I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 28



"No! Kalian gila? Kalian tau betul aku tidak menyukai ini.. Aku tidak mau!" tolak Revian.


"Jika kau menyukai ini.. Kami tidak mungkin memintamu menghabiskan ini! Hurry up, drink this!"


"Sudahlah, kita batalkan saja perjanjian ini! Aku sudah punya semuanya, Aku tidak membutuhkan hasil pertaruhan ini! Aku harus secepatnya pulang, orang tua kami pasti sedang mencari kami! Ayo, Laura!" Revian berdiri dan hendak menarik tangan Laura.


"Jadi kau menolak tantangan ini? Kau menyerah?" tanya Nathan sengaja memancing Revian.


"Jaga bicaramu! Dia tidak menyerah, dia hanya takut!" Revian sempat senang mengira Bryan akan membelanya. Ternyata ia salah, kedua sahabatnya itu sama saja.


"Kakak takut? Bukankah sirup itu terlihat sangat enak?" Laura yang dari tadi diam akhirnya bersuara. Ia merasa heran kenapa kakaknya menolak sirup berwarna merah itu, padahal pasti sangat manis dan segar.


"Kau tidak usah ikut campur, anak kecil!" Vian semakin kesal. Adiknya pun malah ikut ikut, padahal ia tidak tau apa apa. Sementara Nathan dan Bryan tertawa kecil mendengar pertanyaan Laura.


"Ya Seperti itulah, Laura.. Ternyata kakakmu tidak seberani itu. Dia sebenarnya hanya lelaki penakut!" ejek Bryan.


"Shut up! Kau menantangku?! Pikirmu aku tidak berani ha?" Revian tidak terima dengan kedua sahabatnya yang terus menghinanya.


"Really? Prove it to me!" (Benarkah? Buktikan padaku!)


"Aku hanya tidak suka, bukan berarti aku takut!" Revian mulai meraih gelas berisikan red wine itu dan meneguknya sambil menutup mata.


"Wah wah! Ini baru Revian Abayomer!" seru Nathan sambil bertepuk tangan saat Revian sudah menghabiskan dua gelas red wine.


Bryan kembali meminta pelayan untuk membawakannya lagi. Sedangkan, Revian hanya menggeleng gelengkan kepalanya yang mulai terasa pusing.


Bryan dan Nathan sengaja menantang Revian untuk menghabiskan beberapa gelas wine. Karna mereka tau sahabatnya itu tidak begitu menyukai wine ataupun minuman beralkohol lainnya. Terbukti dari setiap mereka berkumpul, Revian hanya akan meminum satu atau dua teguk saja, tidak pernah habis bahkan jika gelas itu kecil.


"Okey! Mari kita resmikan pertaruhan ini!" Mereka bertiga bergantian menandatangani surat perjanjian dan juga surat pengambil alihan tanah dan villa, sementara Laura hanya diam saja menyaksikan kegiatan tiga pria tampan itu.


"Congratulation, Mr. Revian! You are the winner!" ucap Bryan dan Nathan dengan bersamaan.


"Apapun itu, aku yang akan selalu jadi pemenangnya!" sombong Revian dengan mata yang mulai memerah.


Sementara itu, pelayan yang tengah berjalan membawa red wine kearah mereka bertiga, menatap Revian dengan penuh kekaguman. Revian yang meski sangat dingin dan cuek tapi dia sangat tampan, apalagi saat ia meneguk wine tadi.. Membuat ketampanannya bertambah berkali kali lipat. Pelayan itu terus berjalan tanpa mengalihkan pandangannya ataupun tidak mengedipkan matanya sedikit pun dari Revian, hingga pelayan itu tidak menyadari jika dirinya sampai disamping mereka.


"prak!" beberapa gelas wine jatuh kelantai, pelayan itu menabrak Laura yang tengah duduk, dan menumpahkan red wine yang dibawanya ke seragam sekolah yang dikenakan Laura.


"aaa.. Seragamku!" teriak Laura terkejut apalagi setelah melihat seragam putihnya berubah menjadi kemerahan.


"Kau sengaja menumpahkannya pada adikku ya?!" Sentak Revian pada pelayan itu.


"Apa kau tidak punya mata?!" sambung Bryan.


"Laura, are you okay?" tanya Nathan, mendekati Laura.


"Jangan sentuh adikku dengan tangan kotormu itu!" Sentak Revian lagi, hingga membuat pelayan itu reflek menjauhkan tangannya.


"Aku tidak apa apa, kak!" bilang Laura.


"Apa kau mau memakai jaketku?" tawar Nathan sambil hendak melepas jaketnya, tapi mengurungkan niatnya karna Laura yang menolaknya.


"Sudahlah, Vian! Dia tidak sengaja!" bilang Nathan saat Revian masih menatap pelayan itu seperti hendak membunuh hingga membuat pelayan itu ketakutan.


"L-lagipula aku hanya menumpahkan wine pada pakaiannya saja! Dan nona ini pun bilang tidak apa apa.." Pelayan itu mencoba membela diri meski dengan suara gemetar.


"Sudah salah banyak bicara lagi! Kau itu hanya pelayan murahan! Masih membela dirimu, setelah apa yang kau lakukan pada adikku!" umpat Revian pada pelayan itu.


"Kak vian, cukup! Kau melukai hatinya!" teriak Laura dengan gemetar, ia tidak menyangka kakaknya sampai setega itu menghina pelayan itu. Padahal ia tidak sengaja menumpahkannya, dan ia pun sudah meminta maaf.


"Ck.. Apa wanita rendahan punya hati juga? Aku rasa tidak!" ejek Revian sambil menyunggingkan bibirnya.


"Kenapa kau terus menghinaku seperti itu? Lagipula aku sudah meminta maaf.. Aku seorang wanita bukankah ibumu dan adiku itu juga seorang wanita?" curah pelayan yang ketakutan itu sambil menangis, merasakan sakit dihatinya.


"Beraninya kau!" Revian menghampiri pelayan itu dengan sedikit sempoyongan, kemudian mencekik lehernya.


"Jangan pernah menyamakan dirimu yang ja-lang itu dengan keluargaku! Kalian jelas berbeda!" Berang Revian dengan penuh penekanan begitu juga dengan tangannya yang masih mencekik leher pelayan yang wajahnya mulai pucat.


"Revian, hentikan! Kau bisa membunuhnya!" Bryan menarik tangan Vian dari leher pelayan itu.


Sementara Laura menangis ketakutan menyaksikan kemarahan kakaknya. Revian yang mendengar tangisan adiknya langsung melepaskan cekalannya dan mendorong pelayan itu hingga terjatuh ke lantai.


Pelayan itu dengan tubuh gemetar langsung memegangi lehernya yang sakit dan mencoba mengatur nafasnya yang sempat tertahan tadi dengan diiringi tangisan ketakutan. Ia benar benar tidak menyangka ternyata pemuda yang baru lulus sekolah menengah atas itu benar benar sangat arrogant dan kasar, lebih dari perkiraannya.


"Pergi kau dari hadapanku.. Sebelum kubuat kau menyesal!" ancam Revian mengusir pelayan itu, tak lupa dengan kata kata kasar yang membuat wanita manapun pasti terluka mendengarnya.


Revian mengambil surat surat miliknya "Ayo! Kita keluar dari tempat sialan ini!" menarik tangan Laura dengan kasar.


"Sudahlah, kau tidak usah pikirkan perkataan dan perlakuan sahabatku tadi! Lupakan saja! Dia hanya meracau, dia itu pasti sedang mabuk!" Nathan mencoba menenangkan pelayan seksi itu terlihat masih ketakutan. Walaupun sebenarnya ia yakin kalau Revian tidak benar benar semabuk itu, sahabatnya itu hanya sudah muak dengan sekelilingnya dan ingin segera pergi dari tempat ini.


Sedangkan Bryan hendak menyusul Revian yang sudah keluar dari Club itu "Sudah, Biarkan dia pergi!" cegah Nathan pada Bryan, sambil membantu pelayan itu duduk di kursi.


"Dia tidak meracau ataupun mabuk! Sikapnya memang arrogant bahkan sejak lahir! Jadi jangan salahkan dia jika memperlakukanmu seperti itu! Salahmu yang tidak bisa menjaga pandanganmu, hingga kau menganggu adiknya!" ketus Bryan sambil menelisik penampilan pelayan itu.


"Kau tersinggung dengan perkataannya? Bukankah itu memang profesimu? Pakaianmu pun mencerminkan seperti apa dirimu!" Bryan malah semakin memojokkan pelayan itu. Menurutnya aneh jika pelayan itu tersinggung dan sakit hati dengan perkataan dan sikap Revian. Padahalkan dia memang bekerja sebagai pelayan sekaligus wanita penggoda di club ini.


Sedangkan Nathan hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja, mendengar perkataan Bryan yang sebelas dua belas dengan Revian.


"Sudahlah, tak usah dengarkan perkataannya! Bagaimana kalau kau temani aku minum?" Tawar Nathan pada pelayan seksi itu. Ia sudah kembali ke mode awal, yaitu menggodai wanita.