I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 34 Pusat Perhatian



Revian menyelesaikan sarapannya dengan cepat, Revian bergegas menuju mobilnya untuk ia kendarai sendiri tanpa sopir.


"Selamat pagi, Tuan muda. Mobilnya sudah siap. Apa ingin berangkat sekarang? Ayo, tuan" Ucap sopir yang sudah bersiap sejak tadi, langsung menyambut Tuan mudanya yang baru saja keluar.


"Tidak perlu! Aku ingin menyetir sendiri" tolak Revian.


"Apa Tuan yakin tidak ingin diantar?" tanya Sopir lagi mencoba memastikan. Namun dijawab dengan tatapan tajam oleh Revian.


"B-baik Tuan muda" Sopir itu pun membukakan pintu mobil, membiarkan Tuan mudanya masuk dan mengendarai mobil sendiri.


"Hati hati, Tuan muda" bilang Nanny yang dari tadi ikut mengantar Revian sampai depan dan di jawab anggukan oleh Revian. Ia pun melajukan mobilnya menuju kampus tempat ia akan melanjutkan pendidikannya kini.


"Tuan muda kita sudah besar dan semakin galak sekarang" Kata sopir itu, sementara nanny hanya tersenyum mendengar perkataan sopir yang sekaligus juga suaminya.


*


*


*


London Max University


Dilapangan luas yang dikelilingi oleh gedung gedung milik kampus nan classic, semua calon mahasiswa baru diminta berkumpul untuk melakukan sesi perkenalan kampus.


🔊 All participants are asked to gather in the field now!


(Semua peserta diminta untuk berkumpul di lapangan sekarang!)


Mereka pun membentuk kerumunan dengan rombongan masing masing, kecuali Revian yang baru datang memilih berdiri paling belakang sendirian karena ia belum mendapatkan teman. Itu pun bukan masalah bagi Revian, jujur ia lebih suka berteman dengan dirinya sendiri.


Revian yang tengah menyimak penjelasan MC, terkejut saat pundaknya ditepuk "My Name's Dony. What's your name?" tanya pemuda yang mungkin juga sama dengannya, mahasiswa baru.


"I'm Revian" jawab Revian dengan singkat.


"Ohh.. Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak ikut bergabung dengan mereka?" tanya Dony lagi sambil menatap serombongan yang kini terlihat heboh dan berteriak - teriak entah karena apa.


"Aku lebih suka disini"


"Baiklah, Kebetulan aku belum mendapatkan teman.. Aku akan menemanimu disini! Sepertinya kita akan menjadi teman baik!" seru Dony, dijawab dengan anggukan oleh Revian.


"Kenapa kalian masih disini, bro? Apa kalian tidak ingin berkenalan dengannya?"


"Siapa namamu? Apa yang mereka peributkan disana?" tanya Dony sambil melihat ke arah yang ditunjuk oleh pemuda itu. Yang ia lihat mereka terutama para lelaki tengah mengerumuni seorang gadis yang sepertinya sangat cantik.


"Aku Faldo. Kau jangan banyak tanya, lebih baik kalian lihat langsung saja, ayo!" Pemuda itu langsung merangkul bahu Revian dan Dony, menuntun mereka agar ikut bergabung.


"Minggir, aku ingin lihat!" Dony membelah lautan manusia itu, dan mereka pun sedikit memberi jalan.


"She is like an angel.." (Dia seperti bidadari)


"She is looks perfect, isn't?" (Dia terlihat sempurna, bukan?)


"Siapa namamu, cantik?"


"Girl, maukah kau menjadi kekasihku?"


"Oh My Beautiful Angel!" (Oh Bidadari Cantikku!)


Dony yang tadi tidak tau pun, kini bisa melihat langsung wajah gadis yang tertutup oleh banyaknya kerumunan lelaki yang menggodainya "Waaw!" Hanya itu kata yang bisa diucapkan Dony, setelah melihat gadis yang ternyata sangat cantik. Wajar jika para lelaki sibuk memperhatikannya.


Sementara para lelaki sibuk dengan gadis cantik itu, berbeda dengan para perempuan yang tadinya terkagum melihat gadis itu kini berpindah pada Revian.


"Oh My god! Siapa dia?"


"Dia sangat tampan..."


"Jika tadi dia yang sangat cantik, sekarang dia yang sangat tampan!"


"Look at him! He is so handsome right?"


"Dia sangat keren!"


"My Handsome boy!"


"Siapa namamu, tampan?"


"Hei, aku siap menjadi kekasihmu"


"Boleh aku meminta nomor ponselmu?"


"Oh my god! He is very handsome!"


Inilah yang tidak disukai Revian jika berkumpul dengan orang-orang baru. Mereka akan sangat heboh dan sibuk memperhatikannya, padahal dia tidak pernah meminta bahkan tidak menginginkannya.


"Apa mereka tidak pernah melihat laki laki sepertiku?" Gumam Revian dengan aneh juga sekaligus kesal. Tanpa membalas perkataan dan pertanyaan mereka. Revian hanya menunjukkan wajah datar dan dinginnya. Membuat beberapa perempuan ada yang terdiam, mungkin takut. Ada juga yang gila, malah berteriak teriak histeris sambil mengatakan dia sangat tampan dan keren.


Revian yang jengah membuang pandangannya dari mereka, dan tanpa sengaja terhenti pada sosok gadis yang dikerumuni banyak pria. Gadis itu terlihat tengah memandangnya juga, dan seperti hendak berjalan menujunya.


....