nya bahkan lebih tajam.
"Kenapa? Aku kan sudah minta maaf? Aku akan menunggumu atau kau tak mau aku antar?" tanya Vian pada Laura yang terlihat semakin kesal.
"iiihhhh!" "Ini hari mingguuu!" ucap Laura dengan berteriak sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai dan Vian yang langsung menutupi telinga dengan kedua tangannya
"hari minggu? pantas saja daddy tidak bekerja.."
"tok tok!" "permisi tuan muda dan nona muda, mohon maaf menganggu waktu kalian.."
"Ada apa? Aku tidak memanggilmu!"
"Apa kau memanggilnya?" tanya Vian pada adiknya dan dijawab oleh Laura dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Mohon maaf tuan muda, tapi tuan besar menunggu anda di ruang kerja.." ucap pelayan itu dengan sopan sambil menundukkan kepala.