I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 26



Kakak beradik itu langsung memasuki mobil, melaju meninggalkan Brilliant Secondary School, Sekolah Laura.


"Ehh, kenapa mengebut sih? Kakak itu belum diperbolehkan mengendarai mobil, masih dibawah umur, masih illegal!" Pekik Laura saat Revian menambah kecepatan mobilnya, hingga membuatnya memegang erat sabut pengaman yang terpasang ditubuhnya.


"Enak saja illegal! Aku sudah mendapatkan Surat Izin Mengemudiku sejak 1 tahun yang lalu! Aku sudah resmi dan bebas!"


"Iya kah? emm.. Kenapa kakak yang menjemputku? Tumben sekali.." heran Laura.


Revian tidak menjawab pertanyaan Laura, ia memilih merendahkan kecepatan mobilnya saat ponselnya berdering.


[Kau dimana? Kami sudah disini! Cepatlah!]


"Laura jam berapa sekarang?"


"Emm.. Jam 04.55 PM"


[Tunggu aku! Aku harus mengantar adikku pulang dulu, sebelum pukul 06.00 PM aku sudah disana!]


....


"Kakak mau kemana?" tanya Laura.


"Aku ada urusan dengan teman temanku!" jawab Vian tanpa menoleh ke arah Laura karna fokus mengendarai.


"Apa ada kak Bryan dan Nathan?"


"Ya!"


"Boleh aku ikut?"


"Tak boleh! Ini urusan pria!" tolak Vian.


"Ayolah, kak! Aku mohon... Aku ingin bertemu dengan Kak Bryan dan Nathan!" Laura memohon sambil menggoyang goyangkan lengan Vian.


"Kau itu masih kecil! Tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa! Lagi pula untuk apa kau ingin bertemu mereka?"


"Kita itu hanya beda 4 tahun! Aku hanya ingin berkenalan saja! Toh aku belum pernah melihat mereka secara langsung! Aku ikut ya? Please!" Laura kembali memohon, kali ini sambil memasang puppy eyes.


"Ck.. Kau ini! Ya sudah kau boleh ikut, tapi jangan mengganggu pekerjaanku!"


"Yes! Thank you, My handsome brother!" Laura bersorak dengan gembiranya lalu mencium pipi Vian. Membuat Vian hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya saja melihat tingkah adiknya yang akan sangat gembira dan bahagia, hanya dengan hal hal kecil saja.


"Wait! Kenapa arahnya kesini?" Tanya Laura saat melihat mereka malah berjalan mengarah ke mansion


"Kita pulang dulu! Apa kau ingin ikut aku dengan seragam sekolah itu? Ganti dulu pakaianmu!"


"Aku tidak masalah dengan pakaianku ini! Kau mau meninggalkanku saat aku ganti pakaian kan? Tidak perlu ganti pakaian!" Tolak Laura


"Untuk apa aku meninggalkanmu? Aku akan menunggu di dalam mobil, cepatlah!"


"Kak Vian, Kak Vian... Aku bukan anak kecil lagi dan aku masih mengingat semua tipuanmu dulu! Sudahlah, ayo putar arah!"


Ditengah perjalanan tiba tiba Laura ingin buang air besar, Vian pun memberhentikannya di toilet umum yang berada disamping Mall kota itu.


"Cepatlah! Aku akan menunggu disini!"


"Antar aku sampai ke dalam, kak. Aku takut!" pinta Laura.


"Ck... Kau ini merepotkan sekali! Katamu kau bukan lagi anak kecil!" kesal Revian tapi ikut keluar dari mobilnya.


"Hehee.. Oh iya tasku!" Laura kembali masuk kedalam mobil untuk mengambil tasnya.


"Ayolah kak, aku sudah tidak tahan!" Laura menarik tangan Vian.


Revian mengantarkan Laura sampai ke dalam, setelah itu kembali menuju parkiran dengan bibir yang menyungging. Ada untungnya juga Laura ingin buang air besar.


Vian langsung berjalan terburu buru saat mengingat ia lupa mencabut kunci mobilnya dan ia harus segera pergi meninggalkan Laura sebelum adiknya itu selesai.


"Terkunci? Dimana kunci mobilku?" Saat hendak membuka pintu mobilnya ternyata pintunya terkunci, menandakan bahwa kunci itu sudah dicabut dan tidak ada lagi dimobilnya.


"Ahh, didalam dompet!" Vian menggerayahi saku celananya.


"Tidak ada? Dimana dompetku? Ponselku?" Vian kembali menggerayahi sakunya, kemudian mengintip lewat jendela mobilnya untuk memastikan apakah tertinggal atau tidak.


"Arghh! Laura!"


Sementara itu didalam toilet, Laura yang sedang buang air besar tertawa kecil sambil memeluk tasnya. Tas yang tidak hanya berisikan buku dan alat tulisnya saja, tapi juga ada ponsel, dompet, dan tentunya kunci mobil Vian yang diambil diam diam saat ia mengambil tasnya tadi.


"Hihi.. Emang enak dikerjain?!" Laura tertawa penuh kemenangan.


~


Dengan terpaksa Revian menunggu Laura hampir 1 jam lamanya, entah apa yang dilakukan gadis kecil itu didalam toilet. Tak lupa mereka kembali membuang buang waktu kurang lebih setengah jam untuk bertengkar terlebih dahulu. Setelah itu baru Revian sambil menahan semua kekesalannya melajukan mobilnya dengan cepat menuju tempat yang dituju.


Sesampainya disana Revian langsung berjalan masuk, sementara Laura masih terdiam mengeja papan nama neon yang terpampang besar di tempat yang ia yakini sebuah cafe.


"Norxx Special Club? Kakak mengajakku ke Club?" Tanya Laura dengan heran, tidak menyangka akan diajak ke sebuah club oleh kakaknya. Ia pikir kakaknya akan ke restauran atau cafe untuk makan - makan, ternyata ia salah.


"Aku tidak pernah mengajakmu! Kau yang memaksa ikut! Kau ingin terus berdiri disana atau ikut aku?"


Laura pun segera menyusul Vian yang sudah berada didepan pintu club langganannya itu.


"Atas nama Jonathan?" Tanya Vian pada resepsionis.


"Maaf.. Tuan Jonathan dan temannya baru saja pulang.. Jika ingin memastikan, silahkan ke meja no 017!"


"Pulang?"


"What?!" pekik Vian terkejut saat melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 07.15 malam. Berarti sahabatnya itu sudah menunggu lebih dari 2 jam lamanya.