I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 24



"Benarkah?" Rebecca yang tadinya terlihat sedih, kini tersenyum hingga membuat wajah gadis itu semakin cantik.


"Iyaa, Becca cantik.. Ayo!" Nathan menarik tangan Rebecca untuk berfoto bersama.


"Kau sangat cantik saat tersenyum!" jujur Nathan setelah mereka selesai berfoto.


"Terimakasih! Aku jadi malu.." ucap Rebecca sambil menutup wajahnya malu malu, "Btw, Kau juga!"


Nathan menaikkan salah satu alisnya, "Maksudmu aku juga cantik?"


"T-tidak bukan begitu! Maksudku.. Kau juga tampan!"


"Aku tau itu! So, berarti kau mau jadi kekasihku?" goda Nathan dengan segala pesonanya.


"Ha?!" Bukan hanya Rebecca yang terkejut, tapi juga Bryan. Bagaimana tidak terkejut? Nathan tiba tiba saja meminta dirinya menjadi kekasihnya.


"Bagaimana? Mau tidak? Jika dijawab, berarti kau jadi kekasihku. Jika tidak, berarti aku yang jadi kekasihmu!"


Nathan mengelus punggung tangan Rebecca yang tadinya terkejut kini terlihat jelas salah tingkah dengan pernyataannya.


"W-what?!" Bryan terkejut dengan tingkah Nathan yang semakin hari semakin berani menggoda wanita. Bagaimana tidak? saat berfoto tadi saja, dengan santainya dia merangkul pundak Rebecca. Sepertinya sahabatnya itu sudah mulai menunjukkan sifat cassanovanya.


"Menjauhlah kalian berdua dari hadapanku!" Geram Vian mengusir Nathan dan Rebecca, ia sangat malas jika sahabatnya itu sudah mulai menggodai para wanita.


"A-aku... Ahh iya aku sampai lupa! Mama menungguku, dahh!" Rebecca memilih pergi, mengakhiri percakapannya. Tau, kalau Vian dan Bryan tidak menyukai keberadaan dirinya.


"Kalian itu kenapa si? Jika kalian belum pernah dekat dengan wanita, setidaknya jangan menganggu aku saat tengah mendekati wanita!" kesal Nathan saat melihat Rebecca yang mulai menjauh.


"Apa kau serius ingin menjadikannya kekasih?" Bryan tidak mengindahkan kekesalan Nathan, ia malah bertanya.


"Aku hanya menggodanya! Tapi jika dia mau? Diriku yang penuh kasih sayang ini, dengan senang hati akan memberikan sedikit kasih sayangku padanya!" jelas Nathan sambil memeluk tiang pilar yang berdiri disampingnya.


"Hey, Sadar diri! Umurmu baru 18 tahun! Kau itu masih bocah!" Bryan muak dengan penjelasan dan tingkah Nathan yang sudah mulai tidak waras.


"Pikirmu kau lebih tua dariku, ha?! tidak!" jawab Nathan, tidak terima disebut bocah oleh sahabatnya yang notebene seumur dengannya.


"Dughh!" Revian menoyor kepala Nathan, membenturkannya ke pillar yang tepat berada di samping sahabatnya itu.


"Aww! Sakit bodoh!" adu Nathan mengelus kepalanya.


Revian menoyor kepala Nathan lagi "Dughh!"


"Aww! Kau gila ya? Maksudmu apa ha?!" Nathan mulai kesal dengan sikap Vian.


"Kepalamu itu harus sering sering dibenturkan! Agar bersih dari pikiran kotor!" jelas Vian dengan santainya


"Hahaha.."


"Kau mentertawakan aku?!" Nathan tak terima ditertawakan oleh Bryan


"Bugh!" Nathan meninju wajah Bryan


"KAU!" "bugh!" Bryan membalas pukulan ke wajah Nathan


"Haha.. kekanakan!" Ejek Vian tertawa melihat kedua sahabatnya yang tengah berkelahi.


"Enak saja kau tertawa setelah membenturkan kepalaku!" "Dugh!" Nathan dengan cepat menarik Vian yang tengah mentertawakan dirinya dan Bryan lalu membenturkan kepalanya


"HAHA.. Rasakan!" puas Nathan.


Revian yang tadinya tertawa mengejek tingkah kedua sahabatnya, kini merasakan hal yang sama, tidak terima "KURANG AJAR!"


"Bugh!" "Bugh!" "Dugh!" Akhirnya mereka bertiga berkelahi.


"Triple Perfect berkelahi!" teriak salah satu siswa yang menyaksikan mereka.


"Hey stop"


"Ayo terus!"


"Berhenti! Ayo pisahkan mereka!"


"Jangan! Biarkan mereka seperti itu! Aku ingin lihat siapa yang menang!"


"Aku rasa Revian yang menang!"


"Sepertinya Bryan!"


"Bagaimana kalau Nathan yang menang?"


"Semangat Revian!"


"Kenapa kau memilih Revian? Dia sangat sombong! Begitu juga dengan Bryan... Ahh, Jonathan sangat ramah dan juga tampan! Nathan! Nathan!" teriak siswi perempuan.


"Tak peduli sombong! Revian tetap yang paling tampan diantara mereka bertiga!" sahut siswi lain lagi.


"Tuan muda, berhenti!" teriak Bi Ayuning.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Grandma bingung melihat tingkah mereka.


"Oh Ya Tuhan! Kalian ini apa apaan? Stop! Hentikan!" teriak Mom Alice, tapi tidak mendekati mereka, takut terkena pukulan.


"Ayuning, pisahkan mereka!" suruh Grandma Camilla pada Bi Ayuning.


"Tuan muda, hentikan! Kalian menjadi tontonan!" lerai Bi Ayuning, memisahkan mereka. Untung saja mereka di halaman luar, jadi tidak terlalu ramai.


"Revian, sudah cukup! Kalian ini apa apaan?" tanya Mom Alice.


"Kami hanya sedang bermain, Aunty, mom!" jawab mereka bersamaan.


Vian kembali menoyor kepala Nathan, Nathan pun membalasnya, kemudian mereka menendang Bryan bersamaan.


"Kalian ini... Vian, kemarilah!" Mom Alice menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kenapa kalian menatap kami begitu?" tanya Nathan dengan heran, padahal mereka sudah biasa seperti itu. Tapi orang orang menatap mereka dengan raut yang berbeda beda.


"Berhenti menatap kami! Kami bukan tontonan gratis!" sentak Bryan.


"Tuan muda, apa anda terluka?" khawatir Bi Ayuning, takut disalahkan majikannya jika sampai Bryan lecet sedikit saja.


"Aku tidak apa apa! Kau tak perlu khawatir!Bibi itu asistenku, bukan pengawalku!" jelas Bryan, mengerti ke khawatiran Bi Ayuning, yang sedari dirinya kecil sering terkena amukan orang tuanya bahkan saat dirinya terjatuh hanya karena menendang bola sekalipun.


"Tuan yakin tidak apa apa?" Bi Ayuning ingin memastikan.


"Oh My God! Tuan mudamu tidak apa apa, Bi! Kalau terluka pun, aku yang akan menjelaskan pada Uncle Nando! Lagi pula kami hanya bermain!" jelas Nathan sambil menoyor kepala Bryan


"Kau ini!" balas Bryan hendak menendang Nathan, tapi kalah cepat dari Nathan yang sudah bersembunyi dibalik Grandmanya


"Wlee.. Tidak kena!" Nathan tertawa penuh kemenangan


"Awas saja kau! Ku balas nanti di mobil!" ancam Bryan.


"Aku tunggu! Haha!"


"Sudah.. sudah..." Grandma Camilla mulai pusing.


*


"Ada apa, mom?" tanya Vian saat sudah bersama Mom


...


"W-what?!" Revian terkejut.


"Sudah ayo cepat!" ajak Mom Alice.


"Mrs.Camilla, Bi Ayuning.. kami permisi pulang duluan ya.. Ada urusan mendadak!" izin Mom Alice.


"Iya.. hati hati!"


"Nathan, Bryan.. Aunty dan Vian pulang duluan ya!"


"Kita langsung ke mobil, Dadmu sudah izin dengan kepala sekolahmu!" jelas Mom Alice.


"Hey, acaranya belum selesai! Kau melewatkan makan siang bersama!" teriak Nathan.


"Bagaimana acara kita nanti?" tanya Bryan.


"Aku harus pergi! Nanti aku beri tau kalian lagi!" jelas Revian.


*


*


*


Dengan langkah tegas dan terburu buru mereka memasuki kantor dengan raut wajah serius, terutama Dad William yang terlihat jelas menahan emosinya, sedangkan Mom Alice khawatir.


Mereka langsung berjalan menuju ruang Kevin, tanpa memperdulikan para karyawan yang terlihat menyapa dan ada juga yang senyum tegang mungkin takut melihat raut wajah bos besarnya.


"Tidak ada!" bentak Dad William saat memasuki ruangan Dad Kevin yang ternyata kosong.


"Dimana Dad Kevin?!" tanya Revian yang mulai geram.


Mereka keluar dari ruangan itu, kini beralih menuju meja resepsionis "Dimana Kevin?!" William menyentaknya, hingga membuat resepsionis itu ketakutan.


"T-tuan Kevin ada diruang meeting, tuan.." jawab Resepsionis itu dengan suara gemetar.


"Brakk!" William membuka pintu ruang meeting dengan kasar