
"huuft.." Laura menghela napasnya.
"ehh.. Nona, Kau baik baik saja?" tanya nanny saat tersadar dari lamunannya karena nona mudanya.
"Aku tidak baik. Aku sangat lelah!" Jawab Laura dengan lesu.
"Kalau begitu pergilah ke kamar kalian dan istirahatlah! Besok kita akan ke London Eye dan jalan jalan ke tempat lainnya." Seru Mom Cindy yang baru saja entah dari mana bersama Mommy Alice.
"Revian, kau masih ingat dimana kamarmu kan? Nanny, antar Laura ke kamarnya!" Titah Mommy Alice.
"Baik, Nyonya.. Ayo, Nona!" Nanny pun mengantar Laura ke kamarnya untuk beristirahat.
*
*
*
Satu minggu sudah mereka menghabiskan waktu bersama di London, mengunjungi kerabat Mom Alice dan Mommy Cindy, lalu menjelajahi tempat yang ingin dan sudah lama tidak mereka kunjungi. Dan hari ini mereka hanya menghabiskan waktu di dalam villa saja. Karna William dan Kevin yang dari kemarin terlihat sangat sibuk dengan ponsel dan laptop mengurusi pekerjaannya diruang kerja.
Setelah lumayan beres, William dan Kevin pun ikut bergabung bersama istri dan anak mereka yang tengah duduk bersantai dan berjemur di balkon. Hanya minus Revian saja.
"Dimana Revian?" tanya Kevin memecah keheningan. Membuat mereka yang tengah asik memandangi pantai dan lautannya dari atas balkon, langsung menoleh ke arahnya.
"Mungkin ada dikamarnya.. " Jawab Alice.
"Pelayan, panggil Revian kemari!" Titah William
"Kita akan segera pulang ke Singapore!"
"Kapan kita akan pulang?" tanya Alice dan Cindy bersamaan.
"Besok!" Tegas William membuat Alice, Cindy dan Laura terkejut. Bagaimana tidak? Jika harus tiba tiba pulang semendadak itu, Padahal mereka berencana berlibur satu bulan.
"What? Katanya satu bulan? Ini baru satu minggu, dad!" keluh Laura
"Tidak bisa, Laura.. Dad's ada urusan pekerjaan penting mendadak. Kita harus secepatnya pulang!" Jelas Kevin membuat Alice dan Cindy memaklumi suami mereka yang memang sibuk. Walaupun jujur, mereka masih merindukan negara kelahirannya, London.
"Hhm.. tapi aku belum membeli oleh - oleh dan souvenirs untuk para pelayan dan teman temanku" ucap Laura dengan nada sedih
"Kalian juga ikutlah bersama Laura!" Titah William pada istrinya dan juga Cindy.
"Yes! Thank you, My handsome dad's!" Seru Laura sambil mencium pipi Dad William dan Dad Kevin secara bergantian.
"Let's go, mom's!" Laura menarik kedua momnya berjalan meninggalkan Dad William dan Dad Kevin.
*
"Ada apa dads memanggilku?" tanya Revian yang baru datang.
"Do you have a girlfriend?" to the point William, tanpa berbasa basi.
"Nothing!" Sambil menaikkan satu alisnya Revian menjawab dengan cepat dan singkat lalu menjatuhkan tubuhnya diantara sofa kosong yang berada di hadapan dadnya.
"Belum ada! Bukan tidak ada!" Sela Kevin.
"Aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan wanita. Apalagi sampai menjadikannya kekasih! Tidak ada yang sekelas denganku!" sambung Revian.
"Kau berkata seperti itu, karna kau belum tertarik dan belum merasakan rasanya terpikat dengan seorang wanita!" Ucap Kevin.
"Jangan menjalin hubungan dengan wanita mana pun, apalagi sampai melakukan hubungan s*x, tahan napsumu untuk hal itu, setidaknya sampai kau menyelesaikan kuliahmu!" Tegas William
"Tidak akan dan tidak mungkin!" Tegas Revian dengan sombongnya.
"Tapi yang kami bicarakan adalah wanita London. Mereka akan melakukan segala cara agar bisa membuat pria yang di sukainya tergoda!" Ucap Kevin mengingat pengalaman yang menurutnya buruk yang ia alami dulu, bagaimana ia diperebutkan oleh para gadis London yang menyukainya. Padahal saat itu ia sudah mengatakan bahwa ia sudah memiliki kekasih, yang kini menjadi istrinya.
"Aku tidak mempermasalahkan wanita asal London atau wanita yang berasal dari manapun, yang terpenting kau jangan memikirkan percintaan dulu. Kecuali sampai kau sudah menjadi pemimpin perusahaan yang baik!" Sambung William.
"Kau tau, aku menyelesaikan kuliahku 5 tahun lamanya. Aku tidak lagi bisa serius dan fokus mengerjakan tugasku semenjak aku bertemu dengan istriku, dan jatuh cinta padanya. Rasanya dia seperti memenuhi otak dan isi kepalaku, aku tidak bisa memikirkan apapun selain dirinya, aku benar benar terhipnotis olehnya. Kau pun akan merasakan hal yang sama sepertiku, saat kau bertemu dengan seorang gadis, dan kau jatuh cinta padanya!" Jelas Kevin dan diiyakan oleh William, karna jujur ia pun merasakan hal yang sama seperti Kevin. Hanya bedanya ia menemukan cinta diusia matang dan dewasa sedangkan Kevin masih remaja, belum bisa mengimbangi perasaan cinta dengan pendidikan dan pekerjaannya.
"Kalian memanggil aku hanya untuk menanyakan pertanyaan tidak penting seperti ini? Lalu apa hubungannya kisah masa lalu Dad Kevin dengan aku?" Tanya Revian dengan bingung.
"Aku tidak mau sampai kejadian Kevin terulang lagi dan terjadi padamu! Jika kau sampai sama sepertinya, maka aku akan mengurungkan niatku untuk menjadikanmu pemimpin Omeroof dan akan memilih karyawan terbaikku saja yang menggantikanmu!" jelas William dengan tegas.
"Oh come on, dad! Aku tidak mungkin akan seperti itu. Apa daddy lupa? Aku dan Dad Kevin itu sangat berbeda. Aku sangat pintar, bahkan kecerdasanku itu diatas rata rata. Aku memenangkan setiap perlombaan yang aku ikuti didalam ataupun luar negri! Sedangkan Dad Kevin? Hanya karna jatuh cinta saja sampai memperpanjang masa kuliah, melakukan meeting dan presentasi saja membutuhkan partner bahkan pernah sampai gagal! Dad Kevin itu bisa dibilang dibawahku, alias sedikit bod-"
"bugh!" belum sempar Revian menyelesaikan perkataannya, pukulan sudah lebih dulu melayang diwajahnya.